Berjanjilah Untuk Setia

Berjanjilah Untuk Setia
Twenty-one


__ADS_3

Gheina hanya berbaring dikamar sejak kejadian tadi siang. Dito masih sangat cemas dengan kondisi Gheina. Wajahnya masih pucat, tubuhnya masih lemas. Saat Gheina menarik selimut hingga ke lehernya, ada yang mengetuk pintu kamarnya.


"Siapa.." Suaranya serak ntah kenapa. "Kak Dito." Dito menjawab daei balik pintu. "Masuk aja kak." Gheina mengubah posisinya menjadi duduk. "Maaf kakak ganggu. Kakak ada urusan dikantor, jadi kalo kamu


butuh apa-apa bilang aja sama Sisva. Kakak udah bilang juga sama dia supaya kontrol kamu." Dito duduk dikasur dekat Gheina duduk. "Iya kak. Nanti


aku kalo butuh apapun bilang sama kak Sisva." Gheina mengangguk. "Yaudah, kakak berangkat dulu ya." Dito mengusap dan mencium rambut Gheina. "Hati-hati kak." Gheina tersenyum lesu.


Dito telah melajukan mobilnya. Dia sudah keluar dari garasi. "Ini saatnya gue balas dendam. Gue harus buat


dia gak ada lagi dirumah ini." Reno seperti akan pergi. Pakaiannya rapih, "No. Mau kemana?" Sisva bingung melihat adiknya yang rapih dihari


Sabtu begini. Namun pertanyaan Sisva tidak dijawab. Reno hanya menatap Sisva tanpa bicara apapun. "Bukannya hari Sabtu kamu gak ada kelas ya." Sisva masih menunggu jawaban dari Reno. "Aku mau


hangout sama temen. Penat banget dirumah." Sisva terdiam sejenak seperti sedang memikirkan sesuatu. Lalu ia tersenyum senang.


"Gue punya ide bagus. Lo harus bantu gue." Sisva menjentikkan jari. "Enggak ah, mending aku ke kafe aja. Mau ngopi." Reno tidak tertarik pada tawaran


Sisva. "Sejak kapan lo suka kopi?" Setahu Sisva, Reno paling anti dengan yang namanya kopi. "Enggak sih, cuma gaya. Biar bagus bahasanya. Ngo-pi." Reno mengeja kata ngopi. "Beneran, gue


punya tawaran bagus. Kak Dito lagi keluar. Baru aja keluar. Dia suruh gue jaga si anak gak guna itu, dan..." Sisva sengaja menggantungkan kalimatnya. "Apa? kesempatan?" Reno malas main tebak-tebakan. "Pinter. Kita punya kesempatan untuk abisin dia. Kita gak usah susah-susah jebak dia atau bikin rencana apapun. Kita bisa tinggal jalan, dan kita berhasil hanya dengan usaha setengah."


"Iya juga. Kakak bener. Kalo kak Dito gak ada dirumah, itu jadi peluang besar banget buat kita. Kita gak perlu lewatin bom atom dulu sebelum dapet emas." Rencana itu sudah ada dikepala masing-masing. "Apa rencana kakak." Reno takut salah jika ia bicara terlebih dahulu. "Kamu ada


masukan? Aku ada rencana, tapi belum tentu berhasil. Siapa tau kalo pake ide kamu bisa lebih baik dari ide aku." Sisva tidak mau rencananya kali ini gagal. Oleh karena itu, Sisva harus memikirkan rencana terbaik agar rencananya berhasil tanpa kendala. "Aku punya ide, tapi 50:50 sih. Bisa bwrhasil, bisa juga gagal." Reno mengajukan idenya.


"Yaudah kalo gitu. Kita harus buat rencana itu berhasil. Gak boleh sampe gagal, sedikitpun." Ide yang diberi Reno adalah ise yang ampuh untuk menghilangkan Gheina.


°°°


Sisva dan Reno sedang duduk dikamar tamu. Ada sesuatu yang sedang ia kerjakan disana. "Semua strategi udah


siap dan pasti lancar. Tinggal waktu yang harus kita pikirin." Sisva tiduran di kasur sambil membayangkan jika rencana yang mereka buat berhasil. "Kak, telpon dulu aja kak Dito. Kita harus


ngejalanin rencana kita jauh sebelum kak Dito pulang. Dengan itu kita bisa ngejainnya lebih teliti, dan bisa cari alasan dulu yang efektif. Biar nanti kita bisa acting juga sekalian."


"Gue sebagai kakak lo bangga banget. Tapi kak Dito malah bangga sama anak itu. Terpaksa kak, kita ngelakuin hal yang kayak gini. Yang buat kakak


mungkin, nanti jadi sedih. Kita butuh perhetian kakak yang dulu." Sisva membayangkan wajah Gheina yang membuat Sisva dengki. "Kita harus berhasil. Gimanapun caranya." Reno juga sangat bersemangat untuk menghempaskan Gheina dari rumah.


"No. Pinjem handphone. Telpon kak Dito. Kamu aja yang ngomong sama kak Dito. Aku yang pikirin kata apa yang tepat buat ngomongnya. Biar aku gak gelagapan." Sisva senang. Keinginannya

__ADS_1


sebentar lagi akan terkabul. "Iya. Kakak tulis aja kata-katanya. Nanti biar aku baca. Serahin ke aku aja kak." Reno menggesek-gesek layar handphonenya.


