
Gheina sudah mulai akrab dengan semua keluarga Ari yang tinggal disatu rumah itu.
Gheina sudah 2 hari ini kepikiran
dengan cerita Sani. Gheina sedang selonjoran dikamar yangyang ditumpanginya. Dia terus terpikir dengan amanat dari Sani untuknya. "Apa aku bisa menuhin amanat dan Tante Sani?"
Ntah apa yang harus dia lakukan. Beberapa menit melamun memikirkan satu hal, sampai dia melupakan kakaknya. Lalu tiba-tiba ada yang ketukan pintu yang
membuyarkan lamunannya. "Sebentar," katanya lembut. "Eh, kak Wira ada apa kak?" Gheina membuka pintu kamar lumayan lebar. "Gue mau ngobrol santai sama lo. Gak masalahkan?" Wira duduk diranjang yang biasanya ditempati.
"Iya kak. Gak masalah kok. Aku juga gak lagi ngapa-ngapain." Gheina menutup pintu kamar dan mendekati Wira. "Mau
duduk dimana kak," Gheina berdiri dihadapan Wira. "Di bawah aja deh. Lagi suka duduk dibawah." Wira turun ke lantai dan duduk dengan nyaman. "Mau bicarain
apa ya kak." Gheina mulai penasaran. Mereka balum sempat ngobrol intens sebelumnya.
"Jadi langsung aja ya. Lo siapanya Ari?" Wira langsung to the point. "Aku.." Gheina sampai sekarang masih bingung dengan
statusnya dan Ari. Tidak bisa dibilang
teman juga sih, mereka belum lama kenal. "Pacarnya?" Wira
langsung menembak kesana. "Eh, bukan kak." Gheina terkejut dan menggeleng kuat. "Aku bukan pacarnya Ari. Aku sama Ari baru beberapa hari kenal. Dia yang tolong aku dipinggir jalan."
Ari gak pernah sampe bawa orang kerumah apalagi cewek. Dia juga baru kenalkan sama cewek ini. Apa dia diguna-guna? Atau dihipnotis? Wira mulai mencurigai Gheina.
"Pinggir jalan? Terus, kenapa juga li ada disini sekarang." Wira terus menvorek informasi. "Karna waktu aku mau dianter
pulang sama Ari, jalan
menuju ke rumah aku diadain ganjil genap. Taksi juga gak bisa kesitu, dan juga ganjil genapnya selama 1 pekan." Gheina juga ingin sekali pulang tidak enak
jika terus-menerus tinggal dirumah orang. Apalagi dia baru kenal.
"Kenapa lo bisa ada dipinggir jalan saat itu."
"Aku gak tau kak. Tapi yang aku inget, waktu aku bangun badan aku kotor, badan aku lemes dan mata aku udah keleyengan." Gheina memberikan
pernyataan. Wira antara percaya dan tidak percaya. Sebenarnya itu tidak masalah, Gheina juga tidak terlihat penipu. Justru terlihat anak orang berada, lebih banyak harta darinya. Namun saat
dia merasa mamanya duambil alih, kamarnya dipakai, dan semua dirumah itu tentang Gheina dia mulai risih.
"Oh, gue kira adik gue bantuin cewek karna dia suka. Ternyata karna kasian dan sedikit masalah fisik yang diatas
rata-rata." Itu pengakuan Wira. Gheina gadis yang cantik. "Lo suka sama adik gue?" Wira sejak tadi bicara dengan jutek.
"Dia orang yang baik banget. Tapi aku gak suka sama dia." Gheina dengan polosnya dan lancarnya bicara itu. "Apa lo udah ada pacar?"
"Belum, aku gak pernah pacaran kak. Hidup aku udah cukup rumit." Wira mengangguk. "Tapi, kalo lo suka sama adik guelo bakal ngarep gak."
"Gak tau kak. Eh Tante."
__ADS_1
"Mama." Keduanya melirik pintu. Ada Sani disana yang datang. "Gheina, bantu Tante masak yuk. Wira, bikin
kue ya." Sani mengajak keduanya. "Kue? Tumben amat ma. Siapa yang mau dateng. Kakak mau dateng?" Gheina ysng mendengarnya sudah tau siapa kakak yang dimaksud Wira. "Bukan, ada Tante Heva yang mau dateng sama Farel."
"Ma, aku gak yakin sama Ari." Gheina sudah langsung tau semuanya yang dimaksud. "Tenang aja. Ari buasanya juga gimana. Yuk, biar cepet beres." Sani mengiring keduanya ke dapur.
Di dapur
Gheina kini sedang memotong cabai dan bawang-bawangan. Dia memotong sambil melamun. Dia memikirkan reaksi
Ari jika tau orang yang sangat dia benci makan dirumahnya.
Aku harus gimana nanti. Aku gak tau harus gimana. Tolong aku, aku gak sanggup. Tapi aku juga gak mungkin nolak permintaan Tante Sani.
