
Andira yang baru turun dari motornya melihat kearah Indi yang sedang kebingungan. Menggenggam kedua pundak Indi dan menatap matanya. Menari nafas dalam sebelum mengucapkan kata yang mungkin akan membuat Indi menolak permintaannya.
“Sepertinya, sekarang adalah waktu yang tepat untuk sebuah kejujuran dek” Andira berkata sambil terus menatap Indi. Mengeluarkan kata katanya dengan sangat hati hati. Berharap adiknya bisa diajak kerja sama.
“Kejujuran mengenai apa kak?” Indi yang masih tidak paham dengan maksud dari kata kata kakaknya tidak bisa menyembunyikan rasa penasarannya. Wajah Andira yang terlihat sangat serius semakin membuat Indi tambah berpikir keras. Mencoba menebak arah pembicaraan yang diinginkan Andira.
“Kejujuran tentang kamu dek” Andira kembali berkata dan tetap dengan mode seriusnya.
“Kejujuran yang mana? Indi tidak mengerti kak. Sebenarnya ini ada apa?” Indi tetap tidak mengerti keinginan kakaknya.
Belum sempat Andira ataupun Indi mengeluarkan kata katanya, tiba tiba pintu kamar mama Amrita terbuka perlahan. Berdirilah Papa Bagas yang malah terlihat kaget dengan kehadiran anak anaknya yang berada di depan pintu kamarnya.
Papa bagas menghembuskan nafas dalam. Menurunkan kedua pundaknya dan sedikit menggelengkan kepala. Seolah membuang rasa marahnya dan memperlihatkan kekecewaan.
Mama Amrita melangkah di belakang suaminya dan langsung memeluk Indi. Kedua tangannya merengkuh Indi dalam dekapannya, seolah baru bertemu setelah sekian tahun.
Papa bagas yang melihat pemandangan tersebut, maju dan memeluk istri dan anaknya dan menarik tangan Andira untuk ikut gabung.
Keluarga yang saling menyayangi. Itulah yang akan terlihat, jika saat ini ada yang sengaja atau tidak sengaja melihat kebersamaan mereka.
“Maafin mama ya nak” Amrita masih memeluk anak gadisnya yang masih bingung dengan suasan haru yang tiba tiba.
Sedangkan Papa Bagas dan juga Andira sudah melepaskan diri dari pelukan massal itu. Keduanya mengusap air mata yang juga mengalir tanpa rencana. Biar kata mereka berdua adalah laki laki, tapi mereka tetap tidak bisa menahan diri saat mengetahui apa yang sudah dialami oleh Indi.
Amrita sedikit demi sedikit mulai melonggarkan pelukannya. Mengusap air mata yang tidak mau berhenti dengan satu tangannya. Menangkupkan kedua tangannya ke pipi Indi. Kini Indi bisa melihat mata mamanya yang merah dan sedikit bengkak.
__ADS_1
Entah berapa banyak air mata yang sudah mamanya itu tumpahkan. Hati Indi langsung merasa sakit. Indi jarang sekali bahkan hampir tidak pernah melihat mamanya menangis sebelumnya.
Mamanya yang meminta maaf atas kesalahan yang Indi tidak tahu apa alasannya, membuatnya tetap diam tanpa kata. Memandangi orang orang tersayang yang ada di hadapannya satu persatu. Mulai dari mamanya yang masih terus mengeluarkan butiran bening, lalu papanya yang juga terlihat sedih , dan terakhir kakaknya.
Indi mulai menunduk dan matanya berkaca kaca. Indi merasa bersalah karena membuat semua anggota keluarganya bersedih karena dirinya. Menjadi sumber kesedihan orang orang yang sangat dia cintai.
“Maafkan Indi” hanya itu yang keluar dari mulut Indi. Tenggorokannya tercekat dan tidak mampu untuk mengeluarkan semua kata kata yang ada di dalam kepalanya.
Papa Bagas membawa istri dan anak anaknya untuk duduk, setelah merasa kurang nyaman karena lamanya berdiri. Memposisikan Indi dan Andira duduk tepat di hadapannya dan istri tercintanya.
