
Amrita dan suaminya masih terus memandangi kedua anak mereka. Anak anak yang sangat mereka sayangi, hari ini memperlihatkan sikap kedewasaannya yang malah mengoyak jiwa sebagai orang tua.
Andira yang selalu ada disamping sang adik, saat susah dan senang. Bersedia menjadi sandaran dan penopang Indi. Menomorduakan kebutuhannya sendiri dibawah kenyamanan sang adik.
Dan sang anak gadis mereka, memperlihatkan rasa sayangnya pada orang tua dengan tidak merengek karna kesedihannya. Indi mampu menampilkan wajah bahagia walau dirinya sendiri sedang dilanda kekecewaan mendalam.
Indi yang mereka anggap sebagai gadis kecil penuh kecerobohan. Anak seribu ulah yang akan membuat seluruh keluarga mengkhawatirkan keselamatannya. Sifat kekanakan yang biasa terlihat, hari ini hancur berkeping tak bersisa.
Amrita dan suaminya sebenarnya marah pada Indi dan Andi. Marah karena telah membuat orang tua mereka menjadi orang yang terakhir tahu masalah anak anaknya sendiri. Bahkan Amrita harus mengetahui semua kebenarannya dari mulut orang lain.
Indi telah menyelasaikan cerita panjangnya. Penjelasan yang diminta orang tuanya telah dilakukannya dengan baik disertai rintik dari matanya. Amrita kembali ikut menangis saat menyadari kalau dirinya telah melakukan sesuatu yang bisa dikatakan kejam pada putrinya.
Kekejaman yang dilakukan Amrita adalah, saat dirinya dengan begitu mudahnya meminta Indi membantu Rosita di hari pernikahannya. Memang itu dilakukannya karena tidak menahu kisah dibaliknya. Dan kini, saat semuanya sudah terpampang jelas, Amrita merasa menjadi ibu yang jahat.
“Indi, mama bener bener minta maaf ya sayang “ Amrita tidak henti hentinya merasa bersalah.
“Mah…Indilah yang seharusnya minta maaf. Indi tidak jujur sama mama dan juga papa. Mungkin ini adalah hukuman yang harus Indi terima sebagai balasan dari kebohongan Indi.” Papa bagas mengusap air mata Indi yang belum berhenti mengalir.
Bagas dan Amrita tahu kalau anak mereka adalah anak anak yang sangat baik. Bermaksud tidak ingin menjadi beban untuk keduanya. Tapi sebagai orang tua tentu mereka ingin mengetahui semua yang anaknya lalui, tentunya untuk memastikan kedua anaknya dalam keadaan yang baik.
Setelah drama tangis menangis yang menguras emosi, tubuh Indi bergerak dari posisinya sekarang. Indi terlihat tidak nyaman. Dan itu tidak luput dari pandangan Amrita, Bagas dan juga Andira.
“Ayo, kita makan dulu” Mama Amrita bangkit dari duduknya dan menarik tangan Indi untuk mengikutinya. Iya. Semuanya sudah tahu apa arti gerakan Indi. Indi kelaparan.
Satu kebiasaan dan juga kelemahan Indi adalah, dia akan merasa lapar setelah menangis. Dan saat tidak menemukan makanan, maka Indi akan melanjutkan sesi menangisnya. Itu sudah terjadi sejak Indi kecil.
Indi masuk ke dalam jajaran orang orang yang akan melampiaskan rasa sedihnya pada makanan. Ingatkan Indi untuk tidak sering merasa sedih. Karena kalau Indi sering sedih maka dia akan terus makan, dan mungkin itu akan jadi masalah bagi tubuhnya nanti.
__ADS_1
Menyelesaikan masalah dengan masalah.
Tapi yang jadi masalah sekarang adalah, hari ini Amrita belum masak. Setelah pulang dari rumah Rosita, Amrita sibuk menangis.
“Ya ampun! Mama lupa, kalau mama belum masak!” Amrita mulai panik. Melihat ke arah Indi dengan tatapan khawatir.
Amrita kebingungan sendiri. Bagas yang melihat istrinya panik jadi ikutan sibuk membuka lemari es untuk mencari makanan.
