
5 tahun kemudian.
"Kak Dito. Udah pulang, tumben banget pulangnya cepet. Inikan masih siang kak," Sisva keheranan. Kakak satu-satunya itu tidak pernah pulang secepat ini sebelumnya. "Kok agak sepi gini rumah," Dito celingukkan mencari penghuni
rumah yang tidak terlihat. "Sisva, kok para pegawai gak ada?" Dito menyadari, tidak ada yang bersuara didapur. "I...itu kak. Tadi itu, semua pekerja yang didalem rumah pada ngundurin diri bersamaan." Sisva ragu-ragu untuk bicara. "Ngudurin diri? bersaman?" Sisva semakin takut. Diwajahnya tergambar jelas seperti ada yang disembunyikan. "Kenapa, kok mereka gak ada bicara apapun sama kakak. Mereka gak bisa pergi tanpa persetujuan kakak dong. gimana sih mereka," Dito menjadi jengkel.
Bagus, kakak gak akan nyalahin siapapun disini. Karena kakak pasti nyalahinnya pegawai yang sekarang udah gak ada.
"Kenapa kamu gak tahan mereka. Kakak harusnya dapet laporan terlebih dahulu sebelum mereka mengundurkan diri. Apa alesan mereka gak
kerja lagi disini." Dito lelah, banyak sekali masalah yang kini menimpanya. Masalah kantor, client nya, dan sekarang ditambah masalah pegawai rumah. "Kak, maaf ya kak. Aku gak bisa cegah mereka. Karna udah gak bisa diganggu gugat katanya. Padahal udah pake segala cara buat nahan semuanya. Gak ada yang denger aku kak. Maaf ya kak," Sisva selalu bisa bersandiwara dihadapan siapapun. "Ya udah. Gak apa-apa, ini juga bukan salah kamu kok. Merekanya aja mungkin yang
udah gak bisa kerja disini lagi." Dito mengusap kepala Sisva.
Sisva melihat siapa yang datang. Dia masih berada dekat pintu. "Ini semua karna dia." Sisva melemparkan semua permasalahan ini pada Gheina. Dito menoleh, dan melihat siapa yang datang. "Sisva, kamu gak boleh langsung nuduh adik kamu dong. Dia baru dateng. Kamu gak boleh gitu dong." Dito melihat perubahan wajah Gheina dan Sisva. "Kenapa mesti diulang-ulang si." Sisva bingung. kenapa kakaknya jadi agak eror. "Kak. Aku juga adiknya kakak. Aku lebih lama hidup sama kakak. begirupun Reno, kita dulu berjuang buat hidup. Gak kaya dia, tiba-tiba dateng, dan sekarang hidup enak tanpa ngerasain proses yang dulu kita lewatin. Kakak selalu belain dia! Aku juga
berhak dibela kak. Aku gak pernah dapet kasih sayang dari kakak segitunya. Reno juga, tapi kenapa sama dia. Aku
gak ngerti kenapa." Sisva sangat kecewa dengan sikap yang menurutnya tidak adil antara dirinya, Reno, dengan Gheina.
"Sisva!" Seruan yang tidak terlalu keras terdengar. Diabaikan Sisva. Gak habis fikir gue, kak Dito kenapa bisa yakin banget dan sayang banget sama itu anak yang ntah anak siapa. Lo selalu memanfaatkan kebaikan kakak kandung gue. Sisva menggebrak meja dikamarnya.
"Gue gak bisa diem aja. Semua gak adil biat gue sama Reno. Dia gak berhak ngerasain kemewahan ini. Pokoknya, gue harus bisa siksa dia, hukum dia setiap hari, dan berlaku tidak wajar. Sampe dia gak betah, dan berinisiatif untuk keluar dari rumah ini. Sekarang semuanya udah aman. Gak ada mata-mata. Semua
pelayan dirumah ini udah gak ada lagi." Otak liciknya kembali bekerja. Lo liat aja, apa yang bakal gue lakuin sama lo. Gua bakal buat sepuasnya terhadap lo, lo bukan adik gue. Walaupun saat itu lo emang dibawa mama kesini. Gue gak
akan pernah anggap lo adik gue. Sampai kapanpun, penjaga lo dirumah ini berkurang drastis. Tinggal ada kaka Dito seorang yang pasang badan buat lo. Sisva tersenyum, kemenangan baginya sudah mulai muncul.