“Papa dan mama minta maaf, kalau selama ini kami berdua kurang memberi kalian kasih sayang yang cukup. Kami kurang memperhatikan kalian, sampai kalian harus mengalami ini semua. Papa dan juga mama malah menjadi orang terakhir yang mengetahui masalah kalian. Sekali lagi papa minta maaf”
Papa bagas kembali menunduk. Tidak kuasa menatap ke arah mata Indi yang sangat polos. Tidak menyangka kalau anak gadisnya yang sangat terlihat rapuh itu bisa mengalami hal sama sekali jauh dari batas bayangannya.
Alih alih memperlihatkan rasa sedih dan sakitnya, anaknya itu malah terus menampakan wajah tanpa beban. Indi menyembunyikan semua perasaan hancurnya dengan sangat baik. Dengan niat tidak ingin membuat kedua orang tuanya mengkhawatirkannya.
Papa Bagas dan Mama Amrita benar benar merasa menjadi orang tua yang sangat gagal. Tidak bisa menjadi sandaran disaat anak anaknya membutuhkan mereka. Kedua anaknya terlalu mencintai kedua orang tuanya, sampai bisa menelan semua masalah meraka sendiri.
“Inilah yang kami berdua takutkan mah. Air mata mama dan papa. Air mata yang tidak pantas mengalir keluar.” Andira menatap Indi yang sepertinya mulai mengerti kemana arah pembicaraan itu.
Indi tambah menundukkan kepalanya dan disambut pelukan dari Andira. Indi semakin terisak dan tidak bisa mengatakan apa apa. Mama Amrita yang juga kembali menangis mendapat pelukan dari suaminya.
-
Sebelumnya…
Pagi hari, saat keduanya anaknya berangkat sekolah dan kuliah, Amrita kembali kerumah Rosita. Membantu ibu Rosita untuk membereskan semua peralatan dapur yang masih berantakan di dapurnya setelah pesta semalam.
__ADS_1
“Kamu masih mikirin Indi?” tiba tiba terdengar suara Rosita dari dalam kamar. Tentu saja Amrita tidak sengaja mencuri dengar.
“Sekarang gue udah jadi istri lo, tapi lo malah mikirin perempuan lain” Rosita mulai meninggikan suaranya, tapi tidak ada kalimat jawaban yang terdengar.
“Ada apa ini ? Kenapa nama Indi disebut sebut.” Amrita mulai berpikir dan berprasangka buruk
Daun pintu tiba tiba terbuka, menampilkan Rosita dengan tampang marahnya. Amrita yang masih terpaku berdiri di depan pintu tentu saja terperanjat kaget.
Sigit yang juga melihat Amrita, bangkit dari duduknya di tepian ranjang dengan raut muka yang sangat terkejut dan juga rasa bersalah.
“Ada apa ini? Kenapa kalian menyebut nyebut nama anakku Indi?” Amrita yang tidak bisa menahan rasa penasarannya akhirnya bertanya.
Tidak ingin pembicaraan ini di dengar orang lain dan menimbulkan prasangka, Sigit menarik lembut tangan Amrita dan membawanya masuk ke dalam kamar. Beruntung tidak ada orang lain yang sempat melihat Amrita di dalam kamar Rosita.
Kini duduklah Sigit dan juga Rosita di depan Amrita yang masih memasang wajah penasarannya.
“Sebelumnya, Sigit ingin minta maaf mah.”
Sigit mengawali pembicaraan ini dengan mengucapkan permintaan maaf yang sudah disimpannya. Perasaan bersalah yang harus diucapkannya dan memohon pengampunan atas perlakuan yang sudah terlanjur menyakiti hati anak dari wanita yang ada dihadapannya.
Wanita yang juga sudah dianggapnya sebagai ibu, dengan kedekatannya bersama Andira dan Indi selama ini. Sigit menurunkan pandangannya dan tidak berani dengan tatapan Amrita yang begitu menelisik. Seolah ingin menusuknya hanya dengan kilatan cahaya dari matanya itu.
Menyakiti hati Indi dengan penghianatan, menghancurkan persahabatannya bersama Andira dengan bersikap brengs*k dan otomatis menyakiti kedua orang tuanya.
“Saya benar benar minta maaf mah”
***
__ADS_1
Masih mau baca kan?