Belum Jadi Mantan

Belum Jadi Mantan
8. KEMARAHAN ANDIRA DAN KEUSILAN ARVIN


__ADS_3

Sebelumnya author minta maaf kalo part ini terasa tertukar dengan part sebelumnya. Tapi karna teksnya udah ada jadi tetep aku upload


Happy reading...


_________________________________


Andira menyadari keanehan pada adiknya akhir akhir ini, setelah sebelumnya mama Amrita menceritakan kalau sikap Indi mulai berubah.


Andira berjalan ke arah kamar Indi untuk memastikan adiknya dalam keadaan baik baik saja.


Berjalan perlahan dan mulai menempelkan telinganya ke daun pintu, Andira penasaran dengan suara yang berasal dari dalam kamar. " Iya kak, aku juga kangen" suara yang terdengar membuat Andira kaget.


" Dengan siapa Indi bicara? " Batin Andira, dan makin mempertajam pendengarannya lagi.


" Kak Sigit juga mimpiin aku yah" suara terakhir dari Indi membuat Andira kaget dan marah.


" Indi! Buka pintunya! " Suara Andira sambil menggedor pintu, Indi tang juga kaget langsung memutuskan panggilan telponnya dengan Sigit.


Berjalan dengan takut dan meraih gagang pintu setelah memutar anak kunci.


" Kak Andira....ada apa kak? "Tanya Indi dengan suara gemetar.


" Ada hubungan apa kamu sama Sigit? " Andira langsung masuk dan tanpa basa basi, membuat Indi mematung.


" Dari mana kakak tahu? " batin Indi


" Ceritakan semuanya! Jangan ada yang ketinggalan satu titik pun" Perintah Andira sambil menarik Indi untuk duduk di pinggir ranjangnya.


-


" Jadi kamu pacaran sama Sigit? " Kata Andira menahan rasa kecewanya.


" Sejak kapan? " sambungnya dengan berusaha tenang, tapi masih belum mendapat jawaban.


Semua penjelasan Indi membuat Andira benar benar marah, Andira tidak menyangka adik satu satunya sudah mulai main rahasia darinya.


Andira juga merasa kecewa pada Sigit yang tidak mau jujur kalau sahabatnya itu menyukai adiknya


Andira tidak pernah mencurigai Sigit yang selalu semangat saat dirinya meminta tolong untuk menjemput adiknya pulang sekolah.


Andira berpikir kalau Sigit membantunya hanya atas nama persahabatan. Andira memang selalu memperkenalkan teman teman yang dia bawa pulang ke rumah pada Indi, berharap akan makin banyak orang yang bisa melindungi dan mengawasi adik perempuannya itu.


Hari ini Andira menyadari kesalahannya. Indi gadis yang manis dan menarik, itu juga diakui Andira. Akan sangat wajar kalau ada laki laki yang dengan mudah naksir Indi, termasuk teman temannya sendiri.


Sebesar apapun rasa kecewa Andira pada Indi tapi Andira juga tidak bisa menyalahkan adiknya yang mungkin merasa takut akan reaksinya kalau ketahuan pacaran dengan orang terdekat kakaknya sendiri.

__ADS_1


Menarik nafas dan membuangnya perlahan adalah cara termudah meredam rasa kekecewaan.


" Kakak harap ini tidak akan mempengaruhi belajarmu Indi" harap Andira.


" Iya kak, Indi janji" Jawab Indi yang masih menunduk takut melihat mata kakaknya, sampai Andira menarik tubuhnya dan memeluknya.


Andira belum pernah sampai semarah ini pada Indi. Andira selau bersikap lemah lembut saat adiknya melakukan kesalahan walaupun terkadang usil.


" Kak... apa kakak masih marah? " Tanya Indi menghentikan langkah Andira yang mulai meninggalkannya setelah menyuruh Indi tidur.


" Kakak ngga marah, kakak cuma kecewa sama kamu yang merahasiakan ini semua dari kakak. Apa kamu mengganggap kakak ini orang Lain? Atau kamu takut kakak akan menceritakan ini semua ke mama juga papa? " Andira kembali melangkah ke arah Indi dan mencoba menenangkan hati adiknya.


-


Pagi selanjutnya Andira mengantarkan Indi ke sekolahnya dan kembali mengingatkan supaya tidak perlu mengatakan obrolan mereka pada Sigit.


Indi sudah disambut genknya di depan gerbang, dan hanya memberikan senyumannya.


