
Deffa sudah selesai tugasnya mengantar Gheina. "Lo istirahat dulu aja disitu." Gheina sekarang tangah terduduk diatas kasur UKS. Tiba-tiba ada barang yang jatuh dari tas Deffa. "Kayaknya tas gue
kebuka. Jatuh deh nih buku," menunduk, mengambil bukunya. Deffa hendak memasukkan kedalam tasnya kembali. Gheina mengenali buku itu. Itu buku yang dia cari dari kemaren.
Itu kok kayak buku harian aku. Itu bener-bener buku aku.
"Itu buku siapa." Gheina tidak menyadari yang diucapkannya. "Hah, ini, ini buku..." Deffa bingung akan menjawab apa. Bahkan dirinyapun tidak tau siapa pemilik asli buku itu. "Eh, maaf. Aku agak aneh nanyanya."
Itu pastilah buku dia. Kalo enggsk, gak mungkin ada ditasnya. Kenapa aku harus nanya hal yang gak masuk akal kok.
"Gak ada yang aneh dari kata-kata lo kok." Deffa tidak membenarkan hal itu. "Ya, akukan nanya tadi, iru buku siapa. Yang pastikan itu buku kamu. Kan bukunya
ada ditas kamu." meluruskan. "Bukan. Ini bukan buku aku. Ini buku cewek. Ini buku buat cewek." karena Gheina salah menangkap kata-kata Deffa, jadi dia sudah tidak curiga atau memikirkan buku itu lagi.
Kan yang punya buku itu pasti banyak. Gheina menyadari kebodohannya. "Aku pergi dulu ya. Ada urusan," Deffa berpamitan. "Iya. Makasih ya," Deffa keluar UKS dan Kitna datang. "Ghe." Kitna segera masuk UKS
setelah Deffa keluar. "Ghe itu siapa." Lirikan mata Kitna yang tertuju pada Deffa menunjukkan rasa tidak sukanya. "Itu Deffa. Anak jurusan bisnis. Aku juga tau dari Wulan." Melirik krarah pintu UKS. "Oh." jawabnya singkat. "Kamu gak apa-apa." Gheina merasa ada yang berbeda dari prilaku Kitna. "Iya, gue gak apa-apa. Lo gimana," Kitna sengaja mengalihkan perhatian.
°°°
"Broh. Lagi ngapain sih." Deffa menyapa temannya yang sedang asik memainkan handphonenya. "Eh, Def. Darimana aja lo. Baru nongol." Abrar menunggu kedatangan Deffa sejak tadi. "Sorry, gue abis ngurusin cewek. Abis tubrukan tadi sama gue," Deffa langsung terus terang. "Cewek? seriusan lo. Ternyata lo bisa juga
deket sama cewek." Terkekeh membayangkan saat temannya ini sedang berduaan dengan wanita yang dimaksud. "Serah dah. Tapi, gue ada ini..." Deffa mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya. "Apa nih." Abrar mengambil bukunya dari tangan Deffa, "Lo gak tau ini apaan, hidup dimana sih selama ini." Deffa heran, masa barang
seperti itu saja tidak tau. "Tau, maksudnya apaan lo kasih gue." Meminta penjelasan. "Itu kemaren gue nemu diperpustakaan. Gak tau punya siapa." Deffae jelaskan asal-usul barang yang ia serahkan pada Abrar.
"Kenapa lo gak kasih ke penjaga perpus. Kan hisup lo gak ribet." Saran yang memang seharusnya dilakukan Deffa saat menemukan buku itu. "Gue awalnya mikir gitu, tapi gue mikir lagi kalo ini dibuka-buka sama orang lain kasian yang
punya buku." Deffa tau perasaannya saat si pemilik buku menemukan buku hariannya ditangan orang-orang yang sudah membacanya.
Si Deffa peduli apa sama pemilik buku itu. Kenapa juga mesti dipikirin. Itukan urusan dia.
