Belum Jadi Mantan

Belum Jadi Mantan
10. TERBONGKAR SUDAH


__ADS_3

Indi and the genk sedang berada di kantin, mengisi perut mereka dengan makan siang sebelum seorang makhluk tak diundang datang.


Siapa lagi kalau bukan Arvin yang datang, tidak lain tidak bukan hanya ingin menghancur mood Indi, tidak mempan untuk Rosa tentunya.


" Lo kok ngga ke perpus? " Tanya Arvin sambil melihat ke arah Indi.


" Kok cuma Indi yang ditanya sih Vin? " Rosa menanggapi.


" Lagi ngga ada buku yang gue cari." Jawab Indi yang terus melanjutkan makannya.


" Cowok kemarin siapa Ndi? " Arvin kembali bertanya, yang langsung membuat ketiga sahabat Indi menoleh dan ikut menunggu jawaban.


Indi hampir tersedak dengan pertanyaan yang meluncur dari mulut kepo Arvin.


" Dari mana dia tahu? Apa kemarin dia liat gue sama Kak Sigit? " Indi malah sibuk dengan pikirannya sendiri.


Nuraeni, Levi dan Rosa saling bertukar pandang dan terakhir menatap Indi yang seketika menghentikan mulutnya mengunyah.


" Cowok ya? Maksud lo Kak Andira? itumah kakaknya... " Jawab Rosa.


" Bukan! Itumah gue kenal kalee" Arvin memotong penjelasan Rosa yang belum selesai.


" Ooh itu mungkin Kak Sigit. Itu temennya Kak Andira yang biasanya jemput Indi kalau Kak Andiranya lagi ngga sempet" Penjelasan Levi pada Arvin yang masih meragukan.


" Terus kenapa lo nolak gue anterin kemarin. Gue bisa kok gantiin Kak Andira kalo lagi ngga bisa jemput lo. " Arvin masih menunggu jawaban Indi.


" Mungkin muka lo ngga bisa di percaya kalee" Nuraeni menggantikan Indi menjawab dan Indi menyetujui jawaban itu.


Arvin masih penasaran dengan apa yang terjadi dengan Indi kemarin, tapi tidak melanjutkan tanya jawabnya karena Indi terlihat tidak nyaman.


Kemarin setelah Arvin meninggalkan Indi di gerbang sekolah, sebenarnya Arvin tidak benar benar pergi begitu saja. Arvin ingin memastikan kalau Indi pulang ke rumahnya dengan selamat.


Arvin malah melihat Indi dijemput oleh laki laki yang dia tahu itu bukanlah Andira kakaknya Indi.


Indi masih diam dan menghentikan makan siangnya, raut wajahnya terlihat sedang berpikir.


" Kemarin itu cowok gue! "kata kata itu keluar begitu saja dari mulut Indi sambil melihat ke arah Arvin. Indi bermaksud membuay Arvin berhenti mengganggunya tapi malah melupakan keberadaan para sahabatnya.


"What!!!" Suara Nuraeni, Levi dan Rosa serempak. Tapi tidak dengan Arvin yang malah tampak lesu.


"Lo bilang apa barusan Ndi?! "Tanya Nuraeni yang masih melototi sahabatnya itu.

__ADS_1


" Gue...gue pacaran sama Kak Sigit" Jawab Indi menunduk dan menggigit bibirnya. Indi tahu kalau setelah ini akan diintrogasi oleh genknya.


"Udah berapa lama? Maksudnya dari kapan kalian pacaran? "Arvin bertanya kembali karena rasa penasarannya belumlah hilang.


" Sehari setelah pengumuman kenaikan kelas"


" Tunggu sebentar! itukan udah lama Indi! dan lo ngga cerita apa apa ke kita kita" ucap Levi mulai emosi. Levi yang selama ini berusaha mencarikan cowok gebetan buat Indi malah dapat kejutan super besar. Sahabatnya ini menyembunyikan rahasia yang membuatnya tampak terlihat bodoh.


Perkiraan Indi ternyata meleset. Para sahabatnya yang dia kira akan melakukan introgasi malah bangun dari kursinya masing masing. Pergi begitu saja tanpa banyaj bicara, meninggalkan Indi di kantin dengan wajah marah.


Indi tentu merasa bersalah karena dia telah menyembunyikan sebuah kenyataan yang pasti membuat para sahabatnya itu kecewa dengan Indi.


Selama ini memang tidak ada rahasia diantara mereka, sekali lagi Tidak ada rahasia.


Indi berusaha mengejar genknya yang sudah melangkah meninggalkannya dengan Arvin di kantin.


