
Gheina dan Ari sudah sampai di suatu tempat setelah singgah di cafe sebentar. Gheina celingukan. Gheina merasa bahwa ini bukan penginapan, kosan atau kontrakan. Gheina ingin sekali bertanya
pada Ari, namun diurungkan. Gheina berfikir, mungkin Ari akan menjelaskannya jika sudah masuk. Namun Ari belum menjelaskan apapun.
Ari mengajak Gheina masuk. Gheina hanya mengikutinya saja tanpa bertanya sedikitpun walau dia sangat bertanya-tanya.
tok tok tok.
"Aku udah pulang." Ari mengetuk pintu dan masuk ke rumah diikuti oleh Gheina. Semua yang sedang berada di ruang tamu terlihat heran dan bertanya-tanya.
Siapa perempuan yang dibawa Ari? Rata-rata pertanyaan didalam pikiran semuanya seperti itu. Karena semuanya menatap lekat pada Gheina, Aripun memerhatikan Gheina dan keluarganya bergantian.
"Kak, itu siapa? Pacar kakak? Bukannya kakak gak punya pacar." Saudara iparnya mewakilkan pertanyaan semuanya. "Ini..." Ari bingung menjawab apa. Mereka bukan sepasang teman, lalu apa status mereka. "Aku temennya Ari. Ari udah banyak
banget bantu aku. Jadi aku mau
kesini untuk kenalan sama keluarganya Ari." Gheina tersenyum ramah.
Ini cewek keren banget. Udah cantik, baik, penolong, cerdas, jago banget aktingnya.
Ari tersalut-salut dengan Gheina. Gheina membuat Ari semakin kagum. "Oh, iya. Silahkan,silahkan. Kita terima kamu kok." Mama Ari berdiri dan mendekati
Gheina untuk mengajaknya duduk bersama yang lain. "Tapi kak, jadi pacarnya
kak Ari juga gak apa-apa kok. Dia jomblo, bahkan dibilang gay." adik perempuannya melirik tidak suka pada Ari.
Ini cewek keren asli! Dia bisa bikin mama percaya. Ini yang gue cari selama ini. Gue juga udah banyak bantu dia, gak ada salahnya gue berharap balasan dari dia.
Isi Ari sedang mengumbara. Dia semakin yakin bahwa dia tidak akan melepaskan Gheina. "Oke, jadi dia ini namanya Gheina. Bener, dia temen aku, dan dia gak bisa pulang ke rumahnya karna ada masalah sedikit." Ari memperkenalkan
pada semuanya. "Masalah? Masalah apa? Jangan-jangan dia keluarganya koruptor, atau narkoba, atau keluarganya terlibat cuci uang?" Anak laki-laki selain Ari disana asal omong tanpa berpikir panjang.
"Eh, jangan sembarangan kalo ngomong!" Ari tersulut emosi. "Terus, apa dong masalahnya sampe dia harus nginep disini?" Adik perempuannya ikut mengompori. "Ari! Apa bener kamu bawa anak seorang koruptor?!" Mama Ari sudah emosi sebelum mendengar penjelasan. "Tan, tolong dong
bantu aku. Aku mau jelasin dulu." Ari meminta pertolongan pada tantenya. "Udah, udah. Semuanya diem dulu, Ari mau jelasin dulu tentang cewe ini."
Ari akhirnya bisa menjelaskan pada semuanya. Dan mereks juga percaya dengan melihat penampilan Gheina. Mereka merasa tidak mungkin juga jika keluarganya adalah keluarga yang koruptor.
°°°
Gheina dipinjamkan baju oleh adik perempuan Ari. "Gimana, pas bajunya. Sorry aja kalo gak enak dipake. Kita mungkin gak sekaya lo." Adik perempuan Ari sedang memerhatikan penampilan Gheina. Gheina karena dilihat terus
seperti itu, dia juga jadi merasa ada yang salah dengan pakaiannya. "Enggak kok, ini nyaman banget dipake. Bahannya juga bagus. Makasih udah mau pinjemin." Gheina tersenyum.
