Berjanjilah Untuk Setia

Berjanjilah Untuk Setia
Thirty-six


__ADS_3

Taman kota yang cukup ramai dimalam hari. Karena bosan didalam rumah, Kitna memilih berjalan santai disana. Setelah


melihat-lihat, Kitna mulai lelah berjalan. Dia berjalan menuju tempat duduk yang tersedia. Dia memainkan hpnya. Mencari berita baru di sosial media.


"Apa karna dia gak punya pacar jadi selalu digosipin. Padahal diakan baik banget, humble. Netizen selalu benar..." Kitna kesal sendiri melihat berita diinternet yang heboh di media manapun. Saat asik


mengomel dengan ponselnya, ada suara barang terjatuh didepannya. Seperti botol plastik. Dia mendongak. Seorang laki-laki sedang membungkuk mengambil botol itu.


Kok kayak kenal dari gayanya. Siapa ya. Gak asing gitu, rasanya sering liat orang ini. Apa dia tetangga gue ya?


Saat pria itu kembali berdiri, Kitna beru mengetahui siapa itu. "Kak Deffa." Kitna berseru menyapa. Deffa melirik ke sampingnya. Dia tidak mengenali siapa orang disampingnya itu. Dia hanya beranggapan itu orang yang mwngenalnya di sosial media. Atau anak kampus lain yang tau dia.


Gue gak tau orang ini sih, tapi gue sapa aja kali ya.


"Hai. Siapa ya." Deffa langsung bertanya. "Kakak beneran gak tau aku? Seriusan?!" Kitna tidak menyangka. Tingkat kepopuleran dirinya dikampus ternyata belum


setingkat dengan orang didepannya. Deffa menggelenb pelan. "Aku yang ngadain sesi bakat beberapa bulan lalu.


Perasaan aku cukup terkenal." Kitna percaya diri sekali. "Oh, gue tau itu. Tapi gue gak ngikutin itu. Gue gak suka perkumpulan cewek." Deffa terus terang.


"Tapikan ada cowoknya juga. Kakak beneran gak ngikutin ya?" Kitna merasa kecewa. Pengalaman berharga dihidupnya yabg baru sekali ia lakukan itu tidak


semua orang memandangnya. "Gue tau kok itu ada juga cowoknya. Tapi lo juga tau, cowoknya kayak gimana."


Iya juga sih, tapi mereka juga berbakat tau. Kenapa gak ngehargai banget sih. Loh, kenapa gue malah baperan sih.


"Kakak lagi ngapain disini. Cari angin ya." Kitna mengabaikan pembahasan sebelumnya. "Gue lagi lari. Biasanya kalo stres, gue suka lari." Kitna hanya manggut-manggut.


Tidak jauh dari mereka ada seorang wanita yang melihat dengan jelas dan mengenali mereka. "Itu kak Deffa kan? Sama... Kitna?" Tidak percaya seorang


Deffa mengajak jalan Kitna. Lalu wanita itu menghampiri mereka berdua. "Kak Deffa, Kitna. Kalian kencan? Kalian kok gak pernah digosipin anak kampus sih?" Dengan polosnya menanyakan itu.


Dua-duanya sama-sama berbalik ke asal suara. "Yura! Kemana aja lo." Kitna terkejut melihat Yura disitu. "Ada aja." Yura kebingungan. "Lo kenapa gak pernah kumpul sama gue, Gheina


dan yang lain. Lo itu gak pernah ada dicerita kita tau gak sih." Kitna memeluk erat Yura. "Sorry ya, gue gak bisa bareng kalian. Gue lagi ribet. Banyak hal pokoknya." Yura melepas pelukannya dan Kitna juga.

__ADS_1


Jadi mereka juga temannya Gheina. Jadi Virqa temenan dengan para cewek.


"Jadi kalian temennya Gheina."


"Iya, kak Deffa tau Gheina?" Yura terlalu polos... dia juga tidak tau apa yang terjadi dengan teman-temannya. "Gue tau dia karna waktu itu gak sengaja tabrakan sih." Kitna langsung teringat saat


Gheina ditinggal oleh Wulan di UKS bersama pria. "Oh, waktu itu kita pernah ketemu waktu di UKS. Inget gak?" Kitna mencoba mengingatkan. "Jadi kalian baru saling kenal?" Yura masih saja bertanya. "Lo diem dulu dong. Gue lagi ngobrol sama cowok famous kampus."


"Oh, oke baiklah. Kalian kencannya lanjutin. Aku mau beli something dulu." Yura menepuk pundak Kitna. "Eh, kak


maafin temen aku yang gak jelas itu ya kak." Kitna merasa tidak enak hati pada Deffa. "Gak apa-apa. Santai aja." Deffa malah tidak merasa keberatan.


°°°


Ari masih diluar merenung. Suasana hatinya sebenarnya masih panas. Namun karna dia sedang bicara pada


seorang wanita, jadi dia harus meredam emosinya. Karena waktu sudah menunjukan pukul 11 malam, dan udara sudah semakin dingin. Ari memutuskan


untuk masuk. Karena Arum dan anaknya juga sudah pulang.


