Berjanjilah Untuk Setia

Berjanjilah Untuk Setia
Thirty-seven


__ADS_3

Pagi hari yang membuat Gheina terbangun pagi hari. Setwlah ia mendepat kabar bahwa dia bisa pulang, perasaannya sangat lega dan sangat senang.


Perjalanan pagi hari tidak penuh seperti nanti siang. Itu prediksi yang akurat. Gheina memilih pulang pagi hari karena dia merasa tidak enak hati jika berangkatnya siang. Ari harus bekerja di siang hari. Walaupun Ari diberi kebebasan oleh pemilik perusahaan alias temannya.


Dan jika harus di sore hari, itu saat Ari pulang kerja. Dan dia pasri sangat butuh waktu untuk istirahat. Jadi lebih


baik pagi hari. Sekalian Ari berangkat kerja. Gheina sudah berpamitan dengan seisi rumah. Yang paling sedih adalah Sani. Dia masih ingin banyak ceeita pada Gheina soal Ari.


Karena Sani mau Gheina mengawasi Ari setiap saat.


Sudah belasan menit di dalam mobil, tidak ada percakapan apapun. "Gheina. Lo udah janji sama nyokap gue," Ari memulai perbincangan dengan kalimat menggantung. "Janji soal?" Gheina agak


terkejut. "Soal lo harus ke rumah gue kali sempet. Dan sebenernya harus sempet."


"Iya, yang itu pasti banget. Dan aku bakal kenalin juga mama kamu ke kakakku." Gheina juga sudah berjanji kepada Sani soal itu. "Yaudah bagus. Sekarang kita lewat mana nih," Ari menanyakan jalannya.


"Lewat kiri abis itu muter jalan." Gheina menunjuk jalan. "Oke." Ari kembali fokus mengemudi.


°°°


Sani masih tersedu-sedu dan raut wajahnya masih sedih. "Ma, udah dong ma. Kan Gheina juga bakal kesini lagi main-main. Dia juga udah janji. Pasti juga Ari


udah kasih tau dia." Wira mengusap-usap pundak mamanya. "Dia banyak bantu mama disni. Dia temenin mama, cerita-cerita sama mama. Mama seneng banget." Sani semakin sedih dengan kembalinya Gheina ke keluarganya. "Tapi kita juga gak bisa cegah dia dong ma. Dia bukan bagian keluarga ini. Dan hak dia untuk kembali."


Sani sepanjang hari terus termenung. "Ma, aku ke kamar dulu ya. Mama jangan sedih terus. Nanti kita jalan-jalan


biar mama gak sedih lagi." Wira membujuk mamnya agar melupakan kesedihannya.


°°°


Dito sudah siap berangkat ke kantor. Hari ini ada meeting antar perusahaan yang bekwrja sama dengan perusahaan milik Dito. "Tuan, apa tidak saparan?" Salah


satu pelayan membawa nampan menghampiri Dito. "Enggak. Makan aja sarapannya, saya buru-buru." Dito tetap sopan bicara pada pelayan itu karena pelayan itu lebih tua dari dirinya.


"Oh, iya tuan. Saya kembali ke dapur lagi." Dito menganggukan kepala lalu berjalan ke arah ruang tamu. Saat sedang memasukkan map kedalam tasnya,


terdengar suara mesin mobil mendekat kearah rumahnya. Dito mendongakkan kepalanya. "Mobil siapa itu?" Dito terus memerhatikan mobil itu. Namun dia tetap tidak mengenali mobil itu.


Dan mobil itu berhenti tepat didepan rumahnya. "Mobil siapa ya, kok berenti didepan?" Dito masih bertanya-tanya. Lalu Ari keluar dari mobil dan


cepat membukakan pintu untuk Gheina. Saat Gheina keluar dari mobil, Dito menjadi termangu. "Gheina?! Itukan Gheina!" perasaan Dito antara senang dan tak percaya.


Reno baru selesai sarapan dan akan berangkat juga menuju kampus karena hari ini ada ulangan pagi. "Kak, liatin apa sih sampe bengong gitu." Reno juga melihat apa yang dilihat Dito.


Gheina!! Dia balik?! kok bisa?!


Sama dengan Dito, Reno pun bertanya-tanya dengan semuanya. Dito mendekat kearah mobil itu.


Sedangkan Gheina, dia sedang sibuk memperhatikan isi tasnya. Agar tidak ada yang terjatuh atau tidak termasuki.


