Belum Jadi Mantan

Belum Jadi Mantan
33. HARUS BERHENTI


__ADS_3


“Jangan tinggalkan mama sayang….jangan tinggalkan mama. Kau adalah anakku. Anak kesayanganku. Kau anak sulungku. Jangan pergi Andi…hiks…hiks “


Amrita menggenggam tangan putranya, seolah takut kalau tangan itu tidak akan pernah bisa disentuhnya lagi. Jangan ditanya berapa banyak air yang sudah ditumpahkan dari matanya. Bagas yang juga terlihat sangat sedih, tidak bisa berkata apapun selain menyandarkan kepalanya disofa. Memandangi langit langit rumah yang jelas jelas tidak penting untuk saat ini.


Mereka bertiga sedang berada di ruang tengah tanpa adanya Indi. Andira menumpahkan kegundahan hati yang disimpannya. Memberanikan diri tanpa ingin menyakiti.


Hari dimana Safira dan Nick datang, Andira sedikit mendengar percakapan mereka. Lelah menduga duga, akhirnya Andira meminta penjelasan pada kedua orang tuanya. Amrita dan Bagas juga tidak mau berlama lama menyimpan kenyataan, sebelum Andira mendengarnya dari orang lain.


“Mah…Andira anak mama dan selamanya akan terus menjadi anak mama. Mau siapapun yang telah melahirkan Andi, mama dan papa adalah orang tua Andi sampai kapan pun. Kalian keluarga Andi. Andi hanya punya kalian. Rumah ini adalah rumah Andi pulang. Jadi jangan usir Andi dari sini mah…pah”


Andira sudah tidak bisa lagi menahan tangisnya. Tangisan dari rasa sakit karna melihat Amrita menangisi dirinya. Bukan kenyataan dirinya yang bukan anak kandung mereka yang membuat Andi ikut menumpahkan air mata. Tapi karna Andi paling tidak bisa melihat mamanya menangis.


“Kamu ngomong apa nak? Kami tidak akan pernah mengusirmu. TIDAK AKAN PERNAH.”


Amrita terus saja mengalirkan air mata. Kini Bagas merangkul anak sulungnya itu. Tidak ada kata kata yang mampu keluar dari mulutnya. Sebutir kristal bening menetes dari ujung matanya. Sekarang Bagas melihat sosok yang sangat ditakutinya. INDIRA


Yah. Indi ternyata mendengarkan semua pembicaraan orang tuanya dengan sang kakak. Indi yang saat ini berdiri mematung, tidak mengeluarkan sepatah katapun dengan Arvin dibelakangnya. Tubuhnya bergetar dengan tangisan tertahan. Seandainya tidak ada Arvin dibelakangnya, mungkin Indi sudah jatuh luluh ke lantai.


Arvin masih menahan tubuh Indi dari belakang. Memegang bahu Indi yang lama kelamaan dirasa lemas dan akhirnya ambruk.


“INDI!!!"


Andira langsung mengangkat tubuh adiknya dengan penuh rasa khawatir. Membawanya ke dalam kamar dan merebahkannya perlahan diatas kasur bergambar kuda bertanduk. Sementara sang mama mencari minyak kayu putih dan mencoba membuat putrinya terbangun.


Indi mulai mengerjapkan mata. Mencoba mengumpulkan kesadaran sepenuhnya. Matanya langsung tertuju pada Andira yang saat ini duduk paling dekat dengannya. Mencoba meraih tangan kakaknya dengan gerakan lemah.


“Kak…jangan tinggalin Indi hiks..hiks”

__ADS_1


“Jangan pergi kak”


“Kak Andi cuma boleh jadi kakaknya Indi”


Andira meraih tubuh Indi dan memeluknya. Mengelus punggung Indi perlahan. Amrita terus saja menangis dalam pelukan suaminya melihat kedua anaknya. Arvin yang tidak ingin mengganggu, memilih keluar kamar Indi dan duduk di kursi dapur setelah mengambil segelas air minum untuk Indi.


“Kakak tidak akan pernah kemana mana Ndi”


“Selamanya kakak akan disini untuk menjagamu”


“Jangan menangis lagi ya. Kau harus berhenti berpikiran yang tidak akan terjadi."


-


Hari ini terasa begitu menakutkan untuk Indi. Hari ini dia baru saja pergi dengan Arvin untuk bertemu dengan genknya. Berkumpul bersama setelah lulus sekolah. Menonton film baru dan juga makan di kafe tempat Andira bekerja.


Selesai urusan dengan para sahabatnya, Indi pulang diantar oleh Arvin. Tentu saja, karna mereka memang berangkat bareng. Jadi pulang pun harus bareng. Apalagi Amrita sudah memberikan Arvin kepercayaan untuk menjaga Indi hari ini.


