
Gheina sedang mengendarai mobil yang sangat jarang dia pakai. Dia hanya memakainya untuk event dadakan seperti sekarang. Polusi itu
harus dikurangi, caranya mengurangi menggunakan kendaraan pribadi. Umum juga nyaman aja, dan lebih santai. Gak usah capek nyetir.
"Haloo.. Lan." menyapa terlebih dahulu. "Dimana Lan. Aku baru jalan." Gheina tidak mendapat sahutan dari sebrang sana.
Sementara disebrang sana,
"Mama... aku cari tas aku daritadi gak ada. Mama liat gak tas aku yang sering aku pake." Gheina ketawa terbahak
mendangar seruan Wulan. "Kan dipake Sandri." Wulan menghentakkan kakinya berulang, seperti anak kecil yang tidak
diberi uang jajan. "Eh, aku lupa. Gheina lagi telepon aku tadi. Dimatiin gak ya." segera berlari menuju kamarnya. Meraih hp dan melihat layarnya.
"Eh, gak dimatiin. Halo Ghe, sorry gue tadi.."
"Gimana udah siap belum. Aku udah jalan." Gheina mengulang kata-katanya yang tadi tak didengar. "Oh, iya. Gue langsung berangkat." Wulan gesit memasukkan barang yang akan dibawa kedalam tas yang ada.
"Oke. See you later." Sambungan terputus. "Ada-ada aja." Gheina
kembali fokus pada jalanan.
"Gheina pasti dengar semuanya tadi. Maluu.." merasa sangat malu. Wulan menutup wajahnya yang blushing
dan panas. "Lan, kamu kenapa jalan mukanya ditutup segala?" Mama Wulan mencegat Wulan yang sedang buru-buru. "Ntar mah ceritanya. Aku
mau berangkat dulu. Bye-bye mama." Wulan terburu-buru karena telpon dari Gheina tadi. "Aduh, kayaknya aku telat deh." Segera masuk kedalam mobil, dan
menyalakan mesinnya. "Huh. Panas ya hari ini, pengen mandi air es rasanya." Wulan sedikit agak lebay soal dirinya.
°°°
Gheina merasa asing dengan suasananya. Tidak ada orang yang dekat dengan Gheina dilokasi itu. Mungkin Gheina sudah sampai duluan sebelum teman-temannya.
Dan Gheina itu masih Gheina yang SMA. yang sangat susah untuk bergaul.
Virqa, Yura dan Kitna dekat mereka awalnya kare a Wulan pastinya. Awalnya hanya pada Wulan, tapi lama-kelamaan mereka
merasa tidak enak setiap
bertemu Wulan dan
Gheina yang hanya diajak berbincang itu Wulan. Butuh waktu berbulan-bulan untuk akrab dengan Gheina. Begitupun saat Wulan dulu saat SMA. Tetapi jika sudah mengenal Gheina, orangnya asik. Murah senyum pada siapapun.
Gheina memasukki sebuah ruangan. Lumayan ramai, orang-orang yang berada didalam ada yang sedang berbincang sambil menikmati makanan dan minuman diatas meja. Ini adalah waktu atau moment yang paling tidak disukai Gheina
dikeramaian. Saat dirinya hanya
sendiri dan ntah apa yang akan dia lakukan. Karena biasanya, jika dia bersama teman-temannya, dia hanya mengikuti langkah kaki temannya. "Ghe." Seseorang menepuk pundak Gheina secara tiba-tiba. Gheina segara menoleh
karena terkejut. "Ngapain disini." orang itu bicara lagi. "Akukan diundang juga bareng Wulan. Inikan acara 3 universitas." Dengan polos dan santai Gheina
menjawab itu. Seharusnya, yang bingung itu yang diberi jawaban. Ini Gheina yang malah bingung kenapa orang dihadapannya bertanya itu.
"Maksunya bukan itu, kamu ngapain dideket pintu berdiri diem gitu." Kitna tertawa, "Kitna.. aku,"
"Iya tau aku sekarang jawabannya. Kamu gak bisa ngapa-ngapain ditempat rame
kalau gak ada temen. Ngefreeze gini. Kamu tuh orangnya introvert banget sih." Kitna menggeleng tak habis fikir.
__ADS_1
"I don't know what to do. I really don't want to do anything. I don't know everyone here." Gheina berjalan mengikuti Kitna.
"Sambil nunggu Wulan sama Virqa, mending kita duduk disana," Kitna menunjuk tempat yang dipenuhi kursi yang masih banyak yang belum diisi. "Yaudah, aku juga pegel dari tadi berdiri." Gheina memegang kakinya.
