
Gheina masih saja galau. Dirinya masih memikirkan rumah. "Gimana keadaan kak Dito. Semoga kak
Dito gak sakit." Dia sangat mengkhawatirkan kondisi kakaknya. "Gheina," Suara seorang perempuan dan tangan yang membelai kepalanya lembut.
"Eh tante." Gheina tersenyum pada mama Ari. "Kamu ngapain disini sendiri. Maauk yuk, tante mau cerita sesuatu sama kamu." Mama Ari mengajak Gheina masuk kedalam.
Gheina mengikuti mama Ari ke suatu ruangan. "Nah, sini masuk." mama Ari membuka pintu suatu ruangan.
Ini tempat apa kok tertutup banget. Semua ruangan setiap hari harus terbuka. Tapi kenapa ini enggak. Ini malah ditutup dan gak ada juga yang sering
kesini. Bahkan aku gak pernah liat ada yang masuk kesini selain kali ini. Gheina bingung dengan ruangan yang akan dia masuki itu.
"Itu mama ngapain bawa cewek itu ke dalem. Aku tau banget, mama gak akan bawa sembarang orang buat tau cerita itu." Kakak perempuan Ari yang
baru saja pulang dari luar kota. "Apa mama udah suka banget sama cewek
itu. Emang siapa sih dia, sampe bisa ambil hati mama." kakak perempuan Ari jadi penasaran dengan Gheina. "Kak, udah pulang. Kakak gak ngabarin mama?" Tina menyambut kedatangan kakaknya.
"Kenapa emangnya? Lagi ada tamu?"
"Itu, kak Wira kan udah tau tentang temennya kak Ari. Cuma dia sih, kan biasanya kalo kakak mau pulang selalu nyambut di ruang tamu." Itu kebiasaan
keluarga mereka menyambut bagian keluarga mereka pulang ke rumah. Walaupun hanya pulang dari kantor yang masih satu kota seperti Ari kemarin. "Mungkin
mama lagi melayani tamu spesial yang dibawa Ari sampe lupa kapan aku pulang." Terlihat jelas oleh Wira kegembiraan mamanya saat mengajaknya ke tempat itu.
"Yaudah kak, mau minum apa. Aku minta tolong kakak iparku bikinin ya." Saat Tina akan pergi mencari kakak iparnya, Wira menyarik lengan bajunya. "Gak usah."
Katanya, "kenapa, kakak gak mau bikin menum? Atau kakak belum haus." Tina padahal sangat berniat
mengantarkan minuman pada kakak perempuannya yang sudah lama tidak ia lakukan. "Kamu gak usah
ngerepotin kakak ipar. Mungkin dia lagi ngurus anaknya yang mau tidur. Kalo mau, kamu yang buat." Tina merasa benar juga yang dikatakan kakaknya.
"Maunya gitu, aku gak bisa buat minuman. Ngurusin yang kayak gitu aja gak pernah. Bikin susu di seduh
aja gak manis." Dia tidak mahir dibidang wanita-wanita. Padahal itu bisa juga dikerjakan seorang laki-laki. Bahkan abangnya bisa melakukan itu. "Yaudah, kakak keatas dulu. Rindu sama kamar."
"Tapi kamar kakak ditempatin sama temennya kak Ari." Wira yang awalnya bersemangat langsung terdiam. "Kenapa dia gak tidur dikamar tamu." Tina
hanya bisa mengedikkan bahu. "Emang dia begitu spesial ya." Wira segera berlari ke kamarnya.
Saat tiba di kamarnya, ternyata benar. Kamarnya sudah beraroma lain. Bukan aroma dirinya lagi. "Kenapa dia harus tidur disini." Wira heran dengan mamanya.
°°°
Gheina sedang melihat-lihat pajangan yang berada di dinding. "Ini bagus banget." Gheina tidak berani menyentuhnya. Gheina masih sibuk mengamati
__ADS_1
pajangan-pasangannya. Dia tidak sadar kalau mamanya Ari terlah duduk sejak tadi. "Gheina," mama Ari menepuk sofa sebelahnya. Gheina segera menghampiri.
