Berjanjilah Untuk Setia

Berjanjilah Untuk Setia
Seven


__ADS_3

"Kak, tangan aku sakit." Gheina mengaduh sambil memegangi tangannya. "Gue gak nyangka loh, cewek gak berguna kaya lo bisa dapet cowok sekeren itu. Pake santet apa, kenal dimana tuh dukun. Sesajennya apa." Reno tertawa terbahak-bahak.


"Kak, bisa gak sih kalo ngomong gak sembarangan. Kapan aku peecaya dukun." Gheina mencoba melawan.


"Udah berani, sejak kapan. Dibantu setan?" Reno ingin sekali melihat kemarahan tertinggi adiknya. "Kak, aku gak ngerti


kenapa kalian begitu jahat sama aku, apa salah aku sama kalian." Gheina menatap Reno meminta penjelasan. "Kalian siapa?" sok polos bertanya, "kalian. Bahkan kata kak Sisva, kalian berdua


benci aku sejak saat aku bayi. Saat aku belum bisa bicara apapun. Kenapa kak, aku gak ngerti semuanya." Gheina merasa capek sekarang. Dia tidak pernah


dihargai dan dianggap, bahkan dia tidak tau. Karena kedua kakaknya sudah sangat membencinya sejak dia bayi.


"Aku gak tau harus buat apa. Kalian gak pernah ngampunin aku. Malah setiap harinya aku semakin ditekan sama kalian." Gheina buka-bukaan tentang kegelisahan setiap harinya. "Kalo lo mau kita maafin dan ampunin, cuma satu doang syaratnya. dan itu gak


akan pernah nyusahin kamu. Kamu tinggal pergi dari rumah, buat surat seakan lo gak akan balik lagi, dan gue


yang bakal palsuin kematian lo. Soal jasad, gue bakal cari jasad yang udah gak berbentuk dirumah sakit. Dengan gitu, lo gak akan kenal kita lagi." Reno membuat Gheina bertubi-tubi merasakan sakit batin.


"Kenapa nangis. Gak perlu khawatir, gue yakin, lo cuma nangis karna ninggalin kak Ditokan, lo juga gak akan hidup susah. Setiap bulan lo bakal dapet


transfer dari kak Sisva." Reno bicara seolah tidak ada kata-katanya ywng menyakiti hati. "Buksn cuma kak Dito yang aku tangisin. aku gak paham sama


kakak Reno sama kak Sisva. kalau kak Dito usir aku, aku baru bakal pergi dari rumah." Peryataan terakhir Gheina membuat pikiran Reno yang sudah kehabisan ide, kembali bermunculan.


Percakapan tidak dilanjutkan. Gheina sudah berhenti menangis. Karena dia tidak mau Dito marah pada dirinya, dan akhirnya kerjadi keributan yang lagi dan lagi karena dia. Dan dia juga yakin, jika Dito


marah pada Reno, keesokan harinya pasti ada hukuman yang menimpanya. Gheina bukan orng yang naif. Kalau


memang menurutnya itu bisa menyakiti dirinya demi orang lain yang tidak berkepentingan,


lebih baik go away. "Turun. Sampe lo ngadu nanti dirumah ke kak Dito, abis lo besok." Gheina tidak menjawab apapun.


"Turun! kuping lo masih bagus dan bergunakan. Apa jangan-jangan seluruh hidup lo emang diciptain buat gak berguna." Selalu seinginnya dia bicara.


"Kak. Kenapa sih tega banget. Aku ini adik kakak. Aku juga berhak disayangi." Gheina melawan. "Tapi karna lo, gue sama kak Sisva gak dapet kasih sayang lagi


dari kak Dito. Dia cuma fokus urus lo


yang ntah adik kandung gue, atau anak pulung atau anak haram." Reno sangat tidak mementingkan perasaan Gheina. "Udahlah kak. Aku capek." Gheina akhirnya turun dari mobil.


"Ngapain kita kesini. Kenapa gak pulang. Ini udah sore, dan aku gak tau ini daerah mana." Reno langsung sumringah. "Bagus. Dengan itu, beres urusan


kita bertiga, lo gue tinggal. Sampe lo ngadu, awas!" Reno mengancam secara terang-terangan. "Bertiga? Siapa." Matanya menyapu habis lokasi itu.