Mereka berjalan menuju tempat yang ditunjuk Kitna barusan. Mereka hanya berbincang-bincang random. Gheina juga menanyakan kemana saja Kitna selama 1 minggu tidak terlihat dikampus. Dan masih banyak lagi. Kurang lebih 15 menit
Wulan datang. Wulan pusing mencari keberadaan Gheina atau
mungkin temannya yang lain yang tadi tidak sempat ia kabari. "Eh, itu Wulan bukan." Kitna memicingkan mata, "iya deh kayanya. Aku samperin aja ya, nanti malah dia muter-muter tempat ini." Saat mendak berdiri, tangan Gheina dicekal Kitna. "Gak usah. Kenapa gak ditelpon atau dichat?"
Iya juga ya, dasar aku. Kenapa sampai gak berpikir kesana. Malah ingin sekali aku pergi menghampiri Wulan. Akhirnya Gheina mengirim pesan pada Wulan, dan Wulan yang menghampiri Gheina.
"Akhirnya sampe juga. Macet banget woy," terlihat sangat lelah. "Kalian udah dateng daritadi?" Mereka saling mengangguk. "Eh, aku ada temen. Cowok, baik orangnya. Aku sering banget cerita tentang kamu ke dia. Dsn sekarang dia juga diundang ke acara ini, dia bilang mau ketemu lo
sekarang." Wulan memalingkan wajah sedang mencsri seseorang. "Kamu ngomong apa aja tentang aku?" Gheina jelas tidak suka dirinya diceritakan pada sembarang orang. Karena akibatnya ya begini,
merepotkan. "Aku gak ngomong apa-apa. Aku lagi curhat aja sama dia waktu itu, terus dia bilang kamu orangnya asik deh. Gitu doang, beneran." Wulan meyakinkan bahwa dirinya tidak bicara yang aneh-aneh pada orang yang akan bertemu dengan Gheina.
"Itu orang!" Wulan berseru girang.
"Lo kenapa dih Lan. Bingung gue," Kitna geleng-geleng kepala ntah apa yang terjadi pada temannya itu. "Gue
udah cari dia daritadi tau, ya seneng aja sekarang udah liat itu anak," Wulan cemberut menatap Kitna. "Tapi kok
kesannya gak gitu ya, lo kayak seneng kalo Gheina mau ketemu sama orang itu." Kitna menunjuk lelaki, dan lelaki itu menoleh melihat dirinya ditunjuk dan melihat keberadaan Wulan. "Eh, dia liat gue
nunjuk dia. Dia kesini lagi," Kitna panik, mengumpat dibelakang Gheina.
"Dia kesini
karna dia liat gue kali. Geer banget lo," Wulan senyum ke arah orang itu. Orsng yang dimaksud Wulan sudah berada didepan Gheina.
"Hai. Aku Nino."
"Aku Gheina." Mereka masing-masing berjabat tangan dengan senyum ramah. "Oh ini yang sering diceritain Wulan.
Keliatan," seperti sengaja menggantungkan perkataannya. Gheina mengangkat kedua alisnya. Menurut dia tidak perlu banyak bicara kepada orang asing. "Keliatan
introvert. Aku bisa nilai kamu itu orangnya introvert gitu." bisa mengerti maksud alis Gheina. "Kamu psikologi?" Gheina kembali duduk, yang lainnya
masih berdiri. "Bukan kok. Aku difakultas ekonomi. gak masuk IPA,"
Ih, dia ini kenapa sih. bicaranya kayak udah temen lama. Apa mereka
semuanya beeteman kayak gini makanya cepet deketnya.
"Kalian gak duduk, aku duduk duluan ya. kaki aku pegel," Gheina mengembangkan senyum terpaksa. "Oh iya. Ayo, lo duduk disana aja. Gue juga capek mau duduk," Wulan mendorong punggung Nino.
"Eh guys. Katanya acara openingnya mau dimulai 5 menit lagi. Panggungnya ada disana, yang itu." Panggung tersebut terlihat belakangnya. Mereka berempat dan orang-orang yang berada diacara itu berlari ke
tempat yang tadi ditunjuk Wulan. Ada suara yang sangat besar volumenya yang pasti terdengar
diseluruh lokasi itu. Itu tanda yang memberitahukan bahwa ipening acara itu akan segera dimulai.
Berdesakkan semua orang masuk harus melalui gerbang. Saat sedang berlari, Gheina tersandung karena tertendang
kaki seseorang. Wulan yang melihat Gheina terjatuh segera mundur dan menolong Gheina. "Ghe!" Semua orang sudah masuk kedalam gerbang, walau masih ada beberapa tersisa belum masuk. "Lo kenapa." Melihat ada dua orang yang jatuh sebenarnya dia sudah bisa menebak apa yang terjadi sebelum dia melihat. "Aku tubrukan sama mas ini," Gheina mengusap lututnya yang terlena aspal. "Sini gue bantu." Ditengah perbincangan dua gadis, laki-laki yang juga terjatuh sedang
mengingat sesuatu.