"Gheina, jaga diri baik-baik,


jangan sampe kejadian parah waktu itu terulang lagi." Ari menutup pintu sebelah pengemudi. "Pasti, aku harus lebih hati-hati. Waktu itu kondisinya karna aku lagi sakit." Gheina dan Ari berbincang sebentar sebelum berpisah.


"Kamu juga harus jaga diri baik-baik. Dan makasih banget buat semuanya. Aku gak tau lagi kali sampe waktu itu kamu gak liat aku dipinggir jalan."


"Sama-sama, itu udah kewajiban sebagai sesama manusia. Makasih juga udah banyak bantu mamaku." Ari tersenyum getir. Seperti ada hal yang hilang dalam


hatinya ketika melihat mamanya kehilangan Gheina. Ari kembali mengingat wajah Sani yang tadi menangis.


"Aku juga seneng kok ngelakuinnya." Gheina juga tersenyum.


"Yaudah, aku masuk dul.."


"Gheina?" Dito menyapa memotong kata penutup yang dilontarkan Gheina. "Kak Dito... yaampun, aku udah lama banget gak ketemu kakak. Kak maaf aku buat


kakak khawatir." Gheina memeluk kakaknya. "Ini beneran kamu?! Kakak kangen banget sama kamu." Dito juga memeluk Gheina dengan erat.


"Bang, kalo gitu saya pamit dulu." Ari menundukkan kepala. "Makasih banget ya Ri. Hati-hati dijalan." Dito menarik


pelan tangan Gheina, menyuruhnya berhenti bicara. Gheina menoleh. "Tunggu! Saya msu bicara sama kamu."


Ari menoleh, "saya?" Ari menunjuk dirinya. "Iya, saya perlu bicara sama kamu." Gheina mulai tegang. Bisa-bisanya dia


melupakan hal penting itu. Peraturan rumah yang tidak dia sadari itu dilanggar. "Kak," Gheina mensejajari langkahnya dengan Dito dan Ari menuju taman kompleks.


"Kamu tidur aja, istirahat. Badan kamu biar lebih sehat dan kuat." Nadanya sangat tenang. "Kak, aku udah


sehat kok. Ari udah bawa aku ke rumah sakit seminggu yang lalu. Di rumah Ari juga aku udah banyak istirahat." Gheina tidak menyadari apa yang keluar


dari mulutnya barusan bisa menambah masalah untuk ari.


"Rumah?" Dito merasa Gheina sudah tidak tahu batas dengan pria. Gheina


tidak bisa membalas walau hanya satu huruf saja. "Pulang sekarang!" Jika Dito sudah tegas, siapapun adiknya tidak bisa lagi melawan.


Gheina langsung berbalik badan, dia tidak bisa memaksakan. Atau yang terjadi adalah masalahnya semakin besar.


°°°


Reno berlari memberi informasi penting pada Sisva. "No, ada apa sih. Kenapa harus lari-lari." Sisva merasa terganggu. "Informasi penting!" Reno duduk dikursi berhadapan dengan Sisva. "Apa yang


penting. Pagi-pagi."


"Gheina balik sama cowok. Dia sehat malah sangat sehat. Katany..." belum selesai bicara, Sisva sudah memotong, "balik! Kok bisa dia balik?!" Suaranya meninggi


karena terkejut. "Kak inget, disini sekarang udah banyak pelayan lagi. Kakak bisa pelan gak nfomongnya. Nanti mereka


dengar obrolan kita dan kasih tau ke kak Dito." Sisva langsung menutup mulutnya.

__ADS_1


"Makanya itu kak, aku juga gak tau harus gimana lagi." Reno sedikit berbisik. "Rencana kita sia-sia semua." Sisva menumpu dagunya dengan kedua ketapak tangannya.


"No!" Sisva kembali duduk tegap seperti mendapat ide yang bagus. "Hm." Reno hanya mengeluarkan suara itu dan mengangkap dagu. "Kamu bilang dia pulang sama cowok?"


"Iya, kenapa emang. Punya ide buat cowok itu?" Sisva menggeleng. Bukan ide yang gue dapet. Tapi ingatan gue." Reno


menyengir mendengar kata-kata kakaknya. "Apaan, emang sebelumnya amnesia." Reno masih membuat lelucon sedangkan Sisva sudah berwajah serius.


"Rumah sakit." Reno berhenti tertawa dan mengerutkan dahi. "Kenapa rumah sakit? Kak?" Reno bingung. "Cowok itu yang bawa Gheina ke rumah sakit." Reno langsung mengingat.


