
Arvin masih terus menatap mata Indi, menunggu jawaban dari gadis itu. Arvin jelas tahu kalau saat ini Indi sedang gugup dengan posisi mereka yang masih duduk diatas motor dan itu dipinggir jalan raya. Tidak mau membuat Indi merasa terintimidasi, Arvin memutus kontak mata mereka dan kembali menjalankan motornya ke tempat yang diinginkan Indi.
Indi menghembuskan nafas lega. Degup jantungnya belum terkendali akibat tatapan Arvin yang menunjukkan rasa cemburunya. Ada rasa senang dalam hatinya. Sudah sering Arvin menggodanya dan Indi sudah tidak aneh lagi dengan sikap Arvin yang menunjukkan rasa sukanya.
Tapi baru kali ini Arvin menunjukkan rasa cemburu dengan wajah yang sangat serius, bahkan menaikkan suaranya. Dulu saat Arvin marah dan meninju wajah Sigit yang telah menyakiti Indi, Arvin masih bisa cengengesan setelahnya. Tapi hari ini Arvin tidak memperlihatkan sikap konyol yang biasa menjadi ciri khasnya. Dan Indi selalu mengganggap Arvin kekanakan.
“Indi…” Arvin memanggil nama Indi pelan saat sudah sampai tempat yang menjadi tujuan kencan mereka kali ini.
Indi tidak merespon apapun. Indi seolah lebih asyik dengan pikiran dan lamunannya. Beberapa kali Arvin melambaikan tangannya didepan wajah Indi, berusaha membawanya ke alam nyata. Lama lama Arvin gregetan dengan sikap Indi.
“Ya ampun….apa harus segitunya nih orang nglamun ya?” batin Arvin. Sampai tersungging senyum devilnya. Niat untuk terus menggoda Indi memang tidak pernah hilang dari hatinya. Jiwa usilnya tidak pernah mati.
“ARVINNN!!!!!!! Turunin gue!”
“Ngga mau! Makanya jangan nglamun terus!”
Arvin mash mengangkat tubuh Indi turun dari motor bahkan berjalan keluar dari parkiran, mengabaikan pandangan orang orang yang terus melihat keduanya.
“Turunin Vin! Malu tahu!”
“Gue nggak!”
“Ya itumah elo! Gue malu!”
“Salah sendiri! Siapa suruh nyuekin gue. Kita tuh udah sampe dari tadi, tapi lo malah asyik nglamun. Kalo lo kesambet, terus gelantungan di pohon kan gue yang rugi!”
“Kok rugi!”
“Ya iyalah rugi. Kalo lo gelantungannya ke badan gue sih ngga papa”
“Ish itumah maunya elo”
“EMMANG”
Arvin perlahan menurunkan Indi yang masih memasang muka cemberutnya. Membeli minuman dan juga makanan kesukaan Indi, mencari tempat nyaman untuk duduk dan ngobrol berdua.
Arvin merogoh saku celananya, memastikan kalau benda itu tidak hilang saat diperjalanan. Sedangkan Indi sudah mulai sibuk memandangi sekitarnya, dia ingin mencoba semua wahana wahana yang disediakan ditempat itu. Arvin dan Indi terus menghabiskan hari mereka berdua dengan tawa bahagia.
Arvin memandangi wajah Indi, mengambil tangannya dan menggenggamnya. Keduanya duduk dirumput yang terhampar tidak begitu luas karna kursi yang tersedia sudah dipenuhi oleh pengunjung lain. Memandang matahari yang mulai tenggelam ditelan oleh gelap yang mulai merambat.
“Indi…lo mau ngga jadi pacar gue?”
