Belum Jadi Mantan

Belum Jadi Mantan
28. RENCANA MASA DEPAN ANDIRA


__ADS_3


“Jangan becanda lo vin.” Rosa sudah keluar kringat dingin


“Situasi kayak gini mana sempet sih gue becanda!” Arvin menjawab setengah berteriak. Arvin tentunya tidak takut dengan suara misterius yang membawa suasana horor itu. Arvin merasa mengenal suara yang membuat genk Indi ketakutan.


Benar saja. Kini Arvin melihat Indi sedang berjongkok dibelakang Levi. Memberi isyarat pada Arvin untuk diam, dengan meletakkan jari telunjuk dibibirnya. Arvin menatap Rosa, Levi dan Nuraeni yang masih berpegangan tangan dan melihat sekitar, mencari sumber suara itu.


“Kenapa kalian liatnya keatas? Ngga pengen nyoba nyari kebawah gitu?”Arvin memberi saran dan itu membuat Indi melirik tajam.


Indi terpaksa harus menghentikan keasyikan mengerjai temen temannya. Sebelum Rosa, levi dan Nuraeni berpaling ke belakang dan mengalihkan pandangannya ke bawah, Indi mulai berdiri dan mengangkat tangannya menyentuh pundak Rosa.


“BAAA!!!” Indi berdiri dan mengejutkan para sahabatnya


“Akh..aah” mereka bertiga kaget dan sedikit melompat dari tempat mereka berdiri dan setelah itu, mereka kompak berteriak


“INDI!!”


Indi dan Arvin tidak henti hentinya tertawa dan memegangi perut. Sedangkan genknya masih bersungut tanda marah


“Lo udah ketularan Arvin yah!” Rosa mencubit pipi Indi pelan, menyalurkan rasa kesalnya


“Set dah, kok gue yang disalahin” Arvin tidak terima


“Ya iyalah! Elo kan biang rese” Kali ini Nuraeni yang menjawab. Akhirnya mereka berjalan ke parkiran.


“Hayo ngaku! Kalian tadi pada takutkan?” tanya Indi yang masih ingin membahas soal tadi


“Nggaklah! Ngga mungkin banget siang siang ada setan kan?!” Nuraeni menyombongkan diri


“Emang setan takut ama siang?” Rosa menanggapi


“Kalo siang kan giliran elo yang gentayangan, emang lo mau saingan ama si kunti” Levi menjawab pertanyaan Rosa


“Iih serius” Rosa memanyunkan bibirnya


“Dua kali rius” Levi menjawab sambil mengangkat dua jarinya “Peace”


* Di tempat lain

__ADS_1


“Tuan. Ini yang anda minta” Seorang berbaju hitam yang diketahui sebagai seorang bawahan merangkap bodyguard memberikan amplop coklat pada atasannya.


“Apa yang kau dapatkan” Jawab sang tuan


“Mereka adalah kakak beradik. Ayahnya hanya karyawan biasa di sebuah bank. Dan ibunya juga cuma ibu rumah tangga biasa yang sehari harinya sibuk dengan warung kecil depan rumahnya.”


“kau tau dimana rumah mereka?”sang tuan mulai membuka amplop yang ada diatas meja dan melihat isinya.


“Iya tuan” jawab sang bawahan


“Antarkan saya kesana. Sekarang!” perintah sang tuan yang langsung dijawab anggukan kepala.


*Dirumah Indi


“Andi, kamu beneran mau kerja aja? Ngga mau lanjut kuliah lagi gitu?” Bagas menanyakan rencana masa depan putranya sambil menyeruput kopi panas buatan sang istri tercinta.


“Iya pah. Andi mau kerja dulu, ngumpulin duit. Baru deh lanjut kuliahnya. Itupun kalo ngga keburu males. Hee…hee” Andira menjawab santai


“Terserah kamu aja sih. Papa cuma pengen tau aja”


“Kawin aja kak, biar Indi cepet punya ponakan. Nanti kan ada yang manggil Indi dengan sebutan tante hii…hi…” Indi memberi pendapatnya untuk sang kakak


“Hush kawin kawin. Yang bener tuh nikah. Lagian gimana mau nikah, kalo calonnya aja belum punya” Amrita ikut nimbrung


“Terus kenapa ngga dibawa kesini. Mamakan pengen kenal sama calon mantu mama.”


