
“Kalian saling kenal?” Andira sangat penasaran dengan yang dilihatnya saat ini. Naura datang ke acara wisudanya tanpa diundang dan meminta foto bareng. Tentu saja Andira tidak enak untuk menolak. Gadis itu memang sering muncul dimanapun dirinya berada.
Pertama Andira bertemu Naura adalah saat kelas XII, yang saat itu Naura menjadi adik kelasnya. Sering membawakannya bekal makan yang diakuinya dimasak olah Naura sendiri. Andira bukanlah orang bodoh yang tidak tahu apa arti perhatian yang diberikan oleh Naura.
Andira tidak bisa memberikan apa yang diinginkan Naura. Tidak mau ada yang tersakiti olehnya, Andira selalu menghindari Naura yang terus mendekatinya.
“Kasih tahu ngga yah…” Indi berpura pura berpikir dengan mengetuk ngetukkan jari telunjuknya dipipi dan mata yang memandang ke atas.
Naura dan Indi saling berpandangan lalu tertawa bersama.
“Kita udah lama kenal Andi. Bahkan sebelum aku kenal kamu, aku kenal adik kamu lebih dulu. Waktu itu Indi masih SMP. Ya kan ndi?” Naura menjelaskan perkenalannya dengan Indi pada Andira dan kedua orang tuanya.
“Masa sih? Kok aku ngga tahu?” Andira masih tidak percaya. “ Gue kenal semua teman Indi. Temen SD, SMP, SMA bahkan yang ada dilingkungan rumah. Tapi gue ngga tahu kalau lo juga salah satu temannya” Andira menunjuk adiknya yang masih tersenyum mengangguk, membenarkan penjelasan Naura.
“Udah udah. Naura…kita semua mau makan siang. Kamu ikut ya” Amrita mengajak gadis cantik yang baru dikenalnya itu. Naura menoleh kearah Andira seolah meminta persetujuan.
“kenapa malah ngliatin gue?” Andira mengerutkan alisnya “Bukan gue yang ngajakin lo ya. Lagian cuma makan siang juga” Andira bersikap dingin kembali.
“Andi!” Amrita melototkan matanya pada Andira. Amrita tahu betul sifat anak laki lakinya itu.
Sebenarnya Andira tidak mau bersikap seperti itu. Dia hanya ingin membuat jarak yang jelas dengan Naura. Garis yang sengaja dibuat untuk membuat Naura mau memundurkan langkah mendekatinya.
“Ayo sayang” Amrita menggandeng tangan Naura memasuki mobil yang akan dikendarai oleh Andira. Sengaja membuka pintu depan samping tempat duduk supir, supaya Naura bisa duduk bersebelahan dengan Andira.
Drrt…drrrt…ddrrt
Handphone Andira bergetar, sesaat dirinya duduk di balik kemudi yang akan dikendarainya. Sebelum menekan tombol yang berwarna hijau, Andira melihat layar dan sedikit memiringkan kepalanya “Nomer ini lagi” dan membuang nafas pelan.
“Hallo….”
__ADS_1
“.….” Tidak ada suara yang terdengar
“Hallo…” Andira kembali memancing pembicara
“.….” Dan masih tidak ada jawaban. Andira mulai jengah
“Maaf….siapapun dirimu, aku tidak punya waktu untuk meladeni keisenganmu ini. Aku tidak tertarik bermain main denganmu, jadi silahkan cari orang lain.” Andira sedikit memberi penekanan pada setiap kata katanya. Memberi isyarat kalau dirinya kini tengah marah.
“Andi…tut..tut…tut”
Andira mengerutkan alisnya. “Seorang wanita!” batin Andira. Diam sejenak dan menarik nafas dalam, menghembuskan perlahan.
“Siapa kak?” Indi bertanya, seolah mewakili semua orang yang ada di dalam mobil. Andira menatap sebelahnya yang terdapat Naura sedang memandanginya, lalu kedua orang tuanya di bangku belakang.
“Ngga tau mah.” Andira menjawab sambil menggeleng. Andira sangat penasaran dengan orang yang sering menelponnya. Bukan sekali duakali Andira menerima telepon seperti itu, dan itu mulai menganggu hari harinya.
