
Indi baru saja menyelesaikan makan malamnya, saat Andira baru saja pulang mengurus keperluan wisudanya yang seminggu akan dilaksanakan. Amrita dan Bagas sedang berbincang santai di kursi warung depan rumah.
Drrrt…drrrrt…ddrrt
“Kak! Ada yang telfon” Teriak Indi pada kakaknya yang saat itu sedang pergi ke toilet
“Dari siapa dek?” Andira balas berteriak
“Ngga ada namanya kak”
“Jawab aja” Andira memberi izin pada adiknya, dan Indi segera melakukan apa yang diperintahkan. Mengambil hp sang kakak dan menekan tombol berwarna hijau.
“Hallo….”
“.…” Tidak ada jawaban dari seberang
“Hallo ini siapa yaa?” Indi kembali bertanya
“Ekhem…” terdengar suara deheman. Dan Indi mengenali kalau itu adalah suara seorang wanita.
“Em…mm..apa benar ini nomernya Andi?” Akhirnya seorang wanita bersuara
“Andi? Maksudmu Kak Andira? Iya benar. Ini siapa ya?”
“Kau sendiri siapanya Andi?” Wanita diujung telpon malah balik bertanya pada Indi
“Hah! Aku….”
“Siapa dek?” belum sempat Indi menyelesaikan perkataannya, Andira sudah berdiri disamping kursi yang didudukinya.
“Ngga tau kak” Indi menyerahkan handphone yang dipegangnya pada Andira
“Kok ngga tau?” Andira menerima handphone tersebut dan menempelkan ditelinganya.
“Hallo…siapa ya?”
Tut tut tut
Sambungan terputus. Andira meletakkan handphonenya kembali di atas meja.
__ADS_1
“Aneh!”
“Apanya yang aneh kak?” Indi yang melihat kakaknya bingung tidak tahan untuk bertanya.
Selama yang Indi tahu, Andira tidak pernah punya pacar. Tapi dengan kejadian barusan Indi jadi tidak yakin. Andira memiliki wajah yang lumayan terbilang ganteng. Akan sangat aneh kalau tidak ada perempuan yang naksir kakaknya tersebut.
“Cieee…pacar ya”Jiwa usil Indi bangkit
“Apaan sih! Mulai berani ngledek kakak kamu ya. Belajar dari Arvin yaa….” Andira malah balik meledek adiknya.
“Ellah…ngga usah mengalihkan pembicaraan deh kak. Kalau punya pacar ya ngga usah diumpetin, ntar direbut orang loh” Indi menasehati kakaknya
“Oh ya. Kayak siapa contohnya?” Andira menjawab sambil mengangkat sebelah alisnya
“IIh kakak mah gitu” Indi tahu kalau nasehatnya malah balik pada dirinya sendiri.
“Bukan gitu dek. Akhir akhir ini kakak sering banget terima telpon dari nomer yang ngga kakak kenal”
“Masa sih kak” Indi mulai menatap kakaknya penasaran
“Lagian pacar dari mananya. Wong kakak aja ngga tahu, yang nelpon itu cowok apa cewek” Andira mulai duduk disamping Indi
“Ya udah ngga usah dipikirin, tidur sana”
-
Indi turun dari motor kakaknya. Dan tumbennya adalah tidak ada satupun dari para sahabatnya yang berdiri menunggunya, bahkan Arvin pun tidak terlihat ujung jidatnya.
Tanpa mereka sadari, ada sebuah mobil yang sedari tadi mengikuti mereka. Sang supir terus menjalankan mobil sesuai perintah sang majikan.
“Selidiki hubungan mereka berdua” Ucap sang pemilik mobil dan seseorang yang berada di samping supir mengangguk tanda mengerti.
Mobil kembali melaju mengikuti motor Andira yang mengarah ke kampusnya.
“Hai Andi” seorang gadis cantik menyapa Andira saat turun dari motornya di parkiran. Tapi sayangnya tangapan manis tidak pernah didapat dari laki laki yang ada dihadapannya. Andira hanya memberikan anggukan ringan untuk menjawab sapaan dari orang yang biasa dikenal dewi kampus. Tanpa senyuman.
“Apa sih kurangnya gue? Apa gue terlalu agresif deketin dia ya. Gue rajin kejar aja tanggepannya sedingin kutub, gimana kalo gue pura pura kalem. Makin jauh aja tuh calon laki gue. Huf….sabar sabar” ucapnya setelah Andira tidak lagi terlihat.
“Naura!” Sang teman memanggilnya dan mengajaknya masuk ke dalam kampus.
“Hari ini lo ada rencana ngga?” ucap Mira pada Naura yang masih sibuk dengan handhpone ditangan kirinya dan minuman dingin di tangan kanannya.
__ADS_1
Udah kayak lagu dangdut ya. Madu ditangan kananmu, racun ditangan kirimu….
Buat yang hafal, silahkan dilanjut
“Hah! Sorry sorry…lo nanya apa barusan?” Alhasil lansung membuat sang sahabat cemberut
“Ihhh….dari tadi lo ngga dengerin gue ngomong. Tuh handphone ada apa sih?! Gue dicuekin!.”
“Iya maaf…” Naura merasa tidak enak pada sang sahabat. Sahabat yang sudah menjadi teman terbaik di tempat yang baru dikenalnya sejak 5 tahun lalu.
“Gue tanya, hari ini lo ada rencana ngga?” Mira mengulangi pertanyaannya
“Maaf ya Mira, hari ini gue sibuk”
“Sibuk ngintilin Andira ya?” Mira sudah tahu kegiatan sehari hari Naura sahabatnya.
“Kenapa lo ngga nyerah aja sih Ra? Lo tahu kan Andira tuh orangnya kek gimana?” Mira mengutarakan pendapatnya
“Justru karna gue tahu sifat Andira, makanya gue akan tetep terus berusaha. Biar kata tuh es batu dari kutub lari seribu langkah, maka gue akan lari seribu satu langkah untuk bisa ada di depannya. Gue akan buat dia hanya melihat gue.” Naura bersemangat.
Semangat yang sama dari pertama kali mellihat Andira di depan halte bis. Dirinya yang saat itu berada didalam mobil mewah milik sang ayah, melihat Andira menggandeng Indi. Melihat kasih sayang yang diperlihatkan Andira pada Indi, Naura langsung bisa berharap kalau yang sedang berada di samping Andira adalah dirinya.
“Tapi mau sampai kapan Ra? Sedangkan Andira seminggu lagi wisuda. Lo udah ngga punya waktu lagi buat bisa deketin dia.”
“Gue punya banyak cara buat bisa deket sama dia. Kalau cara A udah ngga mempan, maka gue masih punya cara B, C dan seterusnya.” Naura tersenyum
“Terserah lo lah, gue cuma bisa do’ain yang terbaik buat lo”
* Naura Story
Naura baru kembali ke kota ini saat dirinya menginjak kelas 11. Dan saat itu, Mira adalah satu satunya orang yang mau menjadi temannya selain karna mereka juga adalah tetangga. Teman yang lainnya tidak mau berteman dengan Naura. Bukan karna Naura adalah orang yang sombong. Melainkan karna Naura tidak bisa bicara bahasa Indonesia.
Naura memang lahir di Indonesia, tapi kemudian harus pergi ke UK mengikuti sang ayah. Pada saat kembali ke Indo, Naura sedikit kesulitan mengingat kembali bahasa ibunya.
***
Untuk para reader
Tolong tinggalkan respon dong, biar authornya semangat update
__ADS_1