°°°
Gheina tidak pernah membahas ataupun memperpanjang urusan dengan dua kakaknya yang tidak pernah menganggapnya adik. "Kanapa muka lo murung banget sih," Wulan menggoyangkan tubuh Gheina. "Enggak. Penat aja, Virqa mana?" Gheina celingukan. "Ntah, biarin anak itu bebas dari sengatan gue." Wulan meneguk minumannya. "Lebah kali, ah." Gheina menoyor kepala Wulan pelan. "Jangan salah, tawon juga nyengat loh." Wulan
malah melanjutkan topik yang tidak penting. Jadi, Gheina juga menanggapi saja. "Terus, kenapa gak bilang tawon aja." Gheina malah menanggapi dengan pertanyaan konyolnya. "Kan gue gak bilang salah satunya. Elo mah jadi dongol. Banyak
gaul sama Virqa nih." Giliran Wulan yang menoyor kepala Gheina. "Eh, kalian lagi ngapsin sih. Ngomongin lebah sama tawon. kayak gak ada topik lain aja." Virqa datang tiba-tiba saat Wulan akan melanjutkan perbincangan.
"Kitaa.... ngomongin..."
"Gue!" Virqa menyambar kata-kata Wulan. "Eh, siapa bilang." Wulan panik, wajah paniknya membuat Gheina dan Virqa tertawa. "Kenapa!?" Tatapan tajam dan gebrakan meja. Lebih tepatnya tatapan tajam itu teetuju pada Gheina. Mungkin maksud tatapannya bagaimana bisa Gheina malah ikut menertawakannya. Padahal perbincangan tadi jugakan dia yang menanggapi. Jadi berkelanjutan.
"Kenapa kalian." Wulan terlihat sebal, "Maaf-maaf. Lucu muka kamu," Gheina nyengir. "Lagian, ngelesnya gak pinter." Virqa duduk disebelah Gheina. "Gausah disitu." Wulan keberatan Virqa duduk disebelah Gheina. "Idih,
jealous lu. Baperr..." Virqa menoel dagu Wulan. "Apaan sih, gue gak baper. Mending jadian sama anak Freak dikampus sini daripada harus baper sama lo." Wulan hanya asal bicara.
"Aku udah lama banget gak dapet kabar dari Yura. Dia kapan pulang dari Sumatra?"
Gheina menghentikan perdebatan, mengganti topik menjadi serius.
"Aku juga gak dapet kabar lagi dari dia sih. Tapi aku dapet kabar dari sepupunya.
Katanya, dia disana masih lama. Soalnya kakek dama sama neneknya sakit udah lama." Wulan memperlihatkan isi chatnya dengan sepupu Yura. "Hah, Robhi. Siapa nihh..." Gheina malah
__ADS_1
fokus pada nama kontaknya.
"Aku laku, gak kayak dii...." Baru saja ingin menunjuk Virqa. Tapi Virqa sudah menatapnya tajam.
"Banyak juga yang suka sama gue." Virqa malah memperpanjang masalah.
"Ini bukan waktunya untuk itu."
"Please, apa yang terjadi sama kakek-neneknya Yura?" Gheina mulai membawa pembicaraan mejadi serius kembali. "Sorry." Kata Wulan dan Virqa bersamaan. "Gak pake berantem." Gheina sudah tau apa yang akan terjadi, dia lebih baik mencegah
terlebih dahulu sebelum mereka panjang lagi ributnya. "Kata Robhi sih, Yura paling bisa balik lagi sama ortunya kalau udah beres semester ini." Wulan tidak memberi ekspresi apapun saat bicara. "Hah. Yang bener lu. lama banget. Kayanya sakitnya berat deh." Virqa menanggapi. "Ya mana gue tau. Emangnya gue dukun." Wulan
malah sewot. "Gue cabut ya. Mau ekskul. Gak mau nongkrong doang hidup gue." Menepuk-nepuk pundak Gheina. "Gak usah modus sama temen gue. Dia masih punya selera. Dan lo gak masuk," Wulan selalu membahas itu.
