
"Aduuhhh...." Gheina gelisah. hpnya tidak juga ditemukan, dan perutnya tambah keras berbunyi.
"Kalo sampe kak Dito gak pulang, aku gak makan sampe besok pagi. Gimana nih..." Gheina semakin tidak tenang. Sampai akhirnya kakaknya yang dia harapkan bisa menjadi penolong, tidak juga datang sampai ia terlelap.
Pukul 05.20
"Gheina! bangun! lokan harus sekolah. Ini udah siang tau!" Beberapa kali Gheina dibangunkan. Tapi belum juga terbangun. "Gheina!" Sisva teriak sekeras mungkin dekat Gheina. Akhirnya yang diteriaki bangun juga.
"Ia kak. Maaf aku kesiangan." Gheina mengusap wajahnya dan terduduk. Gheina melihat jam dinding.
Hah? kok masih jam setengah enam? bukannya udah siang? Gheina mengucek matanya. eh, iya kok. Ini masih jam setengah enam. kok kak Sisva bilang udah siang?
emang belum puas siksa aku, kasih hukuman gak makan buat aku?
Sungguh malang nasib gadis itu.
Gheina sudah siap dengan seragam sekolahnya. "Waktunya sarapan!" Gheina berseru riang. Akhirnya dia bisa makan juga.
Sepanjang menuruni tangga dia memikirkan akan mengambil apa saja diperingnya untuk sarapan pagi ini.
Ini saatnya aku balas dendam deh, aku mau bikin kak Sisva kesel hari ini. Gak mau tau, pokoknya hari ini dia harus kesel.
Gheina menjadi kesal mengngat kejadian sepele kemarin. "Aku juga bisa ngelakuin apa yang kakak lakuin ke aku." Gheina bergumam mendekati meja makan.
"Kak, aku mau itu, itu, sama itu." Gheina ingin mengambil satu-persatu makanan ke piringnya. "Boleh,
tapi kok kamu makannya banyak banget." Piring Gheina sudsh terisi penuh. "Makasih, selamat makan." Gheina
sudah tidak tahan lagi menahan rasa laparnya dari kemarin siang. Gheina sibuk menyantap makanannya dengan lahap. tidak memerdulikan jika orng lain melihatnya heran. "Gheina, pelan-pelan dong. ini jugakan masih pagi." Dito mengusap kepala Gheina. "Hehe..." Gheina hanya nyengir lalu menatap Sisva yang juga melihatnya tidak suka. Ih dasar anak norak. baru
gak makan siang sama malem aja lebay banget. pake sok-sokan ngeliatin ke kak Dito kalo gak dikasih makan lagi. Sisva menatap tajam. "Emangnya kamu
__ADS_1
kemarin gak dikasih makan apa? lahan banget." Dito tertawa kecil. "Ia. Emang." Gheina langsung menutup mulutnya. Sungguh tidak disengaja dia mengatakannya. Bagaimana kalau nanti saat pulang sekolah aku dihabisi! Gheina wajahnya menjadi pucat.
"hah!? kamu gak makan kenapa?" Dito panik. Pandangannya seluruhnya kepada Gheina. "Aku dihukum sama Kak Sisva. Aku kemarin lupa ganti baju, terus aku duduk disana." Gheina cemas, dia bingung. Tapi semuanya sudah terlanjur tertangkap basah. Tidak mungkin lagi dia mengelak.
"Sisva! hari ini, kamu yang kakak hukum! jangan pergi setelah kuliah." Dito terlihat marah. Tapi masih
bisa menahan amarahnya. "Maaf ya kak. Aku gak maksud gitu. Aku keceplosan." Gheina berfikir, akan lebih aman jika dia meminta maaf terlebih dahulu sebelum disusul hukuman lainnya.
"Buat apa kamu minta maaf. Kamu gak salah. Kamu bagus keceplosan, kalau enggak, kamu akan terus diperlakukan seperti ini." Dito marah yang sedikit tidak bisa mengontrol dirinya. "Buat hari ini, kamu pulang sekolah ke kantor kakak yaa.." Dito sudah tidak bisa memberi toleransi untuk sikap Sisva kepada Gheina.
