
Malam yang sama dengan malam sebelumnya. Dito masih terus memikirkan adik terakhirnya yang sampai sekarang ntah dimana. Bahkan polisi pun
tidak bisa melacak keberadaannya. Hampir disetiap malam dia meneteskan air mata. Dito merasa gagal menjaga
Gheina yang telah dititipkan oleh ibunya belasan tahun lalu. Dia selalu takut tidak bisa menjaga Gheina dengan baik.
Dan kini dia merasa benar-benar tidak berguna dan tidak bisa diandalkan. Mamanya pasti sangat kecewa padanya jika tahu bahwa Gheina ntah kemana pergi. Itu yang terus berputar-putar dipikirannya.
Ma, maafin aku ma. Aku gak bisa diandelin sama mama. Aku gak bisa
menuhin amanah mama untuk
menjaga Gheina. Dia malah hilang karna aku.
Dans ampai sekarang Sisva tidak merasa berdosa dan malah leluasa untuk melakukan sesuatu dirumah. Dia selalu membuat kamar Gheina berantakan. Itu yang Sisva mau seja dulu.
Reno yang baru keluar dari kamar untuk mengambil botol air mineral. Reno melihat kakaknya sedang duduk
melamun diluar. Hanya terlihat dari kaca dan belakangnya saja.
Rrrrrr.....
rrrrrrr....
Suara dering telpon daru hp Dito. Reno sudah mengambil botolnya dan kembali memerhatikan kakaknya. "Kak Dito kenapa ya. Apa gara-gara Gheina."
Tertara nama Mentari. "Halo," Dito mengangkat telponnya.
"Sayang, kamu kenapa. Kamu lagi sibuk banget? Aku dateng ke kantor gak pernah ada." Suara disebrang sana
terdengar panik. "Sayang, aku lagi banyak masalah yang gak bisa diceritain sekarang.
Maaf ya udah siemin
kamu. Suasana hati aku lagi gak bagus. Daripada aku lampiasin ke kamu." Dito sangat jelas mendengar percakapan itu.
"Sayang?! Kak Dito telponan sama siapa. Kak Dito punya pacar gitu? Kok gak pernah bilang sama kita-kita." Dito terkejut dan malah jadi bertanya-tanya.
"Aku udah tunggu lama banget. Aku itu tunangan kamu sekarang. Aku mau dikenalin ke adik-adik kamu. Kita bakal nikah dan gak mungkin mereka gak
tau." Suara perempuan yang bernama Mentari disebrang sana sangat terdengar kesal. "Iya, tapi gak sekarang. Kalo kamu mau runggu aku lagi, aku seneng. Tapi kalo
kamu mau lepasin, aku gak apa-apa." Dito sembarang ucap.
"Hah?! Jadi beneran pacarnya?!" Dito terkejut karena Dito tidak pernah bicara apapun. "Jadi kamu gak sayang sama
aku. Kamu kenapa segitu mudahnya lepasin aku. Aku sayang banget sama kamu. Apa karna kamu selingkuh. Aku percaya
banget sama kamu, tapi kalo kamu kayak gini aku jadi ragu sama kamu." Mentari tidak menyangka tunangannya akan
menyuruhnya untuk melepasnya.
__ADS_1
"Daripada kamu nunggu aku terlalu lama. Aku jelas sayang sama kamu, tapi aku gak bisa biarin kamu nungguin aku
yang gak jelas. Ini pasti gak penting buat kamu." Dito merasa itu yang terbaik. Padahal hanya karena dia sedang memikirkan
hal lain selain rencana pernikahannya, tunangannya. "Oke, aku gak tau masalah kamu apa. Aku gak mungkin tinggalin kamu gitu aja. Kamu lagi susah malah aku tinggal, itu gak mungkin."
"Yaudah, itu pilihan kamu. Aku udah pernah bilang, aku gak pernah paksa kamu untuk menjalankan apapun sama aku. Termasuk hubungan." Dito masih
terus mendengarkan. Malah dia mendekat agar lebih jelas terdengar. "Aku mau tau masalah kamu. Aku tunangan kamu. Bakal jadi istri kamu. Besok aku mau denger semua keluhan dan masalah kamu."
