
Hari ini gue berencana main ke rumah Kak Rosita, dialah satu satunya orang yang biasa gue jadikan tempat curhat. Kak Rosita masih terhitung saudara, entah dihitung darimana, gue ngga ngerti sebut sebutannya.
Kalau kata mama sih, kakeknya Kak Rosita adalah adik dari kakek atau dari nenek gue gitu, tau ah bingung pokoknya masih bau bau saudaralah. Yang jelas Kak Rosita adalah orang yang sangat deket dengan gue, umur kami juga hanya terpaut 3 tahun saja.
Rumah Kak Rosita tidak jauh, hanya berjarak 2 rumah saja. Ayahnya sudah meninggal dan ibunya bekerja untuk memenuhi kebutuhan hidup dan juga biaya sekolah adik adik Kak Rosita.
Kak Rosita adalah salah satu alasan gue juga yang akhirnya memutuskan memilih sekolah gue yang sekarang. Kak Rosita punya adik yang seumuran ama gue, tapi gue malah lebih deket sama Kak Rosita.
Alasannya mungkin karena gue selalu lebih nyaman deket sama orang yang lebih dewasa. Kalau ada kata yang lebih baik dari kata sahabat atau soulmate mungkin gue bakal pakai kata itu untuk menggambarkan hubungan gue dengan Kak Rosita.
" Indi... gue mau ngomong sesuatu sama lo" sambut Kak Rosita yang bikin gue langsung buang nafas panjang. Giman ngga coba, kan gue yang mau curhat tapi malah keduluan sama Kak Rosita.
" Ada apa kak? "
" Lo udah jadian ya sama Sigit? "Tanya Kak Rosita sambil ngasih gue minuman dingin
" Jadian itu gimana sih kak? " itulah jawaban gue yang memang ngga ngerti apa yang dimaksud dengan kata jadian. Gue yakin kalau gue bakal dinilai polos atau bego.
" Jadian itu ya... si cowok menyatakan cintanya dan si cewek menerima cintanya gitu, emang lo ngga pernah? "
" Ngga pernah! " (kuper banget sih)
* Di rumah
Cermin di depan gue memperlihatkan muka gue yang terus aja tersenyum. Gimana nggak! Kak Rosita bilang kalau sebenarnya cowok yang gue taksir itu juga naksir gue.
Ya ampun... malam ini gue bakalan ngga bisa tidur lagi nih.
" Lagi jatuh cinta yaaaah? " Suara Kak Andira mengagetkan gue yang entah dari kapan ada di pintu.
" Sstt... pelan pelan kak, ntar mama denger" langsung gue tarik tangan Kak Andira untuk masuk kamar dan menutup pintu.
" Ngga kok kak! " Gue coba berbohong
Kak Andira tersenyum dan menarik gue untuk duduk bareng di pinggir tempat tidur. Gue tahu kalau Kak Andira ngga pernah bisa gue bohongin, tapi kali ini Kak Andira ngga langsung menjitak kepala gue seperti yang biasanya dia lakukan kalau gue ketahuan bohong.
" Indi.... kakak ngga akan pernah melarang kamu berteman dengan siapapun, di usia kamu juga akan sangat wajar mengenal yang namanya cinta.
Kakak pernah berada di umur kamu sekarang, naksir lawan jenis itu juga bukan hal yang aneh. Kakak cuma pengen kamu jaga diri baik baik dan kalau perlu bantuan kakak kamu tinggal ngomong aja ya.
__ADS_1
" Iya kak, makasih" jawab gue yang sedang merasa bangga dengan sikap kakak gue yang satu ini.
Beruntung sifat jahil dan iseng yang biasanya menjadi penghalang gue dan Kak Andira ngga datang saat ini. Yang gue lihat sekarang ini adalah seorang laki laki dewasa yang sedang memperlihatkan perhatian dan kepeduliannya.
* Di sekolah
Saat ini Indi sedang berada di dalam perpustakaan mencari buku novel yang baru saja direkomendasikan oleh Nuraeni sahabatnya. Langkahnya sedikit terburu buru karena para genknya sudah menunggu di kantin untuk makan siang di jam istirahat. Sampai....
BRUUK...
