Belum Jadi Mantan

Belum Jadi Mantan
35. MENJAUH


__ADS_3


“Naura!!!”


Suara Andira menggelegar di antara ratusan orang yang berlalu lalang di depannya. Memanggil nama gadis yang masih duduk dikursinya dengan terus memandangi benda persegi dan pipih ditangannya.


Sekarang gadis itu mulai mengangkat wajahnya, mencari sumber suara yang tadi terdengar memanggil namanya.


Andira berjalan cepat setengah berlari kearah Naura yang sudah berdiri mematung. Berkali kali mengerjap untuk memastikan kalau matanya tidak salah melihat. Laki laki yang sangat dicintainya itu benar benar ada di depan matanya.


“Apa kau akan pergi?”


Naura menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Nick membawa Safira menjauh untuk memberi waktu pada Andira dan juga Naura.


Satu tahun sudah Naura bertahan di kota ini. Kota yang sama dengan Andira, laki laki yang masih sering membuatnya menangis menahan rindu. Semakin lama rasa sakitnya semakin menyiksa.


Naura berat meninggalkan Andira, walaupun Naura tahu bagaimana status keduanya. Status yang belum bisa diterima oleh hati dan juga otaknya.


“Kita keluarga”


Iya. Satu kata itulah yang akhirnya merantai tangan dan kakinya untuk tidak melewati batas kewajaran. Dimana hatinya sudah terlebih dulu dicuri oleh Andira. Kenyataan menyakitkan yang membuat Naura memutuskan untuk meninggalkan kota ini, meninggalkan negara ini dan pergi ke negara tetangga yang menjadi tempat tinggalnya dulu.


Sengaja tidak membertahu Andira tentang rencana kepergiannya, dengan alasan tidak ingin mengucapkan kata SELAMAT TINGGAL.


“Kenapa…kenapa…ka..kamu disini?”


“Kenapa lo ngga bilang kalau mau pergi hah?!”


Andira sedikit menaikkan nada suaranya saat berbicara dengan Naura. Andira merasa marah dengan info yang didengarnya dari Arvin yang mengabarkan kepergian Naura.


“Aa…aku…cuma…”


“Aku cuma apa hah! Cuma mau pergi tanpa ngabarin gue, gitukan maksud lo!”


Naura mulai menunduk karna air matanya mulai mengalir liar. Tidak tahu jawaban apa yang harus dia berikan pada Andira yang terlihat sangat marah.

__ADS_1


Andira melangkah maju mendekati Naura, sampai tidak ada lagi jarak diantara keduanya.


“Izinkan gue egois kali ini aja”


Setelah mengucapkan kata itu, Andira mengulurkan tangannya dan membawa Naura ke dalam pelukannya dan mengecup ujung kepala gadis itu dengan lembut. Aura marah Andira mulai menghilang dan digantikan dengan rasa bersalah yang dalam.


“Maaf Naura. Maaf kalau ini semua menyakiti hati lo.”


Suara tangisan Naura semakin terdengar. Yang awalnya hanya lelehan air mata kini malah terdengar isakan, walau tidak terlalu keras.


“Aku cuma ngga mau kamu liat aku nangis” cicit Naura yang masih berada didekapan Andira saat tangisnya sudah mulai mereda.


“Bukannya sekarang lo juga lagi nangis.” Andira mulai menggoda Naura agar kesedihannya berkurang.


“Gimana gue ngga liat coba, kalau lo nangisnya dipelukan gue?” Sebuah cubitan mendarat diperut Andira yang berasal dari tangan Naura. Membuat Andira meringis


“Kan kamu yang meluk aku!” Naura mendengus kesal sambil memajukan bibirnya.


“Ini cuma pelukan kok, yang lebih juga gue bisa” Andira menunjuk bibir Naura dengan ujung dagunya. ”Jadi jangan menggoda gue dengan manyun manyun gitu ya!”


Lama keduanya saling berpelukan. Indi dan Arvin yang saat ini melihat keduanya hanya melihat dari jauh. Indi memaksa Arvin untuk mengikuti sang kakak yang terlihat sangat ketakutan saat mendengar kabar kalau Naura akan pergi.


-


“Apa lo pergi karna gue?”


“Bukan Andi. Aku pergi karna diriku sendiri. Aku belum bisa untuk benar benar menerima kenyataan dan kebenaran.”


Kini Andira sudah membawa Naura duduk di kafe yang berada tidak jauh dari pintu keberangkatan, setelah sebelumnya mengabarkan pada Nick untuk memberinya waktu pada mereka untuk berbincang sebentar.


“Apa rencana lo disana?”


“Yang pastinya nyelesein kuliah dan cari kerja”


“Bukan karna pengin menjauh dari gue?” Andira bertanya sambil menyeruput kopi yang baru saja diantar pelayan.

__ADS_1


“Mungkin itu salah satunya”


Andira membuang nafas perlahan. Sebenarnya hatinya bergejolak. Ingin menahan gadis itu untuk tetap berada disampingnya. Andira memiliki rasa cinta yang lama disimpannya. Rasa itu kini hampir membuatnya gila. Tapi otaknya masih bisa diajak untuk berpikir waras, memaksanya untuk bersikap wajar.



-


“Jangan lupa kabari gue yah kalau udah sampe sana”


Ucap Andira pada Naura yang memaksakan senyumnya.


“Siap bos”


Andira mulai menyalami Nick dan juga Safira yang sedari tadi terus menggenggam satu tangan Andira. Karna satu tangan lagi Andira gunakan untuk menggenggam tangan Naura. Nick memeluk tubuh Andira erat sampai Andira sedikit susah bernafas.


Indi dan Arvin masih memandangi Andira yang belum mau melangkahkan kakinya meninggalkan bandara. Masih menunggu pewasat yang ditumpangi oleh gadis yang dicintainya itu terbang dan menjauh.


“Ya elah, biasa aja dong tuh muka. Ngga usah ditekuk juga kan”


“Apaan sih” Andira mendelik ke arah Indi yang ingin menggodanya


“Ya kalo kangen tinggal beli tiket terus nyusul. Gitu aja kok repot”


“Ngga usah ngeledek deh, bentar lagi lo yang bakal nangis guling guling ditempat yang sama kayak gue tadi”


Andira menatap Indi yang bingung dengan jawaban yang diberikannya. Mencubit pipi Indi dengan gemas karna wajah cengonya. Lalu pergi dan menaiki motor kesayangannya. Walaupun Nick sudah membelikannya mobil baru untuknya, tapi Andira memilih menggunakan motor yang dibelinya dengan uangnya sendiri. Walaupun hasil kredit.


“Tunggu! Maksud kakak apa?” Indi setengah berteriak pada Andira yang sudah pergi meninggalkannya dengan Arvin


***


Yey udah mau tamat nih


__ADS_1


__ADS_2