
Ari telah menyelesaikan semua pekerjaannya. "Ini udah jam 3 sore. Pasti Gheina kwsel sama gue, dia pasti udah nunggu dari tadi pagi." Ari sangat merasa bersalah. Ari membereskan mejanya, lalu segera ke rumah sakit. Diperjalanan
ternyata macet. Karena disana tempatnya pabrik, jika pabrik iatirahat pasti macet banget. Ari tetap sabar menunggu walaupun mobilnya tak jalan juga sejak tadi. Jalanannya sangatlah padat.
Namun karena kesabarannya, ruhan memberi dia hadiah. Tak lama kemudian, mobil dan kendaraan lain sudah jalan kembali. Dan ternyata semua
pegawai pabrik tidak diizinkan melewati jalan itu alias diputar balikkan arah lajunya. "Yes! wohoo.. akhirnya..." Ari dan mungkin beberapa orang lainnya didalam kendaraan masing-masing melakukan hal yang sama. Ari tancap gas, mempercepat menuju rumah sakit.
°°°
Ari telah sampai diparkiran rumah sakit. Ari berlari menuju ruangan Gheina. "Semoga dia gak marah." Dia juga membawa tas belanja yang kemarin malam menjadi hambatan untuk masuk rumah.
Saat Ari membuka pintu ruangannya Gheina, ternyata Gheina tidak ada disana. Dia telah mencari dimana-mana, Gheina tidak juga ditemukan. Lalu Ari
bertanya pada petugas rumah sakit. "Sus, saya mau tanya. Temen saya yang diruangan anggrek masih disini gak ya?" Ari
sudah mulai panik. Ini salahnya." Ari sibuk mencari. Dan Gheina sudah bosan ditaman, jadi dia memutuskan
untuk kembali ke ruangan. Dia berjalan menuju ruangannya menggunakan jalan yang sama alias melewati resepsionis. Gheina melihat dari belakang seperri Ari.
"Iru Ari bukan? Tapi kayaknya Ari deh." Lalu ia menghampiri pria yang perkiraannya itu Ari. "Ari.." Gheina agak ragu sebenarnya, "Gheina. Akhirnya... sorry ya. Tadi pagi gue kesiangan. Jadi gak sempet buat
ke rumah sakit dulu. Ayo ke kamar lagi." Ari dan Gheina berbincang-bincang selama berjalan menuju ruangan Gheina.
"Gheina, tadi gue tanya suster yang jadi resepsionis itu katanya tadi ada kakak lo dari luar kota. Dia minta, eh bukan dia tapi mereka. Mereka minta
lo setelah keluar dari rumah sakit datanya langsung dihapus." Ari ingin menanyakan hal yang nemurutnya mengganjal. "Tapi Ri, aku gak punya kakak yang tinggal
diluar kota." Gheina bingung, siapa orang yang meminta menghapus datanya dari data pasien. Ari mengedikkan bahu. "Yaudah, sana ganti baju dulu." Ari menyodorkan
tas belanja yang isinya baju untuk Gheina.
"Yaudah. Aku ganti baju dulu." Ari membalas dengan anggukan kepala. Beberapa menit kemudian Gheina
keluar dari kamar mandi. Dia sudah siap dengan bajunya. "Ri, makasih sebelumnya. Bajunya cocok banget. Pas." Gheina masih membenarkan baju
bagian bawahnya. Ari memerhatikan Gheina dan ujung kaki hingga ujung kepala. "Ari, kok malah bengong." Gheina menegur Ari.
Wah ini baru bener. The real angel my heart. Gak nyesel gue ngebantuin dia. Gue beruntung banget dapetin dia.
"Ari, kok aku ngomong daritadi gak dijawab?" Gheina melambai-lambaikan tangannya di depan wajah Ari. "Eh,
enggak. Lo cantik banget. Lo juga lebih keliatan fresh." Ari tersenyum menyembunyikan rasa melunya yang luar biasa.
