Belum Jadi Mantan

Belum Jadi Mantan
21. HARI H


__ADS_3

Dari pagi buta Andira terus saja mondar mandir tidak jelas. Ikut sibuk seperti kedua orang tuanya yang memang bertanggung jawab dengan acara yang sedang berlangsung. Yap! Benar sekali. Hari ini adalah hari pernikahan Sigit dan Rosita yang sudah ditetapkan oleh keluarga.


Tapi Andira bukan sibuk untuk ikut mempersiapkan pernikahan, Andira sibuk memperhatikan Indi. Mama Amrita meminta anak perempuannya ikut andil di acara tersebut.


“Ayo sayang, kita siap siap! Kamu bantuin Rosita berdandan dan mama mempersiapkan hidangan buat penghulu juga tamu.”


JEGGER….


Indi dan Andira saling bertukar pandang. Tentu mereka tidak akan menyalahkan mamanya yang memberi perintah seperti itu. Mama Amrita tidak tahu apapun tentang Indi dan Sigit.


“kenapa harus Indi sih mah?” Protes Andira


“Andi…Indi…Rosita itu saudara kita. Kita berkewajiban ikut membantu “ kali ini Papa Bagas memberi pengertian pada kedua anaknya


“Iya. Maksud Andi, kenapa harus Indi yang jadi pendamping pengantin wanitanya?! Rosita kan punya banyak teman perempuan yang lain?!” Andira tidak bisa menutupi ketidaksukaannya


“Kalo masih punya saudara yang dekat, kenapa harus cari orang lain. Lagian teman teman Rosita juga datengnya tuh baru nanti malem. Pas acara pesta muda mudi.?!” Suara Mama Amrita mulai meninggi


“Hari ini kamu kenapa sih ?!” Mama Amrita bertolak pinggang


Andira akhirnya menutup mulutnya. Tidak lagi membantah perkataan mamanya. Setelah mencium gelagat sesi tanya jawab. Karena telah membangkitkan kecurigaan nyonya besar keluarganya.


Indi menuruti perintah Amrita, berjalan menuju rumah Rosita yang diikuti Andira.


“Kamu yakin dek?” Andira bertanya sekali lagi. Indi hanya menganggukkan kepalanya untuk menjawab pertanyaan dari kakaknya.


-


Indi masuk ke dalam kamar Rosita. Kini di hadapannya berdiri Rosita yang sedang membelakanginya. Rosita sedang kesulitan mengenakan baju pengantin. Pernikahannya memang diadakan secara sederhana, jadi keluarga Rosita tidak menyewa jasa rias pengantin.

__ADS_1


Rosita yang mengetahui kedatangan Indi mulai membalikkan badannya. Tersenyum dan mempersilahkan Indi untuk masuk.


“Indi, bisa bantu gue dandan ngga?” Rosita membuka percakapan di suasana yang terasa kikuk.


Indi membantu Rosita memakai baju dan juga mulai mendandaninya. Keduanya memang tidak ada yang ahli soal make up. Rosita juga tidak menuntut yang aneh aneh. Indi ikut tersenyum saat Rosita selesai merias dirinya sendiri.


Tina sepupu Indi juga datang ke rumah Rosita, masuk ke dalam kamar dan mulai menilai hasil karya Indi pada wajah Rosita.


“Wow…cantik” itulah yang terlontar dari mulut Tina. Dirasa semuanya sudah siap, Rosita dan juga Indi duduk di tepian ranjang milik Rosita. Sedangkan Tina malah sibuk bermake up, karena tadi tidak sempat dandan dirumahnya.


Andira mengetuk pintu kamar Rosita dan mengabarkan kalau rombongan pengantin pria sudah tiba di halaman rumah. Rosita terlihat gugup dan Indi malah bersikap menenangkannya.


Indi tidak tahu dengan keadaan dirinya sendiri. Seandainya orang lain yang mengalami apa yang dilakukannya sekarang, mungkin orang itu akan mengamuk dan menghancurkan acara pernikahan. Tapi tidak dengan dirinya. Indi malah ikut merasa bahagia, saat melihat Rosita tersenyum dengan mengenakan gaun pengantin yang berdiri di depan kaca besar.