"Aw.." Gheina menggonyangkan tangannya yang mengeluarkan darah. "Eh, Gheina. Kenapa." Sani terkejut dan menghampiri Gheina. "Gak apa-apa kok Tante. Cuma kena pisau dikit aja. Udah
biasa kok." Gheina mencuci jarinya yang luka. "Ini buat tangan lo." Wira memberi hansaplas pada Gheina. "Makasih kak." Wira tidak merespons.
°°°
Ari sedang sibuk dikantor. Banyak sekali kerjaan hari ini. Karena sebentar lagi bakal ada proyek besar, Ari harus
mempersiapkan semuanya dengan baik sebelum hari H. Namun dia saja berangkat ke kantor masih ogah-ogahan.
Sebenarnya juga temannya itu sudah jengah melihat sikap Ari yang tidak bertanggung jawab dengan
pekerjaannya. Tetapi bagaimana lagi, dipecat juga tidak enak. Bisa merusak hubungan pertemanan.
udah mau jalan. Cuma kerjaan lo doang yang belum kelar."
"Iya deh, gue beresin hari ini. Tapi gue mau batasin waktu. Sampe jam 8 aja. Kalo udah lewat, gue lanjut besok." Ari masih terus bertindak seenaknya.
"Lo pulang sore aja. Tapi lo bawa kerjaannya ke rumah. Besok udah beres
ya bro." Teman Ari sekaligus pemilik perusahaan itu keluar dari ruangan Ari. "Kenapa sih selalu gak nyantai kerjanya." Ari kesal selalu seperti itu setiap harinya. Padahal itu adalah kesalahannya.
Aei melanjutkan pekerjaannya. Dia berharap cepat selesai agar nanti dirumah tidak ada yang membebaninya.
"Bro, mau kemana bro." Ari menyapa temannya yang lewat. "Mau pulang." Jawab orang itu.
"Lo pulang naik apa bro."
"Naik motor gue."
"Bukannya kena ganjil genap. Motor lo kan ganjil." Ari bingung. "Peranturannya udah dicabut. Pembsngunan jalannyakan udah selesai beberapa hari yang lalu."
Lho. Kok gue gak tau sih. Kalo gue tau dari kemaren-kemaren, pasti si Gheina gak perlu ketemu bokap dan ditanya-tanya.
"Thak you bro." Ari lanjut membereska. pekerjaannya. 10 mwnit kemudian Ari sudah merasa lelah. Walaupun sebenarnya
pekerjaannya bisa beres 20 menit lagi. Tapi matanya sudah tidak kuat.
__ADS_1
"Pulang ah gue. Capek. Mwnding dilanjut dirumah aja."
°°°
Gheina sudah menyiapkan hidangan dimeja makan. "Semuanya udah lengkap?" Sani bertanya. "Udah Tante. Tinggal kue kak Wira." Gheina melirik Wira yang
sedang memotong kuenya. "Wira, nanti kamu simpen disini kuenya. Mama mau ganti baju dulu. Keringetan." Sani mengipas-kipas dengan tangan.
Aku ganti baju juga deh. Badan aku panas banget. keringet semua.
Gheina mengusap pelipisnya yang dibanjiri peluh. "Kak, aku ganti baju dulu ya. Mau mandi juga sekalian." Gheina
berpamitan pada Wira. Wira hanya menjawab "Ehm.." tidak sama sekali melirik Gheina. Matanya fokus memotong kue.
Dikamar
Aku pake baju apa ya. Yang terlihat stylist tapi simple. Gheina kebingungan mencari baju.
Gheina sempat dibelikan beberapa baju yang lucu dan bagus oleh Ari. Dia sangat senang, tidak enak juga terus-menerus meminjam pakaian adiknya Ari. Dia kembali teringat Ari. Sambil dia mengikat
tali baju yang telah ia pilih, dia terus membayangkan ekspresi Ari saat pulsng nanti. Apakah dia akan marah seperti kemarin atau biasa saja.
Tiba-tiba terdengar dering telpon. "Ari? Kok pas banget sih."
"Halo."
"Halo. Gheina?"
"Ada apa Ri. Kamu dimana sekarang."
"Gue lagi dijalan. Baru keluar kantor."
"Oh, kenapa telpon?"
"Besok kamu udah bisa pulsng kerumah. Ternyata jalan udah dibuka bebas sejak beberapa hari lalu."
"Oh, iya. Besok aku pulang ya," Gheina tidak terlihat senang mendengar hal penting itu. Karena dipikirannya saat
ini adalah Ari. Bagaimana nanti jika ada suatu keributan. Itu yang sedang difokuskan pikirannya.
"Yaudah, itu aja. Sampai kwtemu dirumah."
"Dah.."
tut.
Ari menutup telpon.
Semoga gak terjadi keributan malam nanti.
Gheina keluar dan menuju lantai bawah.
__ADS_1
Bersambung...