Berjanjilah Untuk Setia

Berjanjilah Untuk Setia
Twenty-six


__ADS_3

Gheina sedang diperiksa dokter yang sama dengan dokter kemarin malam. Ari masih setia menunggu Gheina. Rasa penasarannya mengalahkan semuanya. Bahkan dia tidak sadar sudah telah


lebih dari 15 menit. Dan dia tidak memberi kabar apapun pada bagian kantor manapun. Semua orang dikantor sedang mencarinya. Sedangkan dia sedang duduk manis menunggu seorang gadis yang sebenarnya bisa dikebelakangkan daripada pekerjaannya.


Dokter sudah membuka pintu UGD. Ari segera berdiri mendekat. "Dok, gimana keadaan orang itu," Ari sedikit mengintip kedalam lewat pintu yang sama sekali tidak terlihat. "Pasien sudah lebih stabil dari kemarin malam. Sekarang Anda sudah boleh masuk kedalam. Tapi jika dia sudah


sadar, jangan dulu ditanya yang berat-berat. Jangan terlalu banyak diajak bicara juga. Tunggu beberapa menit, baru silakan diajak bicara pelan-pelan."


"Iya dok. Terimakasih." Ari menunggu dokternya menjauh, baru dia masuk kedalam. "Gue udah gak sabar liat muka dia. Gue harus liat dengan jelas sekarang. Mumpung dia juga belum sadar." Namun saat Ari membuka pintu, Gheina sedang


mengumpulkan nyawa. "Hek! hai, lo udah sadar ternyata." Ari menjadi ragu untuk mendekat.


"Siapa ya?" Gheina bertanya dengan suara lemah. "Gue... eh, aduh.." Ari mengusap tengkuknya. "Oh iya, aku kenapa bisa ada di rumah sakit? Siapa yang bawa aku kesini." Gheina melihat sekelilingnya. "Em.. itu... eh.. apaya.."


****! kenapa gue jadi gugup sih. Ini cewek cantik banget. Bakal beruntung banget kalo gue bisa jadi pacar dia. Pasti temen-temen gue pada iri. Cantiknya alami. Bahkan lagi sakit walaupun mukanya pucet dia tetep cantik.


Gheina malah kebingungan. Siapa lelaki yang baru saja membuka pintu ruangannya. Dan kenapa ketika ditanya dia malah gugup dan tidak menjawab. "Aku orangnya. Eh, maksudnya gue yang nolong lo dipinggir jalan kemaren." Ari berusaha menyesuaikan diri.


"Oh, terimakasih banyak. Terimakasih sekali." Gheina merasa senang tapi juga merasa sedih. Dia memikirkan orang rumah. Dito mencarinya. Dia khawatir pada kondisi Dito saat ini. Padahal


diapun masih tidak berdaya dan belum bisa berdiri apalagi berjalan. "Iya, gak apa-apa kok. Ikhlas, lagian juga kasian lo malem-malem pingsan, cewek, dipinggir jalan lagi." Ari sudah mulai terbiasa, namun Gheina masih sangat canggung jika terlalu banyak bicara pada Ari.


"Oh iya, dokter butuh identitas kamu. Gue juga butuh identitas lo."


"Iya, sekarang aku udab gak apa-apa. Jadi, mending kita keluar aja. Biar aku tunjukin rumah aku, terus ganti rugi atas semuanya."


"Eh, bukan gitu. Gue minta identitas lo bukan buat ganti rugi. Gak apa-apa, selow aja soal biaya. Ya gue cuma mau tau aja latar brlakang lo."


"Oh, kalo emang mau minta ganti rugi juga gak apa-apa kok."


"Eh, enggak kok. Beneran deh, soal itu gak ada masalah."


Gheina ditinggak Ari pergi ke kantor. Dia hanya tertidur diruangan yang sama, makan bubur khas rumah sakit, dan pindah rungan setelah perserujuan dokter dan Ari.


°°°


Sepagi ini semuanya berjalan lancar, bahkan sangat lancar menurut Sisva dan Reno. Namun tidak dengan Dito. Dia tidak sama sekali bernafsu


makan. Pikirannya masih terus tertuju pada ke khawatirannya kepada Gheina. "Kak, makan dulu yang banyak. Kayaknya tadi malem kakak tidurnya gak nyenyak." Sisva mengoleskan selai coklat


pada rotinya. "Kakak gak bisa tidur tenang karena bagkan sampe sekarang, Gheina belum juga pulang ke rumah." Dito menatap tajam mata Sisva dan Reno.


"Kak, maafin aku ya kak. Tadi malem aku maksa kakak supaya pulang, Reno juga yang paksa kakak untuk tidur lebih awal dan gak mikirin Gheina. Padahal sebenarnya kita tau kalo kakak sangat

__ADS_1


khawatir sama Gheina. Kita ngerti kak, tapi kesehatan kakak juga penting buat kita. Gheina juga pasti gak mau liat kakak sakit karna kurang tidur karna cari dia yang ilang gak jelas."


"Bener kak. Gheina bisa kita cari bareng hari ini juga. Tapi kakak harus kerja juga. Karna kan kakak tulang punggung kita. Kalo kakak gak kerja beberapa


hari untuk cari Gheina dan Gheina gak ketemu juga, kita gimana bayar uang kuliah."


"Yaudah, kakak berangkat dulu." Dito mengambil tasnya dari beranjak pergi. "Kak, ini masih terlalu pagi. Kakak juga belum sarapan. Kakak gak


biasanya berangkat sepagi ini. Gimana kalo kantor juga masih ditutup?" Tidak pernah seharipun sebelumnya Dito berangkat ke kantor begitu pagi. "Kakak mau kerja lebih awal. Lebih awal juga nanti selesainya. Kakak bisa cari Gheina


lebih luas dan lama." Reno dan Sisva sudah bosan mendengar kata Gheina yang terus keluar dari mulut kakak pertamanya.


