
bel pulang sudah berbunyi sejak 5 menit yang lalu. Tapi kelas masih sangat gaduh oleh suara penghuninya. Setelah selesai istirahat tadi, guru-guru rapat ntah membincarakan soal apa. Jadi, semua kelas hanya dihasil tugas oleh guru mata pelajarannya.
"Gheina, lo udah ngerjain rugas itu..." Dira menunjuk papan tulis. "Udah. Kenapa." Gheina tidak ingin lama-lama menanggapi Dira. Karena ia akan segera pulang.
"Gue pinjem dong bukunya." Dira bicara dibumbui dengan nada dan wajah memelas. "Enggak. Kerjain sendiri. Aku mikir tau buat beresin tugas ini." Gheina menolak. Bagaimana mungkin, dengan gampangnya orang lain melihat jawaban yang tealh susah payah dia pikirkan agar mendapat jawaban itu.
"Lo pelit." Dita menghentakkan kaki. "Kalo mau, minta aja sama Rubi. Dia itu tulus," Gheina menggoda Dira. "Oke. Eh, Rubi? Manusia ubi!?" Dira tersadar dengan nama yang disebutkan.
"Mending gak usah diisi sekalian kalo harus minta sama dia." Dira tidak mungkin melakukan hal itu. Mau ditaro dimana mukanya jika anak kelasnya tau bahwa dia meminta buku Rubi untuk melihat tugas.
"Yaudah, aku duluan ya." Gheina menepuk pundak Dira merulang kali.
Gak gampang aku ngerjain ini. enak aja kamu cuma minta izin, liat, terus nilai tinggi.
Saat Gheina keluar kelas, tidak jauh dari kelasnya ada orang yang sangat tidak mau ia lihat.
Wulan yang dari toilet melihat Gheina yang memutar arah.
"Ghe!" Wulan malah memanggilnya dengan suara keras yang tentu saja pasti didengar oleh Dimas. Gheina langsung mematung.
Dimas yang sedang asik memainkan hp, langsung mendongak. Melirik Wulan dan arah mata Wulan. Dia langsung tersenyum licik saat tau siapa yang dipanggil Wulan.
Dimas berlari kecil mendekati Gheina. Wulan yang masih berjalan biasa bingung. Itu kak Dimaskan. Kok nyamperin Gheina.
Tadi juga dikantin Gheina langsung pergi waktu tubrukan sama kak Dimas. Mereka ini kenapa sih. Menjadi tanda tanya besar bagi Wulan yang tidak mengerti apa-apa.
Saat Gheina ingin melanjutkan jalan, ada yang memegang lengannya erat. "Mau kemana. Mau pulang ya." Dimas senyum kemenangan. "I.. iyalah. Kan ini udah waktunya pulang." Gheina menahan dirinya yang rasanya ingin pingsan.
"Sayangnya lo gak boleh pulang. Ada satu tugas yang harus lo lakuin besok." Dimas membalikkan tubuh Gheina yang mematung. "Kak, tugasnya kan besok, besok aja kasih taunya." Gheina berharap-harap.
Ayo dong, bilang iya. aku gak mau deket dia terus. rasanya jantung aku mau copot. Aura diatuh udah kayak psikopat.
"Ghe. kamu..."
"Nih kak, udah ada temen aku. Aku mau pulang. kasian dia ditungguin mamanya dirumah." Gheina menarik tangan Wulan. Tapi Wulan tidak beegerak.
"Kalian mau ngobrol. gak apa-apa kok. aku bisa tunggu." Wulan malah membiarkan temannya diterkam mahluk astral.
__ADS_1
"Temen lo aja gak keberatan." Dimas terus menekan Gheina. "Oke. Aku gak boleh pulang telat sama kakak aku." Gheina memang salah satunya mengkhawatirkan itu.
"Gue anter lo pulang." Dimas ingin terus menerus menekan Gheina.
Ini hukuman buat lo karna bisa-bisanya lo gak kenal gue sama sekali.
"Gak usah kak. Makasih banyak. Aku gak apa-apa kok dengar kakak ngomong dulu. Sebentar doangkan." Gheina menyerah. Memang dia tidak akan bisa melawan ketua osis pencitraan itu.
"Oke. Gue cuma mau bilang besok lo harus dateng pagi dan nyimak apel pagi. Ada tugas tambahan setelah apel pagi. Khusus buat lo." Dimas mencari kelemahan Gheina.
Hah! cuma mau bilang itu doang ribet banget. Pake acara nyegat segala. Emang ya, ketos pencitraan.
"Lo yang ribet dari tadi. Pake ngehindar segala. jangan nyalahin gue." Dimas meninggalkan Gheina yang menahan diri agar amarahnya tidak membludak.
kok dia bisa tau isi pikiran aku.
°°°
Sampai rumah. Gheina melihat ke penjuru rumah. Hanya ada 2 orang ART. "Bi. Yang lain pada kemana." Gheina masih melihat, memastikan. "Non Sisva téh lagi keluar. Kalo den Reno téh bibi juga belum liat dari tadi pagi." Bi Asri tidak berpaling dari masakannya.
"Bibi sunda banget ngomongnya." Gheina terkekeh. "Ya udah dari sanahnya atuh non." Bi Asri menuangkan masakannya kedalam mangkuk. "Ayo non, makan dulu." Bi Asri menuju meja makan.
