
Seminggu sudah, sejak kejadian dimana Rosita memeluk Sigit malam itu dan meminta tidak meninggalkannya.
Sebenarnya Sigit sangat penasaran kenapa kenapa Rosita melakukan hal itu tapi dia belum mau menemui Rosita dan malah menghindar. Sigit memilih menyibukkan dirinya dengan menghabiskan waktunya bersama Indi atau dengan tugas kuliah.
-
Hari ini Sigit berniat untuk menemui Rosita dan mengajaknya bicara untuk menyelesaikan masalah diantara mereka.
Menemuinya di tempat kerja atau menjemputnya pulang kerja, seperti yang biasa dilakukannya sebelum terjadi hal malam itu.
Dan sebelumnya Sigit juga sudah mengabari Indi yang tidak bisa menjemputnya pulang sekolah, dia mengatakan ada tugas yang belum selesai.
*Di tempat lain
" Tumben sendirian? Genk lo pada kemana? " Tiba tiba Arvin sudah berada di samping Indi yang sedang serius mencari buku.
" Mereka lagi ada urusan sendiri sendiri, dari sekian banyak murid sekolah kenapa gue harus ketemu sama lo sih? Lo ngga lagi ngikutin gue kan? " Tanya Indi penasaran karena Arvin seolah ada dimana mana.
"Idih ke-pd-an, emang gue ngga boleh ke toko buku? " Jawab Arvin sambil terus berjalan, bertingkah seolah tidak peduli untuk mengurangi tatapan curiga dari Indi.
Padahal Indi juga sedang merasa kesepian tanpa teman temannya dan merasa beruntung bisa bertemu dengan Arvin, setidaknya dia tidak sendirian di tempat itu.
"Vin! Setelah ini lo mau kemana? "Tanya Indi setelah membayar buku yang sudah ada ditangannya.
" Pulang, kenapa? "Jawab Arvin enteng
" Mm.... "
" Temenin gue cari makan dulu ya, setelah itu gue anter lo pulang" Arvin seperti bisa menebak apa isi pikiran Indi yang tidak melanjutkan pertanyaannya.
Dan tentunya langsung dijawab anggukan mantap dari Indi, yang memang sedang bingung bagaimana cara dia pulang ke rumah, setelah Andira mengabari akan telat menjemput, juga Sigit yang bilang sedang sibuk.
Indi berjalan beriringan dengan Arvin memasuki kafe yang menjadi tujuan keduanya. Mencari makan setelah dari toko buku.
__ADS_1
Kafe yang lumayan ramai walau sudah lewat jam makan siang. Beruntung mereka masih bisa mendapatkan kursi untuk duduk. Mereka menghabiskan makanan sambil ngobrol dan becanda.
-
" Selamat sore mah, apa kabar hari ini? Maaf kalau Indi pulang kesorean, tadi mampir ke toko buku dulu. " Arvin menyalimi mama Amrita, setelah memarkirkan motornya di halaman rumah dan langsung berjalan menuju warung.
Warung yang posisinya berada tepat di pinggir jalan di depan rumah Indi. Tersedia meja dan kursi untuk pelanggan yang ingin duduk santai.
" Eh Arvin, sehat nak? Gimana kabar mama kamu? " Mama Amrita menyambut kedatangan Indi dan Arvin dengan senyuman sambil menyerahkan minuman kaleng dingin.
Amrita sudah menganggap Arvin seperti anak sendiri setelah kejadian Indi nyasar.
Arvin sering main ke rumah Indi dan juga pernah membawa ibunya untuk mampir, karena mama Amrita yang memintanya. Arvin bahkan memanggil Amrita dengan sebutan mama dan itu pastinya juga mendapat persetujuan papanya Indi dan Andira.
Arvin mengantar Indi pulang ke rumahnya dan mampir sebentar untuk menyapa mamanya Indi.
Saat Arvin sedang ngobrol dengan mama Amrita di warung, tiba tiba Arvin melihat laki laki yang pernah menjemput Indi di sekolah, membonceng seorang perempuan melewati depan rumah Indi.
" Mah... itu siapa? " Tanya Arvin pada mama Amrita sambil menunjuk ke arah motor yang baru saja melewati mereka tepat di depan warung.
