Belum Jadi Mantan

Belum Jadi Mantan
25. LEMBARAN BARU


__ADS_3


Arvin memulai harinya dengan semangat 45. Gimana ngga semangat, kalo tiap hari dirinya bisa membuat Indi tersenyum bahkan tertawa. Walaupun Arvin harus berkelakuan konyol yang tentu disengaja , hanya untuk membuat Indi melepaskan tawanya.


Arvin tentu tahu, kalau Indi hanya menganggapnya sebagai sahabat. Dan Arvin tidak pernah mempermasalahkan apapun tanggapan dari Indi tentang dirinya. Bisa dijadikan teman atau sahabat oleh Indi, itu saja sudah sangat membahagiakan.


Indi adalah gadis pertama yang membuatnya ingin memulai mengenalnya. Berbeda dari biasanya yang dimana para gadislah yang meminta bahkan seolah memaksa berkenalan dengan Arvin.


“Woi… jangan nglamun! Kesambet setan pohon nangka baru tau rasa lo” Indi menepuk pundak Arvin yang dilihatnya sedang duduk dibangku taman sekolah. Jam istirahat masih cukup untuk sekedar duduk duduk santai setelah makan siang.


Arvin clingak clinguk


“Eh buset nih anak, tadi nglamun …sekarang malah tengak tengok ngga jelas” Indi duduk disebrang Arvin.


“Emang disini ada pohon nangka Ndi?” Arvin bertanya dengan wajah polosnya.


Indi membuka novel yang dibawanya untuk menutupi wajahnya. Indi tersenyum bahkan tertawa tanpa suara. Dia tidak mengira kalau Arvin akan memberi tanggapan yang begitu lucu.


“Heh! Berhasil kan gue ngerjain elo” batin Indi


“Indi!” Arvin memanggilnya


“Apa?”


“Disini beneran ada pohon nangka?” Arvin masih mencari pohon yan dimaksud oleh Indi. Bukan apa apa. Arvin pernah membaca disebuah artikel kalau pohon nangka adalah salah satu pohon yang paling sering dihuni oleh makhluk astral selain pohon beringin.


Sekarang Arvin bangun dari duduknya dan berjalan menghampiri tukang kebun yang kebetulan sedang ada disekitar mereka.


“Pak Amin, disini….di sekitar taman ini ada pohon nangka ngga?” Indi mendengar pertanyaan Arvin pada Pak Amin yang sedang memotong rumput. Indi tidak bisa menahan tawanya lagi. Kedua tangannya sekarang membungkam mulutnya sendiri agar suara tawanya tidak didengar Arvin.


Indi yang mulai merasakan sakit perut karna tertawa, pergi dari taman. Indi tidak pernah merasa sangat senang karna berhasil mengerjai Arvin. Biasanya Arvinlah yang selalu membuatnya kesal dengan segala macam muslihat dan tipuan.


Arvin masih clingak clinguk. Pak Amin sudah menjawab dan memberitahukan kalau tidak ada pohon nangka di sekitar taman. Tapi Arvin masih tetap terlihat tidak percaya. Sampai Pak Amin menegur dan mengusir Arvin agar tidak mengganggu pekerjaannya.


Arvin berbalik mengarah ke bangku yang tadi dia duduki dan tidak melihat Indi ada disana.


“Indi!” Arvin mencari cari Indi. Bahkan dengan bodohnya dia mencari Indi di bawah bangku.


“Arvin!” Teriak Indi dari lantai 2 depan kelasnya. Saat Arvin menengok kearah suara yang memanggilnya, Indi melambaikan tangan dan menjulurkan lidahnya. Tanda mengejek pada Arvin.

__ADS_1


Kini Arvin sadar kalau dirinya telah dikerjai Indi.


“Huh dasar! Gue kira lo ilang dibawa setan pohon nangka” Arvin menghembuskan nafas lega, kemudian berjalan ke dalam kelasnya sendiri karna bel masuk kelas telah berbunyi.


Indi pulang sore, karna harus mendapat kelas tambahan. Maklumlah, ujian akhir semakin dekat. Pihak sekolah sengaja memberikan banyak latihan latihan agar semua muridnya bisa lulus dengan nilai yang memuaskan.


Sekolah Indi termasuk sekolah yang difavoritkan. Mematok nilai minimum yang lebih tinggi dari sekolah lain. Dan biasanya murid lulusan dari sekolah Indi akan mudah mendapat sekolah favorit di jenjang selanjutnya.


