Berjanjilah Untuk Setia

Berjanjilah Untuk Setia
Twelve


__ADS_3

Jam kuliah telah selesai. Kampus sudah lumayan sunyi. Mungkin hanya beberapa yang masih berada di area


kampus seperti anak-anak yang suka nongkrong, atau yang ekskul, dan lainnya. Namun karena ntah apa yang akan dilakukan Gheina siang ini, daripada pulang ke eumah mendangar ocehan, lebih baik diam diperpustakaan. Membaca buku bagi sebagian orang yang memang suka membaca itu bisa menjadi refreshing. seperti


Gheina saat ini. Membaca bisa menghilangkan sedikit masalahnya, walaupun terkadang bisa mengingatkannya pada masalah itu sendiri.


"Ghe, lo gak pulang. Ini udah siang lho." Wulan mengibahkan kertas yang ada ditangannya untuk memberi udara sejuk di tubuhnya. "Kamu pulang duluan aja ya, aku mau ke perpus." Gheina mencari alasan


agar tidak segera pulang. "Tadi gak cukup bacanya 1 jam?" Wulan heran, apa sebanyak itu waktu yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan baca, sampai-sampai waktu 1 jam tidak cukup. Gheina berpamitan


dengan Kitna dan Wulan. "Gheina gak apa-apa sendiri, nanti kalo kakaknya nanya lo gimana? Jawab jujur gitu?" Kitna tampak khawatir dengan apa yang diperkirakan terjadi.


"Gak apa-apa, gue yakin dia udah bilang ke kak Dito. Dia ntah kenapa hari ini lagi beda. Ngelamun terus. Gak tau juga lagi ada masalah apa, dia gak cerita dama gue. Jadi gue biarin aja dia sendiri,


tenangin dirinya." Wulan sudah sangat kenal dengan Gheina, dan pasti tau apa yang harus dilakukan saat-saat seperti ini.


Sementara di perpustakaan..


"Sejuk banget. Tenang juga, sunyi. Udah sepi juga disini ternyata." Gheina mendorong pintu dengan susah payah. "Hah... i love this room."


Tokk!!


Gheina terkejut. Segera berbalik, melirik pintu yang baru saja dia lepas agar tertutup. "Set! Set! Set! Bilang kek, kalo pintunya mau dilepas. Kan gue gak pake nyosor segala." Seseorang terbentur pintu dan sedang meringis kesakitan. "Eh! hah, maksudnya?" Meminta penjelasan. "Nyosor?" Gheina dibuat ambigu oleh orang itu. "Maksudnya, guekan bisa nunggu lo tutup pintu


baru gue buka lagi. Gue tadinya mau ikut masuk pas lo buka pintu." Mencoba menjelaskan agar tidak terjadi salah paham. Lalu, ditengah perselisihan antara Gheina dan seorang mahasiswa yang ntah siapa, ada yang lewat seorang mahasiswa dari dalam perpus. Mahasiswa itu melihat perselisihan didekat pintu masuk.


"Hey, jangan berantem dideket pintu dong. Gue mau keluar susah, dan yang lain juga nanti ngerasa gitu." Malah ikut berselisih, "lagian, lokan cowok. Cowok itu gak boleh berantem sama cewek, kayak


banci aja lo."


"Tau nih, mas nya. Tiba-tiba marah, padahal gak tau apa-apa. Masa dia mau masuk, ikut aku." Gheina langsung menimpali dengan wajah cemberut. "Mas mas mas. Emangnya tukang baso, yang dilagu itu." Ntah kenapa orang itu. "Udah. Siapa


nama lo?!" Menunjuk Gheina, "semester berapa lo," lanjut lagi. Namun belum dijawab Gheina, langsung dipotong, "gue mau nanya dulu sama lo. Nama lo siapa, semester berapa." pihak ketiga sepertinya membela Gheina.