"Yaudah kak. Jangan lupa sarapan di kantor." Sisva kembali menikmati sarapannya. "Kak, kenapa sih kak Dito gak bisa sejam aja gak mikirin si anak gak guna itu. Kayak ada sesuatu yang spesial di


diri si Gheina itu. Padahal mah bukan hal spesial yang ada di dirinya, tapi parasit dan benalu." Reno sudah muak dengan kakak pertamanya yang tidak pernah melupakan kata Gheina dalam hidupnya.


"No, kamu mending abisin makanannya, terus kamu berangkat. Kamu ngomongin si anak itu terus bikin nafsu makan ilang gak jelas."


"Sorry. Abisnya gedeg banget sama si.."


"Stt! Berisik. Sekali lagi ngomong sendok ini melayang menuju kepala."


"Iya oke. Yaudah, aku udah telat. Aku pergi dulu."


"Hemm.."


ada dirumah ini. Gue bisa menghirup udara segar tanpa ada virus masuk."


°°°


Ari izin pulang kantor lebih cepat. Dia bilang ada urusan keluarga penting. Padahal yang sesungguhnya dia menemui Gheina


dirumah sakit. Saat Gheina dipindah ruangan, dokter telah memberitahukan kepada Ari dimana ruangannya. Saat


Ari sampai ke rumah sakit langsung menuju ruangan Gheina.


tok tok tok!


"Masuk!" Gheina berseru. Suara sudah lebih jelas daripada tadi pagi. "Hai, masuk ya," Gheina menjawab dengan senyuman.


Wah.. kacau, dia senyumin gue. Cantik banget parah. Gue gak bisa ngelak lagi. Ini cewek bener-bener bidadari.


"Ini, tadi sebelum kesini gue mampir ke toko kue. Nih, dimakan aja."

__ADS_1


"Makasih sebelumnya. Tapi baru aja aku makan. Nih, mangkoknya masih ada."


"Yaudah, gak apa-apa. Disimpen aja disini ya."


"Oh iya, soal tadi pagi. Kamu nanya ke aku, nama aku Gheina. Aku tinggal di kompleks murlya."


"Oh, nama gue Ari. hah? lo tinggak di kompleks murlya?"


"Iya, kenapa? Kamu juga tinggal disana?"


"Enggak sih, gue tinggal deket tempat waktu gue nemuin lo."


"Terus, kenapa kamu kaget waktu aku bilsng kompleks murlya?"


"Gue pernah kesana. Itu cukup jauh dari tempat kemaren lo pingsan. Btw, lo kenapa ngomong ke orang yang lo gak kenal pake aku-kamu sih."


"Aku gak biasa ngomong gue-lo. Kalo kamu terserah mau pake yang mana. Pake aku-kamu atau gue-lo gak masalah."


"Oh, gitu toh." Ari mengangguk mengerti. "Lo kenapa kemaren bisa ada dipinggir jalan gitu." Ari merasa bingung jika Gheina tiba-tiba ada disana tanpa sebab. "Aku... aku... aku gsk inget apapun dari


kejadian itu. Aku cuma inget satu hari sebelumnya aku lagi sakit. Aku gak mungkin keluar rumah gitu aja." Gheina sangat mematuhi perintah dari sang kakak. Dia tidak ada lalai untuk kedua kalinya dan membuat Dito kecewa.


"Terus, gimana caranya lo bisa keliar rumah sejauh itu." Ari sedang berpikir alasan terlogis. "Aku gak tau, aku mau pulang ya. Aku tau, kakak aku pasti khawatir banget." Gheina mulai lagi memmikirkan


orang rumah. "Oke, lo bakal pulang, tenang aja. Tapi gak sekarang dong. Lo belum bener-bener sembuh." Ari mengkhawatirkan keadaan Gheina. "Aku bisa


jamin, keadaan aku udah jauh lebih baik. Kakak aku juga pasti sangat memperhatikan aku dirumah." Gheina yakin, jika dirinya sudah pulang pasti Dito akan menjaganya sepenuh waktu.


"Yaudah, gue ke dokter dulu. Kalo lo dibolehin pulang, besok pagi langsung menuju rumah lo." Ari berdiri menuju ruang dokter yang menangani Gheina. "Ari, pulangnya gak bisa malem ini juga?" Gheina tidak masalah jika harus pulang malam ini. Agar dia bisa menjelaskan


secepatnya pada Dito dan melepas rasa rindu. Walaupun hanya beberapa hari tidak bertemu, tapi rasa rindu antara adik dan kakak itu sangat besar.


"Gak bisa. Besok aja ya. Sekarang lagi di gin banget diluar. Anginnya lagi gak bagus. Apa lahi kalo pulang


malem dan lo masih sakit. Baju lo juga gak ada. Gue hari ini pulang dulu, beli baju buat lo, terus besok kesini lagi buat anter."


"Yaudah, makasih banget. Kamu udah banyak tolong aku. Oh iya, sebelumnya kalo aku udah ganggu waktu kamu sama pacar kamu, aku minta maaf."


"Pacar? Wahh... kamu ngeledek ya. Aku gak punya pacar. Masih cari yang..."


"Ups. Maaf, aku kira kamu udah punya pacar. Cowok seganteng kamu sama belum punya pacar."


"Aku lagi cari tipe kayak kamu." Gheina hanya mengangguk-angguk. Dia tidak merasa canggung atau apalah. Dia hanya sedang berpikir, kira-kira

__ADS_1


temannya yang seperti dia siapa. Dia tidak merasa sedang digombal.


Bersambung...


__ADS_2