Novel yang Indi pegang jatuh ke lantai dan Indi langsung berjongkok untuk mengambilnya
"Aawww..." Indi meringis dan langsung menoleh ke arah orang yang bertabrakan dengannya.
" Lo lagi lo lagi" kata Indi mengusap jidatnya yang terasa sakit.
" Mau kemana sih, buru buru amat? " Jawab orang yang ada di depan Indi yang tidak lain adalah Arvin.
" Ke kantin!" Jawab singkat Indi yang langsung meninggalkan Arvin
" Boro boro boleh tapi... " kata Arvin yang terpotong begitu saja karena Indi tidak mendengarkannya.
" Idih ke-pd-an, ngapain juga gue ngikutin lo" jawab Arvin sambil tersenyum mengejek dan berjalan mendahului Indi yang masih cemberut.
Dan di kantin, para sahabat sudah menunggu dengan makanan yang hampir dingin karena kelamaan menunggu kedatangan Indi
" Indi! jidat lo kenapa merah? " Tanya Rosa
" Tabrakan ama Arvin di perpus" jawab Indi yang langsung membuat mata Rosa melotot
" Arvin! Kok bisa! Sekarang Arvinnya mana? Dia ngga papakan? " Rosa memberondong Indi dengan banyak pertanyaan yang malah bikin Indi tambah cemberut.
"Lo kok malah khawatir sama Arvin sih! Bukannya sama gue? "Sungut Indi
" Kayaknya kalian jodoh deh" itulah kata kata yang keluar dari mulut Nuraeni dan tentu saja membuat Indi dan Rosa menjawab serempak " Tidak! Jangan! "
" Ini bukan pertama kalinya Indi tabrakan sama Arvin kan? "Sambung Nuraeni
" Mungkin itu cuma kebetulan" jawab Levi yang tentu saja didukung anggukan Rosa dan Indi
__ADS_1
" Gue lebih suka cowok dewasa! "Jawab Indi yang langsung membuat para sahabat terdiam tanpa mencoba menanyakan alasannya.
Tentu saja Indi akan menjawab seperti itu karena saat ini Indi sudah mempunyai laki laki yang menjadi impiannya dan tentu saja sering hadir dalam mimpinya.
Walaupun Sigit belum nembak Indi, tapi Indi sudah merasa senang dengan hanya melihatnya. Indi kadang mengintip dari balik pintu kamarnya saat Sigit sedang mampir di rumahnya dan ngobrol dengan kakaknya.
Akhir akhir ini Indi sering pulang bareng Sigit. Andira tidak bisa menjemput Indi dikarenakan kesibukan di kampus yang memaksa Andira meminta bantuan Sigit untuk menggantikannya. Memastikan Indi pulang selamat sampai rumah dan itu juga diketahui oleh mama Amrita agar tidak khawatir.
Indi masih ingat omongan Rosita yang bilang kalau Sigit mungkin saja naksir dirinya, tentu saja itu juga menjadi keinginan Indi yang berharap jadi kenyataan.
Duduk di belakang Sigit yang sedang mengendarai motornya, Indi tak pernah melepaskankan senyumannya.
Indi menyendok makan siangnya perlahan mencoba bersikap anggun karena Sigit ada di depannya. Indi tentunya tidak ingin mengulangi kejadian memalukan yang pernah dilakukannya, menghancurkan harinya bersama Arvin.
Sigit yang memperhatikan Indi menjadi bingung. Tidak biasanya Indi makan dengan cara yang sangat kaku.
" Indi... kamu ngga lagi sakit kan? atau kamu lagi ada masalah? "
" Ngga kok Kak, memang ada apa kok kakak nanyanya gitu? "
" Ngga papa sih, cuma... agak aneh aja ama cara kamu makan"
"GUBRAK" batin Indi, berusaha anggun malah dinilai aneh, hufh...
*spoiler
" Indi... lo mau ngga jadi pacar gue? "
***
Sebelumnya.... Author minta maaf ya kalau ceritanya sedikit membingungkan.
Sumpah bagian ini tuh susah banget, idenya tiba tiba menguap begitu aja.
Amatiranlah pokoknya ditambah typo dimana mana.
Kritik dan sarannya masih ditunggu ya, terima kasih sudah mampir
Si_Ro
__ADS_1