"Gue Doni. Semester 4 fakultas ekonomi." Dengan sombong dan lantangnya dia menjawab tanpa ragu. "Aku Gheina semester 6 fakultas kedokteran." Gheina ikur bicara menjawab pertanyaan Doni. "Dan gue! Abrar semester 8 fakultas hukum. Yang at list sebentar


lagi bakal lulus." Sangat jelas terlihat Abrar membela Gheina sebegitunya. Padahal Gheina dan Abrar belum

__ADS_1


pernah kenal sebelumnya. "Aku juga punya temen cowok difakultas yang sama kayak lo. Seangkatan sama aku." Membanggakan Virqa. Siapa lagi, ruang lingkup pertemanan Gheina kecil. Yang jelas,


temannya hanya segitu. Virqa, dengan nama iru mubgkin bisa menolong Gheina. Gheina tidak bisa mengandalkan Abrar. Orang yang ia tidak kenal.


"Gak ada yang nanya! Ribet lo semua." Gheina dan Abrar saling tatap. "Kenapa dia harus seribet itu. Kan dia yang salah, bukan aku yang mulai. Kalau dia bakal keluar pada akhirnya, kenapa dia harus


memperpanjang urusan disini. Buang waktuku aja," Gheina melitas, tanpa kata penutup ataupun berpamitan atau sekedar memberi terimakasih pada Abrar.


"Hey.." Abrar mencekal lengan Gheina yang membuat Gheina berbalik. "Eh, ada.. apa?" Gheina kebingungan, ada apa lagi dengan mereka. Bukanya orang didepannya ini akan keluar perpustakaan mungkin


untuk pulang.


"Senang berkenalan dengan anda." Abrar tersenyum, lalu melambaikan tangan kepiar perpustakaan.


Kenalan? Apa dia mimpi. Siapa yang kenalan. Kenapa sih dengan hari ini


Gheina mencari buku ke dalam perpustakaan. Setelah mendapat buku yang menarik untuk dibaca, ia mencari tempat duduk yang nyaman. Asik dengan bukunya, sampai lupa waktu lagi. Gheina tidak sadar kalau dia sudah diam membaca buku


diperpustakaan selama 2 jam. Sampai buku yang dibacanya selesai, dia melihat jam tengannya. "Udah 2 jam aku disini pantes aja aku baca sampe 3 buku. Kalau aku lebih lama disini, pasti aku gak akan diampuni kak Sisva dan kak Reno." Gheina cepat membereskan buku ke tempat asalnya, dan segera keluar perpustakaan dan menuju


gerbang untuk pulang.


yang senang main basket, namun dia hanya tertarik ntah kenapa saat itu. Dia saja baru sekali memiliki perasaan pada lelaki. Pada saat SMA, bahkan dia sudah lupa rasanya bagaimana. Cukup lama Gheina melihat pertandingan besket. Orang-orang dilapaang basket telah selesai dan menuju


pinggir lapangpun Gheina masih menyaksikan semuanya. Gheina tidak merasa ada seseorang yang ia kenal dikerumunan yang bermain basket itu.


"Broh, gue kesana dulu ya. Nanti gue nyusul ke caffe." Kata seseorang menepuk pundak temannya. "Kenapa emang bro, ada sesuatu?" temannya menimpali. "Enggak, ada ueusan sebentar doang kok." Seorang laki-laki iru berlari menghampiri Gheina.


Lho, kok ada dia. Kok aku bisa gak sadar sih jalo disini ada orang itu lagi. Kanapa harus ketemu disini sih. Eh, bahkan ditempat lainpun aku gak berharap ketemu. Aku kira bakal sekali doang ketemu orang itu.


Gheina mencoba memalingkan wajahnya. Namun tidak berefek apapun. "Hai," Abrar berhenti tepat didepan Gheina yang sedang duduk. "Kamu gak pulang, atau nunggu yang jemput?" mencoba bicara agar tidak canggung. Tidak menjawab dengan kata-kata, hanya dengan gelengan kepala. "Kamu suka basket," gelengan lagi


sebagai jawaban. Abrar malah duduk disamping Gheina.