" Oh, itu Sigit temannya Andira kuliahnya Andira, dan yang sedang duduk di belakangnya itu Rosita, masih saudara sama keluarga kami" Jawab Amrita sambil menata isi warungnya.
" Aduh, mama kurang tahu ya Vin. Mungkin mereka pacaran atau hanya sekedar temanan biasa, mama cuma sering melihat mereka pergi dan pulanh bareng. " Amrita menjawab pertanyaan Arvin sambil tetap sibuk di warung dan tidak memperhatikan raut wajah Arvin yang langsung berubah.
" Mah....Arvin masuk rumah dulu ya, pengen ngopi. " Pamit Arvin pada Amrita
" Ya nak, bikin sendiri ya" Jawab Amrita yang masih sibuk melayani seorang pembeli.
Arvin berjalan ke arah rumahndan mendapati Indi yang duduk di ruang tengah, sedang asyik menonton drama korea dari laptop. Langsung menuju dapur memasak air untuk membuat kopi, terus berpikir bagaimana membuka obrolan dengan Indi tentang rasa penasarannya.
Menghirup uap kopi yang masih panas, dan mencari posisi duduk yang nyaman di kursi samping Indi yang belum menyadari kehadiran dirinya.
" Serius banget sih! " Arvin mencoba mengalihkan perhatian Indi dari layar laptop.
" Sstt... jangan brisik! Ganggu deh! "Indi mengacungkan jari telunjuknya di depan bibir karena merasa terganggu.
" Tadi gue liat cowok lo boncengan ama cewek! "Ucap Arvin.
__ADS_1
" Cowok gue? Cowok yang mana? " Tanya balik Indi yang masih tidak mau diganggu, walau mulai penasaran dengan orang yang dimaksud Arvin.
" Si git! Cowok yang pernah gue liat jemput lo pulang sekolah, setelah lo nolak gue an te rin." Arvin sengaja mengeja kata katanya dan mengamati perubahan ekspresi wajah Indi.
Dan benar saja, Indi langsung mengalihkan pandangannya dari laptop ke arah Arvin dengan tatapan kaget.
" Darimana lo tahu itu Kak Sigit? " Tanya Indi
" Ya karena barusan gue liat dia lewat depan warung" Jawab Arvin menjelaskan.
" Apa lo pacaran sama Sigit? " Tanya Arvin kembali.
" Nggaklah! Siapa juga yang pacaran, Kak Sigit hanya salah satu teman Kak Andira yang hari itu memang diminta tolong buat jemput gue" Elak Indi sambil berusaha menyembunyikan rasa gugupnya. Sayang itu tidak berhasil. Arvin sudah melihat keanehan dari wajahnya.
Ada begitu banyak pertanyaan di kepala Arvin untuk Indi, tapi dia berusaha meredamnya.
Indi sudah terlihat begitu tidak nyaman, dan sangat terlihat tidak ingin melanjutkan obrolan itu. Terbukti dengan Indi yang tiba tiba menutup laptopnya dan masuk kedalam kamarnya.
Arvin masih duduk di kursinya dengan gelas kopi ditangannya yang sudah tinggal setengah saat mama Amrita masuk ke dalam rumah.
" Loh kok sendirian nak? Indinya kemana? "
" Dikamar mah, kayaknya lagi nonton drama korea" Jawab Arvin santai agar tidak menimbulkan rasa khawatir dari Amrita.
Arvin tidak mau Amrita tahu kalau beberapa waktu yang lalu Arvin dan Indi terlibat obrolan yang mungkin saja akan membuat Indi menjauhinya.
Kalau sampai Amrita tahu kejadian itu, sudah bisa dipastikan akan ada sesi tanya jawab yang lebih lama dari pidato kepala sekolah.
" Huh dasar anak itu, ada tamu bukannya ditemenin ngobrol malah asik nonton sendiri" Keluh Amrita dengan hobi anak perempuannya.
***
Author masih bingung cara menyampaikan konfliknya nih
Harap maklum salah penulisan dan typo ya
Terima kasih sudah mampir
__ADS_1
Si_Ro