"Iya. Besok aku ketemu kamu pagi aja ya. Jam 7. Ditaman kantor. " Mentari menutup telponnya. Dito menghela nafas panjang. "Kak Dito punya pacar. Tapi dia gak pernah kasih tau adik-adiknya. Apa motif dia." Reno setelah menguping semuanya, dia kembali ke kamarnya lagi.
°°°
Gheina menyambut kedatangan Doni, anaknya dan Arum, ibu dari anak itu. "Halo Om. Tante." Gheina menunduk lalu menyalimi tangan keduanya.
Oh ternyata wanita bernama Arum itu ini.
Lalu keluar seorang laki-laki yang terlihat dari wajah dan
penampilannya seperti anak SMA. Gheina masih menunggu anak itu untuk masuk. "Halo, anaknya Om Doni ya?" Pria yang sedang bermain game di hpnya itu mendongakkan kepala. Dia menatap Gheina yang tersenyum kearahnya.
"Halo," Gheina menjulurkan tangan. Di keluarga ini Gheina menjadi ramah dan tidak lagi pendiam. Mereka sudah rasa keluarga bagi Gheina. Ntah kenapa dia merasa sangat nyaman. Apalagi saat sedang berbincang dengan Sani. "Ayo masuk." Gheina berjalan terlebih dahulu lalu diikuti pria SMA itu.
Makan malam sudah dimulai. Ari belum juga datang.
Ari kemana ya. Dia gimana kalo sampe tau aku bicara lagi sama papanya. Walaupun aku udah bilang sama dia kemaren. Dia tetep bakal marah sama papanya deh.
Saat Gheina sedang minum, ada dering hp. "Eh, kak Ari telpon." Ternyata hp Tina yang berbunyi. "Halo kak. Oh iya," Tina menyodorkan hpnya pada Gheina. "Kenapa?" Gheina bingung, "Kak Ari mau ngomong." Gheina pun mengambil HP itu dari tangan Tina.
suara Doni dan Arum juga anaknya. "Halo Ari. Ada apa." Gheina sangat
gugup. "Lagi pada ngapain. Kok rame banget." Ari mendengar samar-samar suara dibelakang Gheina. "lagi makan malem Ri. Kamu lembur?" Gheina berharap Ari tidak pulang cepat.
"Enggak. Ini lagi dijalan. Macet parah." Ari terdengar frustasi. "Yaudah hati-hati." Telpon belum ditutup, Doni berseru bertanya. "Ini masakan siapa. Enak sekali, pintar masak." Gheina berbalik kebelakang.
Aduh.. Om Doni kenapa harus sekenceng itu suaranya. Ari pasti dengar.
Telpon sudah terputus.
°°°
Ari segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia mendengar jwlas iru suara papanya. "Pasti orang itu
udah akrab sama Gheina. Gue harus cepet pulang!" Padahal keadaan jalan masih sangat macet. Ari sudah tersulut emosi. Dia melajukan mobil hingga hampir menabrak orang.
Saat sampai dirumah, makan malam baru saja selesai. Ari semakin emosi saat melihat mobil papanya. "Sial! Orang itu
kenapa terus deketin orang terdekat gue." Ari menendang ban mobil Doni. Ia berlari.
"Ari! Kamu kenapa." Arum terkejut, Ari mendobrak pintu yang tidak terkunci itu. "Diem lo!" Arum langsung diam menunduk. "Ma! Mama." Dito mencari Sani.
__ADS_1
"Ari ada apa. Kenapa dateng-dateng kamu malah ribut." Gheina tidak ada disana, Gheina sedang ada dikamar mandi.
"Ma, kenapa dia ada disini. Bukan, mereka. Kenapa ada disini." Ari menunjuk Arum. "Ari, kamu gak boleh gitu. Papa bisa
marah." Sani meminta agar Ari meredam amarahnya. "Ma, dia itu buat hati mama hancur. Terutama kita anaknya gak pwrnah dipeduliin."
"Ari, tapi Gavin juga anaknya papa." Sani mengusap-usap punggung Ari, menenangkan. "Ma, cukup ma. Cukup belasan tahun mama disakitin. Aku tau mama gak bisa kayak gini. Ma, aku gak bisa liat mama sakit."