"Jadi, cowok itu yang bawa Gheina kw eumah sakit?" Reno meyakinkan. "Waktu kita simpen si Gheina di hutan bambu pinggir


jalan, itu tempat sepi. Jarang banget ada yang lewat situ. Hanya sebagian."


"Berarti Gheina sadar dan pas cowok itu lewat dan akhirnya dibawa ke rumah sakit. Itu alasan paling logis kak."


Gheina masuk dan melewati meja makan. Namun dia tidak menengok ke meja makan. "Gheina!" Reno memanggil, "kak. Maaf aku gak liat tadi. Aku mau ke kamar." Gheina mendekati meja makan.


Sisva menatap Reno lekat. Seperti bertanya, ngapain manggil dia.


"Kak, ini anak yang dicariin sama 3 orang capek-capek gak ketemu, pas malah dianter cowok." Reno melirik Sisva dan Gheina bergantian. Mengode pada Sisva agar memarahi Gheina.


"E, bagus banget lo. Kita udah capek tiap malem, sore, pagi, kita terus nyariin lo. Eli malah sama cowok."


Tembakan yang bagus kak.


°°°


Dito dan Ari sudah duduk dikursi taman kompleks. Dito sengaja bicara tidak di rumah, agar tidak ada yang mebguping penbicaraan. "Jadi kamu yang sudah membawa


adik saya pergi." Dito langsung to the point.


"Saya tidak membawa Gheina pergi dari rumah. Ss.."


"Selama 1 minggu kamu membawa adik saya pergi dan tidak memberikan kabar apapun. Siapa kamu!" Nadanya meninggi. "Saya aksn jelaskan yang terjadi


selama 1 munggu ini." Ari tidak mau di bilang bawa anak orang ke rumahnya. Dia hanya menolong sementara waktu pada saat itu.


"Kami seisi rumah sudah ntah bagaimana lagi harus menemukannya. Tapi ternyata kamu dengan mudahnya menyembunyikan dia daru keluarganya." Suasana semakin menegangkan.


"Bisa saya menjelaskan semua kejadiannya? Saya tidak akan dan tidak mungkin menyembunyikan seorang gadis didalam rumah saya.


Ibu saya juga punya perhitungan, jadi tidak mungkin itu terjadi."


"Buktinya? Kalian sekeluarga menyembunyikan adik saya. Apa itu yang ibu kamu tetapkan dalam peraturan rumah kamu!" Dito semakin membara amarahnya. Namun masih bisa menahan diri.


"Jangan pernah menyebut ibu saya dengan masalah ini. Kami hanya membantu adik Anda. Jika pada saat itu saya tidak melihat dan menolong Gheina, dia


bisa mati dipinggir jalan." Ari sudah cukup sabar. Namun Dito terus menekannya.


"Lalu setelah itu, kenapa kamu tidak mengembalikan Gheina. Kamu malah membuat waktu dan tenaga saya habis untuk main petak umpet dengan kamu." Perkacapan yang dilontarkan


"Anda terus menuduh saya dan tidak membiarkan saya memberitahu kebenaran yang ada. Anda malah berprasangka seenaknya." Dito mengusap


wajahnya. "Silahkan. Jelaskan dengan benar." suaranya meluluh.


°°°


Sani masuk ke dalam ruangan dimana tersimpan semua kenangan indah sebelum masalah besar datang ke


keluarganya. "Dia sangat gagah." Sani mengusap foto suaminya yang


sedikit berdebu.


Rasanya aneh sekali jika Sani hanya merasa terus kehilangan. Dia tidak ingin kehilangan suaminya. Tapi dia terus merasa kehilangan yang tidak jelas dihatinya.


Lalu Sani melihat foto lainnya. Dia tenggelam dalam pikiran dan suasana ruangan. Lalu terdengar suara buka pintu. "Ma, Wira boleh masuk ya ma." Wira


kembali menutup pintu. "Ma, mama jangan banyak pikiran dong ma. Nanti mama sakit. Aku temenin disini ya mam." Sani menggeleng. "Gak usah, kamu ke kamar aja. Mama mau sendiri." Katanya pelan.


"Ma, aku ini anak mama. Mama harusnya cerita ke aku, bukan ke cewek yang dibawa Ari." Wira tersinggung atas sikap


Sani yang memilih Gheina daripada Wira, anaknya sendiri. "Iya, kamu boleh temenin mama disini." Sani mengelus puncak kepala Wira.


