Belum Jadi Mantan

Belum Jadi Mantan
36. JANGAN MENANGIS


__ADS_3


"Kita sebenarnya mau kemana sih Vin?!”


“Ra-ha-sia”


Indi mendengus kesal saat acara hibernasinya diganggu. Hari libur yang tenang dan bebas tidak bisa dirasakannya kali ini. Arvin tiba tiba saja datang kerumah dan mengganggu mimpi indahnya.


Arvin menjepit hidung Indi dengan ibu jari dan telunjuk yang membuatnya tidak bisa bernafas. Lalu mengangkat tubuh Indi ke dalam kamar mandi, memaksanya untuk bergegas. Indi jengkel bukan main dengan kelakuan Arvin yang benar benar mengganggunya. Arvin mendadak mengajak Indi pergi tanpa ada pemberitahuan sebelumnya, dan juga tujuan yang Indi sendiri tidak tahu.


“Ya bukannya gitu Vin. Gue takutnya saltum kalo gue ngga tahu mau pergi kemana”


“Pake aja yang nyaman buat lo. Apapun itu, lo tetep akan keliatan cantik dimata gue”


“Isshhh….pagi pagi udah ngegombal”


“Udah buruan mandi sana. Atau mau gue mandiin??”


“Terima kasih!!”


Indi membanting pintu kamar mandi dan mengumpat setelahnya. Arvin hanya tertawa terbahak mendengar Indi yang sedang mengomel di dalam kamar mandi dengan suara yang tidak jelas. Walaupun mulut Indi terus saja ngedumel tapi tak urung tetap mengerjakan apa yang diminta Arvin.


Indi hanya memakai T-shirt V neck berwarna tosca yang dipadukan dengan celana jeans panjang dan sepatu sneaker. Tak lupa tas selempang kecil untuk mempermanis penampilannya hari ini. Memoles wajahnya dengan hanya menggunakan pelembab dan juga lipbalm berwarna peach serta rambut yang dikepang miring dengan jepit bunga kecil.


“Sempurna. Selalu sempurna”


Arvin tersenyum melihat Indi yang terlihat sangat cantik dengan dandanan yang sangat sesuai dengan umurnya. Indi memang bukan tipe gadis yang menghabiskan banyak waktu didepan cermin hanya untuk berdandan. Menurutnya itu hanyalah buang buang waktu.


“Siap?”


Indi tidak menjawab pertanyaan Arvin. Indi menyalimi tangan Bagas dan juga Amrita lalu berjalan keluar rumah mendahului Arvin. Indi masih kesal dengan Arvin yang masih tidak mau memberitahukan tujuan kepergian mereka hari ini.


Bagas dan Amrita hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala melihat Indi yang cemberut pada Arvin. Mereka tahu benar kalau anak gadisnya sedang kesal karna jam tidurnya diganggu.


“Hati hati ya Vin. Titip Indi ya”

__ADS_1


“Siap mah. Aku pamit ya mah, pah. Arvin pinjem Indi seharian ini.”


“Iya”


Bagas mengangguk memberi izin. Amrita dan Bagas sudah tahu apa niat Arvin mengajak anak gadisnya pergi. Dan mereka tidak melarang sama sekali. Mereka sangat percaya dengan Arvin yang bisa menjaga Indi dengan baik.


“Viiiiin….kita mau kemana?” Indi lagi lagi bertanya dengan rasa penasaran yang sangat terlihat diwajahnya.


“Kita mau kencan”


Arvin memberikan helm pada Indi. Tapi Indi malah bengong sambil melihat kearah Arvin. Kata kencan yang didengar Indi dari mulut Arvin berhasil membuat Indi terhipnotis sesaat . Akhirnya Arvin memakaikan helm itu ke kepala Indi dan menguncinya sambil sedikit mencolek ujung hidung Indi dengan jari telunjuknya.


