Berjanjilah Untuk Setia

Berjanjilah Untuk Setia
Thirty-two


__ADS_3

Mama Ari menangis. Dia tidak kuat menahan tangianya untuk membayangkan kembali kejadian menyakitkan itu. "Tante, sabar ya tante. Aku tau ini udah


lewat, tapi tante pasti terus inget kejadian itu sampe kapanpun." Gheina mengelus punggung Sani. "Sebelum kejadian itu, tante dan papanya Ari punya banyak kenangan indah. Tapi setelah


kejadian itu, papanya Ari gak pernah pergi bareng kita lagi. Semuanya udah hisul masing-masing." Sani mengenang masa itu sambil tersedu-sedu.


"Terus, hubungan tante sama papanya Ari gimana. Aku gak pernah juga liat sosok papanya Ari." Gheina kelepasan mengatakan itu. Dia segera menutup mukutnya saat menyadari kalimatnya


barusan. "Gak apa-apa. Tante bakal ceritain lagi, tapi sebelum tante ceritain lagi, tante mau nunjukkin foto dialbum ini."


Gheina fokus pada benda yang ada dipangkuan wanita disampingnya. "Ini foto waktu kita sekeluarga lagi liburan,


kita bahagia banget waktu itu. Kita bener-bener nyatu. Kita ngerasa


keluarga paling bahagia." Sani tersenyum getir. "Ini foto saat perayaan ulang tahun Ari. Dia selalu senang saat


hari ulang tahunnya. Katanya, setiap hari spesial itu dia bisa berdoa hal baik buat kita semua." Gheina jadi ikut terharu.


"Kalau kamu udah pulang ke rumah, jangan lupa balik lagi kesini ya. Tante mau main ke rumah kamu." Sani


mengusap kepala Gheina. "Ia tante. Pasti aku bakal balik lagi kesini. Bantu tante masak di acara besar." Gheina tentu


sangat terbuka jika bersangkutan dengan bantuannya. "Tante mau kenal sama keluarga kamu juga. Tante mau kenal sama orang tua kamu." Gheina hanya bisa tersenyum.


"Terus, ini foto waktu tante menikah sama papanya Ari. Tante bahagia banget. Semuanya berjalan tanpa hambatan sejak persiapannya." Sani


lanjut menceritakan kenangan indah bersama suaminya. "Sani? Doni? Jadi nama tante Sani?" Gheina sebelumnya tidak pernah menanyakan apapun yang menurutnya tidak perlu ia tahu. Saat


berkenalan pun Gheina hanya tahu wanita disampingnya ini ibu dari lelaki yang membantunya. Hanya itu.


"Iya, Tante lupa belum kasih tau kamu soal nama tante." Sani masih terlihat sedih. "Jadi, nama papanya Ari itu Doni?" Gheina memastikan. "Iya," Sani menganggukkan kepalanya.


Apa Ari juga tau rasanya sakit hidup tanpa orang tua. Itu yang aku rasain setiap kak Sisva dan kak Reno nyinggung soal itu berulang kali.


"Kamu mau dengar kelanjutan ceritanya?" Sani menawarkan diri untuk bercerita lagi. "Tante, kalo emang


berat untuk diinget lagi, lebih baik tante gak usah lanjutin cerita." Gheina sangat kasihan melihat Sani harus menceritakan


hal paling menyakitkan dihidupnya.


"Tante bersedia cerita kalo kamu juga bersedia mendengarkan." Sani harus kuat demi menyampaikan apa yang ingin ia sampaikan. "Iya tante, aku bersedia dengerin kok."


°°°


Sani dan Doni mengalami cek cok hampir setiap hari selama 1 bulan. Doni tidak mau membahas masalah


itu, tetapi Sani ingin meminta penjelasan yang sangat benar. Jika memang tidak bisa lagi untuk bersama, lepaskan saja. Namun Doni tidak ingin melakukan itu. Dia

__ADS_1


masih sangat mencintai istrinya. Itu hanya kekhilafan saja.