Ini cewek kok mau sih temenan sama kakak gue. Dia kan anaknya brandal banget. Kok bisa deketin cewek modelan kayak gini. Pendiem, gak banyak omong.
Adik Ari yang satu ini memang agak tomboy. "Eh, nama gue Satina. Adik kedua kak Ari." Satina memperkenalkan dirinya dengan gaya tomboy nya itu. "Iya, ada panggilannya?" Gheina merasa jika memanggil Satina terlalu panjang. "Tina, itu yang biasa mereka panggil buat gue. Dari kecil."
Gheina sudah keluar setelah meminjam baju Tina. Dia memakai piyama berwarna toska namyn lebih ke hijau. Dengan gambar
naruto didepan dan
belakangnya. Gambarnya tidak terlalu besar, itu cocok dipakai untuk Gheina dengan bahan yang sangat nyaman. "Eh, Gheina. Sini, tante lagi masak. Kamu pasti suka ini." mama Ari tampak senang ingin mempersembahkan masakannya kepada Gheina.
"Gimana enak?" Gheina mengangguk sambil tersenyum senang.
__ADS_1
"Tante, biar aku bantu gimana?" Gheina menawarkan diri agar ikut membantu memasak atau menyiapkan hidangannya. "Kamu bisa masak, atau kamu diapin aja ke piring." Mama Ari juga
merasa sungkan. Gheina itu tamu mana mungkin seorang tamu memasak untuk pemilik rumah. "Bisa sih, tapi gak sejago tante deh." Gheina memang sangat rendah hati. Dia tidak ingin mengumbar apapun keahliannya pada orang lain.
"Yaudah kalo gitu, kamu yang masak daging ini ya, tante mau coba masakan kamu." Walaupun sebenarnya tidak enak hati, namun mamanya Ari juga penasaran dengan rasa masakan Gheina. Gheina
pun membantu mama Ari untuk memasak, dia memasak dengan cara yang ia ketahui. Waktu sudah menunjukan pukul 19.23. Gheina juga mama Ari sudah selesai memasak, siap untuk dihidangkan.
"Udah beres. Gheina, makasih ya udah bantu tante." Mama Ari mengusap-usap bahu Gheina. "Sama-sama tante. Aku juga seneng banget bisa bantu." Gheina tidak merasa keberatan untuk hal itu. "Udah
siap semuanya, tinggal kita bawa ke meja makan." Gheina mengangkat salah
satu piring. "Tante bener-bener berterima kasih sama kamu. Bahkan anak perempuan tante aja gak pernah bantu tante masak.
Kamu belum 24 jam disini udah banyak bantu Tante."
"Karater kita beda tante. Tina itu tomboy banget. Kebiasaan kita beda juga tante." Gheina terus merendah. Tidak mau sampai dibanggakan. Merasa sangat tidak enak hati. "Semuanya, makanan udah siap. Ayo makan malem dulu!" Mama Ari berseru memanggil semuanya. "Waw. Banyak banget makanannya, jadi tambah laper." Tina menarik kursi yang akan ia duduki.
Makan malan dimulai. Semuanya terlihat sangat menikmati makanannya. "Ma, ini enak banget makanannya. Mama skill masaknya tambah jago." Adik laki-laki Ari yang baru saja turun dari kamarnya, dia memberi komentar pada makanan yang
ia nikmati. "Yang mana yang enak. Yang masak bukan cuma mama hati ini." Mama Ari masih terus menikmati makanan. "Yang daging ini ma. Enak banget. Gak biasanya mama masak daging seenak ini. Bumbunya beda banget." Kata-kata itu membuat
Gheina menjadi terdiam.
