
Hari ini Gheina sangat senang. Walaupun pagi tadi ada sedikit kesalahpahaman. "Akhirnya aku bisa
balik ke kampus." Gheina tersenyum lebar dan semangat berangkat ke kampus. "Semoga semuanya udah ada didalem tas."
Gheina seperti biasanya, dia berangkat menggunakan kendaraan umum. Sangat jarang menggunakan kendaraan pribadi. Jadi walaupun pernah kursus
mengendarai mobil, dia tetap tidak terlalu bisa karena
jarang mengendarainya sehari-hari.
"Pak, jalan tercepat ya pak." Gheina ingin segera sampai kampus. Walaupun dia kukiah di jam siang.
Di kampus
"Terimakasih pak." Gheina membayar biaya taksi, dan menutup pintu mobil. "Akhirnya aku kembali ke kampus. Kangen bangettt.." Gheina merasa dirinya
sedikit lebay. "Itu Gheina? Iyakan, itu Gheina." Teman yang satu jurusan dengan Gheina menyadari kedatangan Gheina.
Gheina berjalan menuju kantin. Dia sudah rindu dengan makanan kantin. "Itu Gheina? Dia udah balik?" Virqa senang melihat keberadaan Gheina kembali
di kampus. Virqa menghampiri Gheina.
"Ghe, apa kabar lo. Kemana aja," Gheina yang baru saja duduk terkejut dengan keberadaan Virqa disebelahnya.
"Eh kaget ya, sorry." Virqa menyengir. "Kenapa? Ada yang mau diomongin?" Gheina mengeluarkan hpnya dari dalam tas.
"Elo yang kenapa Ghe.
Kita semua nyariin lo." Virqa sedikit kesal. "Nanti aku jelasin. Kita ngumpul ya nanti sama yang lain.
Aku mau ke kelas, ketemu sama Wulan." Gheina menepuk-nepuk pundak Virqa sambil tersenyum. Lalu pergi menuju kelas jurusannya.
°°°
Wulan sedang mumet mengerjakan tugas yang harus dikumpulkan pagi ini juga. "Aduh... gimana nih. Gue masih banyak
yang kosong tabelnya. File yang gue buat juga baru dua." Wulan mengacak-acak rambutnya.
Gheina sudah dsmpsi didepsn pintu. Saat akan melangkah masuk, dia melihat Wulan yang sedang mengerjakan
sesuatu dan terlihat frustasi dengan yang dikerjakannya.
"Wulan lagi ngerjain apa sih. Kok setres banget keliatannya." Gheina masuk dan duduk ditempat biasanya. Wulan sama sekali tidak menyadari keberadaan
Gheina. Dia benar-benar sedang sibuk, dia sangat fokus. "Kamu gak kangan sama aku ya," Gheina membenarkan posisi duduknya menghadap Wulan.
"Tunggu ya, siapa sih. Gue lagi fokus, emang lo udah beres rugas seabreg?" Wulan masih terus mengejakan.
"Aku gak tau ada tugas. Kamu bisa gak kasih aku semua tugas aku yang ketinggalan." Gheina masih mengajak Wulan bicara. Sepertinya Wulan mulai risih.
"Yang gak ada selama ini dijurusan kitakan cu..ma.. Gheina!" Wulan melempar pulpen yang ia pegang dan memeluk
Gheina. "Gheina, lo akhirnya balik juga. Gue kangen banget sama lo." Semua orang yang berada di kelas itu menyaksikan
__ADS_1
Wulan yang memeluk erat sahabatnya dan berteriak-teriak.
Gheina mulai menyadari semua orang disitu memerhatikan dieinya dan Wulan. "Wulan, udah. Nanti aja kangen-kangenannya kamu teriak kenceng banget. Semua orang disini liatin kita." Gheina berbisik sambil menepuk punggung Wulan. Wulan langsung
melepas pelukannya dengan wajah datar karena malu.
"Hai semuanya.. liat nih, Gheina udah balik." Semuanya bertepuk tangan. Ada yang bertanya,
"Kemana aja lo, belakangan ini banyak banget tugas kampus."
Ada juga yang senang, "selamat datang lagi Gheina. Lo gak masuk terus." Dan sih banyak lagi. "Aku abis sakit, udah sembuh dari beberapa hari yang lalu
sih. Tapi masih lemes, makanya belum bisa kuliah dulu." Hanya itu yang bisa Gheina jawab. Itu bukan bohong, Gheina memang sakit, namun Gheina tidak menceritakan semuanya pada teman sekelasnya.
"Oh iya Lan, nanti kita makan sama Virqa dan Kitna. Kalo kamu mau aja pacar, temen, atau siapapun boleh juga." Gheina
mengundang Wulan saat kumpul nanti untuk menceritakan yang terjadi padanya.
"Gue mau bawa Deffa sama Abrar. Lo lupa, kita masih punya 1 sabahat. Yura?"
"Oh iya... aku lupa banget kalo yurayudah pulang. Dia jarang banget ada sama kita sekarang."
"Yaudah, gue lanjut bikin tugas gue." Wulan kembali fokus pada catatannya dan laptop. "Nanti kasih gue jenis
soalnya ya. Pulpen Kamu jatuh tuh." Gheina menyenggol siku Wulan. "Oh.. nanti gue ambil."
°°°
Reno memarkairkan mobilnya di dekat mobil-mobil temannya. "Beres," Reno menutup pintu dan menguncinya. "Eh, kak Reno udah dateng. Bikun ganteng banget Outfitnya hari ini." Seorang
"Eh, siapa sih para cabe itu liatin cowok gue." Senior yang seangkatan dengan Reno tidak terima. "Masih gebetan kali, duakan belum kasih kepastian." Temannya
mengoreksi. 2 senior itu menghampiri para mahasiswi itu. "Heh! Ngapain kalian sisini. Kalian disini daritadi pagi?!" Tidak ada yang menjawabnya.
