Berjanjilah Untuk Setia

Berjanjilah Untuk Setia
Twenty-three


__ADS_3

Perjalanan yang begitu menyenangkan bagi Sisva dan Reno. Mereka sedang menikmati kebebasan yang akan terjadi. "Bwt, No. Obat yang kita tuang di air


itu bakal tahan berapa lama reaksinya?" Sisva mulai cemas soal itu. "Sampe paling enggak, ya.. 4 jam. Saat nanti dia sadar, disana udah gelap dan kelaparan, dan sendirian." Rasa senang terus membara dihati kedua adik-kakak itu. "Gheina. Gue gak maksus hini sih, lo yang gak pernah izinin kita buat ngerasain punya kak Dito. Dan bukan salah kita kalo sekarang kita ambil itu semua dari lo."


"Setiap orang berhak bahagia kan kak. Kita juga, sebagai adik kandung kak Dito berhak merasakan perhatian dia ke kita." Reno dan Sisva sama-sama


bicara pada Gheina yang jelas-jelas tidak terbangun. Raganya tidak sadar. "Disini tempatnya." Reno menginjak pedal rem. "No! Ini tempat apaan. Aku gak berani turun. Ini tempat serem banget." Sisva melihat lokasi yang akan menjadi tempat dimana Gheina yang tidak sadar disimpan. "Kak, ini baru diluar. Padahal kakak harus liat


waktu dia disimpen dan kita tinggal didalam." Reno berharap Sisva sangat puas dengan idenya. "Dalam? Kamu bakal masuk kedalam?! Enggak deh, makasih. Aku gak perlu liat dia disimpen didalam sana."


"Ayo kak, kakak takut apaan. Ini gak sama sekali serem, biasa aja." Reno masih membujuk. "Emang... kenapa gak kamu taro dia disini aja. Jadi kamu gak perlu susah bawa dia kedalam hutan gelap." Sisva memberi saran yang


akan mungkin nanti menyelamatkan adik keduanya. "Kak, malem itu, disini banyak mobil lewat. Karna area sini, area perkantoran. Dan biasanya pulangnya malem. Kalo sampe ada orang yabg liat dia disini, dan dia sadar pada saat itu, dia bisa minta tolong sama yang lewat."


"Iya juga sih."


"Nah... emang kakak mau dia balik lagi. Ngambil semuanya lagi. Aku sih gak mau."


"Aku juga. Yaudah, sana."


"Yee..."


"Udah, cepet sana. Sebelum kak Dito sampe rumah."


"Iya."


Dan Reno menggendong Gheina, lalu menaruhnya didalam hutan. Tidak terlalu dalam sebenarnya, namun jika malam hari itu cukup gelap. "Ayo cepet masuk. Sebelum ada yang liat kita disini." Sisva segera menutup kaca mobilnya hingga


teratas. Reno masih mobil dan melajukan mobil kembali. "Aku seneng banget. Akhirnya si benalu gak berguna itu terhempas juga. Aku gak sabar menikmati


hari-hari tanpa si dia." Senyum dan hati yang sangat senang itu seperti tidak layak didapatkan.


Saat sampai dirumah dan baru saja memarkirkan mobil, tiba-tiba ada mobil yang berhenti didepan rumah. "No, itu mobil siapa. Aku kayak pernah liat tapi."


"Ya jelas lah, itu mobil si Wulan. Masa kakak lupa."

__ADS_1


"Oh ya? Eh iya, dia waktu kejadian si benalu itu digudang... dia gak ada."


"Lagi sibuk kali."


"Atau, udah gak peduli lagi sama si benalu. Dia bilangnya emang sibuk sih, tapi dia sama di benalu kan satu jurusan dan satu semester. Kalo dia sibuk, Gheina juga pasti sibuk. Karna diumur


mereka yang segitu, pasti cuma sibuk kuliah."


"Iya," Wulan menghampiri dua kakak Gheina. "Halo kak." Wulan menjabat tangan Sisva dan Reno. "Lan, kamu udah lam gak kesini. Gimana kabarnya?" Sisva hanya basa-basi. "Baik kak, kakak-kakak gimana?" Wulan bertanya balik. "Baik kok. Kita baik." Sisva menjawab. "Aku mau


ketemu sama Gheina, Gheina nya ada? Soalnya baru sempet kesini. Sekalian mau ngasih tugas. Banyak tugas belakangan ini, jadi aku juga baru


sempet kesini." Itu menjadi penjelasan juga. Kenapa Wulan tidak datang beberapa hari terakhir.


"Ee... Gheina nya.." Sisva bingung menjawab apa. Sisva menyikut Reno agar membantu menjawab pertanyaan Wulan. Namun sepertinya Reno juga ntah akan menjawab apa. "Kak, Gheina gak


ada ya. Kalo gak ada, aku pulang lagi aja. Mungkin besok kesini lagi." Wulan membungkuk.


Sisva dan Reno bicara berbarengan, namun yang mereka ucapkan berbeda. "Hah? jadi Gheina ada atau gak ada?" Wulan dibuat pusing oleh dua


kakak Gheina. "Gak ada, Reno kamu gimana sih. masa tadi Gheina keluar kamu gak sadar." Sisva memukul pelan lengan Reno. "Oh ya? Mungkin aku tadi terlalu fokus nonton tv sama main game. Jadi gak sadar kalo Gheina izin keluar."


dikamar terus." Wulan jelas tahu sikap 2 kakak Gheina yang ada dihadapannya ini seperti apa. Dan Wulan merasa ada yang dengan sikap mereka berdua dari sejak Wulan datang. Semuanya terlalu ganjil untuk Wulan.