Semenjak Gheina dan Wulan lulus SMA, mereka malah masuk fakultas yang ssma. Wulan yang mengikuti Gheina, katanya sih agar jika Gheina
punya pacar dia yang akan tau duluan sebelum teman kelas Gheina tau.
Ntahlah alasan itu masuk akal atau tidak menurut Gheina. Dan saat
mereka ospek, Gheina sering sekali dikerjai kakak tingkatnya. Terlebih, saat-saat itu, Wulan sering tidak hadir karena sakit yang selalu kambuh. Dan dari situlah mereka punya tiga teman baru. Yaitu Virqa, Yura, dan yang belum jelas ceritanya yaitu Kitna.
Setelah pwrsonil teman mereka bertambah, selalu ada pertengkaran seriap harinya. Saling sindir, dan sebagainya.
Semenjak kuliah juga, bahasa Wulan berbicara jauh beda dengan waktu SMA. Tapi ntah kenapa, Gheina tidak pernah mengubah kepribadiannya dengan sengaja.
Mungkin akan terlihat berbeda dari fisiknya yang semakin tumbuh dewasa.
"Ada hubungannya sama aku?"
"Ada. Aku denger mereka ngomongin kamu dama bunga gitu." meyakinkan informasi yang akan disampaikan. "Terus.... salah denger kali kamu. Lagian kenapa kamu nguping coba." Gheina membuang firasat untuk tertuju kesitu. "Enggak. Lo
harus tau." Wulan semakin memancing, "katanya salah satu dari mereka itu ada yang mau nembak lo." Wulan membumbui dengan godaan.
"Kamu gak usah ngarang deh. Yang namanya Gheina itu bukan cuma aku."
"Tapi gue yakin, nama Gheina itu spesial. Dan nama yang kemaren mereka sebut itu, lo." Wulan masih tidak yakin jika yang mereka sebut bukan temannya. "Lo itu harusnya seneng dong. Lo gak akan jomblo lagi. Emang kamu mau lakunya sama Virqa." Wulan malah membahas anak itu lagi. "Mulai
lagi deh. Kamu ajalah. Aku gak apa-apa kok, aku ikhlas, beneran." Gheina yang balik menggoda Wulan. "Gak akan ada yang mau emang orsng kayak
gitu." Wulan menahan tawanya. "Udahlah, jangan ngomongin dia lagi. Mending kita ke kelas. 15 menit lagi kelas dimulai." Gheina menarik tangan Wulan setelah melihat jam tangannya.
°°°
Setelah kelas kedua selesai, Wulan dan Gheina diam diperpustakaan. Mencari buku menarik yang akan mereka baca masing-masing.
"Aku udah nemu. Kamu udah," Gheina mengangkat buku yang ia pilih, menunjukkan kepada Wulan. "Belum, aku masih bingung mau baca apa." Matanya tidak beralih, masih sibuk memcari buku yang akan dia baca. "Yaudah, aku disana ya," Wulan menoleh melihat arah tunjuk tangan Gheina. "Oke."
5 menit Gheina membaca, namun Wulan belum juga menghampirinya. "Wulan belum nemu juga bukunya ya." Gheina lanjut membaca buku. Lalu, selang beberapa detik ada suara langkah kaki yang sedang berlari menuju meja yang ditempati Gheina.
"Wulan. Kok kamu lari-lari. Jangan berisik, nanti dimarahin yang jaga perpus." Gheina lanjut menatap buku
__ADS_1
yang sedang ia baca. "Penting! Lo jangan sampe ketemu. Gue yakin, lo gak bakal mau ketemus sama dia." Wulan tidak
memberitahu maksud omongannya. "Maksudnya apa sih. Aku gak ngerti," Gheina acuh dengan kata-kata Wulan yang tidak jelas. Baru saja akan melanjutkan bicara, dibelakang Gheina ada orang-orang yang dimaksudkan. Wulan melotot kaget.
