
Hari sudah gelap berganti malam. Gheina masih berada dipinggir hutan itu. Gheina sudah berhasil sedikit demi sedikit keluar diantara bambu-bambu. "To..lo..ngg.. ohok ohok.." Tenaga Gheina belum juga kembali seperti semula. Karena
perutnya kosong, belum makan dari tadi siang, sehingga tidak ada nutrisi yang diserap tubuhnya untuk menghasilkan energi. "Dingin... kak Dito, tolong aku. Kak Sisva, kak Reno... ohok." Kondisinya saat ini sangat menghawatirkan sekali. Hingga perjuangannya untuk keluar dari hutan bambu itu berhasil. Dia sudah berada dipinggir jalan yang sepi.
Dia kini sedang bersandar di tiang masih area situ. Tenaganya sudah tidak mampu untuk menempuh jalan jauh meski dengan mengesot. "Aku udah gak kuat lagi... semoga ada yang nolong aku disini. Disini sepi banget." Gheina sudah putus asa. Tidak ada harapan lagi menurutnya untuk pulang ke rumah. Atau ketika nanti pagi ada orang yang berbaik hati menolongnya.
Sedangkan dirumah
"Kak Dito! Aku ikut cari Gheina." Sisva berseru sambik berlari menghampiri Dito. "Gak perlu. Kakak caru sendiri aja. Kalian bersua jaga rumah. Jam 10 nanti, Pak Isman pasti dateng. Bilang aja kakak lagi keluar." Sisva mengangguk. "Iya, tapi... aku juga mau bantu cari kak. Please ya." Sesungguhnya Sisva tidak benar-benar ingin membantu Dito menemukan Gheina.
Kak,. ayolah. Aku harus ikut. Biar nanti aku tunjukin jalannya. Jalan buntu. Kakak gak akan nemuin anak gak guna itu dimanapun. Dan aku berharap dia udah ke laut.
"Gak usah. Kamu sama Reno diem dirumah aja. Biar nanti kakak pulangnya malem banget. Kslian tidur duluan aja." Sungguh kasihan Dito. Dengan mudahnya dia dibohongin kedua
adiknya. "Kak, Gheina juga adik aku. Jadi aku berhak buat ikut khawatir sama dia dan mau ikut temuin dia." Sisva terus menggerutu sebenarnya, didalam hati paling dalamnya.
"Sejak kapan? Sejak kapan kamu anggep Gheina adik. Bahkan aku bisa tebak. Kalian seneng banget. Akhirnya Gheina gak ada, menghilang dengan sendirinya tanpa harus kalian usir." Sisva
hanya melihat wajah kakaknya yang sangat panik.
Kak, kita ngelakuin ini pake usaha. Ternyata kakak cerdas juga soal perasaan aku. Kakak tau aku sangat benci
sama anak pungut itu. Dan sebenernya kitalah yang buat dia ada di hutan.
"Dari dulu aku selalu ingin menikmati moment dan suasana dimana dalam sehari atau selamanya aku tidak melihat si anak pungut. But now... it's come true." Reno mengintip pembicaraan Sisva dan Dito dari jendela yang tidak kedap suara. "Kak, ayolah... ini beda situasinya." Sisva masih terus membujuk Dito hingga dia berhasil diizinkan. "Oke. Kamu boleh bantu, tapi pisah mobil. Lebih cepet carinya," Dito langsung memasuki mobil.
"Tetep aja gak berhasil. Kalo pisah mobil, ngapain juga gue ikut kalo tetep gak bisa cegah. Tapi, yaudahlah." Sisva menggerutu.
°°°
Gheina masih berusaha agar dia tidak pingsan. Agar dia bisa meminta bantuan pada orang yang lewat. Atau jika tidak, akan ada orang jahat yang membawanya disaat tubuhnya tidak
berdaya. Sebenarnya dia sudah sangat lelah. Tubuhnya tidak bisa lagi untuk melakukan sesuatu. Bahkan seharusnya dia sudah harus ada dirumah sakit jika keadaan fisiknya sudah begitu.
__ADS_1
"Aku laper... perut aku sakitt... kepala aku juga sakitt..." tubuhnya sudah terlalu lemah, dia tidak bisa lagi bertahan untuk sadar. Akhirnya dia pingsan dan kepalanya terbentur ujung trotoar. Beberapa menit kemudian ada sebuah mobil dan
sebuah motor melewati jalan itu. Namun sang pengendara motor tidak berani untuk berhenti sejenak. Karena juga dia dangat lelah ingin segera sampai rumahnya.
Pengendara mobil memelankan laju mobilnya saat dia melihat ada seorang wanita tertidur dengan keadaan pakaian yang kotor dan wajah sangat pucat. "Itu... bukan kunti kan? Siapa ya itu. Setau
gue disini gak pernah ada pengemis atau apapun sejenisnya. Terus itu siapa ya." pengendara mobil itu ketakutan. Dia berpikir, bagaimana jika itu hantu yang akan mengikutinya kemanapun sampai kapanpun.
"Tapi kayaknya itu manusia deh. Ada sih kakinya. Pake sendal pula. Tapi hantu jaman sekarang kan emang kebanyakan udah punya kaki. Tapi pas jalan dia terbang." pengendara mobil itu hanya melirik Gheina dari dalam mobilnya sambil bergumam-gumam mengenai hantu. "Tapi kalo dia hantu, kenapa gak daritadi dia samperin gue? Diakan bisa aja jalan kesini terus masuk." pengendara mobil itu mulai memberanikan diri untuk turun. Tetapi masih ada rasa ragu.
