
Bagas dan Amrita memutuskan untuk pulang lebih dulu, menyisakan kedua anaknya yang masih betah ditempat semula.
Indi setia berdiri menengadahkan kepala. Memandang jauh ke atas, dimana sebuah pesawat baru saja meninggalkan jejaknya. Awalnya, benda yang menyerupai burung terbang itu terlihat sangat besar. Lama kelamaan mengecil sampai akhirnya hilang tak terjangkau oleh pandangan.
“Hiks hiks…belom juga satu jam, tapi gue udah kangen”
Tangan kekar Andira merengkuh bahu Indi, sedikit menyalurkan kekuatan untuk bertahan. Indi mulai menyandarkan kepalanya pada pundak sang kakak, dan membiarkan air matanya terus mengalir.
Andira tahu benar, seperti apa perasaan Indi saat ini. Karena, apa yang dirasakan Indi, dirinya juga pernah mengalaminya. Seorang gadis yang memilih pergi meninggalkannya untuk menata kembali ruang hati yang sempat berantakan.
Andira berkata lembut pada adiknya “Pulang yuk”
Indi hanya menganggukkan kepala dan menghapus sisa air mata dengan tissu yang sudah dipersiapkan dari rumah. Sekuat tenaga menahan untuk tidak terisak di depan sang kekasih saat melambaikan tangannya tanda perpisahan.
“Kak..”
“Iya”
Indi menggunakan wajah sedih untuk membuat sang kakak berbaik hati memberinya gratisan “Laper”
Andira menggelengkan kepala dengan keanehan Indi “Kenapa sih, kalo orang habis nangis tuh biasanya langsung laper?”
“Kalau mau makan harus jawab kuis dulu ya kak?”
“Gue lagi nanya Ndi”
“Aku juga lagi nanya kakak”
__ADS_1
“Kan gue duluan”
“Harus dulu duluan ya, kayak orang bapalan?”
“Ya ngga gitu juga”
“Jadi kita mau makan apa mau balapan?”
“Serahlah! Berhubung hari ini gue lagi berbaik hati, lo boleh makan sepuasnya di kafe”
“Beneran kak?! Terus yag bayar siapa?”
“Kucing! Bawel yah” Andira membawa Indi ke kafe tempatnya bekerja. Posisi sebagai manager yang sudah 4 tahun dijalani, membuatnya lebih sibuk. Evans sang sahabat memilih mengelola cabang yang berada di Bali dan menyerahkan tanggung jawab kafe yang ada di Jakarta pada Andira.
Pergilah kasih, kejarlah keinginanmu, selagi masih ada waktu.
Jangan lupakan diriku, aku rela berpisah demi untuk dirimu.
Lagu dari D’masiv yang berjudul Pergilah kasih mengalun indah dari radio yang sengaja dinyalakan Andira untuk menemani perjalanan menuju kafe. Tapi Andira tidak menyangka kalau lagu itu malah membuat Indi kembali menitikkan air matanya.
“Yaaah mewek lagi kan. Salah dei salah dei. Amsyong deh” batin Andira setelah melirik ke arah Indi. Langsung saja Andira memutar tombol untuk mengganti frekuensi yang mungkin saja bisa diajak kerja sama. Beberapa menit berganti, tapi tidak menemukan yang pas untuk situasi sekarang ini.
“Ini kenapa sih?! Kagak ada apa, radio yang bisa ngehibur si cengeng satu ini?” Runtuk Andira yang akhirnya mematikan radio dengan hati dongkol dan membiarkan Indi dengan tangisannya.
End
***
__ADS_1
Author note
Si_ro mau kasih bocoran nih
Kok bocoran sih? Bocoran kan ngga enak, apalagi udah masuk musim hujan. Udah pasti minta ditambal.
“Iyain!!”
Pokoknya yah, ini buat yang pengen tahu kelanjutan dari cerita Indi dan Arvin.
Cerita tentang Indi dan Arvin yang harus menjalani hubungan jarak jauh atau biasa disebut LDR.
Dengan segala kecanggihan tekhnologi, ngga serta merta ngejamin hubungan LDR itu bakalan langgeng. Iya khaaaaan? (bacanya niru cara artis Syahrini ngomong ya. Buat yang jijik silahkan dimuntahin)
Ini cover season 2
Cast untuk Indira Putri
Cast untuk Arvin
Sampai jumpa di season 2 yang akan di up secepatnya sebelum Jum'at 22/11/19
__ADS_1
See you
Si_Ro