"Iya tante. Ini tempat apa ya. Kenapa aku dibawa kesini." Gheina bertanya-tanya sejak tadi. "Ini tempat yang sangat banyak kenangan. Kenangan
keluarga ini, semuanya disimpan disini." Mama Ari mengeluarkan sebuah album foto. "Album?" Gheina merasa itu memang album. "Iya, tante bakal cerita dibalik semua foto yang ada dialbum ini." Mama Ari mengusap albumnya.
°°°
Tahun 1993.
Disebuah rumah yang sangat asri dan nyaman. Tinggallah 1 keluarga yang rukun dan bahagia. Ibu dan Ayah dari anak di keluarga intim itu bernama Sani ibunya, dan Doni Ayahnya. Mereka mempunyai 3 anak perempuan dan 2 anak laki-laki.
Mereka selalu melakukan aktivitas yang sama setiap paginya. Sampai disuatu pagi.
tok tok tok.
"Permisi." Terdengar suara perempuan dari bslik pintu. Sudah biasa setiap paginya ada suara wanita mengetuk
pintu rumahnya. Mereka selalu memesan asisten rumah tangga dari sebuah perusahaan yang menyediakan. Mereka akan dibayar untuk membereskan rumah. Karena disiang hari, tidak ada yang bersiam dirumah. Anak-anaknya jelas
mereka mencari ilmu ditenpat seharusnya. Sedangkan kedua pasangan suami istri itu mengurus bisnisnya yang akan menjamin kehidupan anak mereka.
Saat Sani membuka pintu, dia bingung. Siapa wanita itu, wanita yang kali ini bukan wanita dengan pakaian yang
sama seperti biasanya. Juga parasnya terlihat dari keluarga kaya. Dia masih terdiam mengamati wajah dari wanita itu.
"Cari mas Doni." Sepertinya wanita itu tegang sekali. Ntah apa yang ia takutin tapi Sani tidak ingin juga mengueusi urusan suaminya. Mungkin itu urusan
bisnis. Namun, setelah berpikir cukup lama dari tertanyaannya tadi, kenapa wanita yang tidak ia kenal itu memanggil suaminya dengan sebutan 'mas'
"Ada urusan apa mencari suami saya. Suami saya mau berangkat ke kantor. Jadi jika soal bisnis, lebih baik
bertemu di kantor. Tidak usah dan sangat dilarang datang ke rumah." Sani sudah mulai terusik dengan wanita dihadapaannya.
"Tolong, izinkan saya untuk bertemu mas Doni. Saya mohon, demi masa depan saya." Orang itu semakin membuat Sani curiga. "Sudah saya bilang, jika soal
bisnis silahkan bicarakan ke kantor." Sani mengulang Kata-katanya. "Tapi ini bukan bisnis." .
Didalam, Doni mendengar suara ribut. Ia memutuskan untuk melihat keluar. Saat ia lihat, ternyata istrinya sedang bicara marah-marah seorang wanita. Dia menghampiri untuk memberhentikan tingkah istrinya. "Sani, kamu kenapa ribut didepan pintu. Jangan marah-marah
gitu, gak enak didengar tetangga." Doni terkejut saat melihat wajah wanita yangsm sedang berdebat dengan istrinya.
Doni diam tidak bicara apapun. Membuat Sani semakin curiga. "Siapa dia. Dia cari kamu." Sani sangat jutek karena tidak terima kedatangan tamu pagi-pagi mencari suaminya dan membicarakan masalah personal.
"Kita mau ada bisnis. Sebentar lagi kita bakal kerjasama." Doni menjawab gelagapan. "Gak usah bohong. Aku tau, dia cari kamu buat ngomongin hal pribadi,
bukan bisnis. Dia yang bilang sama aku." Doni sudah terjepit. Dia tidak bisa mengelak lagi.
__ADS_1
Apa ini udah saatnya dia tau. Tapi aku gak mau ngecewain istri dan anakku. Aku juga udah gak ada hubungan dengan wanita ini.
