Belum Jadi Mantan

Belum Jadi Mantan
34. BERTEMU DAN BERPISAH


__ADS_3


Indi loncat dari ranjangnya saat matanya membuka sempurna. Menatap kasur lipat yang berada persis disamping ranjangnya. Kosong


Tidak ada sosok Andira di kasur itu. Tidak ada laki laki yang tanganya terus digenggamnya. Tidak ada tubuh yang semalam memeluknya dan memberikan kenyamanan. Hampir saja Indi kembali menumpahkan air matanya saat Andira masuk membawa segelas susu hangat untuknya.


“Stop!! udah cukup! Jangan nangis lagi” Andira mencegah tangisan Indi “Kakak ngga akan kemana mana Indi hem.”


“Kakaaak….” Indi bangkit dan memeluk Andira


“Minum susunya dulu, mumpung masih hangat. Dari semalem kamu ngga makan”


“Kakak juga ngga makan kan? Susunya bagi dua yah?”


“Ngga usah. Kakak udah minum di dapur tadi. Mama juga lagi masak. Cuci muka dan gosok gigi dulu sana, bau jigong. Kalo udah kita sarapan”


“Kak!”


Indi mencegah Andi yang hendak melangkah keluar dari kamarnya


“Kakak janji ya, ngga akan ninggalin Indi”


Andira kembali duduk dipinggiran ranjang kamar Indi. Berusaha menyakinkan adiknya yang masih mengkhawatirkan kepergiannya. Lagi dan lagi


“Kakak adalah kakak kamu. SE-LA-MA-NYA”


“Bukan kakak yang akan pergi meninggalkan kamu, tapi kamulah yang akan pergi meninggalkan kakak”


“Ngga kak! Indi ngga akan ninggalin kakak”


Andira tersenyum pada kepolosan adiknya


“Kamu pasti pergi. Pergi meninggalkan rumah ini. Meninggalkan kakak, mama juga papa.”


Hampir saja Indi memprotes kata kata yag keluar dari mulut kakaknya. Tapi Indi kalah cepat


“Tapi itu nanti. Saat ada laki laki yang mau menempungmu dan sanggup memberi kamu makan. Laki laki yang akan menggantikan papa dan juga kakak untuk menjagamu. Laki laki yang pasti harus lebih menyayangi kamu dibanding siapapun kecuali ibunya. Yaitu suami kamu”


“Kalo gitu Indi ngga mau nikah aja deh”


“Hus! Ngga boleh ngomong gitu Indi!” Tiba tiba Amrita muncul dipintu tanpa mengetuk lagi dan memarahi Indi yang sedang memasang wajah cemberutnya.


“Kalo kamu nanti nikah ya, kamu harus ikut suami kamulah”


“Tapi siapa yah yang mau sama kamu? Manja, bawel trus cengeng lagi”

__ADS_1


Andira mengacak ngacak rambut adiknya, Dan Indi malah tersenyum dengan kelakuan sang kakak. Indi bahagia, ternyata kakaknya tidak berniat pergi meninggalkannya dan tinggal bersama orang tua kandungnya.


“Kalo nanti Indi dibawa suaminya, kamu juga harus bawain mama menantu!” Amrita berjalan keluar kamar Indi untuk menyiapkan sarapan. Andira yang mendengar keinginan mamanya langsunng menunduk lesu.


Indi bisa melihat ada guratan kesedihan di wajah Andira. Indi tahu kalau selama ini sebenarnya Andira memiliki rasa pada Naura. Hanya saja kakaknya itu terlalu kurang pede untuk mendekatinya.


Naura yang cantik dan juga kaya membuat nyali Andira ciut. Sipalah dirinya yang bermimpi untuk mendapatkan wanita yang diinginkan hampir setengah mahasiswa di kampusnya itu. Naura yang sangat rajin mengejarnya malah membuat Andira makin menjauhinya.


“Kak!”


“Ya..”


“Gendoong” Indi mengulurkan kedua tangannya pada Andira. Berharap sang kakak masih mau memberikan punggungnya untuk menahan beban tubuhnya seperti waktu Indi kecil.


