Berjanjilah Untuk Setia

Berjanjilah Untuk Setia
Ten


__ADS_3

Sejak kapan sih si Gheina ngelawan gue. Udah mulai ngelunjak anak itu. Gur harus lebih teken dia biar gak berani macem-macem sama gue sama Reno.


Sisva sudah kehabisan akal untuk menekan Gheina agar tidak berani membantah. Belum lagi, Sisva sedang menjalani hukuman dari Dito. Karena Sisva dihukum


lumayan lama. Tidak bisa berkutik apapun saat kakak satu-satunya itu sudah memberi hukuman. Walaupun hukumannya kecil, taoi jika sudah mendapat yang namanya hukuman pasti itu bukan


lagu persoalan biasa.


"Gheina, anak gak berguna itu akan ngerasain hal yang sama kaya gue. Dapet hukuman. Gimana ya jenis hukuman yang dikasih kak Dito." Sisva segera menyusul Gheina yang sudah meninggalkannya


ke lantai bawah.


Semuanya sudah ada dimeja makan. Sebenarnya Dito paling tidak mau dan tidak bisa membahas masalah dimeja makan atau saat makan. Yang terakhir duduk di kursi itu Sisva.


Apa kak Dito bakal ngebahas masalah itu dimeja makan, atau pas sarapan berlangsung. ini bakal jadi rekor. Si anak gak berguna itu bisa buat kak Dito marah segitunya. Sampe bahas masalah itu ditempat yang mustahil terjadi.


Sisva teru saja berfikir ke situ. "No. Kira-kira kak Dito bakal marah kaya gimana ya. Gue sih mikirnya kak Dito bakal merka


banget dan bakal bicara masalah itu disini. ditempat yang belum pernah dalam sejarah keluarga ini." Berbisik berusaha tidaj terdengar oleh Dito dan Gheina. "Wah,


bener juga. Secara, Gheina itu adik tersayangnya. Kecewa bangetlah pasti." Reni juga ikut berbisik.


"Semuanya udah selesaikan sarapannya?" Dito sedang merapihkan isi dalam piringnya.


Tuhkan. Sisva


Bener. pertama kalinya. Reno


Aku bakal diapain ya. Apa kak Dito marah banget. Iyalah, gue udah ngecewain


banget. Gheina


Suasana semakin mencekam dan tidak nyaman. Semua begulat dengan pikiran masing-masing. Apa yang akan


dilakukan Dito pada Gheina. "Semuanya ke belakang sekarang. Tidak terkecuali." Dito mengintruksi, dan bejalan


terlebih dahulu. "Kak Dito ternyata gak semarah itu deh sampe harus ngebahas ini dimeja makan." Sisva merasa kecewa karena prediksinya soal Gheina yang akan mendapat masalah besar itu


bisa saja tidak terjadi dengan keadaan ini.


"Udah, ikut aja dulu. Nanti kita lagi yang kena," Reno menepuk bahu Sisva lalu

__ADS_1


menyusul Dito. "Ini semua gara-gara lo. Pake segala acara gak jelas gitu. Jangan-jangan lo malem mabok juga," mendorong


bahu Gheina. Namun Gheina tidak sama sekali menanggapi. Dia juga langsung menyusul ke tempat Dito. "Eh, gak sopan banget jadi anak bocah. Jangan lo pikir gue diem aja," juga segera berlari ke belakang menyusul yang lain.


"Duduk semuanya." Dito sudah duduk terlebih dahulu. Dan yang lain mengikuti, duduk dimeja yang sama. "Gheina malem


jam berapa pulang. Inget janjinya," masih dengan nada santai. "Iya kak. Aku


inget sama janji aku." Gheina hanya berani menjawab dengan suara pelan. "Lantas, jam berapa pulang?" Mulai lagi suasana mencekam. "Jam 12 kak." Kecil sekali suaranya. Mungkin hanya terdengar untuk dirinya. "Suara lo


kenspa sih. Daritadi gak kedenger kali lo ngomong apaan." Sisva yang tidak tau suasana malah sewot. "Sisva." Sisva langsung kembali menunduk. "Jelasin dong. Tume is money," Reno juga ikut mengompori. "Maaf," Gheina terlihat


sangat pasrah. "Tapi bukan kata maaf yang kita butuh Gheina. Kita butuh penjelasan kamu. Kakak butuh penjelasan


dari kamu." Dito masih bisa menguasai dirinya. "Ayo, kamu jelasin." Reno ketus sekali, "maaf kak"


"udah dibilang jangan maaf doang." Reno memotong.