“Nomer iseng itu lagi ya kak?” Indi menebak si penelpon kakaknya. Andira hanya mengangguk dan mulai menekan tombol yang bertuliskan ENGINE START STOP
“He eh” Andira menarik tombol BRAKE HOLD yang berada di samping PERSNELING dengan jarinya
“Siapa sayang?” Kali ini Amrita yang bertanya pada Indi
“Indi juga kurang tau mah. akhir akhir ini Kak Andira sering menerima telpon aneh. Dan pas diangkat, ngga ngomong apa apa. Tapi Indi pernah sekali yang angkat. Suara perempuan, terus nanyain apa bener itu nomer Kak Andira. Udah itu doang.”
Naura yang sedari tadi hanya diam dan mendengarkan mulai sedikit memiringkan kepalanya( mungkin sedang berpikir). Sedikit melirik ke arah Andira yang sedang menyetir, itu tak luput dari pandangan Amrita.
“Kamu ga punya punya musuh kan nak?” Tanya Amrita khawatir
“Itu ngga mungkin tante!” Naura langsung berbalik, menghadap ke belakang dan menyanggah pertanyaan Amrita “ Andi bener bener anak baik di kampus.” Andira manggut manggut dan mengacungkan ibu jari tangan kirinya pada Naura “ Itu mungkin malah salah satu dari pengagum rahasi…a….nya” Naura mengecilkan suaranya terlihat tidak bersemangat.
“Ehmm…kalo tebakan lo bener, berarti itu sesuatu yang bener bener ngga penting” Andira menjawab mantap dan melirik ke arah Naura. Andira tidak tahu kalau Naura menaikkan sudut bibirnya, dia tersenyum.
__ADS_1
Naura tersenyum mengetahui kalau Andira tidak tertarik dengan perempuan perempuan yang menjadi pengagum rahasianya. Walaupun itu juga termasuk dirinya. Tapi Naura tetap semangat untuk bisa menjadi satu satunya yang bisa menghancurkan tembok pertahanan Andira.
Mereka berlima tiba di tempat makan yang sudah dipesan terlebih dulu oleh Bagas untuk merayakan hari wisuda anak laki lakinya.
“Kita makan disini om?” Naura bertanya pada Bagas
“Iya. Kenapa?” Bagas melihat Naura yang melangkah ragu ragu
“Lo ngga doyan makanan kayak gini yah?” Andira menebak keraguan Naura. “Sorry…kalo ini ngga sesuai sama selera lo Ra. Tapi disini makanannya lumayan enak kok. Dan kafe ini juga tempat gue kerja sementara.” Naura langsung membelalakkan matanya mendengar penjelasan Andira.
Penjelasan kalau Andira adalah karyawan kafe yang saat ini ada dihadapannya, membuat Naura terus menatap Andira.
“Bukan itu maksud aku Andi. Aku cuma….”
“Hai man….selamat yah, lo udah jadi sarjana” Seorang laki laki bertampang bule keluar dari kafe dan langsung memeluk Andira. Laki laki itu adalah sahabat Andira sekaligus bosnya. “Tempat buat lo, udah gue siapin”
“Terima kasih bro” Andira membalas pelukan Evans
“Hallo om, tante. Hai adik cantik” Evans menyapa satu persatu anggota keluarga Andira dan melambaikan tangan pada Indi.
Evans sudah mengenal keluarga Andira. Tinggal di negara orang membuatnya mau tidak mau harus menyesuaikan diri. Dan Andira adalah orang pertama yang mau menjadi temannya saat masih menjadi berseragam putih abu abu.
Evans dan Andira memang tidak satu angkatan, tapi persahabatan mereka tidak mempermasalahkan itu. Evans juga lebih dulu menjadi sarjana dibanding Andira. Lalu mulai merintis usaha kafenya, yang tentunya mendapat dukungan dari Andira.
Evans melihat seorang gadis yang sedari tadi tidak bersuara dan hampir bersembunyi dibelakang badan Andira.
“Naura…”
***
Author Note
__ADS_1