“.…..” Indi mengalihkan pandangannya ke arah Arvin yang sedikit tersinar warna kuning lembayung karna matahari sore
“Kita udah lama kenal. Mungkin selama ini lo menganggap gue hanya sekedar teman biasa. Bahkan, sebentar lagi gue juga bakal pergi ninggalin lo dan ngga bisa sering sering ketemu. Tapi gue tetep menginginkan lo jadi pacar gue”
“Vin…” Indi mulai berkaca kaca
“Kalo lo ngga mau, ngga papa kok. Kita bakal terus berteman seperti mau lo” Arvin mengeluarkan benda yang dibawanya. Indi terkejut melihat apa yang baru saja Arvin pasangkan dilehernya.
“Vin. Ini…ini…”
“Iya ndi. Gue udah lama beli ini buat lo. Kalau benda ini ngga lo anggap sebagai benda yang bisa mewakili ikatan kita sebagai pacar atau pasangan, seenggaknya lo bisa anggap ini sebagai tali persahabatan kita”
__ADS_1
“Kalo ini benda pasangan, kok elo ngga pake?! Curang!”
“Siapa bilang gue ngga pake?” Arvin mengangkat tangan kirinya dan memperlihat cincin di jari manisnya.
“Kok lo pake di tangan sedangkan gue pake jadi kalung?”
“Gue pengen memperlihatkan pada semua orang didunia ini, kalau gue udah ada yang punya!”
Indi langsung tersenyum mendengar alasan manis Arvin dan menunduk malu malu.
“Gue takut lo ngga bisa menerima gue sebagai pacar, makanya gue pasang cincin itu sebagai liontin di kalung yang lo pake sekarang.”
“Makasih ya vin”
“Tunggu gue pulang ya Ndi. Gue bakal pulang buat lo. Gue akan secepatnya menyelesaikan kuliah gue disana dan menjadi laki laki yang bisa lo banggakan buat masa depan kita nanti”
“Apa gue ada direncana masa depan lo Vin?”
“Pasti! Elo selalu ada direncana masa depan gue. Lulus kuliah, jadi dokter hebat terus menikah sama lo. Itulah rencana masa depan gue”
Seketika itu juga Indi meneteskan air matanya. Arvin merengkuh tubuh Indi dalam pelukannya. Arvin tidak memaksa Indi untuk menerimanya sebagai pacar atau sejenisnya.
Arvin tahu kalau Indi membutuhkan waktu yang mungkin tidak sebentar untuk benar benar membuka hatinya. Sakit hati karna penghiatan mungkin masih membekas di dalam sana, dalam hati Indi. Dan Arvin siap menunggu.
“Lo jahat Vin!” Indi memukuli punggung Arvin dengan posisi yang masih berpelukan
“Kok jahat?” Arvin bingung dengan tuduhan Indi
“Ya jahatlah. Masa baru jadian gue langsung ditinggalin”
“Maksud lo! Lo terima gue jadi pacar lo, gitu?!” Arvin menuntut jawaban dari Indi. Melepaskan pelukannya dan memandang wajah Indi dengan rasa penasaran
Indi masih menunduk. Tapi langsung memberikan anggukan sebagai jawaban. Perlahan mengangkat wajahnya dan menatap mata Arvin, membuka mulutnya dan menjawab “Iya vin.”
Cup
Saking bahagianya Arvin, sampai tidak sadar kalau tubuhnya memberikan respon yang diluar dugaan. Tangan Arvin reflek menangkup pipi Indi dan mendaratkan kecupan ringan dibibirnya.
Indi membeku.
Arvin membelalaknya kedua bola matanya. Baru tersadar dengan apa yang dilakukannya. Nafasnya mulai memburu. Rasa takut akan kemarahan Indi lebih membuatnya frustasi dari pada menunggu jawaban Indi untuk menerimanya.
Ketakutan kalau Indi akan langsung memutuskan hubungan keduanya yang baru beberapa menit lalu terjalin. Kan ngga lucu, kalau baru diterima tapi langsung diputusin.
“I…itu…Ndi…ma..af”
Indi masih tidak menjawab apapun, membuat Arvin makin takut. Kaki Arvin mulai gemetar, kedua tangannya ditangkupkan seperti gerakan orang berdoa. Mendekatkan ibu jarinya ke mulut dan menggigit kuku kukunya.