“Ngga usah segitunya kali. Ayo naik”


Indi memegang pundak Arvin sebagai tumpuan sebelum akhirnya melepasnya setelah berhasil duduk nyaman diatas motor yang akan dikendarai Arvin menuju tempat yang sudah direncanakannya.


Motor Arvin mulai meninggalkan halaman rumah Indi dan melaju membelah jalan raya yang cukup lengang dikarenakan hari libur. Hari dimana orang orang mungkin lebih memilih berada dibalik selimut tebal dan mengistirahatkan tubuh dari sibuknya rutinitas sehari hari.


Arvin membawa Indi ke tempat yang belum pernah mereka datangi sebelumnya. Indi merasa sedikit aneh dengan tingkah Arvin hari ini. Walaupun ini bukan pertama kalinya Arvin mengajaknya pergi, tapi sikap Arvin yang terlihat sangat tidak biasa membuat Indi menaruh curiga.


“Lo ngga lagi ngrencanain hal jahat kan Vin?”


“Ehh jangan salah. Justru orang jahat malah kebanyakan mukanya ganteng”


“Masa sih? Kok aku baru tahu”


“Iya jahat. Njahatin hati perempuan”


Arvin tersenyum mendengar perkataan Indi. Dirinya tahu benar kalau Indi masihlah merasakan sakit hati karna penghianatan Sigit. Tapi bukan Arvin namanya kalau tidak bisa membuat Indi tersenyum kembali dan melupakan laki laki brengsek yang sudah menyakiti gadis yang ada di hadapannya.


“Emang kamu pernah liat gue nyakitin perempuan?”


“Liat langsung sih enggak. Tapi kan siapa tahu aja lo umpet umpetin”


“Gue ngga pernah pacaran sama siapapun Indi. Gue juga ngga pernah ngegombalin gadis manapun. Suer deh”

__ADS_1


“Chhh ya mana gue tahu”


“Eh tunggu. Kayaknya ada deh gadis yang rajin gue gangguin.”


Indi yang tadinya memalingkan wajahnya, kembali menatap Arvin dengan rasa ingin tahu yang terlihat jelas.


“Siapa?”


“Elo!”


Sontak Indi menghujani Arvin dengan pukulan dibahunya. Arvin terus saja tertawa walaupun tubuhnya menerima pukulan bertubi tubi dari Indi. Sengaja membiarkan gadis itu melampiaskan rasa kesal yang dari pagi ditahannya. Arvin akan membiarkan Indi menorehkan kenangan manis untuk diingatnya.


Saat Indi mulai menghentikan pukulan ke bahu Arvin, tangannya malah digenggam dan ditarik oleh pemuda itu. Mengikis jarak diantara keduanya yang kini duduk saling berhadapan di kursi yang letaknya berjauhan dari kerumunan pengunjung lainnya.


“Indi. Lo janji ya sama gue. Lo akan hidup dengan baik. Makan teratur dan jangan lupa istirahat”


Indi hanya diam mendengarkan Arvin yang mulai bicara serius tepat di depan wajahnya.


“Gue mau pergi. Gue…..ngga kuliah disini.”


“Kemana?” Tanya Indi yang entah sejak kapan mulai merasa hampa. Ada sedikit embun yang berada disudut matanya.


“Singapore”


“Kenapa harus kesana Vin? Disini kan juga banyak tempat kuliah jurusan kedokteran yang bagus” Indi menunduk mencoba menahan tangisnya.


Selama ini hubungan keduanya memang hanya sebatas sahabat baik, dan mereka merasa nyaman dengan status tersebut. Tapi saat ini Indi benar benar merasa tidak rela jika harus ditinggal oleh Arvin.


Air mata Indi mulai mengalir tak terbendung dan Arvin menarik tubuh Indi ke dalam pelukannya. Hanya terdengar suara isakan dari Indi saat Arvin masih mengelus punggungnya untuk meredakan tangisan gadis itu.


***


Hai hai….


Authornya muncul lagi nih, lama ngga up

__ADS_1


Maaf ya



__ADS_2