Berjanjilah Untuk Setia

Berjanjilah Untuk Setia
Forty-one


__ADS_3

Gheina segera turun mencari Sisva atau Reno. Dia berlari sampai tersandung dan hampir terjaruh. Untungnya masih bisa menyeimbangkan diri.


Sampai dilantai bawah Gheina tersengal. Dari tangga terakhir terlihat Reno sedang menyaksikan suatu tayangan yang sepertinya sangat menarik. Gheina segera menghampiri Reno.


"Kak, waktu itu Wulan pernah kesini ngasih tugas?" Gheina langsung to the point.


"Heh! Apaan sih lo. Yang sopan dong, bener dikit kek ngomong lo." Reno


malah emosi. Padahal Gheina bertanya sepelan mungkin.


"Aku butuh banget tugas itu." Gheina bicara lebih pelan lagi. "Mana gue tau!" Reno malah makin ngegas. "Oh," Gheina sudah


tidak mau bertanya lagi.


Gheina mencoba bertanya pada Sisva. Mungkin Sisva tahu dan akan memberitahu dimana benda itu berada.


tok tok tok.


"Kak, aku masuk ya. Mau nanya sesuatu." Gheina meminta izin terlebih dahulu karena Sisva tidak membukakan pintu. "Hm.." terdengar seperti sedang mengantuk atau tertidur. Gheina langsung masuk karena Sisva memberi suara 'hm' yang dianggapnya itu perizinan masuk.


"Kak, ngeliat tugas aku yang dikasih Wulan? Katanya dia ngasih ke kakak sama kak Reno." Gheina sudah bicara sangat pelan dan lembut. Sisva tertidur diatas kasur sambil bertelengkup.


Karena sadar ada suara seseorang, Sisva membslikkan badannya menjadi terlentang dan membuka matanya perlahan.


"Aaa.." Teriakan super yang membuka Gheina menutup telinganya dengan tangan, otomatis. "Lo ngapain ada di kamar gue!" Sisva sepertinya sangat terkejut. Gheina dibuat bingung dengan reaksi


kakaknya ini. "Emang kenapa? Tugas apaan. Halu kali di Wulan." Sisva mencoba menyembunyikan keberadaan tugas Gheina.


Gue gak akan pernah ngasih tugas itu buat lo. Gue tau, tugas lo banyak. Biar ****** sekalian kalo gak ngerjain.


"Kakak beneran gak tau?" Gheina merasa tidak yakin dengan omongan kakaknya. "Jadi lo nuduh gue bohong. Udah bagus gue jawab." Sisva kembali bertelungkup. Gheina pun keluar dan kembali ke kamarnya.


°°°


Gheina bingung saat membaca pesan dari Wulan. "Dia kasih ke kak Sisva dan kak Reno?"


  Gheina : Kamu beneran kasih ke kakak aku? 18.33


terkirim...


 


Wulan : Ia. Aku kasih ke kakak kamu. Soalnya mereka bilang waktu itu, kamu lagi ke taman. Waktu lo sakit itu. Tapi gue gak tau lo kapan ilangnya. 18.33


*terkirim*...


 


Gheina sudah mencari disemua sudut rumahnya. Tidak ada kertas yang bertuliskan materi atau apapun yang bersangkutan dengan tugas yang dimaksud Wulan.


Kalo tugas itu udah ada, kenapa sekarang disini gak ada.


Gheina bingung harus mencari dimana lagi.

__ADS_1


°°°


Wulan sedang mengerjakan tugas kukiah selanjutnya. "Numpuk banget si tugas gue. Kenapa juga tugasnya ribet banget. Stres gue." Wulan menggaruk


kepalanya padahal tidak terasa gatal.


"Si Gheina kok bilangnya gak ada sih tugas gue. Orang jelas-jelas kakaknya udah ngasih ke gue kok tas yang isinya tugas itu." Wulan inhat persis semus kejadian saat dia mengantar tugas itu.


dringg!! dringg!!


Ponselnya berdering. Tertera namanya Gheina dilayarnya. "Gheina." Wulan langsung menggeser untuk mengangkat telponnya.


"Halo Ghe. Ketemu?"


"Enggak, kakak-kakak aku juga gak ngomong apapun. Mereka bilang sih kamu gak ngasih apa-apa."


"Gue udah kirim kok. Kakak li gimana sih."


"Yaudahlah. Mungkin mereka emang sengaja atau apalah. Kamu bisa kirim tugasnya lagi?"


"Gheina, tugas itu terakhir. Dan dosen nyuruh gue kasih ke lo. Karna itu yang terakhir Gheina."


"terus gimana dong. Aku harus kayak gimana. Waktunya cuma 1 munggu."


"Atau lo minta lagi sama dosennya."


"Aku gak yakin dosennya bakal ngasih lagi."


Gheina jadi bimbang. Dosen tidak menerima alasan apapun dari muridnya jika tidak mengumpulkan tugas.


"Ghe, Gheina. Lo masih dengerin telponnyakan."


"Eh, iya. Masih kok. Yaudah, kamu kirim tugas yang belum dikirim aja. Biar nanti aku yang urus soal tugas itu."


"Gheina, tapi tugas itu bukan hanya dari 1 dosen doang. Itu tugasnya banyak."


Gheina menghela nafas berat. Dia tidak tahu harus bagaimana. Tugas itu yang akan menentukan kedepannya.


"Yaudah, gue lanjut bikin tugas ya. Udah gue kirim formatnya. Semangat!"


tut


Gheina melihat format yang dikirim Wulan. "Ada 8 tugas. Dibeberapa tugasnya ada bermacam pengisian." Gheina membaca pesan terakhir Wulan.