" Selamat pagi Kak Andira, apa kabar? " Sapa Rosa saat melihat Andira tersenyum ke semua teman teman adiknya.


" Pagi juga, saya baik dan...kalian juga apa kabar? " Andira menjawab basa basi Rosa.


" Baik kak! " Suara serempak dari Rosa, Levi dan Nuraeni.


" Kakak nitip Indi ya" Andira menekan kata nitip dan melirik ke arah adiknya yang masih menunduk.


" Ok kak, Kak Andira tenang aja, kita pasti jagain" Jawab Levi disertai anggukan dari Nuraeni.


" Kak Andira lagi marah sama lo ya? " Indi langsung mendapat berondongan pertanyaan dari Levi dan Nuraeni saat baru masuk kelas.


Indi mengangguk tapi tidak menjelaskan alasannya, dan itu membuat genknya juga diam tidak memaksa.


-


Arvin melangkahkan kakinya lebih cepat untuk menyusul Indi yang sengaja meninggalkannya dari perpustakaan.


" Indi! Lo kenapa sih? Lo lagi menghindari gue ya? "Tanya Arvin yang berhasil mensejajarkan langkahnya dengan Indi.


Indi berjalan beriringan dengan Arvin menuju kantin yang sudah ditunggu teman genknya.


" Kalian kok bisa barengan sih? " Tanya Rosa berdiri dan bertolak pinggang.


" Ngga sengaja ketemu di perpus tadi" jawab Indi dan mendudukkan dirinya di dekat Levi.


Tapi sebelum Indi benar benar duduk, Arvin lebih dulu duduk, dan terjadilah sesuatu yang membuat Indi berteriak disertai suara tertawa dari genknya, tidak dengan Rosa tentunya. Indi tidak sengaja duduk di pangkuan Arvin.

__ADS_1


" Arvin!!!! Kamu apa apaan sih?!! " Teriak Indi pada Arvin yang baru menyadari laki laki itu mengerjainya.


"Apa? Emang gue ngapain? "Jawab Arvin yang memasang muka bodohnya malah meminum jus yang ada di meja dan menghabiskannya.


" Arvin!! Lo tuh bener bener yah! "Lagi lagi Indi berteriak, marah karena minumannya di embat tanpa sisa.


Indi pergi meninggalkan Arvin dan genknya menuju toilet, dan menangis di salah satu bilik.


Arvin juga berlari mengikuti Indi dan menunggu gadis itu di depan toilet.


Indi tidak tahu apa alasan Arvin yang selalu saja mengganggunya, bahkan dirinya dicemburui Sigit gara gara Arvin.


Arvin menatap mata Indi yang tentu saja merah setelah menangis cukup lama.


" Lo kenapa?" Tanya Arvin dan tidak mendapat jawaban apapun


" Bodoh!! " bentak Arvin dalam hati pada dirinya sendiri.


" Udah jelas jelas matanya merah, ya jelas abis nangislah" gerutu Arvin sambil menepuk nepuk kepalanya sendiri.


Arvin juga tidak tahu kenapa dirinya sangat suka jahil pada Indi, padahal ada begitu banyak murid perempuan di sekolahnya.


Arvin begitu poluler di sekolahnya yang pastinya membuat banyak yang rela mengantri untuk jadi temannya atau malah berharap jadi pacarnya.


Bukannya Arvin tidak mampu untuk membeli minuman milik Indi yang selalu dihabiskan olehnya. Tapi melihat Indi yang hanya mau melihatnya kalau dirinya selalu mengganggunya itu membuat Arvin senang.


Saat pertama kali Arvin melihat Indi di rumahnyabyang di lihatnya seperti orang hilang, Arvin tiba tiba ingin selalu menggodanya.


Tidak ada siapapun yang dirasa menarik di mata Arvin selain Indi, meskipun Indi menanggapinya jutek.


Dan hari ini pertama kalinya Arvin melihat Indi bersedih karena ulahnya, bahkan menangis.


" Maaf Indi " batin Arvin


-


Arvin melihat Indi di jemput oleh laki laki yang diyakininya bukan Kak Andira, melainkan orang yang sama saat Indi menolak Indi menolak diantarkan olehnya.


***


Pengennya langsung up lebih banyak


Tapi jari jariku ngga bisa diajak kompromi nih


buat malam minggu aja ya

__ADS_1


Si_Ro


__ADS_2