“Nanti mah. Kalo Andi udah kerja, punya duit dan sanggup ngasih makan istri baru deh Andi kenalin” Andira menjawab keinginan mamanya


“Halah…pasti boong. Mana ada yang mau ama kak Andi. Kakak kan es batu” Indi menggoda kakaknya dengan menjulurkan lidah tanda mengejek


“Beneran.”


“Bo ong”


“Bener!”


“Bo ong!”


“Eeeh udah udah. Kalian ini yah! Udah pada gede, kelakuan masih kayak bocah” Amrita menghentikan perdebatan kedua anaknya, sedangkan Bagas hanya menggeleng gelengkan kepalanya.

__ADS_1


Beginilah suasan keakraban keluarga mereka. Keluarga yang sering ribut, tapi tetap saling menyayangi.


Ada banyak sekali keluarga yang tentu lebih bahagia. Kaya raya dan bergelimang kemewahan.


Tapi dimana sih, ada yang namanya kesempurnaan?


Keluarga mereka mungkin tidaklah bisa dibilang sempurna. Tapi dari ketidaksempurnaan itulah mereka belajar untuk saling menyempurnakan.


Diluar sana ada banyak anak anak yang merasa kesepian karena orang tuanya terlalu sibuk kerja. Tidak kekurangan harta tapi kekurangan kasih sayang.


Ada juga anak yang harus selalu dipaksa untuk mengikuti keinginan keluarga, dengan terpaksa menerima perjodohan karna kepentingan bisnis belaka. Jalan hidup yang sudah ditentukan tanpa bisa memilih.


Kita hanya bisa melihat dari luar. Selalu menganggap kalau hidup orang lain pasti lebih enak dari dirinya. Tapi hidup bahagia adalah hidup yang tentu banyak bersyukur di dalamnya.


Keluarga miskin, biasanya uanglah masalah utamanya. Tapi orang yang sudah kaya pun bukan berarti tidak punya masalah dan kesulitan.


Semuanya pasti ada kekurangan dan kelebihannya masing masing.


-


“Siapa ini? Kok ngga dikenalin ke mama” Amrita mendekati Andira yang sedang ngobrol dengan seorang gadis. Gadis yang cantik, tinggi semampai dengan kulit yang putih bersih. Gadis yang terlihat berasal dari keluarga high class. Memakai dres merk terkenal yang harganya sudah pasti mahal, dengan sepatu high heels bertabur butiran kecil mengkilap.


Amrita tentu bisa menghitung berapa rupiah dari outfit yang dikenakan oleh gadis yang masih memegang lengan putranya, karena mereka baru saja selesai berselfi ria. Darimana Amrita bisa tahu dan kenal dengan barang merk mahal?


Semasa Amrita masih muda dan belum menikah dengan Bagas, dirinya termasuk orang yang tahu dunia fashion. Baju mahal, sepatu dan juga tas keluaran dari perusahaan perusahaan yang sering mengadakan fashion show, sering Amrita jumpai. Dan jiwa itu ternyata turun ke Indi. Indi juga menyukai dunia fashion dan punya cita cita jadi seorang desaigner.


Tidak banyak yang tahu dengan dunia Amrita semasa muda kecuali Bagas dan para teman teman Amrita sendiri.


“Eh mamah. Kenalin… ini Naura. Dan Naura…ini mamaku” Andira tersenyum kearah Amrita dan mengenalkan Naura.


Hari ini adalah hari wisuda Andira. Bagas dan Indi berjalan dibelakang Amrita dan berjabat tangan dengan Naura yang baru pertama kali mereka lihat.


“Hallo om, tante…saya Naura” Naura membungkuk sopan di hadapan orang tua Andira.Tersenyum manis untuk memberikan kesan baik. Lalu beralih pada Indi.


“Hai Kak” Indi bersikap seolah mereka adalah teman lama. Bercipika cipiki dengan Naura didepan Andira dan juga orang tua mereka. Tentu itu membuat Andira heran.


“Kalian saling kenal?”


***

__ADS_1


Ngga usah mikir dalem ya buat baca cerita ini



__ADS_2