
Gheina telat berangkat ke kampus. Sisva, Gheina, dan Reno merangkat masing-masing ke kampusnya masing-masing. Mereka tidak kuliah ditempat yang sama. Mereka dibebaskan untuk memilih universitas yang mereka impikan. Tanpa paksaan apapun. Seperti biasa, Gheina tidak menginginkan dirinya diantar oleh
supir manapun. Berangkat dengan taksi mengurangi mata-mata kedua kakaknya yang segan padanya. Jika sampai Gheina
memlilih untuk menaiki mobil pribadi, itu sudah menjadi kesalahan terbesar dalam hidupnya.
"Mbak, rute kiri macet. Baru aja ada yang mogok 2 mobil pariwisata. Jadi kita harus muter lewat jalan lain. Gimana," supir taksi menginformasikan
keadaan jalanan yang akan dilewati. "Saya udah telat nih pak. Kalau misalnya kita muter, saya pasti telat ke kampus pak. Kira-kira macetnya berapa lama ya," Gheina berifikir kemungkinan jika dirinya
mengubah arah. "Kayaknya sih sekitar 2 jam, mbak. Soalnya, mobil mogok itu ada dijembatan sana." supir taksi menunjuk jembatan yang tidak terlihat.
Gimanapun cara aku berpikir biar gak telat ini udah takdirnya aku telat.
Gheina menghela nafas panjang. "Pak, yaudah kita lewat jalan lain aja. Gak apa-apa muter deh. Udah mepet banget soalnya pak. Kalau kita diem aja disini, saya
bakal semakin telat pak." Gheina akhirnya mengambil keputusan. "Iya, mbak." supir taksi memutar arah.
°°°
Dengan sangat terpaksa Gheina harus tidak ikut kelas pertama. Gheina terpaksa harus meminjam buku catatan
punya Wulan. Telatnya Gheina tidak ada yang mengetahuinya. Wulan pagi tadi sudah berusaha menghubungi Gheina, namun tidak ada sahutan sama sekali. Selama pembelajaran Wulan tidak bisa fokus karena memikirkan Gheina yang tidak kunjung datang.
Gheina kemana dih. Kok gak dateng juga. Dia gak ngampus, tapi kenapa ya. Gak ngasih kabar sama sekali.
Setelah kelas pertama selesai, Wulan merasa perutnya meminta asupan. Wulan
menuju kantin. Dari pintu kantin Wulan seperti melihat Gheina. "Eh, itu Gheina bukan sih. Iya deh, kayak Gheina banget dari sisi manapun." Wulan mencoba melihat lebih teliti di tengah-tengah
kerumunan. Tapi Wulan masih yakin kalau yang dilihatnya itu adalah Gheina. "Tapi kalau itu Gheina, kenapa dia gak ikut kelas tadi," Wulan masih tidak mengerti. Untuk memastikan penglihatannya, Wulan akhirnya menghampiri orang yang
dilihatnya. "Ternyata itu beneran lo. Gue kira itu gue salah liat," Wulan menepuk orang yang dia yakin Gheina.
Gheina menoleh, wajah Wulan yang terlihat dibelakangnya. "Kanapa. Udah beres ya," Gheina mengaduk minuman yang ada didepannya dengan sedotan. "Lo kenapa malah duduk disini. Lo gak ikut kelas?" Pertanyaan yang tentu
tidak usab dijawab lagi. "Pertanyaan apa sih itu. Jelas banget aku dudyk disini. Gak ada jugakan aku dikelas tadi." Wulan malah cengengesan. "Ya, maksudnya kenapa tadi gk kelas. Tumben, gue titipin absen kok." Wulan sudah bosan pegal dan bosan berdiri, diapun duduk depan Gheina.
__ADS_1
"Aku baru dateng. Aku udah prediksi kalo bakal telat. Jadi buat apa ke kelas, nanti malah kena omel dosen.
Nanti pinjem catetan." Gheina menghabiskan isi gelas didepannya. "Kasih tau dulu kek, lo ada kejadian apa sampe tumben-tumbennya gak ikut kelas." Wulan sedang fokus memilih menu untuk dipesan. "Aku tadi...."
"Haii... gaaaiiisss...." seseorang dari depan kantin berseru. Terdengar oleh siapapun yang berada di kantin. "Kenalin, gue
kakak dari Havi. Hari ini, adik gue ultah. Dan gue mau, kalian siapin surprise untuk dia pas dia sampe kampus. Nanti gue
atur lagi. Untuk upah dari kerja kalian nanti, gue traktir 2 hari dikantin sekolah sepuasnya. "Atau itu PU dari adik gue. Tapi kalo kalian masih ngarep PU dari dia, langsung aja minta. Oke guys, thanks for attention." Suasana kantin jadi agak ramai oleh perbincangan orang-orang. Ada juga yang langsung mempersiapkan
apa yang tadi diminta kakak Havi.
Wulan heran, mengapa Gheina malah melamun. "are you okey, Gheina?" menyadarkan Gheina dari lamunannya. "Eh, iya."