"Mama seneng, kamu bisa balik lagi kesini." Sani menatap Wira. "Ma, jangan ngomong gitu dong. Mamakan tau, aku sebentar lagi balik. Mama jangan ngomong


kayak gitu... aku jadi berat buat perginya."


"Wira, kamu lebih baik cari kerja disini aja. Kamu cepet cari suami, jadi kamu gak perlu kerja lagi. Temenin mama


disini." Bujukan maut yang terasa seperti bumerang.


"Ma, aku gak lagi cari pacar. Aku lagi fokus kerja. Kalau aku udah nikah, juga bakal tetep kerja. Kalo cuma dirumah aja, sayang banget kuliah aku gak dipake ilmunya."


"Kamu bisa pake buat anak kamu kelak." Sani masih terus membujuk. "Yaudah, jangan bahas itu lagi deh." Wira mengambil album foto yang ada dibawah meja.


Wira melihat sampai halaman terakhirnya. Dis tersenyum mengingat kenangan indah itu. "Ma, kita disini bahagia banget ya. Semua ketawa lepas difoto ini."


Wira lanjut melihat melihat album yang lainnya. Tidak memperdulikan Sani yang tak menanggapinya.


Setelah beberapa album dilihat, ia merasa bosan. Wira melirik mamanya. Sani sedang menatap foto keluarga kecilnya yang difoto itu terlihat bahagia


dengan penuh arti. "Ma," Wira memegang tangan Sani lembut. "Kalo mama ngerasa capek, mama lepasin aja. Kalo


mama udah gak kuat bertahan, mama lepasin aja papa." Sani meneteskan air mata. Air mata itu jatuh di album yang


ada dipangkuannya.


"Ma, kita semua sayang sama mama. Kalo mama selalu kayak gini setiap hari, batin mama capek. Mama harus

__ADS_1


lepasin semuanya." Wira menggenggam tangan Sani memberi dukungan. "Sayang, mama gak apa-apa kok. Mama sangat merasa bahagia kalo


kalian juga bahagia. Kslo kalian ada disamping mama terus, mama sangat bahagia. Waalupun tanpa papa." Sani memeluk Wira sebentar.


"Ma, mama bisa curhatin semuanya, keluarin unek-unek mama. Aku anak mama, aku pasti merasakan apa yang mama rasakan."


"Apa mama mau lepasin papa?" Pertanyaan yang tak mudah dijawab. Sani terdiam sejenak, lalu menggeleng.


"Apa karna mama masih cinta sama apa?" air mata sudah membasahi pipi Wira dan Sani.


"Wira, maaf ya. Mama dan papa


ngecewain kalian. Kita gak bisa jadi contoh pasangan dan orang tua yang baik." Wira sangat sedih melihat wanita yang sangat ia sayangi menangis.


"Kita selalu berantem didepan kalian, kita pasangan yang gak baik untuk dicontoh anak-anaknya. Wira, mama pesen sama kamu. Cari laki-laki yang mencintai kamu karna takdir membuat dia jatuh


cinta sama kamu,


bukan karna terbiasa." Suara Sani tidak terlalu jelas karena bercampur dengan isak tangis, namun masih bisa terdengar. "Iya ma. Aku pasti inget pesan mama." Wira tersenyum tipis.


°°°


Kak Dito sama Ari kok belum balik lagi ke rumah sih. Ini udah siang. Apa mereka berdebat hebat disana.


Pikiran Gheina sudah kacau memikirkan apa yang akan dilakukan kakaknya. Karena pikirannya semakin kacau, dia memlih menyusul ke taman kompleks.


Gheina berlarian menuruni anak tangga. Saat di ruang tamu, dia berhenti. Dia melihat Dito masuk kedalam dan Ari


masuk ke mobilnya. "Kak, baru pulang. Kakak gak kerja?" Gheina tegang melihat raut wajah kakaknya. "Kakak cancel


semua meeting pagi tadi jadi besok.


Urusan kamu lebih penting dari kerjaan." Gheina menunduk.


"Kak, maaf ya. Aku buat kakak susah selama 1 munggu ini. Aku gak bis.."


"Iya, kakak tau. Temen kamu udah ceritain semuanya." Gheina mengangguk-angguk. "Dia bilang juga, oada akhirnya dia suka sama kamu. Dia minta restu sama


kakak." Gheina terbelalak.