"Aku tadi malem lupa waktu. Dan itu emang salah aku kak. Aku nyesel. Dan aku sebenernya ditempat itu cums ngobrol sama Wulan sama Kitna doang. Gak ada


aku mabok kak. Beneran, aku jujur." Sekujur tubuh Gheina sudah gemetar. "Dan aku janji gak akan ngelakuin hal yang


sama lagi. Maafin aku ya kak. Aku mohon, kalau kakak mau marahin aku, gak apa-apa." Gheina semakin menunduk, "emang panteslah kak. Kita aja gak pernah ngelakuin itu. Pantes banget dia


"Kakak gak akan marah sama kamu. Gak akan ada yang berani, semua belum pernah melakukan apa yang kamu lakukan tadi malam. Kamu janji tidak


mengulanginya itu sudah lebih dari cukup." Dito kembali tenang.


Enak banget dia gak dimarahin. padahal kak Dito malem nunggu dia sampe ketiduran disofa loh. Selalu dibela, gak adil. Sisva


"Kak, semua ini gak adil buat kita. Kakak selalu ngelindungin dia. Kak, kita juga punya hak untuk diperlakukan seperti kakak memperlakukan dia. Kakak cuma ngelindungin dia kak." Sisva berapi-api.


"Iya. Kakak gak adil sama kita berdua," Reno menyetujui omongan Sisva. "Kak,


akutuh bangga banget sama kakak. Kakak tuh selalu jadi pemimpin yang bijaksana. Tapi kak, kali ini ntah kenapa aku


kecewa sama kakak. Kakak gak bisa hanya sayang sama salah satu


dari kita. Kita juga butuh kasih sayang dari keluarga. Dari orang yang


lebih dewasa dari kita." Sisva bicara sudah seperti meminta izin ke wc pas guru killer dikelas, dan sudah kebelet.

__ADS_1


"Kak, kita udah gak ada oeang tua. Kakak bahkan menyadari itu." Sisva melirik sinis ke Gheina. "Kakak bakal adil sama kalian semua. Kakak selalu adil sama kalian. Dan saat inipun, kakak bakal kasih


hukuman untuk Gheina sama seperti saat kalian melakukan kesalahan juga." Dito menjelaskan spesifik. "Yaudah, hukumannya apa?" Reno memulai lagi, "kenapa dengan kalian. Gheina juga adik


kaliankan. Kalian juga harus memperlakukan dia seperti normal. Tidak terkecuali," Dito heran. Kenapa begitu penting bagi kedua adiknya itu untuk memastikan hukuman Gheina.


Apa aku selama ini emang gak adil. Antara aku memperlakukan Gheina sama memperlakukan Sisva dan Reno. Sampai mereka sebegitunya sama Gheina.


Merenung sejenak adalah cara untuk menyadari kesalahan dalam diri kita. Dito merasa bahwa ini adalah salahnya. Mungkin memeang dirinya tidak adil memperlakukan salah satu dari mereka. "Yang pasti, itu peraturan aku dirumah ini yang berlaku dan disetujui juga sama kakak. Aku berhak tau apa hukuman yang pantas


buat dia kak." Tatapan sinis keluar dari mata Reno tertuju pada Gheina.


Kenapa aku terpojok. Aku tau, kesalahan yang aku buat ini fatal. Dsn bekum ada yang melakukan hal itu sebelum aku. Aku yang udah kecewain semuanya. Apalagi peraturan yang ditetapkan itu adalah peraturan kak Reno yang gak pernah suka kehadiran aku di keluarga ini.


Kecemasan tentang banyak hal selalu bermunculan saat ini dipikiran Gheina.


Kesalahan fatal pastinya


akan berakibat fatal pula. Gheina sadar itu.


"Gheina, kamu memang salah. Kakak juga gak nyangka kalau kamu bisa ngelakuin hal itu. Walaupun kakak tau kamu tudak pernah ada niatan melanggarnya. Tapi karna


kamu lupa waktu dan asik dengan duniamu, membiarkan kita disini saat itu


nunggu kamu sampe tengah malem." Dito tidak ingin api berkobar lagi. "Iya kak. Aku


tau kesalahan


fatal bakal berskibat fatal juga buat diri aku." Gheina sangat menyadari kesalahnnya.


"Sok lembut banget sih. Lo gak usah jadi uler buat lindungin diri lo." Sisva bergumam.


"Hukuman tetap ada untuk kamu, Gheina. Keadilan memang nomor satu." Dito mengusap punggung Gheina. "Aku juga bisa kasih hukuman yang pantas dan wajar diterima sama Gheina." Reno menegaskan kata-katanya. "Gak perlu. Kakak


janji, kakak bakal kasih hukuman yang sepadan." Dito mencegah tawaran Reno. Dia seperti sudah


mengetahui apa yang akan terjadi. Dito sangat paham apa yang kini


dirasakan Gheina. Tertekan sekali. Sangat tertekan.


"Hukuman yang bakal kakak kasih buat Gheina..."

__ADS_1


Berdambung...


__ADS_2