Belum Jadi Mantan

Belum Jadi Mantan
18. AIR MATA YANG MENGERING


__ADS_3


Arvin mengantar Indi pulang ke rumahnya, setelah seharian menghabiskan waktu dengan Ibu Winda. Indi mengeluh kekenyangan karna Ibu Winda terus saja memberinya makanan enak yang tidak bisa ditolaknya.


Andira yang tadinya mengantar Indi ke rumah Arvin malah pergi setelah mendapat telpon dari teman kampus untuk bertemu dosen pembimbingnya.


Jadi Arvinlah yang bertugas mengantar Indi pulang nantinya. Ibu Winda sudah membungkus makanan yang dibuatnya hari ini untuk mama Amrita, seperti itulah keakraban hubungan kedua keluarga ini.


“Sampaikan salam ibu buat mama Amrita ya sayang “ perintah Ibu Winda pada Indi yang sudah naik di atas motor Arvin, dan mendapat anggukan dari Indi.


“Arvin! Hati hati di jalan, jangan ngebut! Awas kalo sampe anak perempuan ibu yang cantik ini lecet!” ucap Ibu Winda pada Arvin penuh ancaman.


“Siap bos!”


Ada raut kebahagiaan di wajah Arvin melihat keakraban ibunya dan juga Indi. Walaupun Arvin adalah orang yang akhirnya harus membereskan kekacauan yang terjadi di dapur. Wajan dan panci kotor serta kawan kawannya menunggu dibersihkan, dan Ibu Winda memberi isyarat kalau Arvinlah yang harus mencuci semuanya.


Arvin memang sudah terbiasa membantu ibunya, dan berteman dengan penghuni dapur.



Andira baru saja turun dari motornya saat Indi dan Arvin pulang ke rumah. Mama Amrita menyambut kedatangan kedua anaknya dan juga Arvin di depan rumah setelah menutup warungnya.


“Apa itu?” Tanya Andira yang melihat bungkusan di tangan Indi dan menebak kalau itu adalah makanan.


“Nih mah, dari Ibu Winda. Ibu Winda juga nitip salam buat mama” Ucap Indi meyerahkan bungkusan pada mamanya tapi langsung di rebut oleh Andira yang sedang kelaparan.


“Kakak! Itu kan buat mama!” Indi berteriak pada Andira yang malah menjulurkan lidahnya mengejek.


“ Nak Arvin sekalian makan malam disini aja ya” pinta Mama Amrita pada Arvin yang hendak pulang setelah mengantar Indi. Waktu menunjukkan kalau sebentar lagi akan magrib, saatnya makan malam karna tadi Arvin memang jalan dari rumahnya selepas ashar.


“Hmm…iya deh mah” Arvin setuju

__ADS_1


Makan malam berlangsung dengan diselingi canda tawa. Indi membantu mama Amrita membereskan meja dan mencuci piring. Papanya Indi kemudian nonton TVdi ruang tengah, sementara Andira dan Arvin memilih ngobrol di warung dengan meja kursi yang sengaja disediakan untuk sekedar bersantai.


“Giman skripsinya kak? Udah beres?” Tanya Arvin membuka obrolan dan duduk santai seperti yang biasa dilakukannya. Arvin sudah sangat akrab dengan lingkungan rumah Indi.


“Tinggal revisi sedikit lagi” Andira menyeruput kopinya.” Lo sendiri gimana? Banyak belajar, bentar lagi ujian kenaikan kelas kan” sambung Andira


“ Iya kak, satu bulan setelah ujian akhir Indi. Oh ya…berarti Indi dong yang sebentar lagi menghadapi ujian akhirnya.” Arvin malah mengingat jadwal ujian Indi.


“Lo kan calon dokter, bakal kuliah di Indonesia atau di LN?”


“Kayaknya di Singapore deh kak, itu udah direncanain lama banget.” Suara Arvin hampir berbisik, seolah malas membahas hal itu.


Keduanya terus mengobrol sampai Indi ikut gabung.


-


“Ada apa pah?” Tanya Andira pada papanya yang berjalan keluar rumah setelah ada seorang laki laki yang menjemputnya, Andira tentu mengenal orang itu karena dia adalah pamannya Rosita.


