Berjanjilah Untuk Setia

Berjanjilah Untuk Setia
Twenty


__ADS_3

Sisva merasa mempunyai peluang besar untuk mengambil kembali kasih sayang yang lama hilang diambil Gheina. Dito sangat tidak suka jika adik-adik membawa pasangan mereka hanya untuk


makan, dan untuk berpacaran. Apalagi jika belum memeperkenalkan. "Lo bakal abis hari ini juga!" Niat yang kuat akan membuahkan hasil yang baik. Namun jika niat buruk, apakah akan bwrjalan semulus itu?


Sisva menghampiri teman-teman Gheina. "Siapa kalian." Tatapan Sisva jelas tidak suka. "Kita temen Gheina kak." jawab Kitna pelan. "Terus, kalian


ngapain disini. Gheina mana, dia gak bilang soal peraturan rumah ini." Sisva sangat jutek pada mereka.


"Tadi ada suatu kejadian kak. Dan kita semua kesini karna kita khawatir sama Gheina. Dan saat kita udsh diizinin masuk kedalam, dilantai bawah udah dicari. Gheina gak ada. Tapi kita belum cari dilantai atas kak." Seketika senyum


bahagia mengembang diwajah Sisva. "Bagus.." gumamnya. "Kenapa kak?" Kitna mendengar samar-samar suara Sisva. "Jadi, kalian udah masuk rumah dan porak-porandakan rumah saya?"


Sumpah. Cewek ini siapa sih. Ngeselin banget. Kalo gue gak lagi banyak pikiran, udah gue amuk daritadi. Kitna.


Cewek ini kayaknya kakaknya si Gheina. Tapi kok kayak gak perduli gitu sih. Virqa.


Tampilannya aja rapih, mulutnya mencong. Abrar


Dari sikap Sisva, sudah bisa membuka kartu. Dia seperti membuka kartunya sendiri pada orang yang dia tidak kenal."Maaf, kakaknya Gheina?" Kitna mengulurkan tangan unruk bersalaman. "Iya. Kalian


siapa." Dengan nada ketus, dan tidak menjabat tangan Kitna. Sungguh angkuhnya orang itu. "Aku Kitna." Kitna berusaha ramah menghadapi wanita didepannya hanya karena dia kakak dari sahabatnya.


"Abrar."


"Virqa."


Tidak ada yang mengulurkan tangan lagi. "Oh iya. Bagus banget ya kelakuan temen kalian Gheina itu. Kalian gak taukan peraturan rumah ini?" Tidak ada yang menjawab atau sekedar gerakan tubuh. "Peraturan dirumah ini tidak boleh ada


yang bawa pasangannya untuk pertama kali kecuali ingin memperkenalkan pada Kakak tertua, leader keluarga ini. Dan kalian berdua laki-laki!" Sisva menghentakkan kaki. "Itu artinya, Gheina udah


ngedatengin masalah dengan sendirinya." Senyum licik itu ada lagi.


"Kak, tolong jangan laporin ini semua. Kita sahabatnya Gheina. Kita gak akan biarin temen kita mau disakitin orang kak. Ini bukan hal yang salah. Karna


ini enggak ditencanain. Beneran, aku gak boong." Bagaimanapun Gheina sahabatnya, Kitna akan selalu membela dan mendukungnya. Lalu dering telpon terdengar dari dalam tas Kitna. Kitna melihat nama yang tertera dilayar handphonenya. "Wulan." Kitna menggeser tanda menjawab. "Kasih ke Virqa sekarang."


Ih, inikan hp gue. Kenapa tadu gak minta nomornya si Virqa. Abis pulsa gue buat itu doang. Gak mau tau, pokoknya abis ini Virqa punya utang sama gue.


"Nih, dari Wulan." Kitna memberi handphonenya pada Virqa.


"Halo, ini udah sama Virqa?"


"Udah. Kenapa Lan. Lo dimana. Ini ada kakaknya Gheina dateng."


Virqa segera menjauh


saat menerima telpon.


"Kakak? Yang mana. Siapa namanya."


"Perempuan, namanya Sisva."


Wulan sudah cukup terkejut saat mendangar kata perempuan yang keluar dari mulut Virqa.

__ADS_1


"Kalian lagi gawat sekarang disana."


"Terus gimana. Lo dimana, kenapa gak dateng juga."


"Sorry, gue gak bisa dateng. Tadi gue udah setengah jalan, tapi gue dapet kabar kalo tante gue baru ngelahirin di luar kota. Jadi gue disuruh balik buat ikut."


"Yaudah. Gue matiin ya."


tut.


"Harus banget tantenya ngelahirin sekarang. Kemana bayinya ngebet banget nongol liat dunia. Dunia itu gak bagus jaman sekarang. Banyak polusi." Virqa malah bicara sendiri. "Vir. Ngapain malah diem disitu." Abrar memanggil Virqa. Virqa


berjalan menuju mereka kembsli dan memberi handphone Kitna yang baru saja dipinjamnya. "Gimana." Kitna jadi jutek. "Wulan gak bisa kesini. Dia msu ke luar kota, salah satu keluarganya ada yang lahiran."