__ADS_1
Ghe? Kok gue inget seseorang ya. Adik kelas gue itu yang waktu SMA gak tau kalo gue ketos disekolah. Apa iya itu dia?
Sama sekali dia belum melihat wajah
kedua gadis didekatnya. Saat melihat wajah salah satu dari gadis itu, Diakan temennya si Gheina itu. Cewek polos yang selalu ngalah saat apapun. Jangan-jangan yang tubrukan sama gue tadi si
Gheina beneran. "Lo temennya Gheinakan. Benerkan?" Gheina langsung menoleh pada lelaki yang tiba-tiba bersuara. Wulan juga menoleh pada asal suara.
Hah, dia juga tau nama aku. Apa dia temen Wulan juga yang sering dengerin cerita tentang aku. Wulan, please itukan privasi aku. Gheina sudah melohat wajah lelaki itu dengan jelas. Tetapi dia tidak
mengenal muka itu. Itu kak dimas bukan sih. Tapi kok mukanya mirip ya. Walaupun gak terlalu mirip sih. Kalo dia panggil nama Gheina, berarti... "Aw.." cubitan Gheina membuyarkan lamunan Wulan.
"Ini siapa lagi Lan. Yang tadi aja belum beres. Kamu jangan bikin aku ribet dong. Kamu ceeita tentang aku ke berapa cowo?" Gheina berbisik agar tidak
terdengar lelaki itu. "Gue baru
cerita tentang lo ke Nino doang. Gue juga harus pilih-pilih kali buat sahabat gue. Gak mungkin yang biasa aja gue comblang.." Wulan menutup mulutnya. Bagaimana bisa dia keceplosan biscara tentang mencomblangkan Gheina dengan temannya.
"Ini bukan temen gue. Dia kenal sama sejak SMA deh." Wulan juga berbisik. "Hai, gue Dimas. Ketos kalian waktu SMA."
Tuhkan bener, dia kak Dimas yang sering banget ngerjain Gheina dulu.
"Eh kak Dimas. Kakak semakin ganteng aja." Ada rasa takut dilubuk hati Wulan.
"Kalian itu emang jodoh. Udah beberapa taun gak ketemu aja
bisa ketemu lagi diacara ini." Wulan berusaha mencairkan suasana yang terasa canggung. Sekalian juga menggoda Gheina.
"Maaf ya. Gue gak sengaja. Tadi gue buru-buru. Jadi nabrak deh." Membenarkan tali sepatu yang ternyata lepas.
Gheina hanya diam sedang mengingat
siapa Dimas itu. Oh, dia ketos yang selalu ikut campur urusan gue. Yang songong itu. Kenapa harus ketemu disini sih. Akhirnya
Gheina mengingatnya. "Maaf juga, gue udah nikah." Katanya mantap, Wulan tidak bergeming. Hah! udah nikah? emang segitu lakunya dia sampe nikah diusia muda.
"Oh udah nikah. Maaf kak, ternyata kakak bisa serius juga ya." Wulan malu sendiri. "Yaudah, masuk yuk! udah 10 menit kita disini. Nanti keburu beres openingnya." Wulan menghentikan perbincangan
random itu.
°°°
Virqa tidak juga terlihat oleh ketiga temannya. Namun tidak ada yang sadar akan hal itu. Hanya sekilas saat tadi Wulan sampai, dia memikirkannya. Semuanya asik pada perasaannya masing-masing.
Ada yang malah pacaran, tidak sama sekali mementingkan acaranya. Ada
juga yang single seperti Gheina dan Kitna, ntah dengan Wulan single atau sudah punya pacar. Mereka menikmati tampilan demi tampilan yang terhidang didepan mata mereka yang tidak membuat
mereka bosan.
"Sebentar lagi beres guys. Gue rasanya mau ulang lagi dari awal. Acaranya
tuh gak bikin bosen, padahal biasanya gue udah ridur jam segini. Tapi hari
ini mata gue melek parah." Tidak ada yang menanggapi. "Parah, gue dikacangin." Secara langsung kedua temannya
menatapnya. "Lo jangan berisik dulu dong. Ini lagi rame," hanya Kitna yang menanggapi, menurut Gheina Kitna sudah menjawab, jadi dirinya tak perlu lagi untuk
menjawabnya. Dan kembali menonton
__ADS_1
pertunjukkannya.
Bersambung...