Rumah pamannya Rosita berada tepat ada di samping rumah Indi, apapun kejadian yang ada di sana tentu akan terlihat dari rumah Indi atau dari warungnya.


Indi yang juga sudah bergabung dengan Andira dan Arvin di warung pun mulai melihat keanehan. Awalnya Indi melihat orang tua Sigit yang memang dikenalnya, lalu Sigit mengekori di belakangnya dengan wajah menunduk.


Andira penasaran dengan apa yang terjadi di rumah paman Rosita, dan langsung bertanya padanya saat paman Rosita itu lewat di samping warung.


“Paman, sebenarnya ada apa?” Tanyanya


“Hmm…..itu…anu… kemarin petugas ronda memergoki Sigit bermalam di rumah Rosita, dan baru pulang pada pagi hari. Mereka melaporkannya pada Pak RT dan sudah memberitahukannya pada ibunya Rosita juga. Keluarga sedang meminta pertanggung jawaban dari Sigit, dia harus menikahi Rosita secepatnya.”


DEG…


Andira dan Arvin membelalakkan matanya dan langsung memandangi Indi yang tubuhnya tiba tiba mematung. Indi sedikit bergetar, Arvin yang melihat itu langsung menariknya untuk duduk di dekatnya sambil mendengarkan penjelasan dari paman Rosita.

__ADS_1


“ Kemarin?!! Itu berarti hari dimana Indi mendapatkan tamparan dari Indi” Batin Arvin


Jadi pada hari Sigit marah melihat Indi pergi dengan Arvin dan berakhir dengan pertengkaran, Sigit malah meluapkan rasa frustasinya dengan pergi ke rumah Rosita. Malam dimana Indi pergi jalan jalan ke pasar malam dengan Andira dan Arvin, Sigit menginap di rumah Rosita.


Indi masih mengulang semua info tentang Sigit. Indi pernah melihat sepatu Sigit di depan rumah Rosita pada saat dirinya mengajak Rosita pergi jogging. Cerita masa lalu Kak Tina tentang Rosita yang merebut pacarnya. Juga saat Rosita yang selalu membanggakan kedekatannya dengan Sigit.


“Indi!…..Indi! “ Andira dan Arvin bergantian.


Kepala Indi dipenuhi semua memori yang saling tumpang tindih sampai dirinya tidak mendengar saat Andira berulang kali memanggilnya. Indi sampai menjatuhkan gelas minuman yang ada ditangannya.


Andira makin panik melihat sikap adiknya, amarah mulai mengusai hatinya. Andira tidak menyangka kalau adiknya akan mengalami hal seperti ini diusianya yang masih sangat muda.


Indi mungkin akan mengalami waktu yang sangat sulit setelah ini semua. Adik yang selalu dijaganya dengan baik malah harus merasakan patah hati yang tantunya sangat menyakitkan karna sahabatnya sendiri.


Kejadian dimana bibir Indi berdarah pun, Andira belum sempat meminta penjelasan pada Sigit. Andira memilih mendampingi adiknya yang pasti membutuhkannya untuk membangkitkan kembali hari cerahnya.


Tapi sekarang masalahnya malah semakin rumit. Rumit karena Andira tidak bisa menceritakan ini pada orang tuanya. Mamanya pasti akan merasakan sakit hati yang lebih dari pada dirinya.


Andira takut kalau adiknya ini akan melakukan hal hal aneh untuk menyalurkan rasa sakit hatinya. Andira duduk di samping Indi yang masih membisu, memeluk dari samping dan menggenggam tangan adiknya yang terasa dingin.


“Indi….keluarkan saja dek. Kalau mau nangis, maka menangislah” Pinta Andira pada Indi yang sama sekali tidak merespon.


Arvin jongkok di hadapan Indi, memegang sebelah tangan Indi yang tidak digenggam Andira. Pikirannya juga sedang menduga duga apa yang mungkin akan dilakukan Indi.


Andira dan Arvin sungguh memilih melihat Indi menangis keras sekerasnya, meluapkan rasa frustasinya dari pada berdiam diri bagai mayat hidup yang tidak memiliki jiwa.


***


Terima kasih sudah mampir


Harap maklumi salah penulisan dan typo

__ADS_1


Si_Ro


__ADS_2