"Kamu gak bisa mainin ini. Kamu gak akan tanggung jawab sama anak yang dia kandung?" Sani tidak hanya memikirkan perasaan nya saja. Dia


juga memikirkan nasib anak yang dikandung wanita itu dimasa depan. "Aku masih jadi suami kamu. Emang


kamu mau dimadu? Kamu siap nerima dia tinggal bareng sama kita, bareng anak-anak." Sani jelas tidak mau diduakan. "Kamu bisa lepasin aku, aku bawa


anak-anak aku. Kamu silahkan tanggung jawab sama anak itu." Sani lebih memilih mundur daripada harus mengambil risiko yang lebih besar.


"Aku gak yakin itu dari hati kamu." Doni tahu betul, tidak ada keributan yang begitu besar sebelumnya. Pasti Sani masih sangat mencintai dirinya, pikir Doni.


Aku gak bisa bertahan di posisi seperti ini. Aku gak nyangka, hal seperti ini akan terjadi. Sani sungguh sangat


terpukul pastinya. Dia tidak habis pikir dengan semua yang kini terjadi. Pada saat itu, mereka bertengkar di dalam kamar. Agar anak-anaknya tidak mendengar mereka sedang ribut.


Namun tentu seorang anak pasti tahu apa yang terjadi pada orang tuanya.


Mereka merasa ada yang aneh dengan sikap mama dan papanya. Mereka menguping dibalik pintu. "Mama sama papa kenapa sih." Tina bertanya kebingungan.


Wira yang sudah mengerti soal itu, dia juga tidak menyangka. Sebenarnya dia belum terlalu mengerti apa yang sedang didebatkan kedua orang tuanya. Tetapi karena


mendengar kata 'dimadu' yang dikatakan ayahnya, dia mengerti.


"Kak, kenapa diem aja sih. Mikirin apa hayo..." Ari memergoki kakak perempuannya sedang melamun. "Kak Ari, kak Gama mana ya. Kita kumpul disini kok dia


°°°


Gheina baru saja mendapat informasi baru yang sebelumnya ia tidak tahu. "Jadi Ari punya 1 kakak laki-laki.


Dimana tinggalnya." Gheina bertanya saat Sani diam sejenak. Sani masih mengingat dan akan terus menyimpan


kenangan itu. Hal menyakitkan yang hampir saja ia lepaskan dengan bunuh diri. "Ia, dia yang paling tidak peduli dengan masalah pada saat itu. Dia udah terlalu


ngerti apa yang kami alami." Sani ingat betul reaksi anak pertamanya saat ia cerita soal ini. Dalam hatinya mungkin dia juga


merasa tidak menyangka dengan papanya sendiri.


"Tante, apa kakak pertamanya Ari kasih respons saat kejadian ini." Gheina merasakan sekali, jika dirinya yang berada


diposisi itu pasti sangat terpukul. "Enggak, dia cuma menenangkan Tante. Dia adalah satu-satunya anak


Tante yang tenang dan bisa menenangkan. Sayangnya sekarang dia udah menikah. Dia jarang datang kesini."


Sani banyak menceritakan tentang anaknya. Terutama Ari.


°°°

__ADS_1


Dan pada akhirnya Doni tidak menikahkan Arum. Namun Arum diperlakukan seperti istrinya. Dijumpai setiap


hari, bahkan hingga larut malam. Sani sangat tidak menyangka pernikahannya akan seperti ini.


"Aku mau cerai." Sani duduk disebelah Doni yang sedang sibuk dengan laptopnya. "Apaan sih kamu. Kenapa ngomongin itu lagi. Kalo anak-anak dengar.."


"Gak masalah. Aku juga yakin, anak-anak pasti udah sering dengar kita berantem." Sani sudah pasrah dan memilih menyerah. "Terus anak-anak gimana nanti." Doni hanya mencintai Sani walaupun


dia telah melakukan kesalahan besar. "Aku bisa rawat mereka tanpa kamu dengan baik." Sani sudah bertekad. "Kamu jangan egois dong! Jangan karna keegoisan kamu, anak-anak jadi menderita." Doni tidak setuju dengan keputusan Sani.