"Emang kenapa sih sama buku itu." Rasa penasarannya lebih baik langsung ditanyakan pada Deffa. "Ini buku harian, dan ini punya cewek. Mental cewek gak sekuat mental cowok." Dipikir lagi, memang benar sih, perempuan yang selama
ini dekat dengan Abrar semua hatinya lemah. "Tapi gak semua cewek kayak giru kali Def. Lo jangan salah, cewek juga punya sisi kuatnya. Bisa jadi ngalahin
laki-laki." Abrar bisa bicara seperti itu karena semua wanita dikeluarganya memiliki hati yang kuat. "Kalau dia kuat, gak mungkin dia sampe curhat dibuku."
Iya sih, bisa jadi juga. Tapikan dia juga gak kenal sama ceweknya. Kenapa segitunya banget.
"Terus ini kenapa dikasi ke gue. Kenapa gak lo cari pemiliknya." Abrar membolak-balik buku itu. "Gue simpen di lo aja deh. Gue minta tolong banget sama lo, bantu gue cari yang punya bukunya." Deffa
benar-benar memohon pada Abrar. "Gagagagaga. Kenapa jadi gue," merasa keberatan, Abrar langsung melempar buku itu ke Deffa. "Tolonglah Rar. Kalo bukunya ada di gue, sama aja boong. Bukunya bakal dibaca juga sama sepupu gue yang suka main dikamar gue." Deffa menyodorkan lagi buku itu pada Abrar. "Kasian juga yang punya. Pasti sekarang dia lagi nyari buku ini. Gue nemu buku ini di perpustakaan. Lo cari deh yang punya buku disitu."
__ADS_1
"Oke, yaudah. Gue yang cari deh pemilik buku ini." Akhirnya Abrar luluh oleh bujukan Deffa. "Yaudah, gue ada kelas sebentar lagi. Gue cabut ya," Deffa menepuk lengan Abrar lalu pergi. "Emang aneh-aneh
temen gue. Heran, kenapa gue bisa temenan sama mereka dah," Abrar juga peegi menuju lapang basket untuk mengambil tasnya.
°°°
Gheina mengambil handphonenya untuk menelpon Wulan. "Lan, kamu dimana. kamu gak balik-balik daritadi." Gheina langsung bicara setelah telpon diangkat Wulan. "Ghe, lo telpon siapa."
Jangan bilang, lo mau si Wulan juga kesini. Gue masih marah sama dia. Tega banget dia ninggalin lo sama cowok gak jelas tadi ditempat sepi.
"Aku lagi telpon Wulan, kita ngobrol bareng-bareng disini. Aku masih sakit badannya, jadi kita ngobrolnya gak dikantin."
"Ghe, sorry tadi gue ada urusan yang harus diselesain. Gue kesana sekarang." Wulan disebrang sana menutup telpon segera. "Virqa pasti lagi sibuk ntah ngapain. Virqa belakangan ini jarang banget ngumpul bareng kita." Gheina menatap
Kitna yang ekspresinya datar. "hehe... iya. Virqa sekarang jarang banget bareng kita." Kitna menyembunyikan rasa kesalnya pada Wulan yang masih memenuhi akal sehatnya. "Wulan ngapain sih sebenernya comblangin kamu sama orang gak jelas kayak tadi," Kitna milai membahas
persoalan comblang mencomblang. "Gak tau sih. Tapi, yang tadi itu emang termasuk juga?" dengan polosnya Gheina bertanya penasaran. "Masa kamu gak sadar sih. Dia biarin kamu disini berdua sama cowok itu, karna dia mau lo deket sama itu cowok."
"Udah ah, jangan ngomongin itu. Tuh Wulan. Wulan, sini masuk." Gheina melambaikan tangan. Wulan masuk, lalu duduk dikursi satunya lagi. "Ghe, sorry agak lama. Ini, makan ya. Tadi kan lo belum sempet ke kantin." Wulan menyodorkan kotak makanan. "Kok. Kalian... kenapa sih." Terasa ada yang aneh dan menjanggal
diantara Wulan dan Kitna. "Is there something wrong between you guys," Gheina melirik Wulan dan Kitna bergantian. "Everything's fine." jawab Kitna dengan wajah datar yang meragukan. "sure?" Gheina merasa tidak yakin dengan pernyataan Kitna. "Sure." yang menjawabnya Kitna
lagi. Wulan hanya diam dengan wajah yang tidak enak dilihat. "Wulan, are you okey," Gheina kini ragu pada Wulan yang sedari datang hanya duduk diam tidak bicara apapun.
