
πππππ
Mendengar ucapan ibunya, saat ini Geffen merasakan seperti memakan buah Simalakama...
"Tapi sekarang situasinya berbeda Mam!" Ucap Geffen.
"Mami lihat kan jika aku sudah bersikap baik kepada Yuki!" Ucap Geffen membela diri.
"Mama mau bertanya padamu, jika kau tak pernah menyentuh Yuki apakah kau bisa baik baik kepada Yuki?, tanya Mami telak.
Geffen terdiam dalam kebisuan.
"Tidak kan Geffen!" Ucap Mami mengagetkan geffen dari kebisuannya.
"Pokonya aku tak mau bercerai" Ucap Geffen tegas.
"Aku siap Mami!" Jawab Sri Yuki yang sudah berada di belakang Geffen.
"Kenapa kau setuju Sri?, bukannya kau mencintaiku!" Ucap Geffen.
"Ia aku mencintaimu dulu bang!. Sebelum kau menolak dan menghinaku!. Semakin kesini aku mulai sadar jika kita memang tak di takdir kan untuk satu sama lain" Ucap Yuki menitikkan air mata ia mengingat kekasih nya yang tak mungkin ia lihat lagi, ia hanya melihat pria yang persis dengan suaminya.
"Kita sudah bersatu, kau tak merasa rugi setelah menyerahkan sesuatu yang berharga kepadaku?, dan kamu mau menyandang gelar janda di usia muda" tanya Geffen berusaha membujuk Sri Yuki.
"Bang lihat aku!, Selama aku menyerahkan kesucian ku kepada suamiku aku tak menyesal yang ada aku bangga menjadi wanita di Kungkungan suamiku" Ucap Yuki menarik wajah Geffen ke depan wajahnya.
"Lebih baik berpisah dari pada harus menyakiti hati orang lain. Tekat ku sudah bulat melepas pernikahan ini. Ingat bang ada seong anak yang membutuhkan status yang jelas. Kamu mau anakmu tak memilih Akta kelahiran karena kalian hanya menikah sirih?. Bagaimana dia nantik di sekolah, kau harus memikirkan nasib nya jika di ejek oleh teman temannya karena hasil dari sebuah perselingkuhan?".
"Aku memang mencintai mu, tapi itu dulu sebelum mengetahui jika kau buka dirinya. Bahwa kau memiliki wanita lain selain diriku, kata katamu yang kau tuduhkan kepadaku menjadi patokan untuk menjaga hatiku agar tak mencintai mu lagi".
Kata kata Sri Yuki membuat Geffen diam, "Kita sudah dekat akhir akhir ini Sri, apakah itu tak berarti untuk mu?"
"Anggaplah kebersamaan kita selama ini bentuk kenangan yang harus kita toreh sebelum kita saling melepaskan, aku berpikir sekarang kenapa aku dulu tak melepaskan mu?, kenapa suasana ini harus kita lalui, jika kenyataan hatimu memang bukan milikku" Ucap Sri Yuki.
"Kenapa kau tak menolak diriku disaat aku meminta jatah?".
"Karena aku menjalani kewajiban istri terhadap suamiku bang" Ucap Sri Yuki tegas...
__ADS_1
Mendengar kata kata Yuki hati Geffen seakan di hancurkan berkeping keping..
Hatinya menyesali, istirnya meski sudah bodoh tapi hati istrinya murni....
"Aku sadar bang selama ini aku tak cukup baik menjadi istrimu, jika aku sudah baik menjadi istrimu tak mungkin membuatmu berpaling dariku!".
"Maafkan aku Mami jika aku tak memilih mempertahankan Abang, aku ingin menata kehidupan ku, dan jalan ini adalah yang terbaik untuk kami bertiga" Ucap Sri Yuki dengan kata kata yang lapang dada.
Geffen langsung merengkuh tubuh Sri Yuki, "Sri Maya menerima jika aku berbagi cinta!" Ucap Geffen yang memang keras kepala.
"Apakah benar Maya tulus lahir batin berbagi cinta dengan diriku ini?, aku mohon tanyakan ke hati Abang!".
"Bukalah mata Abang, lihatlah akankah dia lapang dada jika Abang hanya memikirkan ku Seorang?".
"Kami adalah sama sama wanita, melihat suamiku bermesraan dengan wanita lain, aku wanita biasa yang merasakan sakit dan cemburu"
" Jika wanita yang tak merasakan itu semua kepada pasangan nya berarti ia tak mencintai suaminya dengan sungguh sungguh"
"Coba Maya jalan dengan laki-laki lain apakah Abang cemburu?" Tanya Yuki...
"Cobalah kau pejamkan dan rasakan di dalam hatimu ini" Sri Yuki menunjuk dada Geffen.
"Bayangkan jika wanita yang selalu menganggu konsentrasi mu, membuat jantung mu berdetak kencang jika bersama nya, rindu jika berjauhan dan marah jika ia bersama dengan laki-laki lain, maka kau mencintai orang itu dengan sungguh sungguh" Bisik Sri Yuki.
Geffen diam dalam kebisuan....
Dalam hati Geffen berkata, "Kenapa wajah Yuki yang muncul jika aku memejamkan mata, apa selama ini aku tak pernah mencintai Maya?"
"Dan Maya tak mencintai diriku karena dia lah yang meminta kami berbagi cinta dalam ke ikhlasan".
Pikiran Geffen berkecamuk....
Hatinya galau, membayangkan Yuki bersama Nino di rumah Nugraha hatinya mendidih....
Tangannya semakin mengerat memeluk tubu Yuki.
Mami Liana yang mendengar kata kata Yuki yang sangat bijak, dan cinta besar di mata putranya, ia menitikkan air mata....
__ADS_1
"Bagaimana kamu hidup diluar sana jika kau pisah dari diriku?" Tanya Geffen.
"Tenang aku akan bekerja keras, seperti kataku tempo hari, aku bisa menjadi kuli panggul di pasar pasar" Senyum Yuki terbit.
Mami Liana tersenyum mendengar ucapan menantunya.
"Mami bisakah aku mempertahankan rumah tangga ini?, setelah Maya melahirkan, aku akan menceritakan nya, aku kan memberinya kompensasi kepadanya, jika anak kami mau di berikan kepadaku maka akan ku rawat dia, tapi hatiku tak sanggup dengan sebuah perceraian ini".
"Maaf sayang, Mami kemarin bahagia melihat mu sudah bersatu, tetapi Mami tidak tau dari mana kakek dan papah tau tetang pernikahan mu dengan Maya, entah mereka tau kehamilan Maya atau tidak, Mami tak tau".
Jedaaarrrrrrr bak di sambar geledek tubuh Geffen luruh ke lantai....
Jika perasaanya masih belum bercabang, ia akan bahagia tetapi saat ini situasi sudah beda.
^^^~To be continued^^^
Terimakasih atas dukungannyaππ
Jagan lupa
Likeπ
komentarπ£οΈ
HadiahππΉβ
Vote π₯
Bintang lima βββββ di reating pojok popularitas karya ini.
Favorit β₯οΈ agar kalian mendapatkan notifikasi update karya ini
Bagaimana kelanjutan nya nanti???
Penasaran tidak...
Emak intip komentar dan Vote nya dulu ah, jika banyak emak cus tabah capterππππππππππ
__ADS_1