Belum Jadi Mantan

Belum Jadi Mantan
30. APA YANG KAU TAHU


__ADS_3


“Naura…”


Andira dan juga Indi mendadak kaget. Evans memanggil Naura yang sedari tadi berlindung dibelakang tubuh Andira. Sedangkan Papa Bagas dan Mama Amrita sudah berjalan masuk ke kafe terlebih dulu.


“Lo kenal Naura Van?” Andira penuh tanda tanya


“Tentu saja. Dia temen yang gue ceritain ke elo waktu itu. Mungkin secara tidak langsung, dia itu investor kita.”


“Oh ya” Andira langsung menatap Naura yang sekarang berdiri disampingnya. Naura hanya tersenyum malu malu.


“Permisi….maaf telat ya kak” Arvin datang menyusul ke kafe dengan menggunakan motornya.


“Hei Vin, langsung masuk aja tuh bareng Indi ya” Andira mendorong tubuh Indi pelan untuk mengajak Arvin masuk meyusul kedua orang tuanya.


-


“Thanks ya bro, udah boleh pinjem mobilnya buat bawa bo-nyok gue kesini. Besok gue balikin” Andira menjabat tangan Evans setelah acara makan makan selesai.


Arvin mengikuti mobil yang dikendarai Andira untuk ikut pulang ke rumah mereka. Naura? Tentu saja ikut. Dan tentunya karna Amrita yang sedikit memaksa.


Turun dari mobil, terlihat seorang perempuan berada di depan rumah mereka sedang duduk di kursi warung dan juga mobil yang terparkir di halaman.


Perempuan itu langsung berjalan ke arah Andira dan memeluknya. Perempuan cantik dan juga berpenampilan mahal. Perempuan yang diperkirakan seumuran dengan Amrita.


Bagas dan Amrita kaget dengan apa yang ada di depan mereka. Andira bingung. Tidak tahu harus berbuat apa, saat perempuan itu memeluknya. Andira merasa nyaman dengan pelukan itu.


“Safira?…” Papa Bagas dan Mama Amrita berbarengan menyebutkan sebuah nama. Nama perempuan yang sedang memeluk Andira kini menoleh pada keduanya. Tapi Amrita langsung memperlihatkan wajah khawatir dan juga takut.


“Bagaimana kabar kalian?” berjalan dan memeluk Amrita


“Kami baik. Kau sendiri?” Bagas menjawab mewakili Amrita yang tiba tiba diam. Andira, Indi dan juga Arvin serta Naura masih memandangi ketiga orang tua yang sedang temu kangen.

__ADS_1


“Ayo masuk” Amrita kembali bersuara dan membuka pintu rumahnya. Safira berjalan sambil menggandeng tangan Andira. Dengan senyuman yang terus menghiasi wajahnya.


Amrita dan Indi langsung berjalan ke arah dapur membuat minuman untuk para tamu. Naura menyusul dan membantu.


Arvin tidak tahu dengan apa yang terjadi. Sejak perempuan yang bernama Safira itu datang, ada sesuatu yang tidak beres yang membuat Mama Amrita begitu berubah. Tidak sebahagia sewaktu masih di kafe tadi.


Arvin kemudian ikut nimbrung ke dapur. Tiba tiba menggenggam tangan Amrita dan tersenyum saat Amrita menatap wajahnya. Seolah menyalurkan ketenangan dan mengisyaratkan kalau semuanya akan baik baik saja.


Meskipun Arvin masih tidak tahu alasannya, tapi dia bisa melihat ketegangan yang terpancar dari wajah Amrita, wanita yang sudah dianggapnya sebagai ibunya sendiri. Amrita membalas senyuman Arvin. Dan Bagas melihat semuanya.


Bagas sangat tahu apa yang membuat istrinya berubah. Dirinya juga merasakan kekhawatiran yang sama, tapi masih berusaha menenangkan dirinya sendiri. Andira juga tahu itu. Hanya saja dia tidak bisa berbuat apa apa. Safira seolah tidak mau melepaskan pegangan tangannya dari lengan Andira.


“Aku datang untuk menyapa. Dan untuk sementara aku akan tinggal dikota ini. Terima kasih sudah menjaga anakku.” Safira menjabat tangan Amrita dan juga Bagas. Mereka hanya bicara bertiga setelah mengusir Andira, Indi, Arvin dan juga Naura untuk ngobrol dibangku warung.