gak bilang siapa." Kitna semakin meladeni. "Eh, aduh. Kalian kenapa. Kok malah debat." Gheina tidak mengerti apa yang terjadi
pada mereka. "Gheina. Kalo kamu punya sahabat, terus malah neken kamu buat cowok doang. Kamu bakal sahabatan lagi sama orang itu." Kitna menatap Wulan tajam. "Apaan sih maksudnya. Kalian kenapa. Siapa maksudnya, sahabat aku. Wulan, Wulan emangnya kenapa." Gheina tidak diberi penjelasan. Kedua temannya itu malah saling tatap dengan penuh emosi.
"Udah ah. Aku mau keluar." Gheina turun dari tempat tidur. "Eh, Gheina. lo mau kemana." Kitna langsung beralih pandangan pada Kitna. "Aku mau keluar. Daripada liatin kalian yang gak tau kenapa. Sindir-sindiran." Gheina sudah berjalan. Namun, akhirnyapun Kitna dan Wulan menyusul Gheina. Gheina terkejut saat melihat begitu
banyak orang didepan UKS. "Eh, kenapa banyak orang depan UKS. Kalian semua pada sakit. Abis makan apa kalian." Cukup banyak orang bwrkumpul didepan UKS ntah apa tujuannya. "Bukan, kita gak sakit. Katanya lo sakit ya." Salah satu dari perkumpulan orang itu menjawab. "I..iya sih, tadi agak sakit badan aku. Tapi kalian tau sati mana. Kalian kenal aku?" Menunjuk dirinya, "kenal lah. Kan lo terkenal seantero kampus sekarang. Dari video kemaren yang beredar digrup kampus kita." Yang lain memberitahu kenapa mereka semua bisa berdiri menunggu Gheina dan kenal dengannya.
"Video? video apa." Gheina mempertanyakan video yang dimaksud. "Iya, coba mana." Kitna meminta videonya. "Liat aja di hp lo. Digrup lagi banyak dipeebincangkan loh." Kitna segera membuka hpnya. "Mana na." Gheina ikut melihat handphone Kitna. Mereka menonton dan menyimak video yang ada. "Lo kemaren jalan sama orang ini. Tumben banget," Kitna merasa
ada yang aneh dengan Gheina di video ini. Wulan tidak ikut membaca. Dia sudah lihat video itu. Reaksinya? tentu saja senang melihat Gheina dekat dengan seorang laki-laki.
"Kok, video itu bisa ada sih." Gheina malah bingung dengan videonya. "Gue gak tah Gheina.." Gheina saja tidak tau apalagi Kitna. Gheina bingung mau bilang apa. Jika hanya. bilang dihapadan Kitna
dan temannya yang lain sih tidak masalah. Masalahnya, semua orang yang sedang berkumpul itu yang bikin bahaya. "Aku mau banget sih jelasin. Tapi kalau ada mereka..."
melihat ke sekelilingnya,
Itukan buku harian aku. Iya, aku gak salah. Itu ada tandanya. Aduhh... tapi itu siapa.
__ADS_1
"Jelasin juga dong ke kita. Kita juga mau dapet informasi bagus. Gheina, ayo dong." semua yang berkumpul didepan UKS berseru memohon klarifikasi Gheina. "Oke. Aku bakal jelasin ke kalian. Tapi gak bisa sekarang, aku ada urusan. Aku janji
kok, bakal jelasin kejadian itu. Kalau perlu sama cowoknya." Gheina hendak berlari. "Gheina runggu dulu. Kita cuma butuh sedikit informasi kok dari lo. Kita bakal dukung lo sama kak Abrar kok. Walaupun kita gak ikhlas." Satu cewek cantik bicara memelas melihat Gheina. "Iya. Aku janji kok. Bakal jelasin ke kalian semua. Tapi gak sekarang. Ada urusan yang lebih penting." Gheina mencoba
keluar dari kerumunan, namun setiap dia melangkah sedikit saja, dia dihentikan langkahnya oleh mahasiswa dan mahasiswi yanv berkerumun itu, dan meminta informasi. "Aku kesana dulu ya. Aku bener-bener ada urusan. Nanti boleh kapan aja kalian nanya aku. Bye.." Gheina berlari mengejar
laki-laki yang ia yakin membawa buku hariannya, yang sudah lumayan lama peegi dari pandangan Gheina.