"Iya kak. Nanti aku pulang sekolah langsung kesana." Gheina hanya bisa mengangguk atau masalah akan tambah panjang nantinya. Sisva menatap Gheina dengan tatapan membunuh. Liatin aja,
lo gak akan selamat sama gue. gue bakal bikin lo lebih menderita daripada kemaren. Sisva menatap sinis sekali lagi sebelum dia pergi dari meja makan.
"Kak, lo gimana sih. Kitakan udah sepakat buat dia semakin tertekan biar gak berani ngadu sama kak Dito." Tampak kekesalan Reno membludak. "Kak, gimana kalo kita susun lagi rencana yang lebih bagus biar dia kapok sama kita. Gak macem-macem lagi," Reno memberi usul
yang menueut dia paling oke. "Itu yang sekarang kita akan kerjakan. Buat dia sehancur mungkin, sampe dia semakin terdesak, dan gak berani ngadu sama siapapun. Bahkan kak Dito juga gak bisa tolong dia." Sisva membayangkan indahnya jika itu semua terjadi. "Kak emang pinter banget. Gak ngeti lagi kenapa sepinter ini." Reno membanggakan kakaknya yang akan membuat rencana jahat untuk adik terakhirnya yang tidak diinginkan sama sekali.
siapa. Mereka?" Reno jadi penasaran siapa yang dimaksud kakaknya. "Siapa lagi. Orang tua kita." Sisva langsung to the Point. "Kak. Tapi gimanapun, mereka juga orang tua kita. Mereka
yang membesarkan kita." Raka tahu, memang kedua orangtuanya meninggalkan mereka semua. "Kapan. sejak kapan
mereka ngurus kita dengan layak? apa lo pernah liat mereka secara langsung?" Raka langsung membeku melihat kakaknya yang murka karena perbincangan sederhana. Terbesat dipikiran Reno, gue benci anak itu! Reno mengepalkan tangan kuat.
"Iya kak. Udah, gak usah kita bicarain ini." Reno mengusap pundak Sisva. "Mereka tuh tanggung jawab aja enggak. Apa lo tau, waktu lo masih dikandungan, mereka udah berencana untuk
tinggalin kita semua! Dan mereka berencana tinggalin kita semua pas lo ketika lo berusia 4 bulan. Gue kira semuanya cuma ketakutan gue. Tapi ternyata semuanya jadi kenyataan. Dan bahkan lo gak pernah liat mereka." airmata tidak bisa
lagi dibendung Sisva. Karena rasa geramnya yang malah tertuju bukan pada orang tuanya. Tapi pada Gheina. "Kak." Reno memeluk hangat Sisva. "Ada apa. kenapa teriak?" Ternyata suara teriakan Sisva terdengar sampai luar rumah saat Dito masuk kedalam mobil. "Eh kak. Belum berangkat." Reno melirik kearah pintu.
"Suara kamu itu kenceng banget. Pastilah kedengar." Dito keheranan. "Dan mereka keluar dari rumah ini tinggalin lo waktu usia lo 4 bulan. Kita kebingungan harus gimana ngerawat lo waktu itu." Sisva duduk disofa kamarnya. Semua yang ada di kamar Sisva diam termangu. Termasuk Gheina. pikirannya saat ini sedang berbelit-belit dengan kebingungannya.
__ADS_1
Kalo kedua orang tua aku pergi ninggalin mereka saat kak Reno masih kecil, terus aku? kecemasan dan kebingungan memenuhi pikirannya. "Sini. Udah, gak usah bawa-bawa mereka lagi ya. Gak sopan. Anggap aja itu sebagai tameng kita dulu. Kalau kejadiannya gak kaya gitu, mungkin kita sekarang sering banget berantem dan berbuat seenaknya." Dito memeluk Sisva
yang menghampirinya.