“Maaf ya Naura…mama ngga bisa nemenin kamu ngobrol. Mama agak ngga enak badan, mau istirahat dulu” Amrita meminta pengertian Naura, meresa tidak enak karna sudah membawanya pulang tapi tidak memberikan sambutan tuan rumah yang baik.


“Iya mah, ngga papa. Naura juga sekalian pamit pulang. Ayah sudah nelponin dari tadi katanya ada hal yang penting mau dibicarain.” Naura menyalimi Amrita dan juga Bagas.


“Kapan kapan, Naura boleh main kesini lagi kan mah?”


Baru saja Naura akan beranjak pergi, tiba tiba sebuah mobil mewah lain masuk ke halaman rumah Bagas dan Amrita.


Arvin langsung berdiri karna merasa mengenali mobil yang baru saja berhenti didepannya. Turunlah seorang laki laki dengan pakaian yang rapi setelah sang supir membuka pintu penumpang.


“Dad!” Naura bergumam, tapi tetap bisa didengar oleh Arvin, Andira dan juga Indi. Naura kaget melihat ayahnya ada di depannya. Padahal baru beberapa menit yang lalu sang ayah menyuruhnya pulang karna ada hal penting yang akan dibicarakan dengannya.


“Kamu….kamu Nickolas Darwin kan?!” Bagas dan Amrita langsung tersenyum bahagia saat melihat dengan jelas, kalau orang yang ada didepan mereka adalah sahabat mereka semasa kuliah. Amrita yang tadinya ingin langsung menuju kamar, malah lupa dengan niatnya. Kesedihan yang tadi sempat terlihat diwajahnya hilang begitu saja.


Bagas dan Amrita juga Nick larut dalam pembicaraan menengenai masa lalu. Mereka lupa kalau saat ini ada 4 anak manusia yang masih berdiri dengan tanda tanya besar.


Amrita menarik tangan Nick untuk masuk ke dalam rumah, melanjutkan cerita masa muda dengan ditemani teh hangat dan juga cake buatan Amrita.


“Jadi itu ayahnya Kak Naura ya?” Arvin bertanya pada Naura yang memberi jawaban dengan anggukan. Naura masih tidak tahu kenapa Ayahnya tiba tiba datang ke rumah Andira.

__ADS_1


Ayah Naura pernah memberi peringatan, setelah menolak perjodohan yang sudah direncanakan. Ayahnya akan mengizinkan Naura menjalin hubungan dengan seorang pria, setelah ayahnya sendiri yang menilai apakah pria itu layak atau tidak untuk Naura.


Lalu apa yang akan terjadi, kalau ayah Naura tahu jika dirinya mencintai Andira. Sedangkan Naura baru saja melihat keakraban orang tua Andira dan ayahnya yang tidak pernah dia tahu sebelumnya. Apakah akan berjalan lancar atau malah akan sangat rumit.


Saat turun dari mobil, ayahnya seolah berpura pura tidak mengenalnya dan langsung menyambut pelukan dari Bagas. Naura tidak bisa membaca arti dari ekspresi sang ayah yang sudah pasti melihatnya berdiri berdampingan dengan Andira di samping bangku warung.


Indi :“Woi…bengong. Nglamunin apa sih?”


Arvin :“Nglamunin lo”


Indi :“Idih…kurang kerjaan amat”


Arvin :“Suka suka guelah”


Naura :”Kalian pacaran?!”


Arvin :”IYA!” Indi :” NGGA!”


Andira :”Ya elah kompak bener.”


Naura : Iya. Kompak. Pacaran juga ngga papa kali. Kalian serasi kok”


Indi :”Ogah! Indi maunya punya pacar yang dewasa”


Arvin :”Maksudnya om om?” Indi langsung melempar Arvin dengan botol kosong yang ada didepannya.


Indi :”Maksud gue yang dewasa pemikirannya, bukan umurnya.”


Arvin dan juga Naura hanya ber-oh ria, sedangkan Andira hanya tersenyum melihat Arvin yang rajin menggoda adiknya. Arvin selalu mampu membangkitkan mood Indi yang sempat hancur saat dikhianati oleh Sigit.


***


Author Note

__ADS_1


Apa kabar Sigit dan Rosita yah?


__ADS_2