"Kalian mending pergi sekarang." semuanya langsung kebingungan. "Hah. Kak, kita mau cari Gheina kak. Gheina belum ketemu." Kitna mewakilkan yang lain. "Kalian tadi bilang sama saya, kalian baru cek lantai bawah. Itu artinya kslian gak tau


diatas Gheina ada atau enggak." Sisva membuat semuanya terheran-heran. Sikapnya ysng tidak mau Gheina ditemukan sangat terlihat. "Makanya itu, kita mau cek ruangan atas. Membantu gitu." Abrar kini buka suara. Kitna sudah lelah menanggapinya. "Ini rumah saya dan keluarga


saya. Dan Gheina adik saya! Kalian tidak sepenuhnya mempunysi hak untuk masuk ke dalam rumah kami." Sisva mulutnya kembali mengeluarkan kata-kata seperti habis makan banyak cabai. Nyelekit.


"Tapi, kita perduli banget sama Gheina. Gak kayak anda, kakak yang ntah benar atau tidak. Sejak tadi anda hanya menghambat dan menghalangai kami untuk melakukan pencarian Gheina." Semua sudah tersulut emosi. "Pergi atau kalian juga akan kena masalah yang sama. Bukan hanya dari saya, tapi juga dari kakak pertama kami."


Demi apapun gue gak perduli. Ni orang ngomong kayak abis kebanyakan minum air kobokan di tempat nasi padang. Virqa.


Capek dengernya. kelakuannya sama si Gheina beda banget woy. Abrar.


Beberapa menit kemudian Dito datang. Sisva tersenyum menang, "dan kalian sekarang dalam masalah besar." bisikan maut yang hanya ditakuti Gheina. "Sisva, siapa mereka. Kenapa ada anak cowok. Apa ini teman-teman kamu?" Dito jelas terkejut. Kenapa bisa ada


orang yang tidak dikenal dirumahnya. "Kak, ini temennya Gheina. Gheina bawa orang lain kesini." Sisva mengadu. Jelas, agar dia bisa menjatuhkan Gheina. Dito tampak kebingungan.


"Apa benar yang dikatakan Sisva?" Dito bertanya pada ketiga orang yang tidak dikenalnya. "Tentu kak. aku yang tadi nanya sama mereka." Sisva malah ikut bicara. "Sisva, diam sebentar." Nadanya masih tenang. "Iya, kak." Ketiga


teman Gheina menjawab serentak. "Tapi, kita kesini punya alasan." Abrar ingin memberitahu yang terjadi. "Mereka cari alesan doang kak. Kakak harus percaya sama aku." Sisva tidak mau Gheina lolos lagi dari hukuman. "Sisva, diam. Dengarkan penjelasan mereka." Nada bicara Dito sudah mulai meninggi. Sisva langsung menunduk.


"Jadi, kita kesini awalnya kerna bla... bla... bla..." Virqa menjelaskan semuanya. "Lalu, kemana sekarang Gheina." Diam sejenak. "Kita semua belum nemuin Gheina. Terakhir saya berhubung sama Gheina sebelum kejadian." Virqa bicara


hati-hati. "Tapi kalian baru cek lantai bawah, kalian udah ke ataskan?" Dito melihat kaca lantai atas. "Belum." Kitna menjawab pelan. "Apa handphonenya aktif?" Virqa, Abrar, dan Kitna langsung tersadar akan hal itu.


Gue lupa. Kenapa gak ditelpon daritadi. Virqa.


Yaampun, saking paniknya, gue gak mikir kesitu. Kitna.


Iya, kita gak telpon Gheina daritadi. Gak ada yabg telpon. Lagain si Virqa sama si Kitna itu, malh sibuk berantem. Gue sih gak punya nomor dia. Abrar.


"Kita daritadi gak ada yang telpon Gheina. Kita terlalu panik. Jadi kita lebih milih periksa rumah ini." Kitna merasa sangat bodoh. "Yaudah, saya cari ke lantai atas, kalian duduk dulu disini." Semua membalas dengan anggukan. Sisva juga


ikut masuk ke dalam. Namun bukan untuk mencari Gheina. Dia ingin beristirahat di dalam kamarnya. "B*go banget. Kenapa kalian gak kepikiran sama satu hal itu." Abrar bertepuk tangan satu kali.


Mereka menunggu beberapa menit, sampai Dito keluar lagi. "Gheina gak ada dikamar." Dito menutup pintu dan langsung bicara. "Kita boleh masuk gak kak. Siapa


tau kita bisa lebih membantu mencari di dalam." Kitna meminta izin agar bisa masuk. "Boleh, iya. silahkan." Dito masuk terlebih dahulu. "Kita keliling rumah sambil telpon Gheina nya gimana." Kitna memberi usul menemukan Gheina tercepat. "Iya, kita carinya bagi 2." Dito mengintruksi. "Iya kak. Dan terbentuk. Dito dengan Abrar, dan Kitna dengan Virqa.