°°°
Di makan malam semua masakan sudah tersaji. Semua pegawai dalam rumah yang oernah dipecat oleh Sisva telah kembali. "Bi Rihwa. Milk shake yang aku mau mana." Sisva meminta minuman
yang ingin dibuatkan. "Ini milk shake yang dipesen." Bi Rihwa sudah selesai membuat milk shake itu. "Bi, gak lupa sama apa yang aku maukan? Jangan karna
3 bulan gak kerja disini jadi lupa apa yang harus aku terima. Sifat Sisva dan Gheina berbanding terbalik. Sisva selalu seenaknya dengan orang yang sosialnya lebih rendah dibawahnya. Padahal dia juga bukan siapa-siapa tanpa Dito. Namun Dito kakak kandungnya.
tau dia lebih tua dari kamu. Kamu harus bisa anggap dia manusia. Dia bukan kuda Sisva."
Mulai ceramah lagi. Bosan sekali rumah ini.
"Kak, aku mau pindah rumah. Kata dosen aku, disiplin dalam hal waktu iru penting. Karna aku gak bisa ngejar waktu untuk ke kampus tepat waktu, aku sama Reno mau pindab rumah supaya lebih deket sama kampus." Memang seperti itu. Jika hal yang diinginkannya yakin tidak akan diperbolehkan Dito, Sisva harus memberi alasan yang panjang agar Dito bisa menuruti apa yang ia mau.
"Kamu dateng ke kampus telat itu karna terlalu berleha-leha dirumah. Kalo mau dateng lebih awal ke kampus itu ya berangkatnya juga lebih awal. Kalo lebih awal ya gak akan
terlambat." Seperti itulah Dito jika sudah malas menaggapi Sisva yang terlalu banyak maunya. Berbelit-belit. "Kak, keinginan Gheina banyam yang kakak turutin. Dua dikasih mobil tanpa diminta, di beliin
baju tanpa ngerengek dulu." Sisva selalu membandingkan dirinya dengan Gheina jika sedang kesal karena keinginannya tidak dikabulkan.
"Kenapa dengan hal itu." Dito merasa tidak ada yang salah. "Kakak selalu mempermudah apa yang dia mau. Padahal yang dulu berjuang ngebangkitin ekonomi keluarga ini aku kakak sama Reno. Gheina dateng waktu kita udah hidup
enak kak." Sisva selalu membahas lagi hal ini. Padahal Dito sudah sekian kali mengatakan tidak ingin membahas hal itu lagi. Dito tidak menanggapi apapun ocehan
Sisva dia hanya menatap Sisva yang sedang memakinya.
"Kak! Kenapa diem aja?! Kakak gak pernah nanggepin aku kalo situasi kayak gini. Karna kakak gak bisa jawabkan apa yang aku omongin semuanya gerlalu bener. Kakak gak bisa ngebantah semua kata yang
aku keluarin." Biasanya, saat seperti ini jika Dito sudah menatap cukup
lama, maka ocehannya hilang. Namun
__ADS_1
kali ini Sisva tidak berhenti bicara juga.
Malah tambah menjadi-jadi.
Brag! Srett
Reno tidak bisa berbuat apapun. Dia tidak berani juga memisahkan keduanya. Ini tidak seperti biasanya. Ini pertama kalinya Dito marah dimeja makan dan sampai menggebrak meja. Sisva langsung terdiam melihat Dito yang menggebrak meja dan berdiri. Makan malam belum selesai.
Kak Sisva, kenapa juga sih ngebahas ini di waktu makan malem. Kenapa harus protes sekarang. Kenapa gak nanti aja.
"Karna kakak gak mau bikin kamu sakit hati dengan kata-kata yang keluar dari mulut kakak! Karna sikap kamu terlalu Bocah!"
Jleb!
Pedang tajam seperti masuk ke dalam tubuhnya, mengenai organ dalamnya. Itu pertama kalinya masalah dibicarakan saat sedang makan. Itu hal yang paling terlarang dirumah. Sisva sangat mengerti
aturan itu. Dan sejak dulu aturan
yang tidak pernah dilanggar saalh satunya tidak membahas masalah apapun dimeja makan apalagi jika
sedang makan. Dito sudah tidak bisa lagi mentoleran.