Arum. Dia juga seorang ibu. Dan dia ibu kamu." Ari mendengar itu menggeleng dan tersenyum sinis. "Mama Arum? Ibuku?" Ari duduk disebrang kursi yang diduduki Doni.


"Dia bukan ibuku. Ibuku bernama Sani. Dia emang seorang ibu, tapi dia adalah ibu dari anak haram itu! Ngapain juga aku harus panggil dia mama.


Dia buka. ibuku dan tidak akan pernah menjadi ibuku!" Kalimat yang panjang itu menjadi penutupan. "Ari kamu harus hormati mereka." Namun Ari hanya melirik sekilas, lalu berjalan pergi.


°°°


Kitna dan Deffa bicara banyak tentang Gheina. Kitna awalnya tidak ingin membicarakannya, namun Deffa meyakinkan bahwa dirinya tidak menyukai Gheina. Gheina hanya gadis yang lugu dan mudah


diperdaya. "Aku belum terlalu lama kenal sama Gheina. Awalnya aku kenalnya sama Wulan." Kitna sebenarnya tidak mau menyebut nama itu.


"Oh iya, Kakak kesini cuma untuk jalan-jalan?" Kitna mengedarkan pandangan


mencari Yura yang tidak juga datang. "Iya sih, gitu aja." Menjawab seadanya. Lalu dibelakang Kitna, berjalan Yura dan Wulan. Yura walaupun jarang kumpul dengan mereka lagi, namun mengetahui kalau mereka bertengkar.

__ADS_1


"Itu kak Deffa sama si itu!" Wulan tidak mau menyebutkan nama. "Kitna, gitu aja susah ngomongnya." Yura menoel dagu Wulan. " Gue gak susah, tapi males


aja nyebut nama itu." Wulan cemberut. "Yaudah, yuk. Gue udah ditunggu mereka daritadi." Wulan tidak bergerak meski sudah ditarik tangannya. "Ayo, berat tau." Yura menarik tangan Wulan lagi. "Gue gak mau. Lo aja sana. Gue tunggu di cafe deket sini aja." Wulan tetap menolak.


"Kak Deffa jugakan kenal sama lo. Pastu dia tersinggung banget kalo lo gak nyapa dia. Apalagi kalo gue kasih tau lo masih ada di cafe deket sini." Yura menakuti. "Lo jangan bilang. Anggap aja gue gak


ikut lo sekarang." Wulan masih berusaha melepaskan tangannya dari tangan Yura.


Itu Wulan sama cewek yang tadikan. Kok mereka gak nyamperin kesini sih.


"Wulan," Deffa berseru memanggil Wulan. Kitna berbalik memastikan. "Kok dia ada disini?" Kitna masih melihat heran. "Gue juga gak tau kenspa sih. Mungkin


temen lo yang iru, siapa tadi namanya." Deffa melupakan nama Yura. "Karna Yura." Kitna mengerti sekarang.


"Tuhkan, udah ketauan. Yaudah sana, ke cafe aja. Nanti gue nyusul." Yura melepas genggaman tangannya pada tangan Wulan. "Ya gak mungkinlah. Gue ikut kesana." Wulan berjalan dibelakang Yura.


"Hai, gue balik lagi. Bawa temen gue yang satu. Eh bukan temen gue doang, temen kita. Iya gak Na?" Yura mengikut Kitna. "Kali." Kitna acuh.


"Kak, hai. Udah lama gak ketemu. Eh, gak disangka ketemu disini." Wulan cipika-cipiki. "Na, waktu kita berantem, lo lupa ya. Semua karna lo nething sama


kak Deffa. Eh sekarang lo deketin dia. Muna emang." Kitna langsung menatap Wulan tajam. "Karna gue," Deffa bicara pelan sambil menunjuk dirinya. "Karna waktu


itu lo sengaja deketin kak Deffa buat jodohin Gheina. Padahal lo tau, Gheina


gak suka cara lo kayak gitu. Tapi dia gak enak ngomongnya sama lo, ngehargain lo." Kitna sudah emosi.


"Tapi lo nganggap dia sampah. Lo selalu iri sama dia, ngatur apapun yang dia lakuin, itu yang namanya sahabat." Wulan


tidak bisa menjawab apapun. "Udah, kok kalian malah berantem." Yura memisahkan. "Dia tuh anaknya polos, jangan lo perdaya. Lo disuruh kakaknya kan.


Kalo lo gak bisa bener-bener jaga dia, gue maju bilang sama kakaknya." Kitna tidak bisa terus perang dingin dengan Wulan. Memang dia harus terus terang.


"Eh, udah. Yaudah, Lan, ayo kita pergi. Lain kali gue ngobrol lagi ya." Yura menarik Wulan. "Gue anter lo pulang." Deffa


berbesar hati menawarkan diri. "Gak usah kak, aku bisa pulang sendiri." Kitna berjalan. Namun tangannya ditarik. "Udahlah, ayo. Gue gak keberatan juga kok. Udah, ayo." Deffa menarik tangan Kitna. Kali ini Kitna tidak melawan.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2