°°°

__ADS_1


Sudah cukup lama mereka menelpon dan berkeliling ke setiap penjuru rumah. Gheina tidak ada dimana-mana. Mereka berempatpun berkumpul kembali.


"Gimana. Ada nemu apa gitu?"


"Enggak kak. Kita gak nemu barang atau apapun."


"Kita juga sama."


Semuanya hampir menyerah. Terutama Dito yang mulai frustasi. Adik yang sangat ia sayangi tidak ada dimana-mana. Padahal dia tidak keluar rumah sama sekali hari ini. "Kakian yakin, udah periksa swmua ruangan sebelah sana?" Dito


masih berharap Gheina ada di dalam rumah. "Yakin kak. Kecuali satu ruangan yang kita pikir gak mungkin." Kitna memikirkan tempat kotor dan pengap tadi.


"Kenapa kalian ngelewatin tempat itu. Saya sudah bilang, jangan sampe ada yang dilewatkan." Dito merasa kecewa. Teledor sekali kedua teman


Gheina itu. "Maaf kak. Tapi tempat itu gudang." Seperti tidak yakin. "Waktu sebelum kalian berdua dateng juga gue lewatin tempat itu. Terlalu aneh kalo Gheina ada disana." Abrar merasakan sama. "Kita kesana sekarang." Dito berjalan cepat menuju gudang.


Sekarang mereka sudah berada di depan pintu gudang yang tertutup rapat. "Gudang ini pintunya agak sedikit rusak. Jadi agak susah untuk dibuka." Dito memberitahu, "kakak yakin kslo Gheina ada


didalam sini? Ngapain kalo sampe bener." Kitna masih merasa tidak yakin. "Gak ada yang tau ada apa didalam sini. Kecuali kita liat sendiri." Betul juga yang dibilang Dito.


"Kalian bisa bantu saya buka pintu ini?" Dito bertanya pada Virqa dan Abrar. "Bisa. Ayo." Virqa mewakilkan Abrar juga.


"Satu... dua... ti... ga!"


BRAGG..


Pintu terbuka. Semuanya terkejut. "Gheina." Kitna berseru. "Gheina. Yaampun," Kitna masuk untuk mengambil tubuh Gheina yang tidak sadarkan diri. "Gheina. Ayo bawa ke ruang tengah." Dito ngangkat duluan tubuh Gheina. "Kak, aku ke


dapur buatin minuman ya." Kitna bergegas ke dapur.


°°°


Gheina sudah berbaring di sofa. "Saya mau panggil dokter. Jadi lebih baik Gheina dibawa ke kamarnya."


"Iya kak. Kita bawa aja Gheina ke kamarnya." Virqa menanggapi. Akhirnya Gheina dibawa ke lantai atas, yaitu


kamarnya. "Salah satu dari kalian tolong kebawah untuk kasih teman perempuannya Gheina yang tadi ada di dapur. Sekalian saya minta tolong untuk


menyembut dokter didepan. Saya gak bisa meninggalkan Gheina." Dito meminta tolong. "Iya kak. Saya aja." Abrar yang menjawab. Lalu Abrar keluar kamar, tinggal Dito dan Virqa yang menemani Gheina di kamar.


Sampai dibawah, Abrar duduk di sofa tempat tadi Gheina direbahkan. "Sambil nunggu dokter dan Kitna lebih enak duduk. Ngapain juga berdiri."


2 menit kemudian ada yang mengetok pintu. Abrar membukanya, ternyata itu seorang dokter. Dan ada seorang laki-laki belakang. "Ini dokter yang di


calling sama kakaknya Gheina. Ini asistennya ya?" Sepertinya Abrar membuat masalah yang tidaj disengaja. "Elo siapa. Ngapain lo ada disini. Pacar kak Sisva?" Reno tentu marah. Seenaknya ada orang asing di dlaam rumahnya, dan dia


bilang asisten dokter. "Sisva? orang ribet tadi ya. Kenapa panggil kakak? Emang situ adiknya, ngarep banget deh." Apa yang akan terjadi setelah ini?!!!


"Gue emang adik dari Ditosyah! Pemikik rumah ini. Lo yang siapa masuk rumah gue." Abrar terkejut dalam diam. "Sorry, kenapa juga dateng bareng dokter." Abrar ngedumel. "Terserah gue! Gak ada urusan sama lo!" Lalu Reno nyelonong masuk. Itu berarti kakaknya Gheina juga."


"Mari dok. Kamarnya ada di dalam."


"Saya sudah kenal lama sama pemilik rumah. Sepertinya saya lebih tau," dokter itu tersenyum menahan tawa. "Salah mulu dirumah ini." Sangat malu sekali pasti. "Abrar, lo gimana sih. Gheina mana," Kitna sudah membawa nampan dan gelas. "Di kamarnya. Kayaknya gue bakal bener kalo ngobrol sama lo." Semuanya menuju kamar Gheina.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2