Belum Jadi Mantan

Belum Jadi Mantan
6. MEMULAI RAHASIA


__ADS_3

Indi sedang menghadapi ujian akhir semester kelas 8, itu membuatnya tidak pernah punya waktu untuk sekedar main ke rumah Rosita seperti biasa. Indi hanya keluar rumah pada saat sekolah dan akan langsung pulang ke rumah untuk banyak belajar.


"Horeeee.... akhirnya kita bisa naik kelas! "Indi and the genk bersorak saat menerima raport yang dibagikan oleh wali kelas mereka.


" Semoga di kelas 9 nanti, kita bisa satu kelas lagi ya" Do'a Nuraeni yang diamini semuanya.


Hari ini Indi and the genk pergi jalan jalan ke pantai merayakan keberhasilan ujian kenaikan yang menguras waktu belajar mereka, karena sudah jauh jauh hari mereka merencanakan ini.


" Eh.... kalian disini juga?! " Tiba tiba Arvin muncul mengagetkan mereka yang sedang bermain air. Rosa langsung bergembira bisa melihat wajah ganteng Arvin tapi tidak dengan Indi.


" Arvin! Kok bisa disini juga sih? Pasti ngikutin gue kan? " Goda Rosa yang tidak bisa tenang saat melihat cowok bening. (Bening?! Lo kata aer)


Arvin hanya diam saja saat Rosa menggodanya, dan malah melirik ke arah Indi yang terlihat tidak antusias saat melihatnya dan tetap sibuk membaca novelnya.


" Gue sama temen temen sekelas di sebelah sana" Jawab Arvin sambil menunjuk ke arah temen temannya.


Arvin melangkah ke arah Indi yang masih tidak memperdulikan kehadirannya dan duduk di samping tempat duduk Indi.


Indi pura pura tidak melihat kehadiran Arvin, dan beruntungnya saat ini Indi memakai earphone yang membuatnya terlihat tidak mendengarkan percakapan.


" Lagi dengerin lagu apa sih? " Tanya Arvin pada Indi sambil mengambil salah satu kabel earphone yang berada di telinga Indi.


Belum sempat Indi menjawab pertanyaan dari Arvin, tiba tiba Arvin malah memeluk tubuh Indi dan berguling di pasir, dan...


SRRAAK... BRUUGGH...


Sebuah dahan kelapa kering jatuh dan hampir melukai Indi yang memang sedang duduk tepat di bawahnya. Arvin yang melihat bahaya mengancam Indi itu tanpa minta izin lagi langsung menyelamatkannya.


Tapi Indi sepertinya tidak mengetahui niat baik Arvin, terbukti dengan sikap Indi yang justru marah kepada Arvin yang saat ini masih memeluknya dengan posisi tiduran di pasir dan Arvin berada di atas tubuh Indi.( ya iyalah marah, itu kan posisi yang sedikit....hhmmm, pikir sendiri aja deh)


" Apa apaan sih lo!! "


" .... " Arvin kaget dengan bentakan dari Indi dan langsung bangkit tanpa menjawab.


"Indi!!! Lo ngga papa kan? " Serempak Rosa, Levi dan Nuraeni berlarian ka arah Indi dan membantunya berdiri.


" Iya ngga papa" Indi menjawab tapi matanya tetap melihat Arvin menuntut jawaban.


" Untung tadi ada Arvin, lo bisa aja terluka kalo Arvin ngga gerak cepat" Levi berbicara sambil memegangi dadanya yang masih kaget dengan kejadian tadi.

__ADS_1


" Terima kasih" itulah kata kata yang akhirnya keluar dari mulut Indi, setelah Indi melihat dahan kelapa yang jatuh. Tentu saja Indi jadi merasa bersalah karena langsunh memarahi Arvin.


Indi mengira Arvin akan bersikap kurang ajar dengan memeluknya, padahal Arvin hanya bermaksud menolongnya.


" Sudahlah! " Arvin pergi meninggalkan Indi and the genk.


Indi mengejar Arvin yang sedang berjalan menjauh, tapi Arvin tidak memperdulikannya." Tunggu Arvin!! " lagi lagi Indi membentak Arvin


" Kamu marah ya? " Tanya Indi " Tunggu, aku mau ngomong" pinta Indi yang sudah terengah mencoba mengejar, membuat Arvin menghentikan langkahnya.


" Bukannya lo yang marah sama gue ya?"


