
Sampai pagi haripun buku yang dicari Gheina tidak terlihat. "Dimana sih aku simpen buku itu. Kenspa gak ada dikamar. Kenapa aku harus lupa," Gheina mengacak-acak rambut frustasi. "Itukan buku
privasi aku. Terus juga itu separuh hidup aku," lebay. Lebih terlihat seperti orang termiris. Bahkan, saking paniknya buku itu tidak juga ditemukan, sampai Gheina sudah melupakan persoalan kemarin.
Tapi bagaimanapun, Gheina harus tetap berangkat ke kampus. Sekalipun buku itu tidak akan ditemukan. "Tapi, bisa jadi buku itu ketinggalan dikampus, atau bisa jadi ada di Wulan." Gheina punya
semangat lagi untuk mencari buku hariannya. Gheina turun menuju meja makan. Namun Gheina tidak ikut sarapan. Langsung berpamitan menyalami Dito, Reno, dan Sisva. "Kamu mau kemana." Sisva ntah kenapa jutek sekali. "Aku kuliah pagi banget. Daripada telat lagi, lebih baik aku berangkat sekarang." Gheina diam berdiri menunggu yang lain bicara.
"Gaks arapan dulu, nanti laper dikampus." Dito seperti biasa, memberi peehatian pada Gheina. "Aku beli makanan dikantin aja nanti. Aku buru-buru banget,"
"Sarapan dulu. Atau, gak usah ke kampus sekalian." Ancaman mendadak dari Dito membuat Gheina langsung beebalik badan. "Aku ambil ini aja ya, aku beneran buru-buru." Gheina mengambil sandwich
dipiring tempat ia biasa duduk. Gheina memakan sandwich sambil berjalan mencari taksi. "Bahkan untuk sarapan aja, harus beli." Gheina menggigit sandwich ditangannya. Setelah dikunyah dan dirasakan, dia sangat tau kalau sandwich yang ia makan itu sandwich yang beli
dan restoran hotel. "Kenapa juga harus mempeesulit diri dengan cara pulangin semua ART. Aku gak bisa stay every time di rumah." Gheina sudah sangat tau dan hafal langkah kakaknya. Sisva memulangkan seluruh pekerja dalam rumah untuk mempersulit hidup Gheina.
°°°
"Eh eh eh.. mau kemana, main pergi-pergi aja." Wulan menarik tangan Gheina yang hendak keluar kelas. "Aku mau ke perpus, urjent." Gheina beeusaha melepas cekalan tangan Wulan. "Lagi? gak puas kemaren." Wulan heran, kenapa temannya yang satu ini begitu suka datang ke perpus bahkan setiap waktu senggangnya. "Urjent
banget. Nanti kalau udah beres, aku bakal langsung nyusul kamu ke kantin," cekalan tangan Wulan tidak juga terlepas dari tangan Gheina. "Gue ikut." Wulan berdiri, "gak usah. Cuma sebentar kok. Kamu juga biasanya jam seginikan laper, jadi kamu duluan aja. Sama Kitna dan Virqa." Gheina benar-benar buru-buru, tapi tidak bisa lepas dari Wulan.
__ADS_1
"Nanti bicara lagi ya. Nanti aku ceritain semuanya." Gheina terlepas dan langsung jalan meninggalkan Wulan. "Aku ikut..." Wulan berlari mengikuti Gheina. Mereka berlari menuju pintu, dan...
brakk...
"Ghe!" Wulan terkejut, Gheina terjatuh cukup kuat ke lantai saat baru saja keluar kelas. "Ghe, aduh... lo gak apa-apa kan?" Wulan mencoba membantu Gheina berdiri. "Sakit, sedikit." Gheina
perlahan-lahan berdiri. "Sorry ya. Gue gak sengaja, gue juga kaget tiba-tiba tadi lo lari kearah sini." seorang laki-laki yang tabrakan dengan Gheina merasa bersalah. "Enggak, sama sekali enggak kok. Aku yang salah. Aku malah yang minta maaf tubruk kamu se kenceng itu, gimana?" Gheina berniat menanya keadaan laki-laki yang tidak sengaja ia tubruk tadi. "Apanya," tidak mengerti yang dimaksud Gheina. "Badan kamu. Tadi pasti sakit ya," Gheina juga
merasa bersalah. Dia mengakui, bahkan memang dia yang salah. "Aku yang salah kok. Kamu gak perlu minta maaf. Justru aku yang harus minta maaf. Maaf banget ya."
"Gak apa-apa kok. Gue juga gak ada yang sakit. Sekarang tuh lo. Badan lo pada sakit. Gue anter ke UKS ya." orang itu masih punya rasa peduli. "Gak apa-apa kok. Nanti aku bisa ke UKS sendiri. Aku ada urusan soalnya," Gheina menolak tawaran laki-laki
lebih penting kali, daripada urusan lo yang gak tau apa itu." Wulan jelas senang jika ada lelaki yang mendekati sahabatnya. Apalagi lelkai yang mendekati sahabatnya itu baik dan ganteng. "Boleh aku gendong," saat Gheina akan menolak, "Iya. Boleh banget. Kasian sahabat gue, badannya sakit. Walaupun bukan salah lo sih," Wulan selalu mengambil kesempatan dalam kesempitan.
