
Indi mempercepat langkah kakinya dan tidak memeperdulikan panggilan dari Arvin maupun kedua orang tuanya. Andira yang saat itu berpapasan dengan Indi, menumpahkan sedikit air minum yang sedang digenggamnya karna Indi tak sengaja menyenggol tangannya.
“Eh dek…” belum selesai Andira menyapa Indi bahkan ingin menegurnya karna berjalan sambil menunduk, Indi melewatinya begitu saja. Seolah Andira adalah makhluk tak terlihat.
“Kenapa tuh anak?” Tanya Andira pada Arvin yang sedang duduk di hadapan Bagas dengan wajah sedih.
“Muka lo kenapa lagi?” Kembali Andi bertanya pada Arvin yang dilihatnya sedang memijit pelipis kanannya.
“Gini pah…mah…Kak Andi. Indi marah sama Arvin.”
“Kenapa? Emang lo apain adek gue?!” kata Andi
“Eh nih anak ya. Dengerin dulu sampai selesai!” Amrita memberikan isyarat untuk tenang dengan mengacungkan telunjuknya didepan bibir.
“Arvin mau berangkat ke singapore. Arvin bakal kuliah disana.”
“Ooh….”
Bagas, Amrita dan Andira kompak merespon keterangan dari Arvin. Kini mereka mengerti kenapa Indi kelihatan marah dan sedih saat pulang dari acara jalan jalan yang dirancang Arvin. Ternyata jalan jalan kali ini bisa dikatakan sebagai perpisahan dan ucapan selamat tinggal.
__ADS_1
Indi yang kini telah berada didalam kamarnya pun mulai menangis. Rasa sedih sudah begitu dirasakannya, padahal Arvin belumlah benar benar pergi. Dari mulai menetes satu persatu hingga menjadi aliran yang seolah tidak ingin berhenti. Bayangan dimana dirinya harus banyak sendiri tanpa ada yang menganggu malah membuat Indi merasa lebih terganggu.
Tok tok tok
“Indi…gue pamit pulang dulu ya, udah malem.”
Tok tok tok
“Indi…buka sebentar dong pintunya”
Tok tok tok
“Lo udah tidur ya? Gue pulang ya. Selamat malam Ndi, semoga mimpi indah”
“Tenang aja vin. Entar gue bantu kasih pengertian ke Indi” Andira menyemangati Arvin yang terlihat semakin tidak bersemangat untuk beranjak pulang.
“Terima kasih ya kak”
“Ngga usah kaku gitu lo sama gue, santai…” Andira menepuk pundak Arvin yang kini sudah duduk dijok motornya walau belum memakai helm.
”Kasih Indi waktu untuk mempersiapkan diri”
__ADS_1
“Mempersiapkan diri buat apa kak?”
“Ya buat lo tinggalain lah, gimana sih lo. Ya walaupun selama ini Indi selalu galak dan jutek sama lo, tapi elo tuh satu satunya teman laki laki yang Indi punya. Dan paling dekat dengan keluarga kita”
Arvin yang mendengar semua perkataan Andira langsung merasa senang.
“Ok deh kak. Arvin pulang dulu ya. Titip Indi”
“Ngga usah lo suruh kali. Gue udah jagain dia dari baru brojol ke dunia ini tahu ngga lo”
“He..hee iya yah. Arvin lupa”
“Hati hati lo dijalan”
“Siaaaap…”
Arvin memakai helmnya dan mulai meninggalkan halaman rumah yang sedari tadi enggan ditinggalkannya. Pikirannya masih dipenuhi dengan Indi yang menolak membuka pintu kamarnya saat dirinya berpamitan tadi. Arvin mengetahui kalau Indi mengintipnya saat sudah keluar rumah dan ngobrol sebentar dengan Andi.
***
Authornya masih bingung nih cara mengakhiri ceritanya
__ADS_1