Ari susah sama aku? Mana mungkin. Kak Dito bisa aja.


Seperti biasa, Gheina tidak geer. "Kak, mana mungkin. Aku baru kenal sama dia. Jangan ledekin kak, aku gak


suka kok sama dia." Walaupun Gheina cantik, dia tidak pernah menyombongkan kelebihannya. "Adikku yang


satu inikan cantik banget. Pasti ada banyak cowok yang suka atau ngejar." Dito sudah bisa bercanda lagi.


Kak Dito udah gak marah. Eh, kan Ari udah jelasin, makanya gak marah lagi.


"Tapi aku beneran gak suka sama dia." Gheina meyakinkan kakaknya. "Kali kamu suka sama dia juga gak akan kakak


izinin kamu pacaran sama dia. Kamu belum selesai kuliah." Dito menegaskan. "Ia kak."


"Kak, waktu aku tinggal dirumah Ari aku dibeliin baju. Karna aku tinggal disanakan 1 munggu, jadi dibeliin kumayan banyak bajunya. Tapi aku gak minta." Basa-basi diawal bisa menyelamatkan diakhir. "Langsung point-nya. Kakak mau langsung ke kantor."


"Oh, Iya kak. Aku langsung to the point." Gheina lupa, kakaknya tidak suka basa-basi. "Jadi apa," Dito tidak punya banyak waktu. "Kita dateng kesana


untuk bilang makasih sama keluarganya. sama sekalian kasih buat ganti semua keperluan aku selama 1 munggu." Dito sudah malas untuk bertemu dengan lelaki itu lagi.


"Kamu udah pasti banyak bilang makasih sama mereka. Kalo soal uang, kasih aja nomor rekeningnya. Nanti di transfer. Kakak males ketemu dia lagi." Gheina merasa kecewa. "Kak, aku udah utang nyawa sama mereka. Mereka gak


minta uang sepeserpun. Aku ngerasa berhutang banget sama mereka." Gheina memohon dengan cara lain. "Kak Dito yang aku kenal bukan ini. Kakak sombong."


"Oke, atur jadwalnya. Kakak bakal dateng bareng kamu. Kakak berangkat dulu ya. Jaga diri."


"Kak, aku udah sehat. Kakak udah khawatir lagi. Aku bisa ke kampuskan hari ini?" Dito mengangguk lalu lanjut berjalan.


°°°


Sisva sedang menendang pasir di lapangan tempat biasa ospek. Dia sedang mencari cara agar Gheina bisa jauh-jauh dari rumah.


Kedatangan Gheina kembali membuatnya menjadi terancam.


Sisva menendang sekuat tenaga pasir-pasir itu. "Aw... perih mata gue.." suara pria meringis. Sisva mendongak terkejut. "Eh, sorry. Sorry banget."


"Aduh mbak, kalo kesel jangan tendang pasir." pria itu masih mengucek matanya yang perih karena masuk pasir.


"Sorry, gue gak sengaja. Gue gak kesel kok. Sotoy."


"Mukanya daritadi ditekuk, keliatan dari ujung sana juga. Double chin nya apa lagi." Sisva langsung memegang leher.


Pria itu tertawa lepas. "Cewek emang paling sensi kalo soal tumpuk-menumpuk." Sani menatap mata pria itu. "Eh, mata lo merah. Nih, gue ada obat tetes mata."


"Thanks." Pria itu ngambil tetes mata yang ada ditangan Sisva.


"Lo bukan anak kampus sini ya." Mata Sisva memicing. "Iya, gue udah gak kuliah." pria itu mengembalikan obat tetes matanya pada Sisva. "Terus adik lo atau pacar lo atau sodara lo atau.."


"Kenapa, mau minta maaf sama mereka? Atau mau kenalan sama mereka." Sisva terlihat tidak suka. "Gue udah minta maaf sama lo, ngapain minta


maaf sama orang yang lo bawa." pria itu tertawa kecil. "Terus kenapa lo nanya."


"Karna gak mungkin lo kesini tanpa alasan." Sisva mulai jengkel dengan pria didepannys ini. Dia terlihat tenang.


"Gue ngambil berkas dikampus ini." Sisva diam tidak merespons apapun lagi.


"Yaudah, gue mau pulang. Sekali lagi sorry." Sisva meninggalkan pria itu.


Bersambung...

__ADS_1


Chapter kali ini cukup panjang. Karna cuma up 1 minggu ini. Semoga terhiburr...


__ADS_2