
kafe flavlip
Meja untuk 10 orang telah dipesan. Sudah
hampir terisi penuh semua kursi. Tinggal kursi Gheina, Wulan, dan 2 orang teman dari geng Abrar dan Virqa.
"Tuhkan mereka udah pada ngumpul. Kamu make-upnya kelamaan." Gheina menyikut perut Wulan. "Maaf
ya semuanya. Ada hal urgent sedikit tadi. Mohon dimaklumi."
"Make-up urusan sangat urgent ya." Gheina menahan tawanya. "Itu penting banget buat wanita." Wulan kesal. "Aku wanita,
aku gak suka make-up." Baru saja
datang, Gheina dan Wulan malah berdebat. "Tolong ya... kalian baru dateng."
"Gheina selamat datang kembali. Lo kenapa, kok gak masuk lama banget." Kitna menghentikan perdebatan dengan bahasan yang lain. "Itu yang mau aku jelasin kali ini."
Ini sahabat gue. Sok nanya-nanya banget sih lo. Wulan menatap Kitna tajam.
"Selamat kembali juga Yura. kamu sombong banget. Kita udah gak lengkap lagi." Gheina menyapa Yura yang sedang
melihat menu. "Eh, iya. Aku sibuk hal lain, jadi gak bareng kalian dulu." Yura merasa tersindir.
"Udah langsung ngomong aja kali. Gak usah banyak basa-basi." Virqa jengkel melihat para wanita berdrama.
"Jangan gitu kali Qa. Ini semua yang lagi pada drama persahabatan, sahabat lo juga." Abrar setelah mendengar percakapan tidak penting para wanita, akhirnya berbicara juga.
Deffa tidak ikut bicara. Dia hanya pemenuh kursi dan membuka telinga untuk mendengar karena sudah diundang oleh Wulan. Sekarang hanya Wulan orang yang
dekat dengan dia dimeja itu. "Ceritanya nanti. Kita pesen maksn dulu, abis makan baru cerita." Gheina mengintruksi.
"Yaudah, pesen-pesen." Abrar menyodorkan beberapa buku menu yang didekatnya. "Lo kayak yang bayar aja. Menyemangatin untuk pesan." Kitna sudah mulai akrab dengan Abrar. "Ayo, gue yang bayar.
Khusus buat ngerayain baliknya angel kita yang satu ini." Abrar menggoda Gheina. Gheina tidak suka dimodusi, apalagi harus sama Abrar yang nyebelin.
"Abrar, kalo mau traktir gak usah pake gombal sama modusin orang." Semua yang dimeja itu tertawa. Terkecuali Abrar.
Deffa benar-benar hanya ikut tertawa, mendengarkan dan menyaksikan saja. Tidak ikut bicara. Gheina melirik Deffa. gue memerhatikannya.
Deffa daritadi diem aja. Bukannya Deffa sahabatnya Abrar?
"Deffa, ayo dipesan makanannya. Kamu gak mungkin gak makankan. Mumpung makannya dibayar Abrar." Gheina menyodorkan buku menu yang tadi sedang ia lihat-lihat.
Abrar traktir kita semua disini karna lo. Dia suka sama lo. Tapi kenapa lo gak mau ya. Pantes sih Abrar suka
sama lo, lo baik, lembut, spalagi lo cantik dan tinggi. Deffa menatap Gheina.
"Wey, bengong aja lo. Disuruh bidadari pesen maksnan. Tenang, gue yang bayar." Abrar menepuk kencang punggung Deffa. "Iya, gue pesen. Apa aja deh,
__ADS_1
pesenin sama lo." Deffa menyerahkan pilihannya pada Abrar. "Dih, disuruh pilih malah minta pilihin. Yaudah." Abrar makanan untuk Deffa.
°°°
Semuanya selesai makan. "Eh, kursi ini kosong?" Gheina baru menyadari 2 kursi disebelahnya kosong. "Iru tadinya temen gue. Mereka ada ekskul hari ini, jadi gak bisa kesini." Itu informasi yang Abrar dapat dari kedua temannya.
"Jadi.." Gheina sudah bisa cerita. "Jadi aku itu.." Gheina menceritakan semuanya.
"Hp lo ini dapet dari cowok itu?" Wulan hanya menerka. "I..ya. Tapi ini kebutuhan juga. Makanya dia beli yang paling murah aja." Gheina ngomong apa adanya.
"Tapi bisa jadi dia suka sama lo." Yura menggoda Gheina. "Gak mungkin, kita aja baru ketemu, baru kenal." Seperti biasa, Gheina tidak pernah merasa
semua pria menyukai. Padahal dirinya sangat cantik.
"Ghe, lo cantik. Siapa sih cowok yang gak suka sama lo. Bahkan gue gak yakin kalo mereka gak suka sama lo."