Aku yakin, buku itu punya aku. Ada tanda dibuku itu yang selalu aku liat sebelum aku mulai nulis. Dan aku gak mungkin salah liat.
"Udah gak ada. Aduh, kaki aku sakit lagi." Gheina meringis sambil mengusap kakinya yang terasa sakit lagi.
Sedangkan yang memegang buku harian itu.
Gue gak yakin gue bisa nemuin pemilik buku ini. Gue buka aja kali ya. Biar gue tau isi bukunya.
Namun niat Abrar diurungkan. Dia teringat pesan dari Deffa.
"Jangan lo buka. Rahasia orang ini. Siapa tau didalem buku ini ada masalah keluarga." Itu pesan Deffa pada Abrar.
"Si Deffa bener-bener nyusahin gue doang. Kenapa harus gue sih, pake alesan karna dirumahnya seeing banyak orang masuk. Lagain ngapain
ngurusin masalah orang. Emang ribet banget jadi orang baik." Abrar masih membolak-balik bukunya tanpa sedikitpun membukanya. Sambil ia mencibir temannya yang sudah menbah kerjaannya. "Pokoknya, buku ini harus segera dikasih
ke pemiliknya deh.
°°°
Gheina sedari tadi hanya berputar sambil matanya menajam melihat setiap orang yang berlalu-lalang. Ia masih mencaei orang yang membawa buku hariannya. "Kemana sih orangnya. Sampe kapan aku bakal muter-muter satu kampus buat menuin satu orang diberbagai ruangan dan diantara begitu banyak orang. Gheina duduk sebentar dipinggir lapang putsal. "Aku capek banget, daritadi gak ada hasilnya
pencarian aku." Gheina mengusap peluh dikwning dan lehernya. Cuaca siang ini cukup panas sehingga membuat orang mudah berkeringat. "Nih, panas dan capek paati butuh minum." seseorang dangan suara melengking menyodorkan botol air mineral.
"Eh, makasih." Gheina tersenyum kearah wanita itu, dan mwngambil botol minumnya. "Lo Gheina. Cewek yang jadi trending topik seantero kampus sejak kemaren malem." Dengan nada dingin dan tama tajam, dia memulai perbincangan. "Eh, iya. Aku
gak ngerti siapa yang nyebarin gosip itu. Padahal berita itu gak bener. Itu bisa dibilang salah paham." Gheina menjelaskan sedikit kejadian dihari kemarin. "Setiap
gue lewatin penjuru kampus, semua yang mereka bicarain itu lo." Selama ini Gheina tidak merasa terusik. "Aku juga gak mau sampe semua mahasiswa mahasiswi kenal sama aku. Ini semua
diluar dugaan aku." Gheina sangat tidak suka kehisupannya yang seharusnya tidak dibuka untuk publik, malah tersebar.
"Ya, lo gak usah sombong juga. Gak usah songong." Ntah kenapa kali ini wanita yang bicara pada Gheina malah terlihat tidak menyukai Gheina. "Aku gak gitu. Aku gak mau aja kehidupan pribadi aku jadi sorotan publik. Itu seharusnya bisa
jadi privasi aku sendiri." Gheina jelas bukan orang yang seperti wanita itu katakan. "Pesan dari gue, lo harus jauhin Abrar dan ikhlasin buat orang lain. Atau, lo gue pastiin bakal kena banyak masalah." Kata itu seperti ancaman.
__ADS_1
Bersambung..