°°°


Gheina sedang menikmati udara kamarnya yang sejuk oleh AC. Dia sangat amat trauma dengan kejadian 2 hari yang lalu. Bahkan karena kejadian itu, sampai hari ini Gheina belum bisa masuk


kuliah lagi. Gheinapun belum bisa menanyakan apa yang terjadi pada saat itu. Karena kecemasannya, dia terjebak didalam gudang tidak berventilasi selama berjam-jam. Itu pengalaman terburuk yang pernah ia rasakan. Gheina tidak akan berani melangkahkan kaki lagi ke dalam gudang.


"Aku bosen juga sih. Setiap akh bangun, pasti aku keinget kondisi aku yang mengnaskan." Gheina sugguh tidak


bisa diam dirumah saja. Dia buruh sedikit keluar dari kamar. Meskipun itu dilarang oleh Dito. Seharian hanya didalam kamar sangat tidak mengasyikkan. Tidak ada hal istimewa hanya didalam kamar. "Aku mau keluar kamar. Ke taman sebentar gak apa-apa kali. Masih diarea rumah." Gheina tidak bisa menghilangkan rasa bisannya. Rasa bosan itu terus ada. Tidak bisa hilang sejak kemarin sore. Gheina duduk dikasur nya, dan memakai sandalnya. "Aku mau ke bawah aja sebentar."


Gheina berdiri, tiba-tiba dari luar kamar ada yang membuka pintu. "Kak Sisva?" Gheina kebingungan sekaligus terkejut. Dikiranya yang barusan masuk


adalah Dito. Gheina bingung karena Sisva membawa mangkuk, gelas berisi air mineral, obat. Yang sibawa dengan nampan. "Eh, kak. Kakak mau nga..pain?" Tanya Gheina gelagapan. "Kamu harus makan sekarang. Ini udah jam 12. Makan cepet, kali enggak nanti gue yang kena." Sisva


sebenarnya setengah grogi. "Iya kak. Padahal gak usah repot-repot loh kak. Makasih," Gheina mengambil nampannya. "Kamu ngapain tadi beridiri. Mau keluar, gak boleh. kata kak Dito lo gak boleh keluar."


"Enggak kok. Bosen dikasur, aku mau ambil buku, eh kak Sisva dateng." elakan yang sama sekali tidak dipedulikan Sisva. "Yaudahlah. Makan, jangan lupa


diminum obatnya." Nada ketus itu tetap ada. Gheina adalah anak yang polos. Bahkan saat ini dia tidak curiga sama sekali dengan sikap kakak perempuannya itu. Dan Sisva juga mempertahankan sikapnya


Siapa yang bikinin makanan buat kamu? itu makanan dikasih tetangga. Males dan gak penting banget gue masakin anak gak guna.


Tidak pernah terbesit dalam pikiran Sisva untuk mempwrlakukan Gheina dengan layak dan menyayanginya. Bisa dikatakan itu adalah hal mustahil terjadi.


"Enak, kak Sisva udah jago masak sekarang." Gheina menikmati makanannya dengan hati senang. "Bahkan, aku yang lagi sakit aja rasain ini enak banget. Apalagi kalo kak Sisva masak buat makan


malem atau makan lainnya." Terjadi kesalahpahaman disini. "Tapi ini porsinya kok banyak banget kayaknya. Aku makan ini gak berkurang juva porsinya. Perut aku juga udah mulai penuh." Gheina mengaduk-aduk isi makanan dalam mangkuknya.


tut... tut.. tut..


Bukan bunyi nada dering panggilan. Namun bunyi notifikasi yang beruntun. "Siapa yang chat banyak banget. Eh, Wulan?" Dari kejadian hari itu, Wulan sama sekali tidak datang ke rumah Gheina. Mungkin


dia sedang memiliki tugas kampus cukup banyak.


 


Gheina : Ada apa? kok kamu udah lama gak kesini. Main kesini dong, aku lagu bisen karna sakit. Gak boleh kemana\-mana sama kak Dito. 11.03


*terkirim*...

__ADS_1


 


Wulan : Sorry dari kemaren belum bisa dateng, tugas banyak. Dan gue juga lagi ribet banget. Tapi diusahain hari ini gue kesana. 11.03


 


*terkirim*...


 


Gheina : Oh, kalo ksmu lagi sibuk dan banyak urusan gak apa\-apa. Nanti aja kalo kamu udah selesai urusannya. Atau nanti kita kwtemu di kampus aja. Kayaknya besok atau lusa juga akh udah masuk lagi. Ini udah enakan kok. 11.05


 


*terkirim*...


 


Wulan : Gue gak enak. Lo sahabat gue dari jaman kapan, tapi gue gak ada saat lo lagi butuh. Lo tunggu ya. Gue nantu kesana. Tapi jangan tungguin gue, takutnya nanti gue gak jadi dateng. 11.06


 


*terkirim*...


 


Gheina : Gimana sih, katanya suruh tunggu, tapi jangan ditunggu. Ngebingungin 😅😐 11.06


 


*terkirim*...


 


Dibaca.


Wulan tidak lagi menjawab. Dan HP-nya langsung dikeluarkan dari aplikasi WhatsApp. Gheina menaruh


handphonenya lagi disampingnya. "Apa yang bakal aku lakuin kalo aku 2 hari kedepan dikamar aja." Gheina sudah berkarat didalam kamar. "Kak... semoga kakak besok ngebolehin aku keluar kamar. Kali peelu keluar rumah, atau sekalian aja boleh ngampus lagi." Gheina akan jauh lebih senang jika Dito mengizinkannya secepat mungkin untuk kuliah.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2