"Ari, tapi mama gak apa-apa." Sani meyakinkan Ari agar tidak memuncak kemarahannya. "Gheina mana." Ari sudah lelah membahas itu. "Gheina ada dikamar mandi tadi." Lalu Gheina keluar dari kamar mandi. "Gheina. Keluar, gue mau ngomong." Gheina mengikuti langkah Ari.
Mereka sudah ada ditaman rumah. "Duduk." Ari sudah duduk. Gheina merasa takut menaggapi Ari. "Lo ngapain aja tadi sama mereka." Ari langsung to
the point. "Siapa?" Gheina sudah tahu yang dimaksud Ari, namun dia berpura-pura. "Lo pasti tau maksud gue."
Gheina masih diam. Dia tidak mau Ari semakin membenci papanya. Itu bukan suatu kesalahan. Dia hanya ingin
mengenal kedua orang tuanya. "Kita cuma makan doang. Kan aku udah bilang juga ditelpon tadi." Gheina berkata netral saja. "Selain itu. Gak mungkin cuma diem-dieman. Lo masakan hari ini." Gheina menunduk sambil memegang dahinya dengan tangan kirinya.
Lalu dia mendongak melihat Ari. "Tangan kiri lo kenapa." Ari menarik jari kelingking kiri Gheina.
Pake segala liat tangan. Tapi lagian kenapa dia. Cuma luka doang kok.
"Tadi aku masak. Aku ngelamun mikirin sesuatu, terus aku kena pisaunya." Gheina bicara apa adanya. "Lo masak, terus luka. Dan lo masak buat mereka." Ari menggelengkan kepala. "Masakannya juga
dimakan sama kaka kamu, sama asik kamu, sama keluarga kamu yang lain." Ari tetap terlihat tudak suka. "Gheina, dengerin gue. Gue gak suka semua orang tau masalah gue. Masalah gue biar gue dan
keluarga gue aja yang tau. Orang luar gak perlu tau."
"Ari, tapi..." Ari mengangkat tangan didepan wajah Gheina. "Tunggu, gue belum selesai. Gue gak mau kasih tau semua masalah gue karna gak mau orang lain kasian liat keluarga gue. Karna keluarga
gue udah hancur semenjak ada wanita itu." Setetes air mata jatuh dipipi Ari. "Aku gak berpendapat gitu kok. Aku salut sama kamu. Bisa nanganin semuanya." Gheina tersenyum memberi dukungan. "Gue
selalu dicap jelek diluar sana. Sejak gue sekolah SD semua guru tau, gue anak paling nakal."
Gheina bisa merasakan apa yang dirasakan Ari. "Karna gue cari kebebasan dikuar sana. Karna gue lampiasin
semuanya disana." Setetes air mata mengalir lagi. "Karna dikeluarga gue, gue ngerasa tertekan, terkurung dimasalah yang gak ada ujungnya." Gheina tau, semuanya bukan sepenuhnya salah Ari.
Karena Doni lah Ari bisa jadi seperti ini. Dis bersikap seperti ini karena dia belum bisa menerima semuanya.
"Lo kasian ta sama gue. Gue nangis, gue cowok tapi lebih kuat dari lo. Hidup gue emang menyedihkan kok."
"Eh, enggak kok. Aku juga sering ngerasa kayak gini. 2 kakak aku gak anggap aku adik mereka. Aku selalu ditindas dan dibully." Itu juga yang dirasakan
Gheina hampir setiap hari. Tekanan. "Tapi kenapa lo gak kayak gue." Ari mengelap pipinya yang basah oleh air mata.
"Maksudnya?" Gheina tidak mengerti yang dimaksud. "Lo pendiem,
lo tenang, lo sabar." Ari sudah tahu berul sikap Gheina. "Karna aku juga gak mau orang lain tau kaoo aku punya masalah dikeluarga aku."
"Apa gue bisa jadi kayak lo." Ari berharap, "aku gak tau. Tapi kalo kamu udah yakin mau berubah, aku dukung banget." Gheina akan selalu mensupport jika itu positif. "Yaudah, lo masuk. Udah semakin malem." Ari sudah sedikit meluapkan emosional jiwanya.
__ADS_1
"Kamu gak masuk?" Gheina berdiri. "Pasti masuklah. Masa tidur disini. Gue tunggu mereka pulang. Biar gue gak emosi." Ari tersenyum menandakan baik-baik saja.
Bersambung...