Reno melihat keributan itu. Dan melihat anak seangkatannya ada disitu. Dia sangat mengenal wanita itu. Reno menghampiri segerombol mahasiswi itu. "Pagi-pagi udah ribut. Zalfa kamu sekarang
suka ribut di kampus?" Zalfa menggeleng cepat. "Mereka semua disini pada junior ini disini nih, daritadi pagi." Zalfa menunjuk para juniornya.
"Terus kenapa kali mereka disini dari pagi? Berarti mereka tepat waktu datengnyakan." Reno bingung. "Mereka nunggu
kamu disini daritadi pagi." Zalfa semakin kesal melihat juniornya malah menatap seperti menantang.
"Kamu cemburu, jangan cemburu dong." Reno merangkul Zalfa. "Aku cemburu, mereka selalu kamu tanggepin." Reno tersenyum melihat tingkah wanita
yang ia rangkul itu. "Kamu suruh mereka-mereka jauhin kamu. Kalo enggak, aku juga bisa
paggil mereka semua yang disana buat perhatiin aku setiap hari. Ngengetin makan, mandi, ke kam.." Reno menutup mulut Zalfa agar tidak bicara lagi.
"Kalian jangan tungguin gue setisp hari lagi. Udah yuk, Run ikut ke kantin yuk." Runi, Reno dan Zalfa akhirnya ke kantin. Zalfa tersenyum senang akhirnya dia dianggap oleh lelaki disampingnya itu.
Zalfa bukan cewek dan senior yang galak seperti yang lainnya. Namun dia tidak akan dia jika apapun yang bersangkutan dengannya diganggu. Terutama soal Reno. Bisa dibilang, Zalfa wanita
lembut. Jika dia marah, tidak akan ada yang takut. Seperti tadi dengan juniornya. Mereka malah melempar tatapan menantang.
__ADS_1
Di kantin
"No, kamu beneran suka sama aku atsu gimana sih. Kamu tuh gak jelas buat aku." Sambil menunggu makanan Zalfa menanyakan hal yang selalu mengganjal dihatinya namun susah untuk ditanyakan. Akhirnya hari ini ia
berhasil menanyakannya. "Ia, aku udah bilang. Aku suka sama kamu." Reno menjawab sama seperti sebelum-sebelumnya. Jika Zalfa menanyakan itu, Reno juga akan menjawab itu.
"Terus aku disukai sama kamu buat digantung gitu."
"Yang enggaklah. Gak mungkin. Kamu kenapa sih." Runi yang melihat adegan itu sudah muk karena terus saling lepar kode.
"No, maksud dia itu lo kapan resmiin dia. Lo jangan cuma harapan yang yang permen kapas dikasih air." Runi yang menjelaskan dengan jelas.
"Oh, aku untuk iru gak bisa." Raut wajah kecewa tampak diwajah Zalfa. "Terus sampe kapan. Aku lama-lama bosen sama kamu." Wajah Zalfa semakun
murung. "Dengerin satu yang bisa bikin kamu mebgerti semua."
Reno memegang kedua tangan Zalfa.
"Aku belum dapet izin dari kakak tertuaku untuk pacaran. Bahkan kakak perempuanku belum pernah pacaran. Aku
juga." Zalfa sudah mengerti dan pertanyaannya sudah terjawab. "Semoga kamu mau tunggu sku sampe kakakku ngizinin adik-adiknya pacaran." Zalfa mengangguk.
"Kalo kamu emang niat mau serius sama aku, aku bakal tunggu kamu." Zalfa sudsh yskin untuk tetap memilih Zalfa. "Makasih ya udah yakin sama aku. Aku gak bakal
kecewain kamu kok, janji. Tuh makanannya samoe juga akhirnya. Aku
laper banget." Merekapun menikmati makanan masing-masing sambil berbincang soal tugas yang semakin menumpuk.
°°°
Gheina sudah selesai jam kelasnya. Dia sedsng menunggu Wulan yang sedang make-up di toilet. Gheina tidak mau
ikut masuk. Jadi dia lebih
memilih diluar berdiri lama. "Ghe, ayo." Wulan masih memasukkan alat make-upnya. Gheina sedsng memainkan hpnya. "Eh, lo punya hp baru? Apa kakak lo se royal itu." Wulan mengambil dan membolak-balikkan hp Gheina.
"Wulan balikin. Aku lagi liat sosmed." Gheina mencoba mengambilnya namun Wulan malah menjauhkan hp Gheina.
"Kakak lo beli berapa ini hp." Wulan penasaran, "itu bukan kak Dito kok yang beli." Gheina sudah berhasil mengambilnya hpnya. "Kakak lo yang lainkan ada.
Dari kakak yang mana?" Wulan masih saja kepo.
"Gak mungkin kedua kakak aku yang lain. Ngadih kafo ultah aja gak pernah. Ini bukan dari mereka." Karena rasa penasaran
Wulan, sampai mereka belum beranjak dari depan toilet. "Terus itu hp siapa.
Lo mainin, lo pake datanya."
"Nanti aja ya ngomongnya. Kita mau makan sama yang lain. Mereka udah nunggu daritadi di kafe ujung jalan." Gheina menarik tangan Wulan. "Eh, gausah ditarik.
Gue bisa jalan sendiri." Wulan mencoba melepas tangannya dari genggaman Gheina. Padahal tidak terlalu kencang.
"Lama jalannya."
__ADS_1
Bersambung...