Belum Jadi Mantan

Belum Jadi Mantan
27. TEKA TEKI BIKIN KEKI


__ADS_3


“Setelah lulus kamu mau lanjut kuliah atau cari kerja Andi?” Naura menghampiri Andira yang sedang makan sendirian di kantin.


Andira masih tidak memberikan respon apapun. Terakhir kali mereka ngobrol adalah 1 bulan lalu. Itupun berakhir dengan Andira yang meninggalkan Naura sendiri. Naura yang hari itu memberanikan diri buat nembak Andira, tidak mendapatkan jawaban apa apa. Malu? tentu saja. Tersakiti? Itumah apalagi. Beruntunglah tidak ada yang melihat mereka berdua.


Naura sudah mengikuti Andira dari masih SMA, tidak menyerah begitu saja. Naura bahkan hampir lebih mirip seperti seorang penguntit. Hari pertama kali melihat Andira di halte bis dengan seragam putih abu abu, Naura langsung mencari dan mendaftar ke sekolah yang sama.


Bahkan tempat kuliah Naura sekarang adalah kampus yang dimana Andira adalah salah satu mahasiswanya. Ingin lebih mengenal atau malah ingin memilikinya.


“Gue mau kerja” Akhirnya Andira menjawab pertanyaan Naura. Pertama dalam sejarah. Andira tidak bersikap ketus dan dingin. Bahkan sekarang Andira menatap mata Naura dan tersenyum, walaupun sangat tipis. Dan itu berhasil membuat Naura makin yakin, kalau dia harus terus mengejar Andira.


“Gue…minta maaf yah. Dipertemuan terakhir kemarin, pasti gue udah bikin lo malu dan sakit hati” Andira mengutarakan unek unek yang dipendamnya. Dia merasa kalau sudah tidak memiliki waktu lagi dengan gadis yang ada didepannya.


“Hari itu…gue terlalu kaget dengan omongan lo. Itu pengalaman pertama gue yang ditembak cew…”


“Itu juga pengalaman pertama aku Andi” Naura menyela perkataan Andira


Keduanya saling berpandangan dan berakhir dengan tertawa bersama. Menertawakan kekonyolan diri mereka sendiri.


“Tapi sekali lagi gue harus minta maaf sama lo Naura”


“Kamu tahu namaku?” Naura tidak menyangka apa yang didengarnya


“Siapa sih yang ngga tahu nama lo ?! Bahkan satu kampus ini, kalo ada yang ngga tau nama lo itu malah aneh” Andira menjawab keterkejutan Naura


Keduanya lalu terdiam sejenak sebelum Andira melanjutkan kata katanya.


“Sebelumnya gue berterima kasih. Tapi gue juga minta maaf, kalo gue ngga bisa menerima perasaan lo”


Naura masih terdiam. Hilang sudah semangat 45nya. Rasa bahagia karena laki laki yang ada didepannya ternyata tahu siapa namanya, luntur.


Drrrt…ddrrt…ddrrt

__ADS_1


Handphone Andira yang saat itu berada diatas meja kantin bergetar. Belum sempat Naura mengintip nama pemanggilnya, Andira sudah mengangkat handphonenya dan menempelkannya ditelinga.


“Ya…,Hmm…,Sekarang?…Iya dek” itulah yang bisa Naura dengar. “Cara ngomongnya sangat lembut, siapa yang nelpon Andi ya? Batin naura


“Naura…gue harus pergi. Sekali lagi maaf ya” Andira bangkit dari duduknya dan mengambil tas punggung yang ada disampingnya. Sejenak terdiam dan berbalik untuk melihat Naura.


Tapi apa yang Andira lihat? Naura juga sedang menatapnya. Seolah tidak ingin ditinggal oleh Andira. Naura memegang lengan Andira untuk menghentikan langkahnya.


“Apa gue ngga layak buat lo?” Naura tidak tahan untuk tidak bertanya


“Yang ngga layak disini adalah gue. Lo terlalu tinggi buat gue gapai.” Andira melepaskan tangan Naura dan pergi meninggalkannya. Lagi.