Arvin sudah menunggu Indi diparkiran dan menyerahkan helm.


“Udah?” Tanya Arvin pada Indi sesaat setelah Indi duduk dijok motornya.


“Udah!”


“Kalo udah turun dong” Arvin memberi perintah


“Hah! Belum juga jalan dan sampe rumah kok lo nyuruh gue turun?!” Indi mulai senewen


“Ya kalo udah, berarti turun kan” Arvin memasang tampang serius.


Indi pun mengikuti instruksi Arvin. Indi ingat kalo tadi siang dirinya sempat mengerjai Arvin. Jadi Indi mengira Arvin mungkin saja sedang marah padanya. Tapi belum Indi mengangkat satu kakinya turun Arvin memegang tangannya dan mencegahnya.


Indi diam dan menatap mata Arvin. Indi mencari ketulusan dari perkataan Arvin. Indi menyadari kalo Arvin sedang mengerjainya lagi, sebagai pembalasan tadi siang mulai menunduk dan terlihat sedih.


Arvin yang pasti bisa melihat perubahan ekspresi Indi langsung menurunkan penyangga pada motornya. Turun dari duduk dan menghadap Indi.


“Marah ya? Gue cuma becanda Indi…maaf” Arvin memegang tangan Indi


Loloslah satu butiran bening dari mata Indi.


“Gue kira lo marah karna tadi siang hiks hiks…” Indi mulai terisak


Arvin jadi salah tingkah. Sifat isengnya yang hanya keluar saat bersama Indi, sekarang membuatnya kebingungan.


“kenapa cuma elo yang boleh ngerjain gue? Kenapa gue ngga boleh bales elo?” Indi masih menangis.


“Ngga adil! Kalo elo ngerjain gue kayak gini lagi, gue ngga akan pernah naik motor lo lagi!” Indi mengancam Arvin


“Maaf Indi…maaf. Gue cuma becanda” Arvin mengelus kepala Indi.

__ADS_1


“Ok…Ok, gue ngga akan becanda kayak gini lagi.” Arvin menyerah “Tapi becanda yang lain, bolehkan?” Arvin tersenyum menggoda


“Hwa….wa…” Indi malah terus menangis


Tidak ada jalan lain bagi Arvin. Walaupun ini akan menjadi bahan omongan kalo sampai terlihat orang lain, apalagi ini masih dilingkungan sekolah. Tapi hanya ini jalan satu satunya untuk menghentikan tangisan Indi.


Arvin maju satu langkah, mengangkat kedua tangannya dan memeluk Indi. Kali ini Indi membalas pelukan Arvin, Yang tentu tidak pernah dibayangkan olehnya.


-


Arvin menghentikan motornya di sebuah warung bakso, tapi bukan warung bakso langganan Indi yang dulu. Arvin tidak mau mengambil resiko kalo Indi akan kembali mengingat Sigit saat dibawa ke warung yang bisanya.


“Cobain aja dulu, siapa tahu ini sesuai selera lo” Arvin melihat keraguan di mata Indi.


“Ok” Indi melangkah semangat. Mengambil tempat duduk dekat jendela disusul Arvin dibelakangnya.


“Pesan apa mas?” Pelayan yang datang adalah seorang wanita. Indi menyadari keanehan saat melihat pelayan itu yang terus menatap Arvin sambil tersenyum.


“Kenapa cuma Arvin yang ditanya, kok gue ngga?” Indi bergumam


Arvin tidak menanggapi pertanyaan pelayan itu, dan malah memandang Indi seolah menyerahkan tanggung jawab untuk memberikan pesanan.


"Baso spesial sama es jeruknya ya mba. " Indi menyebutkan pesanannya lalu berpaling menatap Arvin " Elo Vin? "


"Samain aja" Arvin menjawab dengan tanpa mengalihkan pandangannya dari Indi


“Lo sering kesini ya Vin?” Indi bertanya pada Arvin setelah pelayan pergi dengan membawa catatan pesanan mereka berdua.


“Ngga sering sih, paling 2 atau 3 kali. Gue kagak ngitungin. Ngga penting kan. Emang kenapa?” Arvin membuka tas dan mengambil hpnya.


“Kayaknya, pelayannya suka sama lo deh”


***


Sedih sedihnya udah dulu ya


Karena hidup harus terus berjalan


__ADS_1


__ADS_2