Aduh, kenapa harus duduk dusebelah aku sih. Kan temen-temennya udah pada bubar.


Gheina tidak nyaman. "Kamu kenapa. Masih kepikiran orang yang diperpustakaan tadi, si... aku lupa namanya. Doni, nah.." percuma, tidak ditanggapi lebih. "Kamu kok

__ADS_1


ngomongnya 'aku kamu' bukannya orang kayak kamu biasanya cuma bilang 'aku-kamu' ke orang yang spesial, kayak pacar." Sudah tidak mau banyak menanggapi lagi, Gheina berdiri. "Eh tunggu," kali ini Abrar memegang kedua pundak Gheina. Gheina jelas ridak suka hal itu, maju satu langkah


lalu berbalik badan. Hanya mengangkat alis untuk bertanya dengan isyarat. "Karna lo spesial."


Apaan sih. Dia tuh kenapa, suka ganggu hidup orang ya. Baru aja ketemu, udah halu tinggi banget. Gombal segala, gak semua cewek suka digituin kali...


Jengah sejali Gheina menanggapi lelaki dihadapannya ini. Hanya membalas dengans enyum terpaksa lalu benar-benar pulang. Gheina tidak mau Sampai


bertemu Abrar lagi jika ia masih berada diarea kampus. Karena udara siang sangat panas sekali, jadi Gheina memutuskan untuk memesan taksi. Jika cuaca masih bersahabat, mungkin Gheina masih sanggup untuk naik ojek.


°°°


Dari luar, terlihat tidak ada orang didalam rumah. Namun Gheina ragu untuk masuk. Jika dia salah sedikit saja, pasti omelan yang ia terima akan lebih parah daripada yang ia lakukan. Benar-benar memastikan semuanya aman, Gheina berjalan


normal lagi. Lalu ada suara dering kencang dari telpon rumah. Gheina waspada, lalu Gheina menghampiri telpon rumah untuk menjawab panggilan. "Halo, bisa bicara dengan..." belum selesai bicara Gheina sudah memotongnya, "saya sendiri." Gheina menunggu kata selanjutnya dari orang yang menghubungi telpon rumahnya. "Ini orang kantor, dan saya ingin


bicara dengan Pak Dito. Ada," mengutarakan tujuannya.


"Oh, kak Dito gak ada. Kenapa gak telpon langsung ke kantor." Gheina sudah malas menanggapi orang-orang tidak jelas hari ini.


"Bu, Pak Dito tidak ada


dirumah bu. Dan yang mengangkat telpon seorang perempuan yang sombong."


Sombong? berani banget dia bilang aku sombong. Akukan hanya tidak terlalu berlebih menanggapi orang tidak aku kenal.


Gheina menutup telpon tanpa kata penutup. "Coba, sini saya mau ngomong sama orang itu," seorang perempuan disebrang sana yang meminta anak buahnya


menelpon Gheina. "Maaf bu. telponnya ditutup sama perempuan itu." anak buah itu menunduk, "siapa dia. Berani sekali menutup telponku secara tidak terhormat." perempuan itu terlihat sangat tegas. Menyeramkan, mungkin itu yang orang nilai saat pertama bertemu.


Malam hari.


Setelah makan malam, Gheina kembali ke kamarnya. Karena ia bosan, jadi ia memilih untuk menulis dibuku hariannya. Saat dia mencarinya didalam tas, tidak menemukan barang yang dicarinya. Dia mencari dilaci bukunya, dilemari, meja


belajar, Nihil. Tidak sama sekali menemukan buku hariannya. "Aduh, kok gak ada sih. Kemana ya, aku simpen dimana kemaren." Kebingungan mencari, juga kelelahan bolak-balik ke tempat yang sama mencari sekali lagi. Namun tidak ada hasil apapun.


"Kemana buku itu..."

__ADS_1


Beraambung...


__ADS_2