__ADS_1
Aduh.. Ri, tahan Ri. Lo gak boleh bikin malu diri lo sendiri. Sabar, gue yakin gue bakal dapetin hatinya Gheina.
"Makasih loh. Ini juga berkat kamu. Kamu bawa aku ke rumah sakit, terus kamu anter aku pulang. Masih banyak lagi deh."
"Apa yang enggak kalo ceweknya secantik lo." Gheina hanya bisa tersenyum. Dia tidak tahu harus menjawab apa lagi. "Yaudah, ayo
kita berangkat. Aku juga udah bayar administrasi. Dan li gak perlu khawatir soal balesannya." Ari berdiri dari dusuknya
setelah menunggu Gheina mengganti baju.
°°°
Sisva dan Reno sedikit lega karena rencana awal mereka berhasil. Tapi mereka juga sangat jengkel karena bisa-bisanya Gheina masih hidup dan dirawat dirumah sakit. Karena mereka kelelahan,
mereka duduk disofa sambil menonton dengan waktu yang cukup lama. "Sisva, Reno. Kalian bantu kakak sekarang."
Reno masih fokus menonton sedangkan Sisva sudah menatap Dito. "Kenapa kak, kita agak capek sih. Kalo nanti-nanti baru bisa bantu kakak." Sisva sedikit mengeliat. "Gak harus sekarang
juga kerjainnya. Tapi kalian bisa hargai kakak kalian gak. Kakak juga belum ngomong apapun." Dito bicara dengan nada tenang namun membuat kedua
adiknya merinding. "Iya, maaf. Emang kakak butuh bantuan apa dari kita. Kalo soal Gheina, kita gak bisa kak. Kemaren itu kita udah mati-matian cari Gheina. Tapi hasilnya nihil."
"Bukan tentang Gheina. Kakak bisa urus sendiri soal Gheina." Dito jelas tidak akan percaya jika mengamanahkan Reno dan Sisva untuk mencari Gheina. "Yaudah bagus. Jadi tugasnya apaan?" Sisva
sedang asik menonton dan dia tidak ingin diganggu. "Kamu dsn Reno cari ART dirumah ini." Sisva dan Reno langsung fokus mendengarkan. "Kenapa kakak
"Rumah ini mulai gak keueus masa kita. Gheina sampe sekarang belum juga ketemu. Kamu panggil lagi kamu
bisa ART yang dulu. Semuanya panggil lagi. Mau atau enggak itu urusan belakang." Dito jika bicaranya sudah panjang lebar dan menatap lekat, itu artinya
dia sangat serius dengan apa yabg ia katakan. "Yaudah, kalo itu masih bisa. Kita bakal usaha bikin semua pegawai yang mengundurkan diri mau balik lagi." Sisva didalam hatinya berkobar rasa senang.
"Yaudah, kakak ke kamar." Dito terlihat lesu hari ini. Sisva merasa bersalah sudah bersikap tidak sopan padanya. "No, kita berhasil.." Sisva mengangkat tangan untuk bertos dengan Reno. "Kak, kecilin dong suaranya. Nanti kak Dito dengar berabe." Sisva langsung menutup mulutnya menggunakan tangannya. "Aku senang bingitt.." Sisva dan Reno
pun bertis ria. Rencana yang mereka susun susah payah berhasil. Itu sebuah kebanggaan tersendiri.
°°°
Gheina sedang memandangin jalanan yang tidak terlalu banyak kendaraan. "Ri, kok jalanan agak sepi ya. Biasanya gak kayak gini sih." Gheina merasa ada yang beda. "Ya ampun Gheina! Ternyata jalan
disini lagi diganjil genap." Keduanya terkejut. Ari segera memutar
balik arah. "Nanti kita pikir lagi, kita puter balik dulu aja ya." Ari menjadi tegang. Gheina hanya membalas dengan anggukan kepala.