Arvin juga datang ke rumah Rosita karena sebelumnya Andira memintanya untuk hadir. Arvin dan Andira selalu waspada mengawasi gerak gerik Indi. Mereka takut kalau sewaktu waktu Indi akan melakukan hal yang tidak diinginkan.


Rombongan pengantin mulai memasuki rumah, dan tak lama dari itu penghulu pun datang. Andira dan Arvin melihat Sigit yang berjalan tepat didepan mereka. Tidak terlihat wajah bahagia dari wajah Sigit, seperti layaknya pengantin pada umumnya. Yang terlihat malah bekas luka dipipi dan bibir Sigit akibat ulah keduanya, walaupun samar.


Karna ayahnya sudah meninggal, maka paman Rosita bertindak sebagai wali nikah. Duduk diantara pengantin pria dan wanita. Mau tau dimana Indi duduk ?


Karna Ruang tamu yang tidak begitu luas, ditambah dengan anggota keluarga yang ingin menyaksikan acara secara langsung, maka Indi akhirnya duduk tepat disamping Rosita. Andira tentu saja tidak mau duduk jauh dari Indi, dan Arvin malah memilih duduk dibelakang Indi.


Indi sekilas melihat ke arah Sigit dan mempertemukan pandangan keduanya. Sigit terlihat kaget dengan kehadiran Indi. Sigit tidak menyangka kalau Indi akan sanggup hadir di acaranya itu. Dan itu membuat Sigit semakin tidak semangat.


Sigit pernah memimpikan kalau suatu hari dirinya akan menikahi wanita yang dicintainya, dan itu adalah Indi. Tapi kesalahan yang telah dilakukannya, membuatnya jatuh jauh dari harapan.


Wajah Sigit dan Rosita berbanding terbalik. Sigit yang sama sekali tidak menunjukkan rasa bahagianya, Rosita malah tidak henti hentinya tersenyum.


Disaat semua orang yang hadir memfokuskan pandangan ke arah kedua mempelai, Andira dan Arvin terus memandangi Indi. Tina yang duduk disamping Indi mengikuti arah pandang itu dan merasa ada yang aneh.

__ADS_1


“Tidak! Semoga yang aku takutkan tidak terjadi” batin Tina


Pak penghulu memeriksa kelengkapan berkas syarat pernikahan. Semuanya lengkap dan meminta pengantin pria untuk menjabat tangannya.


“Saya nikahkan dan kawinkan ananda Sigit bin … dengan Rosita binti … dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan uang seratus ribu rupiah tunai !”


“Saya terima nikah dan kawinnya Rosita binti … dengan mas kawin tersebut tunai!”


“Sah!”


“Saaaaah”


Acara ijab kobul ditutup dengan doa dan penandatanganan surat nikah. Semua berjalan lancar, dan semuanya berucap syukur. Berakhir dengan makan bersama.


Kedua mempelai menyalami semua keluarga dan kerabat dekat yang memberikan kata selamatnya. Tibalah giliran Indi yang maju melangkah ke arah Rosita dan juga Sigit. Andira dengan sigap langsung berada tepat di belakang Indi, menyentuh bahunya untuk memberitahukan kalau dirinya ada dibelakang sang adik.


“Selamat ya kak Ros” Indi memberikan doanya dan memeluk Rosita.


“Selamat ya kak” Indi menyalami Sigit dan langsung melepasnya. Bahkan belum sempat Sigit menjawab ucapan selamat darinya, Indi sudah melangkah menjauhi Sigit. Indi sengaja tidak membuat kontak mata dengan Sigit.


Sigit ingin menjadi egois dengan menahan tangan Indi, tapi semua itu ia urungkan. Statusnya yang sudah menjadi suami dari Rosita membuatnya tidak bisa berbuat apa apa.


Sigit terus merasakan sakit di relung hatinya. Seandainya yang bersanding dengannya saat ini adalah Indi, maka itu akan menjadi hari paling bahagia untuk Sigit.


-


Mama Amrita menawarkan Indi dan Andira untuk makan bersama, tapi ditolak Indi.


Karena dirasa semuanya sudah selesai, Indi meminta izin pada mamanya untuk pulang kerumah. Andira dan Arvin bahkan tidak ingin berlama lama berada dirumah Rosita.

__ADS_1


***


Belum tamat kok


__ADS_2