
☘️☘️☘️☘️
Di depan Lift.
Geffen menurunkan Sri Yuki ketika mendengar kata sang istri yang menolak dirinya.
Hati Geffen seperti di masukkan kedalam oven yang panasnya 360 derajat Celcius.
Ia ingin menyangkal tapi mulutnya tiba-tiba terjangkit penyakit bisu seketika, tenggorokan tercekat seperti di ikat dengan tali tambang.
"Baikalah jika kamu ingin pindah, maka mari kita pindah kerumah kita" Ucap Geffen.
"Paman aku tak mau satu rumah dengan mu, aku akan bekerja di pasar pasar, atau aku mau kerja kuli pangkul, liat ini" Sri Yuki mengangkat lengannya di depan Geffen dan Nino.
"Meski ini kecil, tapi tenaganya tenaga banteng, sini kalian kalog tak percaya kita adu panco" Ucap Sri Yuki bangga.
"Tendangan ku memili kekuatan turbo paman, Nino, jika kalian tidak percaya aku akan mengetesnya sama paman, coba paman berdiri di depanku!" ucap Sri Yuki.
"Untuk apa Sri?" Tanya Geffen.
"Aku akan menendang si anakonda mu paman agar tak gampang menusuk lobang paralon dimana mana".
"Asal paman tau, akibat ulah paman, 2 hari lobang paralon ku serasa kemasukan angin, berjalan saja seperti ada yang mengganjal, aku curiga paman meninggalkan si anakonda itu di dalam sini."
"GLUK" Serempak dua orang itu memegang benda keramat milik mereka masing masing.
Keringat membanjiri kening Geffen ia masih ingat tendangan super si Madun eh salah si Sri Yuki yang sangat sakit, ia membayangkan dua telor puyuh nya pecah menjadi telor mata Geffeng membuatnya ngilu seketika.
Alamat ia akan sengsara dimasa jayanya, (jaya dalam memiliki dua istri yang yang wowhot. Semua pembaca pada gigit jempol kaki kepengen kyk Geffen punya istri dua yang satu gitar spanyol yang satu ukulele, jika satu anyep, satunya panas😂😂😂).
"Maka sekarang aku mau pergi" Ucap Sri Yuki.
"Sri" Panggil Nino, "Yuki" panggil Geffen.
"Wahhh kalian ada apa? memanggil namaku lengkap sekali, apa apa lagi?" Tanya Yuki.
"Aku akan mencarikan mu kerja" Kata Nino.
"Aku akan mencarikan mu rumah" Ucap Geffen, yang tak mau kehilangan jejak Sri Yuki.
__ADS_1
"Baiklah" Sri Yuki langsung memangkul koper di pundaknya lalu berjalan menjauh dari Lift.
Aksi Sri Yuki itu membuat kedua sodara itu tercengang, ia heran kepada gadis yang memiliki tinggi 155cm itu dengan santai mengangkat koper yang bobotnya lebih dari 10 kg, tanpa melenguh sedikitpun.
"Kalian kenapa bengong, mau ikut tidak?" Tanya Sri Yuki lagi.
"Kau mau kemana?" Tanya Geffen.
"Mau turun lah lewat tangga" Ucap Sri Yuki.
"Aku pastikan kakimu akan patah jika turun dengan membawa barang seperti itu" Ucap Geffen.
"Sri sini aku bawa, tadi kan kita sudah setuju jika mau menaiki lift" Nino mengingatkan Sri Yuki.
"Baiklah tangkap" Sri Yuki langsung melempar koper itu ke tangan Nino, dengan sigap Nino menangkapnya.
"Tangkapan yang bagus, tapi aku mau nanyak nih, kira kira aman tidak kita Sampek bawah?, kita ini rame rame loh, aku tak mau menaiki kotak besi ini jika berujung celaka" Ucap Sri Yuki yang merasa kakinya berat untuk memasukkan tubuhnya ke dalam lift.
"Aman aku sudah menaiki Lift ini selama hidupku" Ucap Geffen.
"Berarti ini kotak keramat Karena sudah bertahun tahun, makin takut aku masuk, siapa tau realnya sudah karatan!" Sri Yuki mundur.
"Ayo masuk cepat nantik, atau kamu kita tinggal, lalu kamu jalan sendirian, bukannya kamu tak tau arah jalan pulang" Ucap Geffen.
Drama masuk lift itu pun selesai sekarang Sri Yuki berada si ujung, Geffen di tengah dan Nino di sebelah Geffen.
Pintu tertutup, karena grogi, takut dan bercampur aduk ketika Lift itu turun, secara tidak sengaja ia memeluk lengan Geffen.
"Pusing kepalaku, mau muntah... Uwek" Sri Yuki mual tak mengeluarkan apapun.
Tangan itu semakin erat memeluk lengan Geffen, "Aduhhh aku mau mencari rumah yang tidak berisi kotak besi, kapok aku" Sri komat Kamit beroda, doa apapun yang ia tau dia baca.
Aksi Sri Yuki yang ketakutan dan Geffen yang mengelus rambut, pundak, hingga ke pinggang membuat seseorang di dalam ruangan itu panas.
"Ting" Lift terbuka.
"Paman gendong aku dipunggung aku mabok kotak ini man" Ucap Sri Yuki.
Geffen langsung menggendong Sri Yuki di punggung, dan merasakan sensasi moci kembar yang selalu ia rindukan menggencet punggung kokohnya.
__ADS_1
Saat ini mereka berada di mobil dengan Nino menjadi sopir Geffen dan Sri masi jadelak akibat kotak besi yang membuatnya mabok di perjalanan..
"Sepertinya Sri butuh antikmo nih, wajahnya Pucak sekali" Nino bergumam melihat Sri Yuki dari kaca mobil.
Ketika di lampu merah yang baru berubah lampu hijau, ada seseorang teriak "Copet copet copet".
"Paman Nino turunkan aku"
"Kenapa mau turun Sri, kau mau muntah?" Tanya Nino
"Ada maling, aku mau turun"
"Tidak boleh Sri Yuki ini lapu hijau bahaya jika kamu turun" Ucap Geffen.
"Jika tak boleh aku mau loncat dari sini"
^^^...~To be continued...^^^
Terimakasih atas dukungannya🙏🙏
Jagan lupa
Like👍
komentar🗣️
Hadiah🎁🌹☕
Vote 🔥
Bintang lima ⭐⭐⭐⭐⭐ di reating pojok popularitas karya ini.
Favorit ♥️ agar kalian mendapatkan notifikasi update karya ini
selagi menunggu Sri Yuki up yuk mampir di karya luar biasa teman aku...
cerita nya keren dan sama sama membawa tema berbagi cinta
__ADS_1