“Maaf Ndi...."
Indi mulai melihat semua gerak gerik Arvin yang begitu gelisah dengan wajah cemas. Ingin rasanya Indi memaki dan menghajar cowok yang ada di depannya itu. Dulu saat bersama Sigit, laki laki itu tidak pernah melakukan apa yang barusan dilakukan oleh Arvin. Mereka hanya sebatas gandengan tangan, berpelukan dan paling mentok cium jidat.
“Lo tahu ngga Vin, kalau itu adalah….adalah…”
“Ciuman pertama lo kan? Itu juga ciuman pertama gue”
__ADS_1
Indi menghembuskan nafasnya perlahan. Indi berusaha menerima dan memaafkan Arvin, setidaknya itu adalah pertama kali untuk keduanya. (Adilkan yah wahai para reader?)
“Ya udahlah. Nyok pulang”
“Lo ngga marah?”
“Ya jelas marahlah! Tapi gue harus gimana? Kalau gue marah marah, emang tuh ci..ciuman bisa dibalikin?!”
“Ya ngga bisa dibalikinlah Ndi. Yang ada juga ditambahin”
Seketika Arvin mendapat pukulan keras dilengan tangan kirinya, terakhir Indi mendaratkan cubitan diperut Arvin untuk mengakhiri hukumannya karna jawaban Arvin.
“Awas aja lo, kalau sampe gue dengar lo main cewek disana. Gue cekek lo!”
Arvin melangkah mendekati Indi dengan senyuman dan memeluknya,Indi tidak menolak.
” Gue janji! Ngga akan ada cewek lain selain lo”
Indi membalas pelukan Arvin dengan melingkarkan kedua tangannya kepinggang Arvin, erat. Lama keduanya berpelukan, pelukan perpisahan.
Hari keberangkatan Arvin
“Hati hati ya nak, jangan lupa kabarin ibu kalau sudah sampai sana”
“Iya bu. Anak ganteng ibu ini akan langsung nelpon ibu kalau sudah sampai sana”
“Bohong!”
“Kok bohong sih?”
“Bukan ibu yang akan langsung kamu hubungin, tapi itu..” Ibu Winda menunjuk Indi yang tertunduk malu malu.
Iya. Semua keluarga tahu kalau Arvin dan Indi sudah jadian. Bagas dan Amrita tidak keberatan atau melarang. Keduanya percaya Arvin akan menyayangi Indi dengan baik. Sedangkan untuk Andira malah tidak memberikan tanggapan apa apa, seolah dia bisa menebak kalau itu memang akan terjadi, cepat atau lambat.
Arvin menyalimi tangan ibu Winda, Bagas dan juga Amrita. Andira hanya menepuk bahu Arvin sebagai ucapan perpisahan. Tibalah giliran Indi. Semua orang sengaja berdiri agak menjauh dari Arvin dan Indi.
“Gue pergi dulu ya sayang”
“Hhmm…iya. Jaga kesehatan lo ya. Ngga lucu kan kalau calon dokter malah sakit.”
Arvin memeluk tubuh Indi, seakan itu adalah pertemuan terakhir mereka. Sampai sebuah suara menyadarkan keduanya, kalau mereka sudah menjadi tontonan keluarga.
“Woooi jangan lama lama! Adek gue tuh”
Winda, Bagas dan Amrita hanya tersenyum melihat Andira yang menarik Indi, memisahkannya dari pelukan Arvin.
Arvin melambaikan tangan, menarik koper besarnya menuju pesawat yang akan membawanya terbang ke tempat yang jauh. Jauh dari ibu yang gadis tercintanya. Dan orang orang yang menyayanginya.
Selamat jalan Vin. Cepatlah kembali. Kembali buat gue
***
Akhirnya selesai juga tulisan pertamaku
Tunggu season keduanya ya
__ADS_1
Judul baru dengan cast baru. OK