"Tugas hari ini ada 3, yang kemaren juga masih ada. Banyak banget tugasnya. Aku harus cepet kerjsinnya." Lalu Gheina mematikan daya hpnya.


°°°


Yura dan Kitna sedang ada disuatu tempat. Bisa dibilang high quality. "Ngapain lo ngajak gue kesini." Kitna sedang


memakan es krim yang ia pesan karena terlalu lama menunggu yang membuat janji.


"Gue mau hangout. Udah lamakan kita gak kayak gini." Yura Menaik-turunkan alisnya. "Ia gue tau kita udah lama. Lo

__ADS_1


doang sih. Tapi kenaoa juga lo telat. Yang lain juga gak diajak." Kitna berusaha menghabiskan corn es krim. "Lain pasti ada Wulan. Itu yang lo gak maukan?"


Kitna tidak menjawab. Dia hanya menghabiskan corn es krim saja. "Gue udah tau. Kenapa sih kalian. Kita ini one soul. Kalo yang satu ngerasa gak nyaman, yang lain juga bakal ikut." Kitna memanyunkan bibirnya.


"Terus kalo kita hangout, kita mau ngapain. Cuma berdua doang, tempatnya buat orang pacaran lagi." Yura melihat


kepenjuru kafe. "Iya sih, tapi yang paling deket sama rumah gue cuma ini."


"Lo liat dong, semua bangku isinya pasangan. Nanti kita dikira suka sesama jenis." Kitna bergidik membayangkan itu.


"Tapi belum tentu semuanya pasangan walaupun cewek dan cowok. Banyak banget kakak beradik yang 1 perempuan 1 laki-laki."


"Yaudah, terus kita mau ngapain cuma berdua." Kitna merasa bosan jika hanya dirinya dan teman freak yang satu ini. "Kita curhat-curhatan. Udah lama banget kan kita gak curhat." Yura juga sebenarnya tidak tahu ingin melakukan apa sekarang.


Dia bosan dirumah tidak ada orang, jadi lebih baik ngundang temen gabut juga.


"Yaudah, jadi lo mau curhat. Kenapa gak bilang daritadi, banyak banget kata pengantarnya."


Gue juga gak tau harus cerita apa. Yura diam.


"Gue mau pesen makan dulu ya. Laper," Kitna membuka buku menu. "Gimana kita curhat soal cowok." Yura mendapat ide dari internet. "Gue gak ada. Lo aja." Kitna masih melihat-lihat buku menu namun belum ada yang ingin dipesan.


"Kak Deffa tuh anaknya baik, ramah, walaupun pendiem. Tapi guenya rame, jadi melengkapi banget kan." Yura senyum-senyum malu.


"Deffa? Temennya Abrar itu ya." Yura mengangguk. "Iya sih, tapi dia gak cocok sama lo. Beda deh pokoknya." Kitna tidak setuju dengan kepercayaan diri Yura. "Dukung kek temennya. Lo gak friend


banget." Yura jadi bete


"Baper lo. Gue sih gak mikirin orang lain ya. Gue cuma mau jaga aja."


"Yaudah, pokoknya lo harus komporin kak Deffa sama gue. Cie-ciein, biar dia juga suka sama gue." Yura sangat bersemangat. "Gue gak mau. Ngapain, gak ada untungnya." Kitna tidak berkepentingan mengurusi hal yang tidak menguntungkannya.


"Lo jahat banget deh. Gue mau curhat sama lo, gue gak tau harus curhat sama siapa lagi." Yura mengambil buku menu yang sedang dilihat Kitna. "Apaan sih lo.


Gue lagi liat menu, main ambil aja." Kitna protes. "Daritadi gak kelar liatnya." Gantian Yura yang melihat buku menu.


"Yaudah, gue kasih usul." Karena buku menu yang tadi ia lihat diambil Yura, dia bisa berfikir sedikit agar dia bisa


menarik buku menunya lagi. "Apa! Kasih tau cepetan. Gue bakal sangat berterimakasih sama lo." Yura langsung berstamina.


"Bilang aja ke ortu lo. Lo anaknya dan mereka orang tua lo, curhat bukan hal yang salah." Kitna menarik kembali buku menunya. Ia sudah tau apa yang akan terjadi jika Yura melakukan itu, oleh karena itu dia memberi saran itu. "Gila lo!


Gak mungkin gue curhat sama ortu gue. Sini ah pake diambil lagi."


"Tidak boleh ada yang disembunyikan Yura.." Wajah Kitna mendekatkan wajah Yura. "Gue tau, tapi kalo nyokap sama bokap gue tau, mereka pasti ngoceh


tiap hari. Bisa kambuh alergi gue." Yura menjauhkan wajah Kitna. "Lo sejak kapan punya alergi. Alergi apaan?" Selama Kitna berteman dengan Yura, dia


tidak pernah mengwtahui kalau Yura mempunyai alergi.


"Alergi dimarahin ortu. Biasanya, gejala yang gue rasain itu kuping gue panas." Yura memegang kedua telinganya. "Itu elo aja yang kebanyakan diberi gas yang gak bisa diterima diri lo." Kitna memukul tangan Yura.


"Iya, emang sih. Terus gue harus gimana. Gue nanya lo aja gak bisa. Kalo ke Wulan, dia sibuk mulu."

__ADS_1


"Gak tau deh. Pikir aja sendiri. Sini! Gue laper nan haus." Kitna merebut kembali buku menunya.


Bersambung...


__ADS_2