"Hai, anak yang gak tau diri yang ngambil kebahagiaan kita berdua dari kita kecil." Seseorang yang terdengar seperti suara seorang perempuan yang


amat dikenal Gheina. "Kak Sisva. Kalian janjian disini buat siksa aku!?" Gheina mulai merasa panik yang ia sembunyikan. "Of couse. You so smart. Tapi kepinteran lo cuma buat hidup lo sendiri. Lo licik!" Hampir saja Sisva mencakar lengan Gheina.


"Kak, jangan sekarang. Belum waktunya. Kita bakal sakitin dia setelah semua unek-unek kakak keluar. Dengan


begitu, kalau dia mati disini, dengar Gheina. Keinginan aku mencari jasad palsu dan memalsukan


kematian kamu gak akan jadi. Tapi yang terjadi itu, jasad asli. Hahah...." Reno bersikap layaknya penbunuh berantai.

__ADS_1


Gheina semakin panik, sesuatu ditangan Sisva sudah teracung tinggi.


Please kak. Jangan apa-apain aku. Aku mohon.


"Gheina bangun!!" Gheina langsung terbangun dari alam bawah sadarnya. "Elo itu dijemput, buat jadi pembantu sampai nanti malem. Lo lupa, karyawan disini semuakan resign gara-gara lo. Kalo


perlu, nanti malem juga yang masak lo." Sisva mengamuk kesal. Perutnya keroncongan lapar. Ditambah lagi rasa kesal pada Gheina.


Hah... cuma mimpi. Ya ampun, segitu takutnya aku sama kata-kata kak Reno tadi.


Setidaknya, sekarang nyawanya selamat. Ternyata dia disuruh pulang cepat, sampai dijemput karna disuruh masak.


Gheina berulang mengusap dada. "Kenapa sih lo. Kayak abis ketemu pembunuh aja. Otaknya makin gak berguna ntar." Sisva malah mencibir. "Kan


emang." suara yang tidak terlalu besar itu bisa menhibur dirinya karena itu tidak terjadi.


"Apa?" Sisva tidak terlalu mendengar hanya samar. "Enggak. Cu..ma.. bilang tadi mimpinya aneh." Gheina seperti mengajak bicara tawanan.


"Cepet! Gue laper. Lo malah banyak omong." Sisva kembali merasakan perutnya lapar. Eh, tadi aku tidur kapan ya. Apa aku ngebiarin kak Reno ngomong sendiri ngoceh tentang palsu-memalsukan. Kalo


ada orang ketiga pasti saksi kakak aku ngomong sendiri. hihi..


"Ngapain lo ketawa-ketawa!" Mulai lagi sewotnya. "Kali aja kak Sisva butuh hiburan. Rempong banget." Gheina bisa juga menjinakkan ular cobra. "Reno! Kak Dito gak usah pulang jam tujuh deh." Sisva berseru masih ditempatnya. "Hah, gimana. Masa aku harus larang kak Dito pulang sih.


Aneh nihh..." Reno menghampiri Sisvadan ikut duduk dikursi meja makan.


"i want eat with sauce special. Lo harus bisa bikin saos itu yang gue pengen. Kalo perlu, lo datengin mbak Surmi." Sisva malah meminta lebih lagi. Agar mencari


kesalahan Gheina. "Kak, ini udah jadi. Saosnya juga ini bikinan aku sih. Aku coba-coba aja, semoga aja kalian suka." Gheina menyimpan piring


"Kak. Kan daritadi kakak liatin aku masak, kakak gak liat tadi aku masukkin apa aja." Gheina sudah tau, kakaknya ingin menyalahkannya meskipun tidak ada masalah.


"Liat sih, tapi bisa aja tadi lo cari-cari kesempatan waktu gue gak liat." Masih terus berusaha. Ih ribet banget deh. Kakak aku kenapa sih kayak gini. Dulu ibu ngidam apa ya, kok bisa kayak gini jadinya.


tersenyum sambil masih menatap Sisva.


"Apa lo. serem deh, senyum sendiri. Ada yang lucu dari gue!" Mulai lagi sewot. Sifatnya selalu berganti-ganti.