"Kamu kok main asal iya aja. Gue gak se gampang itu ya!" Gheina merasa dijual oleh sahabatnya sendiri. "Tenang aja, dia cuma mau nolong lo. Dan gue kenal sama dia, gak mungkin dia berani apa-apain cewek." Sudah sangat yang jika laki-laki
itu orang baik-baik. "Lo kenal gue?" Bahkan orang itupun ragu jika Wulan mengenal dirinya. "Lo Deffa. Anak sastra Indo, semester 6, sengakatan sama kita." Wulan tersenyum bangga pada dirinya. "Ayo!" Deffa tidak msu basa-basi lagi. Ia menggendong Gheina perlahan, dan cara menggendongnya sangat layak. Setelah Gheina dan Deffa berjalan menuju UKS, Wulan
tentu saja tidak akan ikut. Membiarkan mereka berduaan di UKS. "Yes. Gue berhasil bujuk Gheina. Ke kantin ah.." tersenyum senang.
"Hai semuanya. Aku lagi bahagia hari ini. Jadi kalian gak usah rusak hari gue." Masuk ke kantin, menghampiri meja Kitna dan Virqa, lalu menyeletuk tidak jelas. "Apaan sih lo. Dateng-dateng gak
__ADS_1
jelas. Obat lo abis ya," Virqa seperti biasa, terusik oleh Wulan. "Gak apa-apa, gue hari ini lagi bahagia. Jadi sabar gue full." Wulan tidak memedulikan cibiran Virqa. "Lo kenapa sih Lan. Kok jadi gini, terus Gheina mana." Menyadari kalau Wulan hanya datang sendirian. "Nah, itu dia. Itu yang bikin gue seneng hari ini." Wulan
tidak menjelaskan, membuat kedua temannya kebingungan. "Yang jelas kek kalo ngomong. Gue gak ngerti maksud lo." Kitna meminta informasi detail. "Gheina sekarang lagi di UKS. Dia lagi berdua sama cowok ganteng, baik lagi." Wulan kembali membayangkan kejadian tadi.
"Di UKS? dan lo malah kesini. Lo gimana sih, bukannya ditemenin. Gimana kalo ada apa-apa." Kitna tidak habis pikir. Wulan malah membiarkan Gheina di UKS berdua dengan cowok yang tidak dikenal Gheina. "Tenang aja. Gue kenal kok sama cowoknya. Dia cowok baik-baik." Wulan meyakinkan mereka. "Gue jadi inget. Kemaren, ada temen gue yang nanya tentang Gheina. Dia sih udah tau Gheina dari lama, tapi gak pwrnah deket secara personal." Pembicaraan menjadi seeius. "Terus lo
bilang apa. Jangan asal kasi tau orang tentang Gheina." Wulan memotong Virqa yang belum selesai bicara. "Apa kabar lo waktu diacara malem itu." Kitna kembali menyindir soal kehadiran laki-laki yang dikenalkan Wulan unruk Gheina.
"Itukan gue udah kenal, dia baik juga. Lagian ya, gue cuma mau dia diperhatiin sama cowok. Harus banyak dapet perhatian dari cowok." Wulan hanya membela dirinya. "Ada gue. Gue juga deket
sama Gheina. Kenapa harus lo comblangin dia sama orang yang gak dia kenal. Belum tentu dia mau, dan nantinya dia malah terpaksa gara-gara lo." Malah terjadi sedikit pertengkaran. "Lagian Gheina gak perlu dapet perhatian dari siapapun lagi. Kita yang harusnya kasih perhatian lebih. Kita, orang terdekatnya." Kitna dan Virqa berada dipihak yang sama.
"Ya gue cuma mau bantu Gheina aja. Hidup dia udah sangat susah. Gue cuma mempermudah kok." Wulan malah tambah terlihat membela dirinya dan mementingkan dirinya saja. "Tapi dia juga berhak dong menentukan pilihannya sendiri. Lo gak seharusnya selalu ngatur hisup dia. Hidup dia itu gak selalu dibawah kendali lo." Perdebatan semakin panjang. "Udah kek. Gak usah diperpanjang lagi. Gak usah
diributin," Virqa mencoba melerai. "Ternyata waktu gak kasih bukti apapun ya. Gue kira persahabatan lo dari SMA itu berdampak. Gue kira lo lebih kenal
Gheina daripada kita. Udah, gue mau cabut. ke UKS, liat Gheina yang lagi berduaan sama orang yang gak dia kenal. Berdua lagi." Sangat jelas terlihat. Kitna sangat kesal dengan Wulan, dan menyindirnya. Lalu ia benar-benar pergi ke UKS.
"Eh, malah pergi. Kenapa jadi pada ribut sih. Ini nih, resiko kalo sahabatan cewek semuanya. Lan, nih tolong bayar ya. Gue mau ke lapang, main basket." Menyodorkan uang diatas meja, lalu ikut pergi. Karena makannya sudah selesai.
Bersambung..
__ADS_1