“Ya ampuuun ck…ck…”


“Kakaaaak”


“Huf….”


Walaupun Andira memasang wajah malasnya, tapi tak urung dirinya tetap melakukan apa yang diinginkan sang adik. Berbalik badan dan mulai membungkuk untuk menggendong Indi.


“Egghh….berapa sih berat badan kamu Ndi? Kok kayak bawa karung beras yah” Andira menggoda Indi dan berpura pura seolah dirinya sangat terbebani dengan menggendong adiknya.


Indi memukul punggung kakaknya


“Gendut!”


“Enggak!”


“Gendut gendutt”


Indi yang tersinggung dengan kata kata Andira menjulurkan kakinya ke bawah berniat untuk turun dari punggung Andi tapi langsung ditahan.


“Becandaaa…ngambekan ih”


“Ngga lucu!”


“Coba coba, kakak liat cemberutnya. Mau kakak foto terus kakak kirim ke Arvin.”


“Ngapain kirim ke Arvin?”


“Biar bisa dicetak trus ditempel ditembok buat nakut nakutin cicak”


“Iiih kakak jahat”

__ADS_1


Indi kembali memukuli punggung kakaknya, tapi juga langsung melingkarkan tangannya ke leher Andira. Memeluk Andira dari belakang. Indi benar benar bahagia dengan momen momen yang dia habiskan bersama sang kakak.


Andira memang tak pernah akur selamanya, tapi juga tak pernah bertengkar selamanya. Keduanya saling menyayangi seperti saudara kandung lainnya. Dengan adanya kenyataan Andira yang bukan kakak kandungnya, malah membuat Indi dan Andira semakin dekat.


Kebersamaan mereka dari bertahun tahun yang lalu , tidak akan membuat mereka mudah untuk berpisah begitu saja. Setidaknya untuk waktu dekat ini.


Memang benar, dimana ada pertemuan maka disitu juga akan ada perpisahan. Cepat atau lambat.


Saat Indi keluar kamar untuk sarapan, Arvin yang baru masuk setelah mengucapkan salam, melenggang di depannya dengan senyuman mengejek.


“hiiii….baru bangun yah? Rambut tuh berantakan. Belum mandi pasti kan?”


“Biarain!”


“Bau!”


“Ya jangan diciumlah”


“Siapa juga yang mau nyium lo, bisa pingsan gue nanti”


Arvin menyalami tangan Bagas dan juga Amrita. Meletakkan bungkusan yang dibawanya dimeja makan.


“Kak Andira…ini makanan kesukaan kakak. Ibu sengaja masak buat dibawa kesini.” Arvin


“Makasih ya Vin, jadi enak nih kalo gini he…hee” Andira


“Sarapan Vin” Bagas


“Ayok duduk. Sarapan bareng. Jangan pedulikan yang belum mandi “ Amrita


“Belum mandi tapi tetep cantik kan?” Indi


Sarapan bersama diselingi dengan sindiran sindiran untuk Indi. Karna hanya Indilah orang yang belum mandi diantara mereka.


malam sebelumnya


Arvin pamit pulang pada Bagas yang saat itu masih menenangkan Amrita. Walaupun kakinya enggan melangkah, tapi Arvin tahu kalau ini bukan waktunya untuk tetap berada dirumah Indi. Keluarga yang disayanginya itu perlu menyelesaikan masalah mereka sendiri. Dan Arvin tidak bisa ikut campur.


Tiba dirumahnya, Arvin diberondong pertanyaan oleh ibunya. Arvin yang pulang kemalamn membuat Winda khawatir. Dan hatinya ikut sedih mendengar cerita tentang Andira dan Indi yang pingsan.


Winda bangun pagi pagi sekali untuk masak makanan kesukaan Andira. Sedikit sogokan untuk membuat Andira tetap tinggal, kalau kalau Andira berniat untuk meninggalkan keluarga Amrita.


***


Hai ketemu lagi nih

__ADS_1


Maaf ya up date nya lama


Lagi ngga banget


__ADS_2