"Kenapa malah bengong sih." Tidak ada jawaban dari Gheina, malah kembali kepikirannya. Wulan mengerti, mungkin Gheina tidak sedang ingin diintrogasi. Hanya diam dengan tatapan kosong. Wulan sebenarnya tidak ingin
ikut campur, tetapi rasa penasarannya menggebu.
Hiva, dia anak yang beruntung banget. Bisa punya kakak yang gak pernah anggap dia anak gak berguna. Sayang banget kakaknya
sama dia. Tadi aja, kak Reno yang malah mau dan sangat berharap aku dapet
Semua kejadian tadi pagi yang membuatnya telat kuliah berputar kembali. Sangat jelas semua kata-kata kakak-kakaknya yang sangat tidak suka padanya. Gheina merasa
iri pada mahasiswa yang tadi disebut namanya oleh kakak laki-lakinya. Pasti habis ini moment manis dan bahagia terbentuk antara mereka. Kakak-adik yang saling menyayangi dan mengasihi.
Pasti Havi sama kakaknya itu saling melengkapi. Saling merangkul saat masalah datang, dan satu arah pikiran.
Gheina masih terngiang kejadian tadi pagi.
Pasti, ultah nanti bakal bahagia benget. Sedangkan aku, pulang kampus nanti, pasti aku gak akan dilepasin gitu aja. Kak Reno atau kak Sisva pasti kasih aku hukuman lagi. Yang menurut dia pasti buat aku jera.
Daripada Wulan tidak ditanggapi, mending dia memainkan ponselnya sambil menunggu yang dipesannya datang. Asik
dengan dunia masing-masing. Gheina masih terus memikirkan banyak hal tak henti. Sedangkan sahabat yang duduk didepannya ini, sedang melihat-lihat baju yang
akan dipilih untuk dibeli.
__ADS_1
"Kenapa aku mikir gitu." Gheina bicara juga setelah sekian lama. "Hah, apaan. Emang lo ngomong apa." Wulan mendongak, "lo daritadi ngapain sih. Gue ajak ngobrol, gak nyaut. Malah bengong aja. Gue kira, abis bengong bakal kemasukan." Sedikit sebal, bakal mengata-ngatai. "Enak aja. Kitna
sama Virqa mana sih." Salah satu dari kedua teman Gheina yang lain belum
juga terlihat. "Aku juga. Mungkin mereka
udah gak minat lagi kuliah." Wulan menjawab asal. "Weehhh.... kita masih niat kuliah. Apa lagi si Kitna, kan cita-cita dia sampe S2." Seseorang yang dikenali suaranya oleh Wulan. Menepuk pundak Wulan tiba-tiba.
"..."
"Kok kalian ada dibelakang gue, seja kapan?" Wulan masih kaget karena orang yang ia sindir ada tepat dibelakangnya. "Kita
denger loh Lan." Kitana duduk disamping Gheina. "Ya sorry.. gue cuma bercanda," Wulan meminta ampunan dan Kitna juga Virqa. "Ntah kenapa, setiap
dosen killer masuk, pasti lebih pagi dan keluar lebih lama. Gue capek banget denger ocehannya." Kitna menjatuhkan kepalanya diatas meja. "Lo aja udah giru, apalagi gue kali Na." Mereka terlibat peebincangan yang tidak terlalu serius.
°°°
Perpustakaan selalu mejadi tempat asik selain kantin bagi Gheina. Tempat tenang, sejuk, dan ruang yang memberi banyak ide-ide brilian. Jika Gheina ada kelas pagi, dan hanya materi, setelah
selesai mungkin dia akan meminjam atau membaca buku sepanjang hari diperpustakaan. Tiba-tiba dia teringat semua yang terjadi tadi pagi. Ada dalam buku yang tengah ia baca. Merenung panjang lagi Gheina. Membacanya pun ditunda karena pikiran itu.
Hidup aku kayak novel banget ya. Aku selalu dijahatin kakak aku, nanti pas kakak aku susah, dia mohon-mohon ke aku biar diampunin.
Tatapannya kembali kosong. Banyak sekali hal yang dipikirkan Gheina hari ini. Wulan sesang tidak ada di perpustakaan bersama Gheina. Dia sedang ntah kemana Gheina tidak mendapat informasi.
Yaampun, kok aku mikir gitu sih. Sama aja kayak aku doain mereka celaka dong.
Gheina memeang selalu meresa kesal memuncak pada Sisva dan Reno. Namun diapun sadar, mereka juga
kakaknya yang lahir dari rahim yang sama. Lalu, Gheina mengingat kata yang membuatnya sakit hati tidak terlupakan. Kata dari Sisva yang dia bicara bahwa
belum tentu Gheina adalah anak yang dilahirkan dirahim yabg sama yaitu ibu mereka. Bisa saja Gheina anak yang dibuang ntah oleh siapa, dan dipungut oleh mama Sisva, Reno dan Dito. Kata itu memang sedikit tidak dipercaya Gheina,
tapi bagaimanpun jika itu memang kenyataannya Gheina sudah tidak bisa membantah dan hanya bisa mendangar setiap harinya Sisva dan Reno membuatnya tertekan.
Lamunan itu belum juga diakhiri. Sudah hampir 10 menit Gheina hanya diam duduk dengan pandangan kosong.
__ADS_1
Bersambung...