15 menit Gheina bersantai disofa. Tiba-tiba ada yang membuka pintu. Gheina tidak menghiraukan siapa yang datang.
"Gheina!" Gheina tersentak saat mengenali pemilik suara. "Kamu taukan kalo aku gak bisa kena tempat kotor. Kami dari sekolah sering banget di bilangin buat ganti baju. Kamu mau dibukum!" Gheina segera berdiri dari duduknya. "Maaf kak. Aku lupa." Gheina tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. "Bukan lupa tapi kebiasaan."
Gheina memilih tidak menanggapi, karena urusannya akan lebih panjang. Gheina selesai mengganti baju, lalu dia menyelesaikan tugasnya yang kemarin malam terkena air.
setelah menyelesaikan tugasnya, Gheina merasa lapar.
Jadi dia turun untuk makan. Pasti kak Sisva udah makan duluan. Gheina melihat kakaknya sedang duduk disebelah sofa ysng tadi ia duduki.
Sampai dimeja makan, ia menarik salah satu kursi. "Eh, mau ngapain?" Pertanyaan yang aneh jika ditanyakan. "Aku mau makan kak. Aku belum makan siang." Gheina menjawab biasa saja. "Siapa yang suruh
kamu makan?" Sisva tidak melirik Gheina sedikitpun. "Aku laper kak." Gheina tidak mungkin menahan rasa laparnya hanya untuk berdebat dengan kakaknya.
"Siang ini kamu gak boleh makan. Itu hukuman buat kamu. Biar kamu tuh mikir dengan kesalahan kamu." Gheina ingin sekali mengadu pada Dito disaat-saat seperti ini. Tapi jika ia mengadu, dia akan mendapat hukuman lebih dari ini.
__ADS_1
"Kak, aku laper." Gheina mengusap perutnya. "Gak perduli. Bukan urusan gue. Lo baru boleh makan kalo kak Dito pulang. Enggak, pas makan malem. Itu juga kalo kak Dito makan malem dirumah. Kalo enggak, kamu baru boleh makan besok pagi." Gheina hanya diam menahan lapar dan geram.
"Kenapa masih disitu, sana naik!" Sisva melirik sekilas lalu kembali sibuk memandangi hpnya.
°°°
Tidak terasa Gheina tertidur hingga pukul 5 sore. Tadi, karena dia tidak tau ingin melakukan apa, jadinya tertidur. Menahan rasa lapar. Dia baru ingat sesuatu.
Gadis polos itu membuka laptop dan menyalakannya. Setelah laptop sudah bisa berfungsi dengan baik, Gheina mendapat notifikasi saat membuka suatu aplikasi chat. Notifikasi itu dari grup chat Wulan, Dina, dan dirinya.
mereka memang sering berkomunikasi online. Wulan banyak sekali mengirim pesan, seperti sedang bercerita. Gheina meng-skroll sampai pesan terakhir yang dikirim. Setelah membaca isi chat itu, matanya membelalak karena cerita yang disampaikan Wulan. Wulan menceritakan kejadian janggal disekolah saat Gheina bwrtemu dengan Dimas kakak kelas mereka. "Kok dia malah ngeselin sih. Akukan baru kenal sama ketos itu." Gheina bingung, kenapa Wulan seantusias itu menceritakannya.
Wulan comel. Akukan biasa aja sama orang itu. Aku gak suka malah sama orang itu.
"Wulan, kamu kenapa seneng banget sih. Padahalkan aku bete banget sama si ketos itu." Gheina mengetik dengan perasaan kesal.
"Kalian lucu. Aku suka liat kalian berdua." Wulan menambahkan berbagai emoticon setelahnya.
"Aku mau tau deh, gimana sih kronologinya. Sayang banget aku udah pindah." Dina malah penasaran.
"Udah ah, aku gak mau bahas si ketos pencitraan itu." Gheina sangat malas jika harus berhubungan dengan cowo itu lagi disetiap hidupnya.
"Aku mau tau gimana caranya kamu bisa kenal sama kak Dimas Ghe." Dina semakin penasaran.
"Udah ah. Kalian gak perlu tau. Pasti kalian puas ketawain aku." Gheina menutup laptopnya.
Rasa kesalnya sudah hilang. Malah sekarang berganti dengan rasa lapar yang muncul lagi. Tiba-tiba dia teringat makanan yang tadi dibelikan Wulan dikantin.
Makanannyakan gak aku makan. Berarti kemungkinan makanannya masih ada dikolong meja Wulan sampai besok. Gheina merinding membayangkan makanan itu esok hari menjadi basi dan bau. Dan juga tampilannya menjijikan.
Dia teeingat kakaknya. dia mengambil tas untuk mengambil hpnya ingin mengirim pesan pada kakak pertamanya, agar jika kakaknya tidak mskan malam dirumah, dia bisa makan malam dari makanan yang ia pesan pada Dito.
Dia merasa tidak menemukan hpnya. Gheina duduk lebih fokus mencari hp yang sepertinya tadi kurang teliti dia cari. Tapi
Gheina tidak juga menemukannya barang yang dia cari.
"Hp aku kemana ya. Kok gak ada. Aku butuh banget. Terus kalo lupa simpen, aku bisa gawat." Gheina gelisah. Tidak bisa berfikir jernih. Dia sama sekali tidak mengingat apapun.
__ADS_1
Bersambung..