Doni tidak ingin berurusan lagi dengan wanita yang datang mencarinya itu. Dis tidak mau terjadi salah paham antara dirinya dengan istrinya yang membuat
rumah tangganya hancur.
°°°
"Tapi tante, cewek itu siapa. Kenapa dia harus cari suami tante." Gheina penasara. dengan wanita yang diceritakan mamanya Ari. "Itu yang buat tante kaget." Mamanya Ari terlihat murung disitu.
°°°
Doni menarik wanita itu keluar rumahnya. Membawanya cukup jauh. Namun Sani harus tau tujuan dan siapa wanita itu. "Kamu harus tanggung jawab. Aku gak mau tau, dia gak salah." Wanita iru menuntut
pertanggung jawaban. Sani masih tidak mengerti maksud dari percakapan mereka. "Apa, tanggung jawab? Aku gak salah apapun." Doni mengelak dan menolak untuk bertanggung jawab. Dia masih butuh penjelasan, apa yang harus dia pertanggung jawabkan.
Sementara didekat situ, Sani masih menguntit untuk mendengar pembicaraan mereka. Sani tidak terlalu dekat dengan mereka, namun mungkin masih terdengar
apa samar apa yang mereka bicarakan. "Kamu gak merasa bersalah
sama apa
yang kamu lakuin ke aku mas?" Wanita itu selalu bicara soal tanggung jawab. "Kamu pasti kenal akukan. Dan kamu harus ngakuin aku didepan istri kamu." Sani yang mendengar itu sudah berpikir sangat jauh.
"Gak mungkin, ngapain aku ngakuin kamu didepan iatri aku. Emang kamu siapa. Aku juga udah punya anak, jadi kamu gak usah ganggu lagi." doni berharap, itu terakhir kalinya dia bicara dengan
wanita itu. "Lebih bagus kalau anak kamu juga tau. Mereka bakal punya sodara tiri." Karena Doni sudah sedikit berjalan menjauh dari wanita itu,
jadu dia harus berteriak untuk bicara pada Doni.
Sani sangat terkejut dan teepukul mendengar itu. Dia tau maksud dari wanita itu. Sani menghampiri suaminya dan wanita yang bersamanya. "Apa itu
bener. Apa yang kamu bilang itu bener?" Sani sudah menitikkan air mata. "Sani?! Kenapa kamu ada disini. Kita lagi ngomongin masalah proyek kok." Doni sudah panik melihat istrinya yang muncul tiba-tiba ntah dari arah mana.
"Kamu gak usah pura-pura. Aku denger tadi. Kalian ngomongin pertanggung jawaban. Jalian juga ngomongin sodara tiri." Sani sudah tidak bisa menahan
amarah disaat seperti ini. "Siapa yang ngomongin sodara tiri. Kamu salah dengar, yaudah kita pulang aja. Urusan aku sama dia udah selesai." Doni menggenggam tangan Sani dan menariknya. Sani melepaakannya.
"Aku gak mau pulang. Aku mau dengar pwnjelasan dan kejujuran dari dia. Kamu gak usah tahan-tahan aku."
Sani ingin tetap mendengar langsung didepan wajahnya dengan jelas. "Aku udah jelasin tadi, kita mau ada proyek." Doni tetap memaksa Sani unruk pulang. "Tapi yang dia bilang beda. " Sani tetap berdiri didepan wanita itu.
"Siapa nama kamu. Aku mau tau, kamu siapanya suamiku." Sani sudah tidak menangis lagi, walaupun hatinya terasa sakit. "Aku Arum. Aku awalnya cuma temennya mas Doni doang. Tapi dia tiba-tiba
ngajak aku tidur bareng." Sani meneteskan air mata ke sekian kalinya. "Bohong! Dia bohong. Kamu taukan, aku selalu pulang. Aku gak pernah gak pulang ke rumah apalagi sampe keluyuran. Sampe tidur sama
wanita gak jelas." Doni mengelak kenyataannya. "Apa kamu gak bohong sama saya?" Sani setengah percaya pada suaminya. Bagaimanapun dia orang asing.
__ADS_1
Bersambung...