"Karna kamu selalu bersikap seperti anak kecil yang tidak tau apa yang namanya aturan. Karna kakak selalu memaklumi itu. Kali ini, kamu udah terlalu
melewati batas!" Siava tersentak saat sekali lagi Dito menggebrak meja. "Bahkan kakak sekarang udah bentak aku segitunya. Sedangkan kakak selalu ngelindungin si anak gak jelas itu. Belum tentu juga itu adik kandung."
Aku gak pernah ngeliat kak Dito semarah ini. Kenapa aku sampe seberani ini untuk buat masalah. Sisva sudah tidak punya keberanian lagi sebenarnya.
"Karna pertama kamu tidak menghargai saya sebagai kakak kamu! Kedua kamu berani melanggar aturan sederhana yang dari duku kamu patuhi, tapi karna ego kamu itu, kamu langgar aturannya." Dito benar-benar membentak dengan
serius. Sebelumnya Dito tidak pernah membentak sampai seperti ini. Biasanya dia hanya berkata tegas, tidak sampai membentak.
"Kak, aku kayak gini karna kakak juga. Aku egois? Gimana sama kakak." Sisva masih berani untuk membalas.
"Terserah kamu. Kali kamu mau keluar dari rumah ini silahkan, pintu terbuka untuk kamu keluar dari rumah ini. Tapi setelah kamu keluar dari rumah ini, jangan pernah memanggil atau menganggap saya sebagai kakak kamu lagi. Dan saya tidak punya lagi kewajiban bagi orang yang sudah keluar dari rumah ini." dito meninggalkan meja makan.
Lalu Dito berhenti dari jalannya. "Reno, kalo kamu mau ikut juga silahkan. Gak ada yang ngelarang kalian." Reno terkejut namanya disebut. "Enggak kak, aku
gak akan pergi." Sedangkan Sisva masih diam termangu karna rasa kagetnya merespons kata-kata Dito. Makan malam belum selesai, bahkan baru saja dimulai. Makanan baru beberapa dimakan. Dito sudah benar-benar pergi dari situ.
"Kak, yaampun. Kakak ngapain sih. Terus kakak gimana sekarang."
"Gak tau. Aku juga lagi mikir itu sekarang." Sisva lemas. Sepertinya keadaan hatinya buruk. "Tapi kak, ternyata yang ngambil rekor pertama dirumah ini kakak lho." Reno malah membahas hal lain. "Maksudnya?"
Sisva tidak mengerti yang dimaksud Reno. "Kakak orang pertama dirumah ini yang ngambil rekor yang gak pernah dilakuin kita-kita selama hidup." Sisva hanya menatap Reno. Dia sama sekali tidak ingin meresponnya.
"Kakak yang bikin keributan pertaman dimeja makan. Gheina waktu itu dimarahinnya walaupun pertama
kali, tapi diluar. Ini rekor. Wuhuu..." Reno malah asik sendiri dengan ntah apa yang ada didalam pikirannya.
"Kamu bisa gak sih gak bahas hal yang sama sekali gak penting itu."
"Tapi ini kan terus bertanya-tanya dalam pikiran aku sebelumnya. Tapi kak, aku gak ikutan ngomong tadi ya kak. Aku gak mau karna masalah kakak
ini, aku malah jadi korban." Reno tidak mau mengambil resiko yang seharusnya ditanggung Sisva. "Aku mau ke kamar." Sisva juga pergi. Tinggal Reno sendiri di meja makan. Semua pelayan dalam rumah tidak ada yang berani menghampiri meja makan. "Eleh.. makannya kan belum
__ADS_1
selesai. Biarin lah, mereka mungkin usah kenyang." Reno lanjut menyantap makanannya.
Bersambung...