Berbeda dengan Andira yang dengan santainya duduk di kursi dekat meja makan.
“Ngapain pada sibuk sih? Kenapa kita ngga makan di luar aja. Kayaknya kita udah lama ngga pergi bareng kan?” Andira memberi usul yang menarik perhatian orang tuanya. Indi yang tadinya memasang wajah cemberut, langsung sumringah.
Amrita dan Indi sedikit merasa enggan pergi. Mereka berdua mengeluhkan mata mereka yang sedikit bengkak akibat lomba menangis tadi. Orang orang pasti akan berpikiran yang tidak tidak jika melihat mata meraka.
Tapi godaan makan bareng diluar lebih menggiurkan daripada mempermasalahkan mata bengkak. Amrita dan Indi sedikit berdandan setelah mengganti baju. Bagas dan Andira sudah menunggu para bidadari kesayangan mereka di halaman rumah.
“Udah siap?” Bagas memastikan kalau dua wanita yang ada di depannya itu tidak ketinggalan apapun. Karna itu akan menjadi drama berikutnya yang mengharuskan mereka balik lagi kerumah.
“Udah dong!” Keduanya menjawab kompak. Senyuman itu kembali terlihat, menghiasi wajah dua makhluk Tuhan yang kini berjalan menuju kereta kencana. Ups!! lebay
Amrita duduk manis di belakang tubuh suaminya, sedangkan Indi naik ke atas jok motor yang dikendarai Andira. Kedua laki laki ini merasa sangat bahagia karna bisa kembali melihat keceriaan Amrita dan Indi.
Terkadang adanya sebuah masalah, dapat mempererat jalinan kasih sayang antar keluarga. Tapi jangan sengaja cari masalah ya!.
-
Indi benar benar disibukkan dengan persiapan ujian akhirnya. Hampir setiap hari Indi pulang sore karna ada materi tambahan yang diberikan oleh guru.
Indi tidak ingin, masalah yang baru saja dialaminya membuatnya mengacaukan masa depannya. Indi giat belajar dan Andira selalu membantu. Ah! Jangan lupakan Arvin.
__ADS_1
Arvin juga memiliki andil dalam membantu Indi menghadapi try out, USBN, UNBK dan segala ***** bengeknya. Lalu apa bagian Arvin? Jelas tukang ojeg
Arvin adalah orang yang akan mengantarkan Indi pulang ke rumah dengan selamat, setelah perdebatan yang tidak ditolak Andira. Keduanya bekerja sama untuk kenyamanan dan kelancaran semua kegiatan Indi.
“Vin, terima kasih ya” Indi mengucapkannya dengan tulus.
“Untuk?”
“Lo mau ikut repot karna gue” Indi melepaskan helm yang dipakainya sesaat setelah Arvin menghentikan laju motornya di halaman rumah.
“Gue malah seneng direpotin sama lo” Arvin menjawab sambil lalu dan menghampiri Amrita yang sedang sibuk di warungnya.
Indi ingin membalikkan tubuhnya masuk ke dalam rumah. Tapi saat itu juga, Indi melihat Sigit dan Rosita berboncengan melewati jalan yang ada di depannya.
Entah apa yang terjadi. Indi tiba tiba merasakan pandangannya menjadi gelap. Tubuhnya tetap dalam keadaan berdiri. Kesadarannya juga masih penuh.
Setelah suara motor milik Sigit sudah tidak lagi terdengar, yang itu berarti motor itu sudah jauh dari pandangan, mata Indi kembali dapat melihat cahaya. Orang yang pertama kali Indi lihat adalah Arvin. Tapi Andiralah orang yang menutupi matanya agar tidak melihat Sigit yang melewati rumah mereka.
Amrita yang melihat kelakuan Arvin dan Andira, ikut menatap ke arah Indi. Tapi Indi malah memberikan senyumannya yang mungkin bisa diartikan “ Aku baik baik saja, jangan terlalu khawatir.”
Indi harus membiasakan diri dengan keadannya sekarang. Statusnya memang belum putus dari Sigit, tapi hubungan itu juga tidak bisa lagi dianggap masih lanjut.
***
Move on \= YES!
Galau \= BIG NO!
__ADS_1