" Maaf Arvin " Indi menunduk


" Sebenernya gue tuh salah apa sih sama lo? Kok lo segitu bencinya sama gue? " Tanya Arvin


" Lo ngga pernah salah apa apa, cuma gue aja yang kurang nyaman dan malu sama lo, gue takut lo bakal cerita ke temen temen kalo gue yang pernah nyasar" Indi tambah menunduk.


"Jadi cuma gara gara itu?!" Tanya Arvin tidak percaya dengan pendengaranya. Arvin benar benar tidak menduga alasan tidak masuk akal yang baru saja keluar dari mulut Indi.


Indi mengangguk.


Indi merasakan bahagia yang sangat luar biasa, mendengar pernyataan cinta dari laki laki yang ditaksirnya. Dan sudah pasti ia menerimanya.


" Indi! Lo mau ngga jadi pacar gue? "


"Iya! Aku mau kak" Jawab Indi bersemangat


Sewaktu Indi pulang dari pantai dengan para sahabatnya, Indi dijemput oleh Sigit yang tentunya atas perintah Andira yang sedang sibuk di kampusnya.


Hampir 2 minggu mereka tidak bertemu, karena Sigit sengaja tidak pernah mampir ke rumah Andira. Sigit tahu kalau Indi sedang belajar dan tidak mau mengganggu gadisnya itu.


Sigit melihat rona bahagia di wajah Indi saat melihatnya, dan itu tak disia siakan oleh Sigit. Dia akan mengajak Indi makan terlebih dahulu sebelum mengantar pacarnya itu pulang ke rumahnya.


* Sebelumnya


" Lo mau ngga jadi pacar gue? " kata Sigit


" ...... " Rosita bengong mendengar pernyataan Sigit yang malam itu tiba tiba muncul di depan pintu rumahnya.

__ADS_1


" Kira kira kalo gue ngomong gitu ke Indi, dia bakal terima gue ngga ya Ros? " Sambung Sigit yang langsung membuat wajah Rosita berubah.


" Jadi maksud lo, lo....hmm mau nembak Indi? " Tanya Rosita yang tiba tiba terlihat menahan emosi


" Iya! " Jawab Arvin sambil tersenyum bodoh


" Ya udah, dicoba aja" sahut Rosita yang mulai berjalan meninggalkan Sigit di teras rumahnya, " Sorry git, gue lagi sibuk! Gue tinggal kedalem ya"


Sigit bingung dengan sikap Rosita yang tidak seperti biasanya, padahal awalnya Rositalah yang menyarankan dirinya untuk nembak Indi.


Sigit senang bukan main karena Indi menerima perasaannya dan itu berarti Indi resmi jadi pacarnya, walaupun Indi mengajukan persyaratan agar hubungan mereka tidak boleh diketahui oleh siapapun selain mereka berdua.


Sigit menerima syarat dari Indi karena tahu, kalau keluarga Indi memang tidak akan mengizinkan Indi untuk pacaran sebelum lulus sekolah.


" Maaf ya kak, kalau kita harus merahasiakan ini " kata Indi sambil menunduk


" Iya... ngga papa kok, gue ngerti " Jawab Sigit menenangkan sambil mengelus ujung kepala Indi.


Setelah mereka resmi pacaran, tentu sikap Indi sedikit berubah. Indi jadi tidak bisa jauh jauh dari hpnya, yang biasanya diletakkan sembarangan bahkan tidak begitu peduli.


Indi takut kalau tiba tiba Sigit menelfonnya atau mengiriminya pesan saar hp nya jauh dari dirinya. Tentu Indi terus menyembunyikan hubungannya dengan Sigit.


Andira berjalan menuju ke arah kamar Indi yang sekarang lebih suka berdiam diri di kamar. Berjalan perlahan dan menempelkan telinganya di pintu kamar Indi, berharap bisa sedikit mencuri dengar percakapan dari dalam.


Terdengar suara Indi sedang berbicara dengan seseorang dan sesekali tertawa, rasa penasaran Andira semakin besar.


* Skip


"Kakak harap ini tidak akan mempengaruhi hasil belajar kamu Indi! "Itulah peringatan yang diberikan Andira pada adiknya. Sebenarnya Andira kecewa pada Indi yang tidak memberitahunya kalau adiknya ini pacaran dengan Sigit sahabatnya.


***


Hai...


Ada yang kecewa ngga dengan hubungan Indi dan Sigit?


Ditunggu kritik dan sarannya ya


Happy Reading

__ADS_1


Si_Ro


__ADS_2