"Oh.. gitu ya kak. Yaudah, aku pamit dulu. Tolong kasih ini ke Gheina. Soalnya ini tugas kampus. Soal dikerjakannya, bisa kapanpun." Wulan berpamit lalu


masuk kedalam mobil kembali. "Huh~ Bagus deh kalo dia gak curiga. Yaudah, yuk masuk!" Sisva menjinjing tas tangan yang tadi dititipkan Wulan. "Kak, ngapain masih dibawa tasnya. Gheina juga


gak akan pernah nemuin tugas-tugas itu. Buat apa dibawa lagi. Berat-berat dibawa, gak akan berguna juga." Reno mengambil tasnya. "No, tapi ini gak berat... jadi gimana?" Sisva menarik lagi tas yang


akan direbut Reno. "Yaampun. Maksudnya, ngapain ribet bawa barang punyanya Gheina." Reno menepuk dahinya. "Iya juga sih, tapi tasnya kan punya Wulan. Kalo sampe nanti dia tau kita gak ngasih kertasnya ke anak itu, bisa curiga dia."


"Terus mau diapain?" Reno menunjuk tasnya, "kita simpen tugas-tugasnya. Setelah itu, kita simpen tasnya. Kalo dia balik buat ambil barang, kita tinggal kasih


tas kosong. Bilang aja tugasnya udah dikasih ke si Gheina." Sisva selalu mempunyai cara apapun. "Yaudah, aku ke dalam dulu, mau mandi." Reno nyelonong pergi. "Tunggu dulu, kak Dito berapa jam lagi bakal pulang." Sisva menarik lengan Reno. "Masih 1 jam lagi. Tenang aja, kak Dito gak akan tau. Gak akan ketauan kok." Reno sudah malah menanggapi, karena dia berkeringat ingin mandi. "Lo jangan gitu dulu! Mesin mobil panas, itu keliatan abis dipake. Kalo kak Dito tau, dia pasti curiga."

__ADS_1


"Iya juga sih," Reno tampak berpikir. "Dalam waktu 1 jam, apa kamu yakin bakal dingin lagi mesinnya?" Sisva melirik kearah mobil. "Gak tau juga. Kayaknya waktu 1 jam gak bakal cukup buat bikin mesinnya dingin." Reno sekarang ragu. 1 jam


untuk membuat mesin mobil menjadi dingin sepertinya kurang. "Yaudah, mandi sana. Biar aku pikirin gimana caranya." Sisva membalikkan badan Reno dan mendorongnya. "Iya, iya." Reno berjalan masuk.


***


15 menit Sisva mencari cara agar tidak terlihat mencurigakan, dia hanya melsmun dimeja makan sejak masuk rumah tadi. "Kak, aku punya usul." Reno sudah selesai mandi dan menarik kursi


didepan Sisva. "Udah beres akhienya. Apaan usulnya. Otak gue gak bisa mikir, mentok." Sisva berharap cara ampuh yang diberi Reno. "Aku keluar aja dulu. Kalo kak Dito udah pulang, kakak bilsng


ke aku. Aku mau ke apartemen didepan kompleks dulu." Sepertinya saran Reno bisa juga menghilangkan kecurigaaan. "Yaudah, bagus juga usulnya. Yang penting kak Dito jangan sampe curiga." Itu memang yang terpenting bagi mereka sekarang. "Yaudah, aku mau langsung aja berangkat." Reno berdiri dan menuju kamarnya.


Saat Reno menutup pintu depan rumah, mobil Dito masuk kedalam halaman. Reno berbalik badan, dia sangat terkejut tertunya.


Kok kak Dito pulang lebih awal. Semuanya bakal kacau kalo sampe curiga.


"No, mau kemana."


"Mau ke depan kak sebentar. Mau beli makanan."


Dito memegang lampu depan mobil Reno. Lampunya terasa agak hangat. "Kamu abis keluar tadi?" Itu pertanyaan yang lumrah. "Kak, kakak pulang


lebih awal," Reno sengaja mengslihkan pembicaraan. "Iya, ternyata kerjaannya selesai lebih cepet." Itu yang dijawab Dito yang tidak dipedulikan oleh Reno. "No, kakak nanya. Kamu tadi abis keluar?" Dito masih menanyakan hal itu. "Enggak, aku gak abis kemana-mana. Aku


dirumah aja dari pagi." Itu jawaban yang disesali Reno. "Terus, kok mesin mobilnya panas?" Dito merasa ada kejanggalan. Dito sudsh berpikir, Reno


berbohong padanya. "Itu... kan mobilnya belum dipanasin... jadi dipanasin dulu. Tadi sama kak Sisva dimatiin terus dikasih ke aku." Reno berharap jawaban itu akan aman untuknya. "Oh, yaudah. Kakak masuk dulu. Capek banget." Dito sudah


merasa sangat pegal karena seharian hanya duduk dikursi saja dikantor.


"Yaudah kak, aku pamit dulu." Reno menyalami tangan Dito.


Untung gue pinter ngomong. Kalo sampe kak Dito curiga, bisa abis gue sama kak Sisva.


Satu keberuntungan mereka. Saat mereka membawa Gheina kedalam mobil, satpam yang berjaga sedang

__ADS_1


pulang kerumahnya. Itu yang membuat mereka berhasil membawa pwrgi Gheina dari rumah.


Bersambung...


__ADS_2