"Gue cek gak ada salahnya kali ya." si pengendara mobil perlahan membuka pintu mobilnya. Dia menghampiri Gheina. "Eh, ini manusia. Yaampun, pucet amat mukanya. Kasian gue sama
ni cewek." Dia sudah yakin kalau itu benar-benar manusia, bukan hantu. "Eh, badannya panas banget. Tapi, tangannya dingin banget." Si pengendara mobio itu memegang tangan dan dahi Gheina. "Gue harus bawa ke rumah sakit nih." Akhirnya dia membawa ke rumah sakit.
Rumah sakit
Sekarang Gheina sedang ada di ruang UGD. Lelaki si pengendara mobil itu sedang mengurus administrasi. Setelah selesai, dia segera kembali ke ruang UGD. Setelah menunggu beberapa
menit, akhirnya seorang dokter dan suster keluar. Si pengendara mobil itu bendiri dan mendekat kearah dokter yang baru saja keluar. "Dok, itu gimana keadaan cewek itu. Kenapa sih dia." Dia bertanya karena kasihan dan rasa ingin tahu.
"Bukan dok. Saya aja gak tau nama dia siapa. Tadi saya ketemu dia dipinggir jalan udsh pingsan dengan wajah yang pucet banget."
"Jika pasien sudah membaik, Anda baru boleh masuk kedalam. Besok pagi saya akan cek keadaannya lagi."
"Oh, iya dok. Terimakasih. Besok juga coba saya tanya soal keluarganya."
"Iya, permisi." Dokternya tersenyum lalu kembali ke ruangannya mungkin. Atau memeriksa pasien lainnya. "Gue gak bisa liat mukanya. Tadi gak jelas gitu mukanya. Pucet banget lagi. Gak jelas." Dia merasa kesal karena tidak bisa dulu masuk ke ruang UGD. "Gue pulang dulu aja kali ya. Gak mungkin juga gue tidur diluar begini." Si pengendara mobil pulang ke rumahnya.
°°°
Dito sudah berkeliling beberapa kali ke area taman. Bahkan bukan hanya taman. Dia sudah mengelilingi 1 kompleks. Namun nihil. Gheina tidak ada dimanapun. Dito tidak tahu lagi harus mencari Gheina kemana. Namun dia masih berharap
Gheina sudah ada di rumah. "Kakak, Gheina gak ada dimana-mana. Aku udah capek kak. Kita pulang aja yuk. Besok kita cari dia lagi. Ini udah jam 12 malem kak."
__ADS_1
"Kamu pulang duluan aja. Kakak masih mau nyari Gheina. Gak tau juga kapan pulangnya."
"Kak, aku tau sekarang Gheina ilang. Tapi kak, kakak juga harus pikirin diri kakak sendiri. Kakak gak boleh terlalu capek. Kalo hsri ini, malam ini kita belum nemuin Gheina, masih bisa besok lagi. Kali kakak tetep maksain diri, nanti kakak sakit dan gak bisa lagi cari Gheina dalam keadaan lemah."
"Oke. Ayo kita pulang."
Yes! Akhirnya kak Dito dengerin juga kata-kata gue. Yahh.. paling enggak Gheina dikasih waktu untuk mati. Kalopun besok ketemu, udah jadi bangke.
Esok hari
Pukul 7 pagi. Lelaki yang tadi malam menolong Gheina berangkat lebih awal dari biasanya karena akan mampir ke rumah sakit. Dia ingin melihat
kondisi Gheina yang ia tinggal semalam. Orang seisi rumahnya bingung, tidak biasanya dia bersemangat sekali sepagi ini.
"Dzakri, pagi begini udah mau berangkat aja. Tumben banget, abis ketemu apa tadi malem, ato mimpi apa tadu tadi malem." Lelaki itu bernama Dzakri. "Iya, kak Ari kok tumben banget hari ini udah siap pagi. Inikan masih jam 7. Biasanya juga berangkat jam 9."
"Kak Ari, dikantor ada karyawan baru yang cantik ya. Iyakan, terus kak Ari mau pdkt sama dia." Ari tidak menghiraukan cibiran dari orang seisi rumah. "Ari, nanti malem kamu pulang jangan lupa mampir ke rumah tante Yunda." Mama Ari
mengingatkan pesan yang dibeei oleh ayah Ari. "Males. Aku ada urusan yang lebih penting dari pada ketemu tante itu."
"Ari, kamu gak boleh gitu dong. Papa juga kesan kok, ada papa disana."
"Ma, udahlah. Dis itu mantannya papa. Dia selingkuhan papa. Dan harusnya juga papa gak dateng kesana."
"Dzakri! Kamu gak boleh ngomong gitu. Itu juga kakak kamu. Dia juga anak papa."
"Ma, aku berangkat." Ari menyalimi tangan mamanya. "Kamu harus kesana nanti malem. Papa pasti nunggu kamu disana." Mama Ari berseru. "Papa ngapain kesana, kalo bukan karna anak haram
itu papa gak akan ke rumah pelakor." Ari sangat sensitif jika bicara soal mantan papanya dan anak hasil dari hubungan gelap.
°°°
Ari sudah sampai di lift rumah sakit. Dia sedang menuju ke lantai 4. Ke ruang UGD. "Cewek itu kenapa bisa ada dipinggir jalan malem-malem. Setau gue juga, disekitar tempat dia pingsan kemaren itu hutan pohon bambu. Kalo bener dia abis dari sana, ahh... gak ngerti gue." lift sedsng kosong. Dia leluasa bicara sendiri didalam.
__ADS_1
Bersambung...