* Ditempat lain


“Apa kalian tahu siapa yang ada di dalam foto ini?” Seorang laki laki dewasa bertanya pada Rosa, levi dan juga Nureani


“Inikan Kak Andira da….AWW” Belum sempat Rosa menyelesaikan jawabannya, Nuraeni menyikut perutnya.


Mereka bertiga saling tatap, merasa kalau orang yang ada di depan mereka ini terlihat mencurigakan. Tidak ada lagi yang berani membuka mulut. Sampai Arvin datang dan bergabung.


“Om ini tanya mereka?” Rosa menunjuk foto yang dipegang laki laki itu pada Arvin.


Arvin yang sudah melihat siapa yang ada difoto itu langsung maju dan menyingkirkan genknya Indi untuk berdiri dibelakangnya.


“Bapak ada perlu apa ya? Ada hubungan apa bapak sama orang orang yang ada difoto itu?!” Orang itu tidak menjawab, malah mengambil handphone di saku celananya.


“Hallo tuan….baik tuan” Itu saja yang bisa didengar Arvin dan genknya Indi, sebelum laki laki itu pergi meninggalkan mereka tanpa permisi.


“Curiga gue” Rosa memecah keheningan diantara mereka yang masih diam dengan pikiran masing masing.


“Iya. Gue juga” Levi menimpali dan Nuraeni hanya mengangguk tanda setuju.


Arvin masih dengan lamunannya. Sedari kemarin dia melihat, kalau ada mobil yang terus mengikuti motor Andira. Dan hari ini Arvin juga kembali melihat mobil yang sama dengan nomor plat yang sama juga terparkir di depan sekolah mereka. Tidak jauh dari gerbang.

__ADS_1


Kini mobil itu berjalan melewati Arvin. Tapi sayangnya kaca filmnya terlalu gelap, Arvin tidak bisa menebak jenis kelamin penumpang yang duduk di kursi belakang.


“Vin! Woy…lo curiga ngga ama orang barusan?” Rosa mengagetkan Arvin


“Cuma orang lewat aja kali” Arvin berusaha menghilangkan suasana tegang itu


“Ih! Ngga mungkinlah..itu jelas jelas foto Kak Andira yang lagi boncengan sama Indi. Kalo dia cuma orang lewat, ngapain juga dia punya foto itu. Kurang kerjaan amat” Levi menjawab dengan nada tidak percaya


“Kalian ada yang tahu ngga? Ada yang kenal?” levi kembali bertanya


Rosa dan Nuraeni menggelangkan kepala bersamaan. “Kalo elo Vin! Tahu ngga?” Levi mengalihkan pandangannya pada arvin


“ Laper…”


“Iya! Gue juga” Arvin, Rosa, Levi dan juga Nuraeni menjawab kompak.


Beberapa detik kemudian mereka berempat langsung saling tatap. Bulu kuduk mereka tiba tiba berdiri. Mereka menyadari kalau yang mengatakan kata lapar bukanlah salah satu dari mereka.


Itu adalah suara orang lain, suara seorang gadis. Gadis yang tidak terlihat ada diantara mereka. Saat ini sekolah sudah sepi dari para murid. Mereka sudah pulang ke rumah masing masing.


Arvin berbalik dan memandang sekitarnya.”Guys….disini ngga ada pohon nangka kan?” Arvin bertanya pada para sahabat Indi sambil terus clingak clinguk.


“Apaaan sih lo vin! Lo kok malah nyariin pohon nangka.” Jawab Levi yang mulai berpegangan pada tangan Nuraeni


“Kalian denger suara tadi kan? Kata buku yang pernah gue baca, kalo pohon nangka tuh salah satu rumah para dedemit dan kunt…..” Arvin berhenti menyelesaikan penjelasannya sampai terdengar suara yang sama untuk kedua kalinya


“Jangan becanda lo vin.” Rosa sudah keluar kringat dingin


Satpam menutup gebang sekolah walaupun tidak menguncinya, dan mereka masih membatu ditempat masing masing.


“Hiii…hiii….”


***

__ADS_1


Author


Sorry ya kalo update annya lama


__ADS_2