__ADS_1
Mereka sudah jalan lumayan jauh dari tempat mereka tadi. Ari berhenti di sebuah cafe. "Gheina, kita berhenti disini dulu aja ya. Kamu juga belum makan siangkan?" Ari melepas seat belt nya. "Iya," jawaban
Gheina tidak berenergi. "Sorry ya Gheina, gara-gara gue anter lo pulang sore jadi kena ganjil genap." Ari sangat merasa bersalah karena pagi tadi dia bangun kesiangan. "Gak apa-apa kok. Bisa aja emang dari kemaren-kemaren udah ganjil genap." Gheina tidak bisa juga menyalahkan Ari karena kerjaannya. Dia sadar, dia bukan siapa-siapa. Sudah mau diantar pulang
saja sudah sangat bagus.
Mereka berdua masuk ke dalam cafe. Mereka duduk dilantai 2. "Mau pesen apa?" Ari menyosorkan buku menu. "Apa aja deh, yang kamu pesen juga gak apa-apa."
Aduh, dia pasti bete banget sama gue. Dodol banget sih gue. Kenapa coba tadi bangun siang. Lagian jalannya, kenapa juga pake ganjil genap. Ari sangat merasa sikap Gheina beda.
"Gue yang pesen tapi lo harus makan, diabisin makanan yang gue pesenin ya?"
"Iya, pasti gue abisin kok." Gheina tersenyum pada Ari. "Lo harus makan dan minum yang bergizi. Lo masih pemulihan." Ari sedang mencari menu sehat untuk Gheina.
" Mbak, sini, disini." Ari melambaikan tangan memanggil waiters. "Iya, ada
yang bisa dibantu?" Jawab waiters itu sopan.
"Saya pesen ini 2, ini, sama ini, minumnya ini 2. Udah, itu aja mbak." Ari mengangguk. "Iya mas, ditunggu makanan
dan minumannya ya." Waiters itu tersenyum dan pergi untuk menyampaikan pesanan. "Ari, kamu makan sebanyak itu?" Gheina terkejut saat mendengar
apayang dipesan Ari. "Enggak juga. Kan berdua sama lo. Yang gue pesen, lo juga harus makan." Ari menjawab santai.
"Tapi aku gak makan sebanyak itu sih," Gheina kebingungan jika tiba-tiba porsi makannya melonjak dari biasanya. "Makan aja sebisanya." Gheina mengangguk-angguk paham.
°°°
Kitna sedang belajar. Untuk ulangan besok. Sebenarnya bukan itu tujuan utama ia belajar. Ia sedang galau. Sedang bad mood bertubi-tubi. Saat seperti ini tiba-tiba Kitna teringat Gheina. "Eh, gue udah lama gak ketemu dia. Dia gak pernah keliatan lagi dikampus. Apa dia belum sembuh?"
Kitna mengecek hpnya. Mencari histori chat terakhir dengan Gheina.
"Eh, udah lumayan lama ternyata gue gak chatan sam dia. Aduh, kayaknya gue terlalu sibuk sampe lupa sama dia." Kitna mengetik kata-kata untuk
dikirim ke Gheina. Isi pesannya,
Kitna : Gheina, apa kabar. Sorry gue belom bisa mampir ke rumah. Gue lagi banyak urusan. 17.50
*terkirim*...
Kitna menunggu jawaban dari Gheina. Ia menunggu beberapa menit, beberapa kali mengecek. Seperti sedang menunggu jawaban dari doi. Kitna bingung, kenapa Gheina tidak juga
menjawab pesannya. "Masa sih Gheina marah sama gue. Gue sih gak pernah liat dia marah. Tapi.." Kitna mengecek kapan terakhir kali Gheina aktif. "Hah? 3 hari yang lalu?" Kitna kebingungan. Ada apa dengan Gheina.
__ADS_1
Kitna menelpon Gheina, namun tidak diangkat juga. "Gheina kenapa ya. Dia dirumah dakit gitu? Tapi kalo dirumah sakit juga masih bisa main hp kali." Kitna mulai khawatir dengan Gheina.
Bersambung...