Aduh, gimana nih. Mereka semua udah ada disini. Gue udah gak bisa cegah lagi. Tinggal keputusan Gheina yang menentukan. Panik bukan main. Gheina heran, Wulan tidak melanjutkan bicaranya.
"Kenapa muka kamu kayak panik sih." Gheina menatap Wulan heran. "itu, itu." Berbisik dengan sedikit suara. "Apa," lalu Gheina menoleh kebelakang. Ada 4 orang lelaki yang tidak dikenalnya. "Siapa?" Bertanya pelan juga. "Cowok yang kemaren ditaman kampus." Wulan lebih mengecilkan suaranya. Benar-benar tidak terdengar oleh Gheina, Gheina hanya bisa mengerti
kata-katanya dari gerakan bibir.
Kini Gheina berdiri dari kursinya. Berdiri didekat para lelaki itu. "Ada apa kak," Gheina bicara lembut. "Bisa kita bicara, kita berlima." Salah satu dari mereka bicara. "Bisa, dimana?" Gheina sudah
memberikan tanda bahwa mereka bisa membawanya pergi. "Oke. Diluar, didepan doang kok." Masih orang yang sama yang bicara. Apa orang
yang daritadi ngomong yang bakal nembak Gheina?
Gheina dan 4 lelaki itu keluar perpustakaan. Wulan membuntuti. Tidak ada salahnya aku buntutin. Aku sahabatnya dari SMA. Masa gak boleh tau.
"Gheina,"
"Eh, kakak tau nama aku." Dengan polisnya dia bertanya seperti itu. seperti tidak tau apa yang akan terjadi. "Kak, maaf sebelumnya. Kata temen aku, kemaren sore kakak ngomongin aku, ada perlu sama aku?" lagi-lagi. "Hahah.." Malah tertawa, membuat Gheina bingung. "Kenapa ya." Gheina bingung apa penyebab lelaki itu tertawa. "Enggak. Kamu lucu, lugu banget."
"Oke, aku mau bicara serius sama kamu."
"O..key," masih tidak mengerti.
"Aku suka sam kamu, aku mau kamu jadi pacar aku. Aku mau?" Gheina terlonjak kaget. Tidak terpikir kalau pembicaraannya akan ini. "Tapi.. kak.."
"Aku serius. Aku tau semua cewek gak main-main. Aku serius, kalau kamu perlu bukti aku bisa panggil semua orang yang ada disini. Aku mau nyatain perasaan
aku didepan
mereka semua. Biar mereka tau kalau kamu punya aku." Gheina membeku. Tidak bisa menjawab apapun. Saat ini posisinya sedamg serba salah. Jika dia menolak kasihan lelaki dihadapannya ini, dia tidak mungkin mempermalukan cowok itu
didepan teman-temannya. Tapi jika dia menerima, tidak akan tenang. Tidak ada
perasaan apapun.
"Hebat hebat hebat... adik gue satu-satunya ditembak cowok." Tiba-tiba ada yang bersorak dibelakang Gheina. Gheina menoleh, "Kak Reno. Kakak kenapa ada disini?" Kecemasannya berubah, bukan pada lelaki itu, tapi pada kakaknya.
"Hey, siapa nama lo?" Reno menunjuk orang yang daritadi bircara. "Gue
Rityo." Lantang sekali.
"Tenang aja bang, gue bakal serius kok pacaran sama Gheina. Gak akan dimainin." Rityo meyakinkan Reno. "Gue gak perduli sih, tapi gue kasih tau. Lo gak usah nembak dia, atau sepanjang hidup lo sama dia bakal sial." Sangat tergambar rasa
benci yang menjalar. "Dia gak pantes buat lo. Lo bisa dapet cewek lebih oke dari dia." Gheina tidak habis fikir, kakaknya menjelekkan dirinya didepan banyak orang.
"Lo itu keren men, cari cewek lain." Wulan melihat adegan itu, ingin sekali memelukmenguatkan Gheina. "Pulang sekarang." Reno mencengkeram lengan Gheina kencang. Gheina tidak berkutik. Hanya bisa pasrah, seperti biasanya.
Bersambung..
__ADS_1