" Tunggu! Gue bisa jelasin" Indi berharap teman temannya itu bisa mengerti.


" Kita kita kecewa sama lo Ndi! " Jawab Levi yang disertai anggukan dari Rosa dan Nuraeni.


Indi berhenti berlari, air matanya mengalir tanpa diperintah. Arvin yang melihat Indi menangis dan merasa dialah penyebabnya berjalan mendekati Indi.


" Semua ini gara gara lo!! " Indi membentak Arvin dan berlari ke toilet dan mengeluarkan semua air matanya disana.


Arvin menunggu Indi yang masih di dalam toilet. Ada rasa kecewa pada diri sendiri dan juga kasihan saat melihat Indi ditinggalkan teman temannya.


Jam istirahat sudah habis dan bel tanda masuk pun berbunyi. Indi dan Arvin tetap tidak menunjukkan batang hidungnya di kelas masing masing.


Arvin mengkhawatikan keadaan Indi dan masih setia menunggui Indi sampai keluar dari toilet.


" Gue anter pulang aja ya?!" Tawar Arvin pada Indi yang akhirnya keluar dari toilet dan melihat mata Indi merah dan sedikit bengkak.


Entah berapa banyak air mata yang sudah dikeluarkannya. Indi hanya menjawab dengan anggukan. Arvin langsung meminta izin pulang pada guru piket, setelah mengambil tas Indi di kelasnya.


Beruntung guru piketnya baik, yang langsung percaya alasan Arvin meminta izin pulang saat melihat mata merah Indi.


" Sorry ya! Gara gara gue, lo jadi... "


" Ngga papa, memang udah seharusnya gue jujur" kata Indi memotong omongan Arvin.


" Makasih ya Vin, lo mau repot repot anterin gue pulang." Indi menambahkan

__ADS_1


" Gue mah selalu siap anterin lo. Lo nya aja yang selalu nolak tawaran gue. " Jawab Arvin dan itu disetujui Indi.


"Indi! ehm.. kita masih bisa temenan kan? " Tanya Arvin ragu ragu.


Indi heran dengan sikap yang ditunjukkan Arvin, jika biasanya Arvin adalah orang yang tidak peduli dengan perasaan orang lain dan suka seenaknya, hari ini Arvin sangat perhatian dan sopan. ingat yah SOPAN


" Iya! Tentu saja" Jawaban Indi sangat melegakan hati Arvin yang sedari tadi ketakutan, kalau kalau setelah kejadian di kantin tadi akan membuat Indi semakin menunjukkan ketidaksukaan padanya.


-


" Ya udah, gue pulang dulu ya. Jangan nangis lagi! Dan terima kasih tetep mau temenan ama gue" pamit Arvin pada Indi sambil memakai helmnya kembali.


Indi telah merubah penilaiannya pada Arvin. Indi yang biasanya merasa kalau Arvin adalah makhluk yang harus dihindari, hari ini justru Arvinlah orang yang ada di sampingnya saat dibutuhkan.


Darib pulang sekolah tadi, Indi terus berusaha menghubungi ketiga sahabatnya. Indi ingin meminta maaf dan menjelaskan alasan dia merahasiakan hubungannya dengan Sigit.


Mondar mandir sibuk menatap layar hp dan berulang kali mencoba satu persatu nomer telepon genknya, tapi hasilnya nihil.


Ketiga sahabatnya seolah benar benar menutup pintu maafnya.


" Maaf... nomor yang anda hubungi sedang berada di luar jangkauan, cobalah... " itulah jawaban merdu yang diterima Indi.


Sampai satu suara mengagetkannya.


" Kamu kenapa Indi? " Suara Andira mengagetkan dan langsung membuat Indi berlari dan memeluk kakaknya itu.


" Kakak... hiks... hiks.. " Indi kembali menangis. Meluapkan perasaanya yang masih tersisa dari siang.


Andira hanya diam dan mengelus kepala Indi perlahan, mencoba menyalurkan ketenangan dan memberi waktu pada Indi untuk menetralkan suasana hatinya.


" Teman temanku marah kak. Mereka tahu aku pacaran sama Kak Sigit hiks... hiks"


Inilah salah satu ketakutan Andira. Andira juga jadi mengingat kemarahannya saat baru pertama tahu hubungan adiknya dan Sigit.


" Aku harus gimana kak?"


***



Niatnya upload 2 part sekaligus buat nemenin malam minggu para reader tapi reviewnya lumayan... lumayan

__ADS_1


Si_Ro


__ADS_2