Tapi negatif semua. "Iya lucu. Padahal belum dicobain saos ataupun masakannya. Tapi komentarnya udah sampe Z aja. Katanya tadi disuruh buru-buru massknya udah laper. Sekarang malah banyak ngomong bukannya dimakan." Reno malah


tidak menghiraukan, dia asik dengan hpnya. Sedang bermain game.


"Ya.. harus pilih-pilih juga kalo makan. Kslo misalnya gue makan ini bisa keracunan, mending gak usah makan." Sisva menjauhkan piting yang didekatnya.


"Reno." Sisva melirik Rrno yang asik sendiri. "Iya kak. tunggu, aku sebentar lagi men.. kalah," wajah Reno kecewa. "Udah


sekarang, kamu coba makanan masakan nih anak." menunjuk piring yang ada ditengah. "Kakak gak makan, katanya


tadi laper banget. Yaudah, aku makan ya.." Reno menyuapkan makanan kedalam mulutnya.


Hah, kirain bakal nolak. Emang dia gak dengar tadi aku sama kak Sisva ribut karna takut keracunan.


"Enak. Gimana menurut kakak." Reno melanjutkan makannya. "Tuhkan kak. Aku bilang juga apa, gak akan kerancunan. Gak percaya banget." Reno langsung melotot. "Kak! Jadi aku disuruh cobain

__ADS_1


karna kalian lagi debat makanan ini pake racun apa enggak." Reno


menghabiskan


air digelasnya, tidak tersisa sedikitpun.


"Iya No. kakak gak percaya sama dia, kamu kakak jadiin tester deh." Sisva tidak merasa bersalah. "Sorry, but I don't


want to die." Sisva meminum air digelasnya.


"But I also don't want to die yet. I am still young. You should go first, be older." Sisva menggebrak meja.


" Ngapsin sih kalian. Malah belajar bahasa Inggris disini." Gheina menahan tawa sekuat tenaga.


"Kenapa tadi kakak gak suruh dia aja yang tester. Why.. gitu loh." Tidak ingat apapun, Reno menyantap lagi


makanannya. "I can make food again later for me. This is for you sis," Gheina tersenyum lalu berjalan menuju dapur.


"Hah, lo bisa aja gak racunin yang Reno tapi racunin yang gue."


"Gheina. Lo ternyata bisa juga masak. Saos bikinan lo lebih enak dari punyanya mbak Surmi."


"Bisa aja dia curi resep."


"Hahah.. kak, kalopun curi resep, berarti yang punyanya mbak Surmi nyontek ke aku. But i don't care fot that." Sisva malah tambah tidak selera makan, tapi perutnya


sangat lapar. "Berisik. Gue mau makan." Sisva mengambil sendok dan garpu, lalu mulai menyantap dengan


lahap. "Si ibu kalo laper gausah gengsi." Reno pergi menuju kamarnya. "Kak, abis ini aku mau pergi. Ada acara kampus, sampe jam sembilan." Gheina hanya ingin memberi informasi. "Terus yang masak siapa." Makanan dipiring


Sisva sudah ludes. "Kan ada kakak." Gheina duduk ingin makan, "what! gue masak? tuangin minyak ke wajan aja gak pernah." Sisva menolak tanpa


berfikir apapun. "Kan kakak juga curiga kalau aku yang masak. Biar lebih yakin, kakak masak sendiri aja."


Tidak bicara lagi. Sisvapun pergi ntah kemana.


"this event very important. So I have to come." Gheina meyakinkan dirinya untuk hadir diacara itu.


°°°


"Kak, aku mau ada acara. Aku baru beres agak malem sih, sekitar jam 9. Boleh." Gheina meminta izin terlebih dahulu pasa Dito. Meminta izin itu penting


sebelum bepergian kemanapun, agar tidak ada yang cemas jika pulang terlambat. Tapi


juga harus jujur. "Oke." Itu sudah menjadi arti kalau Dito mengizinkan. "Kak


Sisva yang bakal masak buat makan malem katanya. Sukarela dia." Gheina tersenyum membayangkan Sisva memasak.


"Yaudah, semoga perut kakak nanti malem gak terjadi apa-apa." disebrang sana Dito tertawa kecil.


"Yaudah kak, aku mau kabarin temen aku dulu ya. Bye kak, hati-hati dijalan nanti."


"Kamu dong harusnya. Bye.."

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2