Turun dari motor Arvin, Indi berjalan perlahan ingin memberikan kejutan pada sang mama dan papanya. Hari ini adalah hari ulang tahun pernikahan Amrita dan Bagas.


Kejutan yang disangka akan sangat membahagiakan kedua orang tuanya berakhir dengan keterkejutan yang menakutkan.


Indi tidak berniat menguping, tapi itu terdengar dengan sendirinya. Indi terus mendengarkan tanpa ada yang terlewat sedikit pun. Bagaimana Bagas dan Amrita menceritakan masa kecil kakaknya yang baru Indi ketahui bukanlah kakak kandungnya.


Indi tidak ingin mempercayai kenyataan itu. Kakak yang sangat disayanginya, kakak yang selalu menjaganya ternyata bukan kakak miliknya.


Ketakutan Indi akan Andira yang mungkin saja akan pergi kepada orang tua kandungnya, membuat Indi takut setengah mati. Tamu yang hampir dua bulan lalu datang ke rumahnya adalah orang tua kandung sang kakak. Dan Naura adalah adik kandung Andira yang asli, bukan dirinya.


Bayangan bayangan yang muncul membuat kepala Indi tiba tiba pusing. Gambar yang menampilkan kepergian kakaknya sudah memenuhi memori otaknya. Matanya berkaca kaca dan akhirnya mengalirkan buliran bening.

__ADS_1


Arvin masih setia mengamati reaksi Indi. Dia juga ikut mendengarkan percakapan yang seharusnya tidak boleh didengarnya. Hanya saja kekhawatirannya akan Indi jauh lebih besar. Sehingga Arvin memutuskan untuk tetap ikut berdiri menjaga agar tidak terjadi hal hal yang tidak diinginkan.


Dan benar saja. Tubuh Indi sudah tidak bisa lagi menopang kesadarannya. Tulangnya terasa diambil begitu saja. Menyisakan tubuh tanpa tenaga sedikitpun.


“Hiks…hiks…kakaak…kakaaaaaaaak. Jangan pergi. Jangan pergi. Indi ngga mau sendiri”


Indi menangis ditengah malam. Terbangun dari tidurnya. Matanya bengkak karna terlalu banyak menangis. Indi menyembunyikan wajahnya diantara kedua tangannya yang bertumpu pada kedua kakinya yang ditekuk.


Sayup sayup Andi mendengar suara tangisan sang adik. Langsung beranjak dari ranjang yang baru saja dinaikinya. Rasa kantuknya tiba tiba menghilang. Baru beberapa menit berlalu saat dia memutuskan untuk tidur dikamarnya. Setelah memastikan Indi tidur lelap. Tapi ternyata prediksinya salah. Indi malah mengira kalau dirinya sudah meninggalkannya.


“Syuut….Indi ini kakak. Jangan menangis. Kakak ngga kemana mana. Kakak ngga kan pergi kemanapun. Lihat..heh..lihat kakak. Kakak ada disini. Heh lihatkan”


Andira menangkup wajah Indi dengan kedua tangannya. Memaksa Indi untuk menatapnya. Membuktikan kalau Andi masih ada dihadapannya.


“Kakak jangan pergi yah…jangan kemana mana. Temenin Indi disini”


Indi tidak mau melepaskan pegangan tangannya pada lengan Andi. Ketakutan akan kepergian kakaknya membuatnya sulit untuk memejamkan mata. Amrita dan Bagas hanya melihat kedua anaknya dari pintu.


Bagas mencegah Amrita masuk ke kamar Indi. Bagas menyakinkan Amrita kalau Andira, anak sulung mereka tidak akan pergi. Amrita menurut dan kembali kekamarnya. Mulai memejamkan matanya yang sedari tadi tidak menurut pada perintahnya untuk tertidur.


Dan Andira menyerah. Menggelar kasur lipat kecil dilantai untuk alas tidurnya. Indi tidak bisa ditinggal barang sedetik pun. Indi akan langsung membuka matanya saat Andi menggeser tangannya. Bahkan Indi menunggunya didepan pintu toilet saat Andira sudah tidak bisa menahan kandung kemihnya yang sudah penuh.


Andira sudah terlelap bahkan sebelum Indi berhasil pergi ke alam mimpi. Indi mungkin akan terus terjaga sepanjang malam, kalau saja tubuhnya tidak memprotes dengan kelelahan yang teramat sangat. Lelah dengan hari ini dan juga lelah karna menangis.


***


Nulis satu bab aja ampe dibagi 4. Authornya cengeng, tapi masih kurang ahli menyampaikan emosi


__ADS_1


__ADS_2