Wulan selalu membahas hal tentang laki-laki yang padahal dangat tidak disukai Gheina. "Wulan.. udah ah, jangan suka ngomongin laki-laki. Aku gak mau
mikirin itu." Wulan menghela nafas berat.
"Gak usah anggap semua orang temen kalo yang dianggap sahabat aja masih diajdiin robot. Yang bisa disuruh-suruh."
Kitna menyindir Wulan. Sangat jelas kata-kata itu untuk Wulan.
"Udah, malah pada benatem. Jadi, cowok itu gimana orangnya?" Abrar yang tidak senang jika Gheina malah membahas pria
yang baru saja dia kenal.
tertuju padanya.
"Ngapain sih lo. Ngapain juga kalian ngomongin orang yang gak ada disini."
"Ih, kak Abrar! Kenapa sih sewot banget. Gak suka banget. Suka ya sama Gheina.."
"Apaan sih lo. Sotoy banget. Apa, gue suka sama Gheina." Abrar mengelak. "Guekan cuma nanya namanya
doang." Deffa tidak merasa bersalah dengan pertanyaannya.
"Namanya Ari. Setau aku itu namanya." Gheina menjawab juga. "Kalian pada dra.."
"Hei. Guys, boleh gue duduk?" Seorang laki-laki menghampiri meja mereka.
"Eh, siapa dia."
"Iya siapa dia. Ada yang kenal?"
"Gak tau gue."
"Gue juga gak tau. Gak ada yang tau di siapa. Eh, siapa lo." Semuanya langsung
__ADS_1
saling bertanya dengan yang lain. "Gue kenal. Eh bukan kenal sih, pernah ketemu.
Lan, inikan yang waktu itu semeja sama lo di kafe." Wulan hanya diam karena terkejut melihat lelaki itu.
"Iya, bener. Gue yang waktu itu di kafe. Lo temennya Wulan kan?" Zerdo langsung duduk dikursi yang kosong sebelah Gheina. "Hai, aku Gheina. Temennya Wulan dari SMA." Zerdo dan Gheina berjabat tangan.
"Tadi gue lagi kesini, udah ngopi-ngopi terus ngwliat ke meja ini. Ternyata ada Wulan."
"Guys, udah bereskan. Balik aja yuk." Wulan ingin segera pergi dari tempat itu. "Buru-buru amat Lan. Kenapa lo, gak
seneng ada dia disini." Abrar melihat wajah Wulan yang tidak nyaman. "Eh, gak jadi. Gak apa-apa nanti gue masih lama kok urusannya. Masih bisa disini sampe beres."
Wulan yang sudah berdiri, kembali duduk.
"Yaudah, lanjut. Gue denger aja."
°°°
Ari sedang asik meninton streaming di komputer ruangannya. "Wah.. asik nih. Terus kalahin, jangan kasih kendor."
Ari sangat bersemangat menonton.
tok tok tok.
Ari melirik kearah pintu. "Eh, Fan. Masuk Fan."
Reifan masuk ke ruangan Ari.
"Lagi ngapain lo, girang banget." Reifan sudah malas sebenarnya menghadapi Ari. "Ini nih, streaming billiard metode
kartu gitu. Seru banget nih!" Ari membanggakan tontonannya. "Ri, ini masih jam kerja. Lo malah enak nonton. Kerjaan li gk pernah beres. Malah asisten
gue yang beresin."
"Fan, gue terlalu capek disini. Gue pasti kerjain kok pekerjaan yang harus gue kerjain." Ari masih menatap komputer. "Lo dari kapan ngomong gitu. Lo emang
temen gue. Tapi kalo lo ngerugiin, gue gak bisa diem aja."
Reifan harus tegas kali ini. "Fan, lo temen gue. Dari dulu banget. Kita udah kayak sodara Fan. Masa cuma karna masalah ini lo jadi perhitungan banget sama gue." Ari kini bertatap dengan Reifan.
"Ri, gue gak apa-apa deh kali misalnya ini bisnis kita berdua. Masalahnya ini bisnis gue, lo disini karna gue bantu lo."
"Lo juga disini gue kasih keringanan dan gue kasih gaji perbulannya. Kalo lo kayak gini, bukan hanya gue yang
rugi. Lo ngerugiin banyak orang dan bikin sengsara banyak keluarga." Ini jalsn satu-satunya yang bisa dilakukan Reifan agar Ari bisa mengerti.
"Ah, ribet lu! Gue gak mau debat sama lo." Ari keluar meninggalkan Reifan didalam ruangan.
"Ri, Ari."
__ADS_1
Bersambung...
harapanku setiap meng apload adalah, pembaca semakin suka alur ceritanya dan tidak mengecewakan.