"Kak, emang kita dulu ngelewatin semuanya. Tapi enggak sama dia!" Sisva menunjuk Gheina menunjukkan begitu besar rasa bencinya. "Kak, semuanya. Kalau semua terjadi saat kak Reno masih kecil, terus aku." Gheina masih bingung. Kenapa daritadi semuanya tidak
bisa ditangkap otaknya. "Lo bingungkan. Apalagi kita saat mama dateng untuk yang pertama dan terakhir setelah insiden mereka pergi. Dan dia cuma mau kasih anak gak berguna kaya lo! makanya kenapa gue begiru benci sama lo!" Sisva hendak mencakar Gheina. Tapi Dito menahannya. "Dia juga sdik kita Sisva! jangan pernah kamu anggap dia gak berguna atau apalah hinaan kamu. Karna gimanapun, dia dilahirkan dirahim ibu yang sama dengan kita." Dito
mulai terpancing lagi tetapi bisa mengontrol dirinya. Dia sadar, saat ini memang dia kesal dengan perlakuan adiknya itu. Tetapi sekarang bukan waktunya dia untuk marah. Dia harus bisa menenangkan semuanya dan mengambalikan situasi seperti semula.
"Gsk bisa! Kita ngerasain semuanya. Dan dia datang berperan sebagai princess. Asal lo tau, seorang putri kerajaan yang begitu disayang orang sang raja akan menerima dulu bagaimana rasanya kekejaman dari musuhnya." Kata-katanya begitu tajam. Lebih tajam dari pisau. Dia pergi, melewati Gheina. Menubruknya lumayan bertenaga. Kak, aku juga gak tau bakal kaya gini. Bahkan aku baru tau kalau aku gak pernah diinginkan selain sama kak Dito. Apa mungkin kak Dito juga menjaga
aku karna dia kasihan sama aku. Aku anak yang tidak diinginkan oleh siapapun.
"Kak, aku juga pergi dulu ya." sebutir air dari mata Gheina jatuh. Dito melihat butiran itu. Ntah kenapa dia merasa disayat pisau sangat tajam. "Gheina. Kak..." terpotong, "Aku gak apa-apa. Aku berangkat dulu ya." Gheina masih bisa
mengembangkan senyum. Apaan sih itu anak. Drama banget. Gue ngerasain juga gimana kita susah dulu. Lo tinggal nikmatin semuanya, karna kak Dito sekarang udah punya perusahaan. Pekerjaan tetap. Lo yang sekarang harus rasain gimana kita dulu beejuang hidup setiap harinya. Reno sudah muak sejak tadi. Tapi dia tidak seberani itu untuk menantang kakaknya.
°°°
"Lo selalu mendapat perlindungan dari kak Dito. Begitu berunrung lo Ghei. Bahkan gue yang lebih lama hidup sama kak Dito gak peenah diberi kasih sayang kaua lo sekarang. Seorang putri kerajaan memang harus ngerasain pahitnya diluar kerajaan." Sisva tersenyum licik.
Gak akan ada yang bela lo. Gue yakin untuk ini.
"Kak. Tunggu." Sisva menoleh, "kamu. Kenapa, aku mau berangkat." Sisva mengunci mobil, menandakan bahwa Reno tidak boleh masuk. "Kak, aku ikut kakak ya." Reno mengetok pintu mobil. "Enggak. Kamu berangkat sendiri. Aku buru-buru." Reno sangat tau. Sifat kakaknya yang seperti ini, bisa dibujuk dengan keinginannya. "Aku mau
ngomongin rencana sama kakak. Aku tau apa yang sekarang kakak pikirin," Reno diizinkan masuk mobil. "Apa yang lo rencanain. Gue mau berangkat, gak pake lama." Sisva melirik jam yang melingkar ditangannya. "Kakak sendiri, pasti udah
langsung mikirin rencana yang lebih bagus dari aku." Reno menyerahkan semua kepada Sisva. "Gunanya lo disini ngapain, gue mau kuliah." Sisva tidak juga menyalakan mesin mobilnya. "Ya, biar kakak tenanglah. Kakak jangan ngamuk lagi, buang-buang tenaga buat anak gak berguna itu." Reno kembali membayangkan wajah Gheina yang sangat dibencinya.
"Yaudah. Jadi, gue mau bikin rencana......"
__ADS_1
Bersambung..