"Lalu, gimana sama kamu yang hamilin perempuan lain. Psdahal jelas, kamu udah punya istri dan anak." Doni tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Dia terdiam sejenak. "Tapi aku gak ada perasaan apapun dama dia. Aku cuma


gak sengaja ketemu dia." Doni memberi pembelaan. "Itu gak bisa dijadikan sebegai alasan. Kamu udah dewasa, anak kamu banyak. Seharusnya kamu bisa berpikir dengan jernih." Sani sudah sangat kecewa.


Doni tetap memilih mempertahankan rumah tangganya. Dia memilih hanya bertanggungjawab soal biaya kepada anak yang dikandung Arum. Hal itu menyebabkan Ari sangat benci pada papanya yang dulu sangat dia banggakan.


°°°


Sani sudah tidak menangis lagi. Air matanya sudah tidak ada lagi dipipinya. "Ari sampai sekarang benci banget sama papanya. Dia juga gak pernah anggap


ibu tirinya itu ada. Apalagi saudara tirinya." Sani terlihat tegar. "Tante, apa karna Tante masih sayang sama papanya Ari. Tante gak bisa ninggalinnya?" Itu pertanyaan yang normal menurut Gheina.


"Enggak. Karna Tante mikirin babyak hal. Adiknya Ari, kakaknya Ari, Ari nya pun gak akan bisa tumbuh dengan


baik kalo Tante harus pisah pada saat itu." Sani memang harus merelakan perasaannya demi anak-anaknya.


Apa ini juga yang dirasain semua kakak-kakakku waktu mama dan papa pergi tiba-tiba. Dan aku muncul menambah beban mereka. Gheina jadi membayangkan saat orang ruanya pergi dari rumah tanpa tanggungjawab.


"Apa Tante udah gak cinta lagi sama papanya Ari?" Yaampun, kenapa aku harus nanya gitu. Padahal jelas-jelas aku gak pernah ada pengalaman dibidang ini.


"Ntahlah dengan hati ini." Sani sudah tidak bisa membicarakan isi hatinya. "Itu juga gak penting. Sekarang, Tante minta satu hal sama kamu." Sani memegang tangan Gheina.


"Apa Tante?" Gheina siap mendengar apapun yang diminta Sani. "Tante tau, Ari anak tante. Dia berubah sejak ada kamu. Tante gak tau apa yang ada dipikirannya." Sani memulai terus terang tujuannya.


"Tante yakin kamu bisa bikin Ari maafin papanya. Karna jujur Tante udah maafin papanya Ari. Ari juga haru menerima saudara ritinya gimanapun keadaannya." Itu tujuannya. "Aku Tante? Aku bukan siapapun.


Bahkan aku baru aja kenal sama Ari satu beberapa hari yang lalu." Gheina tidak yakin. "Perlahan Gheina. Tante yakin kamu pasti bisa. Kamu harus bisa bikin Ari berubah lebih baik." Namun Gheina tetap tidak yakin dengan itu.


"Apa kamu bisa lakuin apa yang Tante minta? Kalo gak bisa, itu masalah kok." Tidak, jika Gheina menolaknya


maka dia sudah mematahkan harapan orang lain. "Iya Tante. Aku akan coba walaupun aku gak yakin." Gheina membuat


keputusan yang membuat Sani sangat senang. "Tante minta satu hal lagi." Sani meminta permohonan terakhir. "Masih ada?"


Sani menatap Gheina lekat. "Jangan bicara apapun tentang hari ini sama Ari. Jangan pernah tanya soal cerita ini." Gheina mengangguk berjanji. "Makasih ya. Makasih karna kamu udah bikin Tante seneng banget. Makasih atas bantuannya." Ada Sani memeluk Gheina. Gheina pun memeluk Sani.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2